Pukul enam sore menjelang magrib. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an sudah saling bersahutan.
Wajah Mama Hanum terlihat masam. Beberapa kali beliau berjalan menuju pintu utama, memeriksa apakah anak dan menantunya sudah pulang atau belum.
Pak Heru yang mulai risih melihat istrinya mondar-mandir sambil sesekali mengomel sendiri pun akhirnya berkomentar.
“Sebenernya kamu itu kenapa, Ma? Papa perhatiin dari tadi Mama ngomel mulu. Memangnya Mama kesel sama siapa?” tanya Pak Heru, halus.
Mama Hanum menghela napasnya panjang, lalu beliau menjawab, “Anak sama mantumu itu loh, Pa. Masa jam segini belum pulang. Mana Dewi juga belum masak buat makan malam, padahal tadi dia pamitnya cuma sampai jam lima sore.”
“Ya udahlah, Ma. Biarin aja mereka. Lagian mereka kan pengantin baru, baru beberapa bulan sah, kalau mereka pulang telat ya enggak masalah dong, namanya juga lagi masa seneng-senengnya,” cakap Pak Heru.
“Iya, tapi kan enggak harus sampai malem, Pa. Dewi itu harusnya paham kalau Harris udah capek kerja, seharusnya dia ajak Harris pulang buat istirahat, siapin makan, bukannya malah seneng-seneng di luar,” ujar Mama Hanum.
“Loh, kok Mama malah salahin Dewi,” heran Pak Heru. “Dewi itu pergi keluar karena nurutin permintaannya Harris, Ma. Dia juga enggak mungkin pulang telat kalau bukan karena Harris,” cakapnya.
“Papa kok malah belain Dewi dan nyalahin anak Papa sendiri,” komentar Mama Hanum.
“Papa enggak salahin siapa pun. Papa juga enggak bela siapa pun. Papa cuma enggak masalah mereka pulang malem,” tutur Pak Heru. “Sudahlah, biarin mereka di luar sana. Lagian selama beberapa bulan ini Dewi selalu di rumah terus, kerjain ini itu, turutin perintah Mama sama Harris, kasihan dia, sekarang biarin dia rasain udara segar di luar sana. Bagus kalau Harris ajak dia jalan-jalan,” imbuhnya.
Mama Hanum mengembuskan napasnya berat. Setelah itu dia berjalan pergi menuju dapur, bersiap memasak makan malamnya sendiri dengan raut kesalnya.
***
Aku duduk diam menatap Mas Harris yang tengah berbincang dengan sekretarisnya. Keduanya tampak serius membicarakan soal pameran mobil bulan depan.
“Ini daftar nomor-nomor pelanggan platinum kita,” ujar Mas Harris pada sekretaris kantornya. “Besok kamu hubungi mereka satu persatu setelah undangan khusus pelanggan platinum sudah dikirimkan,” jelasnya.
“Baik, Pak.” Sekretaris itu mengangguk, menerima perintah dari Mas Harris.
“Saya percayakan tugas penting ini ke kamu. Jadi ingat, jangan sampai ada kesalahan, mengerti?” cakap Mas Harris, raut wajahnya terlihat sangat serius.
Sekretaris itu kembali menganggukkan kepalanya. Kemudian, dia berpamitan pergi dari ruangan Mas Harris.
Sesaat setelah sekretaris itu pergi, Mas Harris tersenyum ke arahku.
“Pulang yuk,” ajaknya kemudian.
Aku menghela napas pelan, lalu bangkit dari sofa tempatku duduk.
Namun, saat aku bangkit, aku merasa tubuhku nyeri semua, rasanya seperti remuk luar dalam. Apalagi bagian bawah tubuhku, rasanya sangat tidak nyaman.
Semua ini karena ulah Mas Harris, dia telah memintaku melakukan hal gila di dalam ruangannya ini. Bahkan, setiap kali aku melihat sofa tempatku duduk, rasanya seperti ada trauma saat aku teringat bayang-bayang tentang betapa beringasnya Mas Harris beberapa jam lalu, hingga aku merasa seperti seorang wanita yang dipaksa berhubungan badan oleh pria asing. Sungguh membuatku merasa jijik pada diriku sendiri.
“Dek?” Mas Harris menatapku yang masih berdiam diri di sofa. “Ayo pulang,” ajaknya lagi.
Aku lantas memaksakan diri untuk lekas bangkit dari sofa itu, kemudian berjalan mendekati Mas Harris yang sudah menungguku di dekat pintu keluar.
“Kamu kenapa? Kok muka kamu pucet, Dek?” tanya Mas Harris, keningnya berkerut menatapku. “Kamu sakit?” tanyanya lagi.
Mas Harris lantas menyentuh dahiku, merasakan suhu tubuhku yang aku yakini pasti normal. Aku sama sekali tidak demam ataupun kedinginan. Aku hanya merasa tubuhku sangat lelah dan lemas.
“Enggak panas,” ujar Mas Harris, usai memeriksa suhu tubuhku yang tak ada masalah sama sekali.
“Aku mau pulang,” lirihku.
“Iya, oke, kita pulang sekarang.” Mas Harris menanggapiku sembari mengusap wajahku kilas.
Kemudian, dia menggandeng tanganku, membawaku pergi dari ruangan yang penuh dengan kenangan buruk itu.
Sebenarnya, aku ingin pulang ke rumah ibuku, rumah di mana aku merasa nyaman dan tenang. Aku benar-benar ingin pulang ke rumahku dulu.
Tapi sepertinya aku tidak akan pernah bisa kembali ke rumah itu. Kecuali, hubungan pernikahanku dengan Mas Harris berakhir.
Aku selalu berharap hubungan pernikahan kami kandas. Tapi di sisi lain, aku juga takut tentang pandangan orang-orang atas status jandaku nanti.
Sama halnya dengan alasanku menerima pinangan Mas Harris setelah dia merengut kesucianku. Ya, aku takut dicemooh. Aku takut suamiku selain Mas Harris akan kecewa padaku. Karena itu aku menerima Mas Harris, walau nyatanya kini aku sangat menyesal.
“Sebenernya aku mau ajak kamu makan di luar, tapi karena kamu mau pulang, ya udah kita pulang,” tutur Mas Harris, usai memasangkan sabuk pengaman padaku.
“Aku mau pulang ke rumah ibu, Mas,” ujarku, akhirnya isi hatiku berhasil aku ungkapkan padanya.
Beberapa detik setelah aku melontarkan perkataan itu, aku melihat Mas Harris yang baru saja menyetir mobilnya langsung menoleh sekilas ke arahku.
“Kamu kangen sama ibu?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan, untuk kali ini aku tidak mau membohongi diriku sendiri.
“Ya udah, besok kita main ke rumah ibu, kita nginep di sana,” cakap Mas Harris.
Aku cukup terkejut mendengarnya. Kepalaku bahkan langsung menoleh ke arah Mas Harris. Aku menatap wajahnya lekat, demi memastikan apakah dia sungguh serius dengan perkataannya atau tidak.
“Mas serius?” tanyaku.
“Aku serius, ngapain aku bercanda,” jawabnya. “Lagian selama kita menikah, kita enggak pernah dateng ke rumah ibu kamu,” kata Mas Harris.
Sontak aku merasa terharu padanya. Ternyata Mas Harris tak seburuk yang aku pikirkan. Setidaknya dia masih mau memahami keinginanku.
“Makasih, Mas,” ucapku, sedikit mengumbar senyum tipis padanya.
Mas Harris mengangguk sembari mengusap kepalaku lembut.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa nyaman dengan buaian kasih sayang yang Mas Harris curahkan.
“Pertama kalinya aku lihat kamu senyum setulus itu ke aku,” komentar Mas Harris sembari mengalihkan pandangannya kembali fokus pada jalanan.
“Memangnya selama ini senyumku kenapa?”
“Aku tahu senyummu selama ini palsu, termasuk di hari pernikahan kita,” tutur Mas Harris.
Aku terdiam.
“Selama kamu jadi istri aku, aku janji, aku akan berusaha buat kamu bahagia, Dek,” cakap Mas Harris.
“Mas,” panggilku.
“Hm?” Mas Harris menatapku sekilas.
“Bisa enggak kita tinggal di rumah kamu sendiri?” usulku.
“Rumahku? Memangnya kenapa? Apa rumah mama sama papa enggak nyaman?” tanyanya.
“Bukan enggak nyaman, aku cuma pengen kita tinggal di rumah kita sendiri, aku mau kita tinggal berdua aja. Aku pikir kalau kita tinggal sendiri mungkin aku bisa mulai belajar mencintai kamu, Mas. Aku bisa fokus sama perasaanku tanpa mikirin kalau aku ngelayanin kamu karena perintah dari mama kamu,” tuturku.
“Asal kamu tahu, Mas. Alasan aku belum bisa mencintai kamu karena selama ini aku menganggap bahwa melayani kamu adalah kewajibanku, bukan karena aku suka sama kamu,” lanjutku.
Mas Harris menghela napasnya panjang, lalu satu tangannya bergerak menggenggam tanganku, kemudian sekilas dia menoleh bersama senyum tipisnya.
“Akan aku pikirkan,” ujarnya.
Aku mengangguk pelan, dari raut wajahnya, aku sudah bisa menebak kalau keinginanku tadi ... mungkin saja tidak akan pernah terwujud. Mas Harris terlihat enggan membahasnya lebih lanjut. Dia seperti keberatan jika kami harus pindah dari rumah besar itu.