"Yang jelas Min di kali Min plus, Plus dikali plus tetap Plus enggak usah ribet kalo mau bilang mau kalo enggak ya tolak susah amat katanya hidup se simple itu, tapi mikir engga kalo nolak orang dan suka sama orang lain engga sesimple itu, hidup ini kejam buat orang yang engga enakan. "
***
Anin menunggu di perempatan jalan, di sana sudah terbilang sepi. Anin sebenarnya takut, mana taksi yang dia tunggu juga tak kunjung datang, memikirkan menunggu taksi seperti menunggu jodoh susah ditemukan dan sekalina bertemu ada banyak yang mencoba menghancurkan. Sampai akhirnya ada segerombolan laki-laki sedang berkumpul dan mendekatinya
Anin menyesal kenapa tidak minta antar Rimba saja malah sok-sokan berani mau naik taksi sendiri, alhasil di sinilah dia sekarang dengan langkah segerombolan laki-laki itu semakin mendekat, sebenarnya dia tidak boleh langsung menjudge mereka dari tampilan luarnya saja, mereka memang terlihat nakal karena ada tato di sekitar tubuhnya kemudian ada tindik di mana-mana. Hal itu membuat Anin ketakutan sekali, kadang penampilan menjadi tolak ukur atas kebaikan orang lain.
"Assalamu'alaikum Neng." Mereka semua yang beranggotakan sekitar sebelas orang bergantian menegur Anin dengan ramah. Meskipun Anin menjawabnya dengan terbata-bata namun dia masih bisa mengeluarkan suara untuk membalas ucapan orang-orang di hadapannya ini.
"Wa'alaikumsalan Bang. "
"Kenapa masih di luar jam segini Neng ? Bahaya, lebih baik segera pulang atau menginap di rumah teman yang dekat sini."
"Aku lagi nunggu taksi Mas, tapi dari tadi engga ada tanda-tanda kehidupan di sini. "
Mas-mas yang sempat dia curigai karena penampilan mereka menakutkan, ternyata adalah orang baik makanya jangan terlalu sering menilai orang dari penampilan luar saja karena ketika kalian hanya melihat kulit luar dari kacang kau tak akan pernah tau isi di dalamnya benar busuk atau tidak. Karena yang kelihatan luarnya baik belum tentu begitu juga aslinya.
"Ohh, di sini kalo jam segini emang enggak ada kendaraan Neng. Mendingan Neng mintak jemput aja. " Mendengar itu Anin langsung keringat dingin, mana dari tadi mamanya sudah menelepon. Anin bilang dia sudah berada di jalan agar mamanya itu tidak khawatir, jalanan ini sedikit membuat dia merinding karena tidak biasanya pulang sendiri.
Ditengah obralannya dengan mas-mas itu, tidak lama muncullah mobil yang tadi membawanya ke sini. Bak penyelamat di kalah terhimpit ke khawatiran Rimba datang sambil membuka mobilnya.
"Assalamu'alaikum Mas, makasih ya udah jagain teman saya. "
Fokus Anin bukan pada Rimba yang datang menjemputnya setelah marah-marah dan ngambek tadi, tapi pada kata. 'teman' 'just a friend' gumam Anin pada dirinya sendiri. Sakit ya kalo dianggap cuma teman oleh orang yang kita sayang.
"Wa'alaikumsalam Mas Rimba, enggak masalah Mas, kasian juga nengnya sendirian di sini. Mana jam segini rawan sekali p********n. Mas Anton salah satu dari kumpulan itu yang mewakili mereka untuk berbicara.
"Kalo begal hati aku gapapa kok Mas. " ucap Anin dengan gelak tawa cekikikan seperti kunti. Rimba yang melihat itu segera saja menarik tangan Anin untuk mendekat.
“Wah bisa aja si Eneng cantik,” puji Mas Anton tulus.
"Mari Mas, saya pamit mau antar gadis ini pulang dulu. "
Anin yang berada di jarak sedekat itu dengan Rimba merasa jantungnya berdetak lebih cepat seperti ada ribuan aliran listrik yang mengalir di tubuhnya. Ternyata efek Om Rimba bisa sedahsyat ini bikin seorang Anin meleleh kalo bisa dilukiskan dalam sajak mungkin dia sedang terkena syndrom salting kapten pesawat terbang. Anin hanya bisa diam mematung melihat Rimba dari jarak sedekat ini. Jangan sering-sering seperti ini bisa kena serangan jantung mendadak Anin batinnya.
Merekapun menundukkan kepala sejenak sebelum memasuki pintu mobil. Anin masuk ke dalam mobil dengan memasang seatbelt, mobil bergerak perlahan membelah jalanan yang sudah gelap di temani udara malam dapat menusuk kulit setiap manusia.
Tak ada satu katapun yang terucap selama mereka di perjalanan, rasanya seperti awkward moment. Anin sudah sejak tadi ingin memulai pembicaraan, namun selalu ia urungkan karena takut Rimba marah. Melihat wajah serius Rimba ketika menyetir, tatapan menyeramkan Rimba ketika kesal tadi membuat nyali Anin sedikit lemah.
"Tumben kamu enggak cerewet. " Kalimat yang baru saja Rimba katakan membuat Anin seketika mendongak dan tersenyum.
"Kata tante, saya harus jauhi Om dulu."
"Karena perkataan saya tadi? " Dahi Rimba terlihat berkerut sambil sedikit memelankan laju mobilnya.
Anin tersenyum hangat.
"Aku harus jadi dewasa dulu, biar enggak malu-maluin Om nanti, aku harus serius belajar biar bisa sebanding sama Om, aku juga takut om cemburu tadi. " Rimba sedikit bingung dengan pernyataan Anin yang secara tiba-tiba ini. Tidak biasanya Anin mendengarkan apa kata orang biasanya selalu asal ceplos dengan tampang polosnya.
"Saya cuma bisa sarankan kamu untuk mencari laki-laki lain yang lebih bisa mengerti kamu lagian saya tidak tertarik dengan sebuah hubungan, saya lebih mau memfokuskan diri pada pekerjaan. " Kalimat panjang yang keluar dari bibir si irit bicara tapi mampu memohok hati Anin, ia kira perlakuan manis tadi adalah bentuk perhatian dan takut kehilangan Rimba tapi ternyata hanya dirinya saja yang terlalu salah arti.
"Iya, sekarang Aku sadar kalo jatuh cinta sama orang yang enggak pernah mau berjuang sama-sama itu sakit. "
"Iya. " Jawaban tersingkat tanpa elakkan hanya persetujuan. Sekarang semuanya akan berakhir percuma Anin terus berjuang jika ujungnya bakal sama, sama saja terbaikan dan di buang itu artinya sia-sia yang tidak berujung.
"Persimpangan belok kiri, rumah abu-abu, pagar hitam, ada pohon beringin di depannya, ada sajen buat nyantet orang yang udah nolak aku mentah-mentah. "
"Kamu ngomongin siapa? "
"Lihat aja satu tahun lagi Om yang bakal bertekuk lutut sama aku. "
Rimba hanya diam dan sibuk fokus menyetir tidak ingin terlalu pusing mendengarkan ucapan anak kecil pikirnya. Tiba di sebuah rumah dengan ciri-ciri yang di sebutkan Anin. Rimba memberhentikan mobilnya. Mungkin ini adalah terakhir kali Anin bertemu sebelum UN karena sesudahnya dia akan berjuang lagi, tadi itu hanya akting biar keliatan serius saja karena Anin ingin Rimba menyesal terus mohon-mohon di bawah guyuran hujan.
"Terserah kamu. "
Rimba menjalankan mobilnya tanpa berniat berpamitan dengan Anin, namun yang di lakukan Anin tersenyum bahagia melihat wajah kesal Rimba yang begitu menggemaskan. Bukan usaha yang hanya diabaikan namun banyak hal kadang kala tidak berjalan dengan apa yang diinginkan, jika nanti sesak menjadi puing-puing kesedihan namun masihkah ada harap dalam belenggu?
Pernah kah berpikir jika cinta juga tentang keikhlasan ketika kita tahu kepada siapa semsta memberi percaya maka segala bisa diupayakan hanya saja kadang terlalu terpikat diskusi panjang yang memang bukan jalannya.