Ledakan Asmara

1125 Words
Senyumku merekah menatap rumah ibu yang rasanya sudah lama sekali tidak aku kunjungi. Aku sangat bahagia, akhirnya setelah dua bulan berlalu aku bisa menginjakkan kakiku di rumah ini lagi. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Aku masih tidak menyangka kalau Mas Harris sungguh menuruti keinginanku. “Kalian sudah datang.” Suara ibuku terdengar. Aku lantas menoleh ke arahnya. Senyum hangat ibu yang sudah aku rindukan membuatku merasa haru saat beliau memelukku hangat. “Assalamu’alaikum, Bu,” salamku, dengan sopan mengamit tangannya, lalu menciumnya singkat. Mas Harris yang berdiri di sampingku turut menyaliminya juga. “Wa’alaikumussalam,” jawab Ibu kemudian. “Riyo enggak ada di rumah ya, Bu?” tanyaku, saat kulihat adikku tak kunjung muncul. “Riyo enggak ada di rumah, dia masih kerja,” terang Ibuku. “Oh, pantes enggak kelihatan.” Aku menanggapinya. “Nanti jam sepuluhan malem dia baru pulang,” kata Ibu. “Ya sudah, ayo masuk. Kamar kamu udah ibu bersihin, jadi kamu sama Harris bisa langsung istirahat,” cakap Ibu kemudian. “Makasih, Bu,” ucapku. Ibu tersenyum sembari mengiringi langkah kami yang berjalan memasuki rumah. “Kalian sudah makan belum?” tanya Ibu saat kami tiba di area ruang tengah. “Kalau makan siang udah, Bu. Kalau makan malam belum,” jawabku. “Baguslah kalau gitu, soalnya ibu masak banyak buat makan malam nanti,” tutur Ibu. “Ya sudah, kalian istirahat saja dulu. Nanti habis sholat magrib kita makan malem bareng,” ujarnya. “Ajak Harris istirahat, Wi. Kasihan dia kelihatannya kecapean banget,” lanjut Ibu sembari tersenyum lembut menatap Mas Harris yang sejak tadi hanya diam saja. “Iya, Bu,” ucapku. Setelah itu aku mengajak Mas Harris menuju kamarku yang berada di area ruang tengah. Saat memasuki kamar lamaku, aku seperti sedang bernostalgia. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menjamah kamar ini. Padahal baru dua bulan aku tidak pulang. “Dek, kamar kamu—” “Kecil, ya?” selaku. “Bukan itu yang mau aku omongin,” kata Mas Harris. Aku menatapnya penasaran. “Jadi, apa yang mau Mas omongin?” tanyaku. “Kamar kamu penuh sama aroma kamu, Dek,” ujar Mas Harris. “Ha? Maksudnya?” Aku tak begitu paham dengan maksud perkataannya barusan. “Kamu tahu, aroma tubuh kamu itu selalu buat aku candu. Dan kamar kamu ini, aku bisa cium aroma kamu semerbak di mana-mana,” jelas Mas Harris. “Kayaknya aku bakal betah deh tidur lama di sini,” lanjutnya. Suamiku itu lantas berjalan mendekati ranjang, lalu dia naik ke atas ranjang tersebut, kemudian mengendus bantal yang biasa aku pakai. “Tuh kan, aroma kamu juga nempel di sini, walaupun udah kecampur sama aroma pewangi tapi aku masih bisa cium aroma kamu,” kata Mas Harris. Aku terheran-heran melihat tingkah laku Mas Harris. Tingkahnya itu ada-ada saja. Hidung Mas Harris mungkin terlalu sensitif kah? Kok bisa-bisanya dia sampai kecanduan sama aromaku. Aku bahkan sampai mengendus bau tubuhku sendiri, mencari aroma yang Mas Harris maksud. Tapi anehnya, aku tidak mencium aroma spesial apa pun, kecuali aroma sampo, sabun dan body lotion yang kupakai. “Oh, ya. Kamar mandinya di mana, Dek?” tanya Mas Harris kemudian. “Kamar mandi ada di luar, Mas,” jawabku. “Ah, di luar, ya,” ujarnya. Aku mengangguk. “Maaf kalau rumahku buat kamu enggak nyaman, Mas,” lirihku. Mas Harris terlihat mengembuskan napasnya pelan, lalu dia bangkit dari atas kasur, kakinya kemudian bergerak mendekatiku yang masih berdiri di depan pintu kamar. “Kamu jangan pernah berpikiran kalau aku enggak nyaman berada di rumah ini. Karena di mana pun aku berada, asalkan ada kamu, aku pasti nyaman,” ujar Mas Harris. Tangannya dengan halus mengusap pipiku, lalu mengecupnya singkat. “Kamu tahu kan rumah besar enggak menjamin kita bahagia tinggal di dalamnya,” kata Mas Harris. Aku mengangguk, mengerti dengan maksud perkataannya. “Tapi, Mas. Aku masih ngerasa enggak enak hati sama orang tua kamu. Seenggaknya kita harus pamitan baik-baik sama mereka, Mas,” cakapku, berharap Mas Harris dan ibunya bisa kembali akur seperti dulu. “Kamu jangan khawatir, hubunganku dengan mamaku pasti bakalan baik-baik saja. Kami mungkin butuh waktu untuk saling menenangkan diri. Nanti kalau emosiku udah agak reda, aku bakal temuin mama untuk minta maaf,” urai Mas Harris. “Tapi aku minta maaf bukan berarti aku bakal balik ke rumah itu lagi. Kamu tenang aja, pokoknya kita akan tinggal di rumah kita sendiri,” jelasnya. Aku tertegun mendengar perkataan Mas Harris barusan. Belakangan ini aku merasa semua sikap dan perkataan Mas Harris mampu membuatku terlena. Aku bahkan mulai merasakan nyaman ketika berdekatan dengannya. Bahkan, kini aku tak sungkan untuk memeluknya langsung. Aku memeluknya sembari berkata, “Makasih, Mas. Dan maaf, gara-gara aku kamu harus marahan sama mama.” Kurasakan tubuh Mas Harris sempat menegang beberapa saat ketika aku tiba-tiba memeluknya. Mungkin dia terkejut mendapatiku yang memeluknya tanpa disuruh. Apalagi biasanya aku tak seperti ini. “Sayang, kayaknya akhir-akhir ini kamu makin lengket sama aku,” kata Mas Harris. “Apa kamu mulai nyaman sama aku?” tanyanya kemudian. Aku tersenyum dalam pelukannya. Tak bisa kutampik bahwa faktanya aku memang mulai merasa nyaman berdekatan dengannya. Terlebih dengan perubahan sikapnya yang akhir-akhir ini selalu mampu membuat hatiku meleleh. Bodohnya aku baru menyadarinya, ternyata kebaikan Mas Harris yang aku terima selama ini bukan sekadar kebaikan biasa. Setelah aku berpikiran lebih terbuka, aku baru sadar kalau kebaikan Mas Harris itu hanya untukku. Sikap hangatnya dan posesifnya itu hanya berlaku padaku. Di depan orang lain, terutama para wanita, Mas Harris—dia terkenal sangat dingin, tegas dan menakutkan. Tak banyak yang berani beradu pandang dengannya, kecuali para perempuan centil yang penasaran dengan sifat dinginnya Mas Harris. Mungkin selama ini aku hanya fokus pada sifat buruk Mas Harris yang terkadang terlalu egois dan selalu mengedepankan nafsunya. Hingga aku menutup mata, tak melihat bahwa dia selama ini sudah bersikap sangat baik padaku. Dia selalu memperlakukanku layaknya ratu dalam hidupnya. “Sayang? Kok kamu diem aja? Mau sampai kapan kamu peluk aku, hm?” tanya Mas Harris, suaranya mengalun lembut. “Mas, malam ini kamu milikku,” ujarku. Mas Harris tiba-tiba langsung melepas pelukanku, kemudian dia menatapku lekat. “Yang bicara barusan beneran kamu?” tanya Mas Harris, dia terlihat bingung. Aku terkekeh melihat raut wajahnya itu. “Kenapa? Heran ya denger aku ngomong kayak gitu?” tanyaku. “Enggak, bukan heran. Aku cuma kaget aja, enggak biasanya kamu bicara kayak gitu, Dek. Makanya aku kaget, sekaligus seneng,” kata Mas Harris, kemudian dia kembali memelukku hangat. “Tapi kalau itu mau kamu. Silakan saja, malam ini aku milik kamu. Lakukan apa pun yang kamu mau, aku berada dalam kuasamu, Sayang,” bisik Mas Harris. Pipiku memanas mendengar perkataannya itu. Jantungku bahkan berdebar tak karuan. Baru kali ini aku merasa ada ledakan asmara yang merebak di penjuru hatiku. Rasanya benar-benar memabukkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD