Aura tidur dalam pelukan Kaisar. Malam tadi, Kaisar tak sampai membobol apa yang di jaga Aura selama ini. Setiap sentuhan Kaisar membuat Aura gelisah. Tapi ternyata Aura menahan Kaisar saat mereka ingin melakukan lebih dari sekedar sentuhan panas.
Mata Kaisar masih terbuka, bukan karena dia menginginkan memasuki Aura kembali. Tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya saat Aura mengatakan jika Kaisar akan jijik dengan nya.
Kaisar bangkit perlahan, berusaha untuk tak mengusik tidur Aura saat ini. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Reynald.
Cari tahu apa yang terjadi pada Aura sebelum penyerangan itu terjadi? Siapa saja yang terlibat. Aku mau mereka juga mendapat sedikit peringatan.
Reynald yang saat sedang bersama Jasmine melirik Jasmine.
Lalu memutuskan sambungan telfonnya bersama Kaisar.
Jasmine melihat aneh ke arah Reynald.
Apalagi saat Reynald langsung bangun untuk memakai pakaiannya yang berserakan.
"Kemana?"
"Jasmine, tadi Kaisar telfon memintaku mencari tahu soal siapa saja yang sudah menyerang Aura sebelum dia pulang kemari."
Jasmine mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya selama ini dia tak pernah tahu detail tentang apa yang terjadi pada Aura.
Melihat wajah bingung Jasmine, Reynald menebak jika Jasmine tak tahu banyak soal Aura.
"Sayang, kamu beneran nggak tahu apa yang terjadi pada Aura?"
Jasmine yang merasa Reynald ingin membahas hal penting menyambar kemeja Reynald lalu memakainya.
"Apa yang terjadi pada Aura? Aku nggak pernah tahu apa yang dia alami. Selama ini dia selalu menutupi semuanya sendiri. Bahkan juga tentang luka itu, dia nggak pernah menunjukkan kepadaku. Tapi sebelum dia tiba disini, dia sempat menghilang selama satu bulan."
Reynald mendengarkan dengan seksama semua tentang Aura. Ternyata Jasmine tak pernah tahu apa yang terjadi pada Aura di luar negeri.
"Jadi dia memang tak pernah memberitahu tentang apa yang terjadi padanya? Tapi Kaisar melihat banyak luka di punggungnya selain luka tusukan itu."
"Dan Aura mau terbuka dengan Kaisar? Melibatkan Kaisar yang baru pertama kali bertemu dengan nya dalam rencana menyerang Meisya?" lanjut Jasmine.
Dari sini Jasmine menyimpulkan jika Aura percaya dengan Kaisar. Karena selama ini, hanya Jasmine yang ada di dekat Aura terutama untuk mengatur semua pekerjaan nya terutama jika ada balapan yang mempunyai bayaran besar.
"Aura sungguh berani bertaruh saat dia melibatkan Kaisar dalam hidupnya."
Jasmine mengangguk setuju, Jasmine juga sempat kaget karena Aura langsung mendekat ke arah Kaisar yang baru pertama kali dia temui.
"Kesannya Aura akan memanfaatkan Kaisar, tapi di balik itu aku juga nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Atau sebelumnya mereka pernah bertemu?"
Reynald terdiam, apa yang di katakan Jasmine sedikit masuk akal tapi selama ini Kaisar tak pernah bercerita tentang dia bersama seorang wanita.
Reynald menghubungi seseorang untuk membantunya mencari tahu siapa saja yang pernah berurusan dengan Aura selama di luar negeri.
Dia tinggal menunggu semua informasi yang di inginkan Kaisar.
Sementara itu, Meisya terus menghubungi Kaisar tapi tak juga tersambung.
Dia membanting ponselnya dengan keras karena sejak tadi sampai malam Kaisar tak bisa di hubungi. Ponsel Kaisar tak aktif.
"Berengsek, kenapa jadi seperti ini. Kaisar nggak pernah seperti ini sebelumnya. Apalagi sampai menonaktifkan ponselnya."
Meisya uring uringan sejak tadi karena tak bisa menghubungi Kaisar sama sekali.
"Besok, ya, besok aku harus pergi ke kantornya. Dia pasti ada disana. Bukannya aku juga sudah dapat hak istimewa dari nenek Melati untuk bisa masuk ke dalam kantornya."
Meisya kembali menyusun rencana agar bisa menemui Kaisar keesokan harinya. Malam ini dia harus istirahat agar penampilan nya bisa kembali fresh.
#
Di satu sisi, Aura tidur dengan gelisah. Keringat dingin membasahi wajahnya.
"Nggak, jangan mendekat. Kalian nggak bisa sentuh aku!!!"
Kaisar yang awalnya ingin memejamkan matanya langsung bangun kembali. Dia menoleh ke arah Aura yang sudah banjir keringat dingin.
"Hey, Aura.... bangun. Kamu mimpi buruk."
Kaisar berusaha menepuk pelan pipi Aura tapi Aura tak kunjung membuka matanya.
Kaisar panik, dia meraih tubuh Aura lalu memeluknya erat.
"Baby, bangun.... "
Kaisar kembali berusaha membuat Aura terbangun tapi lagi lagi Aura tak kunjung membuka matanya. Tapi pelukan Kaisar perlahan membuat tidur Aura tenang tak lagi bermimpi buruk.
Kaisar menghembuskan napas lega. Dia takut jika Aura tak akan bisa bangun karena mimpi buruk itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"
Kaisar mengusap keringat dingin di wajah Aura. Dia mencium kening Aura berkali kali. Perlahan, Aura mulai tenang kembali, napasnya mulai teratur.
Kaisar tak bisa tidur malam ini karena terus menjaga Aura. Dia tak ingin jika Aura kembali bermimpi di saat dia nanti tertidur lelap.
#
Pagi hari menyapa, Aura mulai membuka matanya. Saat dia meraba sebelahnya tak ada Kaisar disana. Dia melihat ke dalam selimut dan masih berpakaian lengkap membuat Aura bernapas lega.
Tapi dia sama sekali tak menemukan Kaisar di kamar itu. Membuka kamar mandi, ternyata Kaisar juga tak ada disana.
Kaki telanjang Aura membawanya keluar kamar saat mencium bau masakan dari arah dapur. Terlihat disana, Kaisar tengah memasak sesuatu. Seperti bau nasi goreng yang menggugah indera perasa Aura.
Aura memeluk Kaisar dari belakang. Membuat Kaisar sedikit terkejut, sempat menghentikan memasaknya, tapi kemudian dia melanjutkan acara memasaknya karena tahu jika Aura yang sedang memeluknya.
"Aku kira kamu belum bangun?"
Aura tak menjawab, tapi dia mengeratkan pelukannya pada Kaisar.
Kaisar yang mendapati Aura sedang manja kepadanya tersenyum samar. Tak lagi bertanya dan membiarkan Aura melakukan apapun yang ingin dia lakukan.
"Kai, apa semalam aku menyusahkan mu?"
Aura ingat dengan jelas jika semalam dia kembali mimpi buruk.
Kaisar yang mendapat pertanyaan tiba tiba menghentikan tangannya yang tengah mengaduk nasi goreng.
"Kenapa tiba tiba tanya seperti itu?"
Kaisar berbalik ke arah Aura, melihat wajah pucat Aura saat ini.
"Apa kamu merasa jika kamu menyusahkan ku?"
"Aku tahu dan ingat, jika semalam aku mimpi buruk seperti biasa." balas Aura lirih.
Kaisar semakin yakin jika sebelum pulang ke negara ini, Aura melewati banyak hal sendirian.
Dia menarik tangan Aura lembut lalu mengajaknya duduk. Sedangkan Kaisar kembali masuk dapur mengambil s**u hangat untuk Aura.
Kaisar memberikan s**u itu pada Aura, awalnya Aura bingung. Tapi Aura melihat kode Kaisar agar Aura menghabiskan s**u itu saat ini juga. Aura menurut apa yang di mau oleh Kaisar. Dia menenggak habis s**u itu tanpa ada sisa sedikit pun.
"Sarapan dulu, baru kita cerita. Aku nggak mau kamu pingsan karena kelaparan." kelakar Kaisar mencoba untuk bercanda.
Aura yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Dia tahu jika ada sesuatu tadi malam yang membuat Kaisar memanjakan nya pagi pagi.
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Aura setelah Kaisar kembali membawa dua piring nasi goreng.
"Aku bosnya, jadi aku bebas kapan aja masuk kesana."
Aura mengangguk sebagai jawaban tak ingin lagi mendebat karena ke narsisan Kaisar sudah muncul kembali.
Aura terlihat menikmati nasi goreng buatan Kaisar sampai sebuah telfon ke ponsel Kaisar yang baru masuk.
"Ada apa?"
Tuan muda, maaf mengganggu. Di kantor ada seorang wanita yang mengaku tunangan tuan muda, dia juga sempat menampar resepsionis karena menahannya untuk masuk ke dalam.
Kaisar melirik ke arah Aura yang masih duduk tenang menikmati sarapannya.
"Jangan biarkan dia masuk ke dalam. Dia bukan tunangan ku. Jika dia tunangan ku harusnya dia bersama dengan ku pagi ini. Bukan begitu baby?"
"Tentu."
Jawaban singkat dari Aura sudah cukup untuk orang yang berasa di seberang telfon sana. Dia menutup sambungan telfonya dengan Kaisar.
"Sepertinya, Meisya mengacau di perusahaan karena nggak bisa ketemu sama kamu."
Kaisar mencium puncak kepala Aura dan duduk di sebelah Aura. Mengikuti Aura menikmati nasi goreng itu dengan tenang.
"Mau bermain lagi?"
Aura yang mendapat pertanyaan itu tentu saja tersenyum lebar. Kaisar hapal dengan gerak gerik Aura. Meskipun mereka baru bersama beberapa hari.
"Jika boleh, bukannya semakin seru jika membuat Meisya semakin gila. Tapi Kai, apa kamu nggak pernah sekalipun menyukainya? Melirik badannya mungkin?" pancing Aura.
"Aku bukan penikmat barang bekas sayang. Lagi pula dia mau telanjang seperti apa di depanku, aku nggak akan pernah tertarik dengan nya."
Aura semakin tersenyum lebar. Dia lalu berpindah ke atas pangkuan Kaisar yang membuat mata Kaisar membola.
"Jika aku yang telanjang di depanmu, apa kamu juga nggak akan tertarik sama aku?" pancing Aura lagi.
Tak hanya mulut Aura yang menggoda Kaisar, tapi jari lentik Aura sudah meraba titik sensitif milik Kaisar.
to be continued