Beberapa saat setelah Arin pergi, aku melihat Mas Harris memandangiku dengan tatapan seriusnya.
“Ada apa, Mas?” tanyaku, lambat laun mulai risih dengan tatapannya itu.
Helaan napas Mas Harris terdengar berat, dia lantas bertanya, “Kamu beneran enggak marah sama aku?”
Aku mengernyit heran. “Untuk apa aku marah?” ujarku.
“Harusnya kamu marah, Dek,” cakap Mas Harris.
“Kenapa aku harus marah, Mas?”
“Marah itu tanda cemburu, dan cemburu itu artinya kamu cinta sama aku,” kata Mas Harris. “Kalau kamu cinta sama aku, harusnya kamu cemburu dan marah sama aku. Atau setidaknya kamu bilang ke aku kalau aku harus menjauhi wanita seperti Arin,” imbuhnya.
Aku diam tak menanggapinya.
Perihal cinta, aku tidak bisa membohongi hatiku.
Kenyataannya, aku memang belum memiliki perasaan apa pun pada Mas Harris. Jangankan cinta, rasa sayang pun tak pernah sekalipun aku rasakan. Mungkin, karena rasa kesalku terlalu pekat padanya.
“Kenapa diam saja?” tanya Mas Harris, kini matanya menyipit curiga, seolah dia mulai sadar dengan fakta bahwa aku belum memiliki perasaan apa pun untuk dirinya.
“Jangan bilang kamu ... belum mencintaiku?” tudingnya.
Aku tetap diam.
Dan diamku adalah sebuah jawaban yang bermakna bahwa memang benar kalau aku belum bisa memberikan cintaku padanya.
“Dewi,” tegas Mas Harris, suaranya terdengar cukup lantang menelisik telingaku. “Aku ini suami kamu, bagaimana bisa kamu tidak mencintaiku? Kita sudah tidur satu ranjang, bahkan kita sudah beberapa kali melakukan hubungan suami istri, masa kamu tidak memiliki sedikit pun perasaan padaku?” tukasnya.
Sejenak Mas Harris mengembuskan napasnya berat. Lalu dia melangkah lebar mendekat lebih rapat ke arahku.
“Apa perlu aku ajari kamu tentang cinta?” tanyanya.
Aku sedikit mengalihkan pandangan saat napas Mas Harris terasa menampar halus wajahku. Jarak kami terlalu dekat, aku bahkan mulai merasa risih dengan keintiman ini.
Selang beberapa detik kemudian, bibir Mas Harris langsung menabrak kasar bibirku.
Refleks aku memberontak, apalagi aku sadar kalau saat ini kami sedang berada di kantor, yang artinya sewaktu-waktu akan ada orang yang mungkin saja masuk ke dalam ruangan ini.
“Mas,” lirihku sambil berusaha mendorong tubuh Mas Harris agar menjauh dariku. Tapi aku gagal, kekuatanku tak sebanding dengan Mas Harris yang terus berusaha menahanku agar aku diam menikmati ciumannya.
Beberapa saat setelah ciuman paksa itu berlangsung, Mas Harris tampak terengah-engah sembari menatapku dengan tatapan yang sangat aku hafal betul.
“Damn it! Sekarang aku sangat menginginkanmu,” tutur Mas Harris.
Mataku terbelalak mendengarnya berkata seperti itu.
Sontak tubuhku secara refleks langsung bergerak untuk melarikan diri.
Tapi sayangnya, Mas Harris seolah dapat membaca pergerakanku. Dengan cepat dia langsung menghadang di depan pintu. Bahkan, kini pintu ruangannya itu sudah dia kunci rapat. Dapat dipastikan tak akan ada yang bisa masuk ke dalam ruangan ini, terlebih lagi ruangan ini kedap suara.
Suara teriakan memang masih terdengar, tapi aku tidak mungkin berteriak, karena bagaimanapun juga status Mas Harris adalah suamiku, yang ada orang-orang akan menertawaiku jika aku bertindak gegabah.
“Mas, aku mohon jangan aneh-aneh,” ujarku.
“Aneh-aneh gimana? Kamu ini kayak kita baru pertama kali melakukan ‘itu’ aja,” tutur Mas Harris. “Ini udah kesekian kalinya kita akan melakukan hubungan suami istri, jadi kenapa kamu harus takut begitu,” lanjutnya.
“Aku bukannya takut, tapi ini di kantor, Mas. Kita bisa lakuin hal seperti ini di rumah, di kamar kita,” jelasku, berharap dia berubah pikiran.
“Aku ingin mencoba suasana baru,” kata Mas Harris. “Dan aku pikir, aku enggak bisa nahan diri aku selama itu, lihatlah jam pulangku, masih lama” cakapnya sembari melirik kilas jam dinding yang ada di tengah ruangan.
Aku menghela napas panjang, tak tahu lagi harus bagaimana aku menyadarkan Mas Harris agar dia bisa melawan hawa nafsunya itu.
“Mas, aku—”
“Hust ....” Mas Harris menutup bibirku dengan jari telunjuknya, kemudian dia berbisik. “Kamu hanya perlu menikmatinya saja, dan jangan terlalu keras bersuara, maka semuanya akan aman, enggak akan ada yang tahu kalau kita melakukan ‘itu’ di sini.”
Aku merinding mendengarnya berkata seperti itu. Rasa jijik pun perlahan membekap erat hatiku, hingga aku merasa ingin sekali pergi dari ruangan ini secepatnya.
Tapi mustahil, kini Mas Harris sudah melancarkan aksinya. Dan aku hanya bisa menahan tangisku yang ingin sekali pecah.
***
“Pagi,” sapa Silla, senyumnya merekah saat dia mendatangi ruangan kakak kandungnya yang beberapa tahun silam asyik melancong ke beberapa negara.
“Hai.” Steven—kakak kandung Silla—membalas sapaan sang adik.
“Gimana rasanya baru pulang terus langsung dapet jabatan yang wah?” tanya Silla seraya duduk di sofa ruangan Wakil Direktur itu.
Steven terkekeh mendengarnya. Dia lantas berjalan menuju sofa tempat adiknya duduk.
“Kamu itu iri atau gimana?” canda Steven.
“Kalau aku bilang iri, memangnya kamu bakal kasih jabatanmu ini ke aku?” tanya Silla.
“Enggak,” jawab Steven.
Silla mendecih. “Sudah kuduga,” tuturnya.
“Begini saja, kalau kamu memang bener-bener mau, kita bisa tukeran tempat, kamu jadi wakil direktur, dan aku jadi wakil ketua departemen bedah saraf. Setuju?” tawar Steven.
“Oh, tidak, terima kasih. Aku sudah sangat nyaman di bagian itu, apalagi pekerjaanku bukan hanya duduk diam saja di dalam ruangan pengap seperti ini,” tolak Silla. “Dan satu lagi yang harus kamu tahu, aku dapetin jabatan itu dari hasil jerih payahku sendiri. Kamu pasti belum denger kalau bulan lalu wajahku terpampang di mana-mana, terutama di sosial media. Mereka bilang, ini nih bibit unggul negara kita, sang pahlawan penyelamat yang mendapatkan penghargaan internasional, murni tanpa bantuan keluarga,” pamernya.
Steven kembali tertawa renyah, kemudian dengan gemas dia mengacak rambut sang adik.
“Kamu makin gede makin tajem aja lidahnya,” ujar Steven.
Silla tersenyum sinis menanggapinya.
“Oh, ya, gimana kabar mama sama papa?” tanya Steven kemudian.
“Makanya pulang ke rumah, bukannya pulang ke rumah kakek, dasar,” sungut Silla. “Kamu itu kayak udah enggak punya orang tua aja, atau jangan-jangan kamu sengaja pulang ke rumah kakek demi jabatan ini?” imbuhnya.
Steven tertawa mendengarnya. “Anggap saja seperti itu.”
“Tapi, besok aku bakal pulang,” cakap Steven. “Ke rumah mama sama papa,” lanjutnya.
Silla mengangguk. “Bagus, kalau gitu aku tunggu kepulanganmu,” ujarnya.
Steven tersenyum hangat menanggapinya.
Tak lama setelah itu, Silla pun bangkit dari duduknya.
“Urusanku di sini sudah selesai, jadi aku akan pergi,” cakap Silla sembari mengeluarkan sebuah minuman vitamin dari dalam kantong jubah dokternya. “Ini buat kamu, anggap saja sebagai hadiah ucapan selamat datang dariku, dan selamat atas jabatanmu saat ini,” tutur Silla.
“Jadi, kamu datang ke ruanganku cuma mau mastiin kalau aku bakal pulang ke rumah?” terka Steven.
Silla menghela napasnya pelan, lalu berkata, “Tanpa perlu aku jawab, kamu sudah tahu jawabannya sendiri, kan.”
Setelah itu, Silla melangkah menuju pintu keluar.
Namun, beberapa saat sebelum Silla membuka pintu, Steven kembali bersuara.
“Ah, ya, aku mau tanya sesuatu sama kamu,” cakap Steven.
Silla kembali menoleh ke arah kakaknya itu dengan kening berkerut.
“Tanya soal apa?”
“Apa istrinya Harris adalah temanmu?” tanya Steven.
“Ya, dia sahabat baikku. Tapi, kok Kak Stev kenal sama Dewi?”
Steven tersenyum. “Aku pernah ketemu sama dia di acara reuni SMA Theia, dan Harris bilang dia kenal sama Dewi dari kamu.”
“Iya, Kak Harris kenal sama Dewi pas Kak Harris gantiin kamu jemput aku. Dan aku menyesal karena udah ngenalin Dewi ke Kak Harris,” tutur Silla.
“Kenapa?”
Silla menghela napasnya berat, seketika dia teringat dengan sahabat karibnya yang bahkan kini sulit dia hubungi karena tidak mau melihat dirinya bertengkar dengan Harris.
“Dewi enggak mau cerita semuanya ke aku, tapi aku tahu kalau dia sangat menderita menikah dengan laki-laki b******k seperti Kak Harris.”
“Kenapa kamu mengatai Harris seperti itu? Aku ingat Harris bukan pria jahat,” cakap Steven.
“Ya, dulu dia memang bukan pria jahat. Tapi semenjak dia hancur karena Sora, dia berubah menjadi pria jahat di mataku. Apalagi pada Dewi, dia sangat posesif, melarang Dewi ini itu, suka mengatur, egois. Pokoknya aku enggak suka Dewi sama dia.”
“Tapi Dewi mencintainya,” kata Steven.
“Mencintai?” Silla tertawa renyah mendengarnya. “Dewi enggak pernah suka sama Kak Harris, aku tahu itu, sekalipun dia bohong sama aku, aku tetep bakal tahu, karena kami udah temenan lama banget. Aku tahu bagaimana dia saat menyukai seseorang,” ujar Silla.
“Jadi, kenapa Dewi mau menikah dengan Harris kalau dia tidak mencintainya?”
Silla menghela napasnya pelan. “Itu yang sedang aku cari tahu,” terangnya. “Aku yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi sampai akhirnya Dewi terpaksa setuju menikah dengan Kak Harris,” tebak Silla.