Ketemu Camer

1286 Words
"Ketemu Camer itu lebih menegangkan dari pada ngutang di warung somay tapi enggak bayar-bayar, ibu mertua lebih menegangkan rasanya dari sebuah cabai yang menyangkut di gigi. " *** Rumah dengan halaman yang luas, terdapat banyak sekali pohon kelapa, mungkin ini lah pohon yang sering di panjat Rimba ketika SD, pantas saja badannya bisa sebagus sekarang ternyata rahasia tubuh idealnya adalah pohon kelapa, jadi jika kalian ingin memiliki tinggi seperti Rimba maka jangan lupa olahraga seperti yang sering dilakukannya. Setelah ajakkan Rimba yang secara tidak sengaja membawa Anin berada di rumahnya. Jelas saja Anin kesenangan ribuan kali, apalagi di bawa ke rumah camer. Padahal itu adalah anggapan Anin saja, pada kenyataanya Rimba hanya ingin mengenalkan dia sebagai anak didiknya untuk latihan les mobil ternyata tak dianggap juga menyakitkan. "Om, untung aku udah dandan, kalo muka kucel bisa-bisa jadi nilai minus di mata camer. " Rimba yang mendengar itu langsung saja mendelikkan matanya dan menatap anak kecil di sebelahnya itu dengan pandangan heran. "Kamu tuh! Sekolah yang bener dulu. " "Aku udah sekolah yang bener kok Om, buktinya selalu rangking 3 di kelas. Terus bentar lagi aku juga udah mau tamat. Kalo om mau ngelamar aku mah siap ,tapi jangan lupa bawa roti buaya. " Gadis kecil di hadapannya ini sangat cerewet bertolak belakang dengan Rimba yang malas sekali berbicara. "Assalamu'alaikum. " Terlihat seorang perempuan menggunakan jilbab dan memakai baju daster, meskipun usianya sudah terlihat berumur namun tak bisa dipungkiri aura kecantikkan perempuan itu membuat Anin berdecak kagum dalam hati. "Wa'alaikumsalam, udah pulang Nak?" "Udah Ma." Rimba langsung memeluk dan mencium tangan ibunya itu dengan penuh rasa kerinduan. "Ayo masuk dulu Nak! Mama tadi masakin sayur kesukaan kamu, dari ayam rica-rica, omelete keju, risol sayur dan terasi." Anin yang melihat interaksi keduanya terlihat bingung memposisikan diri, dia jadi takut untuk mengobrol dengan Mamanya Rimba. Seketika mata Anin dan Mama Rimba---Arin bertemu, Arin tampak terkejut dengan kehadiran seorang perempuan lucu ke rumahnya. Biasanya yang sering belajar mobil pada putra tunggalnya itu hanyalah laki-laki. Itu pun hanya sesekali di bawa oleh Rimba. "Ini siapa Nak? " "Calon istri Mas Rimba Tante, nama aku Anin, tante boleh panggil aku cantik atau selena gemes gapapa kok. " Rimba yang ingin menyela digagalkan dengan tawa mamanya yang begitu lepas. "Kamu kok bisa kenal sama manusia kaku itu, tante enggak yakin kalo dia yang nyamperin kamu duluan. " "Heheh, panjang Tan, ceritanya kalo tante mau dengerin boleh lah Aku disuruh masuk. " Arin yang sadar mereka berbicara di depan pintu segera menarik tangan keduanya. Arin memang sangat ramah dan Anin yang ceria perpaduan yang sangat cocok untuk bercerita panjang lebar dan berbagi banyak hal berdua. Rimba tak mengerti apa yang akan keduanya bahas tapi ada yang lebih penting dari diskusi mama dan Anin yaitu pelurusan masalah gayak tarik perasaan bahwa sesungguhnya Anin bukan pacar Rimba. "Ma, jangan percaya. Rimba enggak punya pacar." Arin mulai menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Jadi, kamu nolak semua perjodohan yang telah Mama susun karena gadis manis ini? " Rimba memelototkan matanya seperti ingin keluar dari retina. Ini semua gara-gara Anin, kenapa Rimba harus mengjak perempuan ini ke rumahnya sudah tau akan rumit nantinya tapi entah kenapa tubuhnya bergerak sendiri untuk membawa Anin. "Ma, seriusan Rimba enggak pacaran atau pun tunangan sama Anin. Dia cuma anak murid yang mau latihan mobil sama Rimba. " "Udah engga perlu ditutup-tutupin Nak, mama engga mau loh kamu menyakiti anak gadis orang lain," balas Arin dengan sunyuman bahagia. Anin yang mendengar penolakkan langsung dari Rimba memegang dadanya seolah-olah ada goresan lebar di dalamnya. "Om, enggak ingat kita pernah ngapain aja? " "Uhukk.. Uhukk. " Arin yang mendengar ucapan ambigu dari Anin kaget dan tidak berhenti terbatuk. "Kalian ngapain aja? " Nada ancaman terdengar sangat jelas dari sudut bibir Mama Arin. "Ma, jangan terlalu dibawa seriusan omongan anak SMA, yang baru mau mengikuti ujian terkadang mereka suka berhalusinasi. " Anin yang mendengar itu segera saja memelintir pegelangan tangan Rimba dengan begitu keras yang membuat Rimba berteriak. "Padahal kami udah melewati kerasnya hujan dan riuhnya badai bahkan selalu saling melengkapi satu sama lainTan," balas Anin terlihat sedih. 'Arghhh' "Jangan asal ngomong ya, awalnya saya simpati sama kamu karena bisa bikin mama saya tertawa tapi sikap kamu kaya anak kecil, enggak pakai otak. Mendingan kamu pergi aja sekarang! " bentak Rimba yang mulai kesal dengan Anin. Tidak semua hal yang kita anggap bercanda malah lucu disudut pandang orang lain kadang itu malam membuat semua hal menjadi aneh, Anin kira bercandaannya mampu mencairkan suasana namun ternyata tidak hal itu malah membuat Rimba sangat marah. "Nak, enggak boleh kaya gitu sama perempuan. Mama engga pernah ajarin buat membentak dan berbicara kasar kepada perempuan. " Anin ingin menangis rasanya setelah dibentak, namun dia menguatkan hatinya bahwa ini awal perjuangan, masa dia harus kalah baru digoyahkan segelintir hentakkan, semangat Anin takkan goyah jika menggapai cintanya untuk Rimba semua hal diupayakan dengan begitu tegar. "Maaf tante, Om Rimba, aku emang suka kelepasan kalo ngomong. " Rimba hanya mengabaikan ucapan itu dan pergi melenggang ke kamar, tanpa berniat makan lagi karena tak berselera setelah berdebat sementara Anin mengobrol sangat asik dengan Arin. "Hehhe tante mah maklum kok, lagian memang Rimba anaknya kaku ditambah sensian pasti enggak ngerti mana yang bercanda dan serius, jadi maafin ya Nin kalo anak itu suka uat sakit hati. " Anin tersenyum mendengar ucapan menenangkan dari camernya memang mertua idaman sekali Arin. Memang Mama Arin adalah camer idaman setiap perempuan. "Jadi Anin kelas 12 ?" "Iya tan. " "Siapa nama Mama dan Papa Anin? " "Mama aku namanya Cindy, Tan. kalo Papa namanya Calvin. " Arin tanpak mengaggukkan sedikit kepalanya tanda paham. "Nama mama kamu kaya nama tetangga tante dulu pas SMP dan wajah kamu mirip banget sama dia tapi kini udah enggak tau dimana. " "Kayanya itu kembaran Anin yang ke 666 Tan, maklumlah muka pasaran emang gitu Tan," tawa Anin pecah setelah mengucapkan kata itu, Arin ikut tertawa mendengar ucapan Anin yang memang ceplas-ceplos. "Nin, kamu beneran suka sama anak tante? " Anin tampak menyunggingkan senyum lebarnya, beserta khayalan saat dia bertemu Rimba untuk pertama kalinya, lelaki tinggi menjulang dengan rahang keras dan tatapan tajam mampu membuat Anin tersipu malu saat yang bersamaan. "Beneran Tan, Om Rimba udah ada pacar ya Tan? " "Rimba itu doyan kerja ,bakal sulit buat tau siapa pacarnya. Terakhir dia pacaran itu SMP nama mantanya Shinta satu tempat kerja sama dia tapi sampai sekarang enggak ada tanda-tanda mereka balikan. " Mama Arin menjelaskan dengan tatapan yang penuh penerawangan terhadap anaknya, sekarang terjawablah sudah siapa Shinta yang membuat Anin pesimis ternyata dia adalah mantan pertama Rimba sebenarnya wajar saja karena kata orang cinta pertama itu sulit dilupakan. "Tante, masih ada kesempatan enggak buat aku deket sama anak Tante? " "Tentu saja sayang, tante bakal bantu kamu buat dapetin hati si pangeran es itu. " Apa Anin bilang, dekati dulu ibunya maka akan lebih mudah untuk mendapatkan anaknya tapi sebelum itu dekati penciptanya dulu karena dulu ketika zulaikha mengejar cinta Yusuf maka Yusuf menjauh namun ketika Zulaikha menjar cinta Allah maka Allah kirimkan Yusuf. "Makasih ya Tan." "Tapi ada syaratnya, kamu harus lulus SMA dulu baru boleh deketin Rimba lagi. " "Yahh tante. " Nada kecewa terdengar sangat indah dari bibir Anin, mana bisa dia tidak melihat Rimba dalam beberapa hari bisa-bisa dia tidak fokus ujian. "Boleh dong Tan, aku deketin dikit enggak banyak-banyak. " Anin masih mencoba melakukan penawaran dengan camernya itu. "Mau nurutin tante atau enggak tante bantu. " Akhirnya Anin menganggukkan kepala dengan pasrah. Lama Anin bermain di rumah Rimba dan mengobrol dengan mamanya sampai dia lupa hari sudah mulai malam. Dia berpamitan kepada Arin, sejak kemarahan Rimba tadi dia tidak keluar dari kamar, akhirnya Anin memutuskan untuk naik taksi saja. Anin menunggu di perempatan jalan, di sana sudah terbilang sepi. Anin sebenarnya takut, mana taksi yang dia tunggu juga tak kunjung datang sampai akhirnya ada segerombolan laki-laki nakal mendekatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD