Sekitar pukul sembilan malam, mobil yang Mas Harris kendarai baru tiba di rumah mertuaku.
Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku dan Mas Harris keluar dari dalam mobil tersebut. Kami beriringan berjalan masuk ke dalam rumah.
“Udah jam berapa sekarang?” ujar seorang wanita paruh baya, siapa lagi kalau bukan ibu mertuaku.
Aku menghela napas pelan, rasanya enggan berhadapan dengannya, apalagi tubuhku masih terasa lemas.
“Ma, aku sama Dewi bukan anak kecil lagi,” cakap Mas Harris. “Mama jangan berlebihan gitu,” imbuhnya.
“Belebihan gimana? Mama itu cuma khawatir sama kamu,” tukas Mama Hanum.
“Khawatir sewajarnya aja, Ma. Enggak perlu sampai hadang kami seolah-olah aku sama Dewi anak kecil yang pulang telat,” balas Mas Harris.
Aku menatap pria di sampingku itu dengan raut heran, tak biasanya Mas Harris berkata seperti itu pada ibunya, kupikir dia akan langsung minta maaf seperti biasa, tak kusangka dia justru membalas perkataan ibunya dengan cara tegas.
“Tapi ini udah larut malem, Ris. Harusnya kamu udah pulang dari tadi,” kata Mama Hanum. “Pasti karena kamu turutin kemauan istri kamu yang minta jalan-jalan di luar, jadinya sekarang kamu pulang kemaleman, iya kan,” tudingnya.
Aku bengong mendengarnya. Bisa-bisanya Mama Hanum menyalahkanku. Tapi aku bisa apa, tak mungkin menyanggahnya, karena itu sangat tidak sopan. Lagi pula, ibu mertuaku itu sepertinya memang sudah tidak menyukaiku. Bahkan, hal seperti ini pun hanya aku yang disalahkan.
“Ma, aku sama Dewi baru pulang jam segini karena memang aku kerja lembur. Aku harus selesaiin berkas-berkas untuk pameran bulan depan. Justru harusnya Mama puji Dewi karena dia udah mau temenin aku sampai larut malam begini, bukannya malah fitnah Dewi,” tegas Mas Harris.
Aku kembali dibuat heran dengan sikapnya, yang entah bagaimana tiba-tiba Mas Harris berubah menjadi garda terdepanku, dia secara terang-terangan membelaku di depan ibunya sendiri.
Tapi aku sama sekali tidak merasa senang. Karena bagaimanapun juga membentak seorang ibu bukanlah hal yang dibenarkan. Dan aku tidak mau Mas Harris menjadi anak durharka karena aku.
“Kok sikap kamu gitu sama mama sih, Ris? Mama itu enggak mau nanti kamu sakit karena kecapean, makanya mama cemas kamu pulang telat,” ujar Mama Hanum.
“Aku paham Mama khawatir sama aku, tapi tolong jangan salahin Dewi. Dia enggak salah, Ma. Aku yang salah, aku yang suruh dia dateng ke kantor, dan aku yang buat dia pulang telat. Lagian dia itu istri aku, Ma. Aku enggak mau ada yang sakitin dia, termasuk mama,” jelas Mas Harris.
“Sudahlah, Mas,” lirihku, tak mau Mas Harris berkata lebih sarkas lagi pada ibunya sendiri.
“Ris,” sahut ayah mertuaku. Beliau muncul dari arah tangga yang terhubung ke lantai atas. “Lebih baik kamu ajak Dewi ke kamar, kalian pasti capek, istirahat sana,” suruhnya.
Mas Harris tampak mengembuskan napasnya panjang, lalu dia menggandeng tanganku, dan membawaku pergi dari hadapan Mama Hanum.
***
Pagi itu aku bangun seperti biasa. Setelah mandi dan sholat subuh, aku hendak menuju dapur untuk memasak sarapan.
“Dek.” Mas Harris yang baru bangun tidur tiba-tiba berjalan mendekatiku.
“Ada apa, Mas?” tanyaku.
Senyum Mas Harris terukir, dia lantas mengusap pipiku singkat.
“Nanti sore setelah aku pulang kerja, kita pergi ke rumah ibu, ya,” tutur Mas Harris.
“Mas serius?”
“Iya. Lagian aku kan udah janji sama kamu,” kata Mas Harris.
“Kita cuma main aja atau ... nginep juga?”
“Lima hari cukup?” tanya Mas Harris.
Aku mengangguk senang mendengarnya. “Iya,” ucapku kemudian.
Mas Harris ikut tersenyum melihatku tampak sumringah. “Ya sudah, aku mau mandi dulu,” ujarnya.
“Hm, iya. Baju kerjanya udah aku siapin di tempat biasa,” kataku.
Mas Harris mengangguk paham. Setelah itu, dia pergi dari hadapanku, dia berjalan menuju kamar mandi, bersiap untuk pergi kerja.
Setibanya aku di dapur, aku melihat Mama Hanum tampak sibuk memotong beberapa bawang, aku pun segera mendekatinya, berniat mengambil alih pekerjaannya itu.
“Ma, biar aku aja,” tuturku.
Tapi Mama Hanum tampak diam saja, seolah tak mau menanggapiku.
“Mama mau masak apa? Biar aku bantu,” ujarku, masih berusaha mengajaknya bicara.
“Enggak usah. Sana kamu ke kamar aja, mama bisa kerjain semuanya sendiri, kamu pikir selama ini mama bergantung sama kamu. Mama juga bisa urus rumah ini tanpa bantuan kamu,” tukasnya.
Aku terdiam mendengar omelannya barusan.
Pasti Mama Hanum masih kesal dengan kejadian semalam. Dia pasti kecewa karena Mas Harris kini mulai membelaku alih-alih membela dirinya seperti dulu.
“Ma, aku minta maaf kalau sikapku selama ini buat Mama kesel. Aku juga minta maaf karena semalem udah pulang telat dan enggak sempet buat makan malam,” lirihku, mencoba mengalahkan egoku yang sebenarnya ingin sekali mengutarakan kekesalanku pada wanita paruh baya itu. Tapi aku tidak mau melakukannya. Bukan berarti aku naif. Aku hanya tidak mau ribut dengan ibu mertuaku sendiri.
“Kamu sadar kalau kamu salah, tapi sikapmu itu sama sekali enggak menunjukkan kalau kamu sadar sama kesalahanmu,” tukasnya. “Kamu pasti seneng kan dibela sama Harris, seneng ya lihat Harris marah sama ibunya demi belain kamu,” tandas Mama Hanum.
“Demi Allah, Ma. Aku enggak pernah berharap lihat hubungan Mas Harris sama Mama renggang, apalagi karena aku. Karena kalau sampai itu terjadi, aku juga berdosa, Ma,” tuturku, berharap beliau mengerti kalau aku tak pernah ingin merebut Mas Harris darinya, karena bagaimanapun juga wanita yang paling utama bagi seorang pria adalah ibunya, sekalipun dia sudah menikah.
Aku paham dengan aturan itu, jadi tidak mungkin aku senang melihat Mas Harris bertengkar dengan ibu kandungnya sendiri.
“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” sahut seorang pria paruh baya.
Ayah mertuaku datang dengan raut herannya, sepertinya beliau datang karena mendengar pertengkaran kecil kami.
“Papa juga sama aja,” cakap Mama Hanum, yang tiba-tiba langsung menyudutkan suaminya sendiri, padahal Papa Heru baru saja muncul.
“Sama aja apanya? Papa baru dateng udah disalahin, memang papa salah apa?” tukas ayah mertuaku.
“Papa juga sama aja kayak Harris, selalu belain Dewi,” ujar Mama Hanum.
“Papa enggak pernah belain siapa pun, Ma,” cakap Papa Heru. “Sudahlah, Ma. Mama itu bukan anak kecil lagi. Masalah begini saja mau diributkan terus,” tuturnya.
Mama Hanum terlihat mendengus kesal, dia lantas menatapku penuh amarah.
“Puas kamu?! Kamu itu memang parasit yang sudah merusak keharmonisan keluargaku!” amuknya.
“Mama,” seru suara lain, yang tak lain adalah Mas Harris, suamiku.
Mas Harris berjalan mendekat ke arahku. Pria itu lantas berdiri di depanku, dia berdiri tepat di antara aku dan Mama Hanum.
“Ma, aku tahu semenjak Dewi tinggal di sini, Mama enggak suka sama dia. Selama ini aku diem aja bukan berarti aku setuju sama tindakan Mama yang suka atur-atur kebiasaan Dewi. Selama satu bulan ini, aku diem karena aku berharap Mama berubah setelah Dewi bisa beradaptasi. Tapi nyatanya Mama malah makin nuntut lebih banyak lagi dari Dewi,” cakap Mas Harris.
“Dewi manusia biasa, Ma. Dia enggak akan bisa jadi manusia sempurna, dia tetep manusia biasa yang punya kekurangan. Dan harusnya Mama terima kekurangan Dewi, sama halnya dengan Dewi yang sudah ikhlas diatur hidupnya sama Mama,” tambahnya.
Sejenak Mas Harris mengatur napasnya yang tampak diselimuti emosi.
“Aku enggak bermaksud belain Dewi, Ma. Tapi aku ngerasa kayaknya Mama enggak pernah puas sama kerja keras Dewi. Mama enggak pernah suka sama Dewi. Mama selalu mandang Dewi rendah hanya karena dia berasal dari keluarga sederhana,” lanjut Mas Harris.
Mama Hanum tampak diam membeku mendengar putra semata wayangnya berceramah panjang lebar di depan matanya. Sepertinya wanita paruh baya itu syok. Mungkin, ini pertama kalinya Mas Harris bersikap tegas padanya.
“Ma, aku mohon, tolong jangan usik Dewi lagi. Seenggaknya kalau Mama enggak suka sama Dewi, jangan sudutin dia terus,” timpal Mas Harris.
“Ris, sudahlah, Mama kamu pasti sudah paham sama apa yang kamu bicarakan,” kata ayah mertuaku.
“Enggak, Pa. Mama enggak akan pernah bisa paham kecuali dia mencoba untuk berpikiran terbuka. Sifatnya itu sama seperti aku, sama-sama egois,” kata Mas Harris.
Aku terkejut mendengar Mas Harris berkata seperti itu pada ibunya.
“Sekarang aku udah ambil keputusan. Aku bakal tinggal di rumahku sendiri sama Dewi. Kami enggak akan tinggal di sini lagi,” tegas Mas Harris kemudian.
Setelah berkata seperti itu, Mas Harris langsung menarikku pergi.
“Harris.” Mama Hanum terdengar memanggil. Tapi Mas Harris dengan gamblang mengabaikan ibunya. Dia terus berjalan, menarikku pergi dari sana.
“Mas, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Jangan seperti ini. Aku memang mau kita tinggal sendiri, tapi enggak kayak gini, Mas. Kita dateng ke sini dengan cara baik-baik, jadi kita pergi juga harus dengan cara baik-baik,” ujarku sembari mengikuti langkah lebar Mas Harris yang membawaku ke lantai atas.
“Sudahlah, Dek. Kamu nurut aja, sekarang kamu kemasin semua barang-barang kita, bawa aja yang penting-penting dulu, nanti sisanya biar aku suruh orang buat bawain barang-barang itu ke rumah kita,” tutur Mas Harris, terlihat jelas kalau keputusannya sudah sangat bulat. Tak ada celah bagi siapa pun untuk mengusik keputusannya itu. Bahkan termasuk ibunya sendiri, apalagi aku.