Pelakor

1418 Words
Pukul dua belas siang. Aku tiba di perusahaan showroom milik keluarga suamiku. Ukuran gedung perusahaan ini sebenarnya tidak terlalu besar, ada dua gedung sejajar, satu sisi merupakan kantor dengan lima lantai, dan sisi lainnya adalah sebuah gedung dengan interior megah, gedung itu merupakan tempat singgah untuk mobil-mobil mewah yang dipajang sempurna. Saat aku memasuki gedung bagian kantor, seorang satpam yang mengenaliku langsung berjalan mendekat. “Siang, Bu Dewi,” sapa si satpam. Senyumannya terukir ramah di wajah paruh bayanya itu. “Siang,” balasku sembari melangkah menuju lift. “Sudah lama saya enggak lihat Bu Dewi, apalagi Ibu udah enggak kerja di sini semenjak menikah dengan Pak Harris,” tuturnya, dia terus mengekoriku hingga langkahku berhenti di depan pintu lift yang masih tertutup. Aku tersenyum tipis menanggapi satpam itu. “Bu Dewi datang ke sini mau bertemu Pak Harris, ya?” tanyanya kemudian. “Iya, Pak,” jawabku. “Oh, kalau begitu silakan, Bu,” ucap si satpam seraya menekankan tombol lift untukku. “Terima kasih,” kataku. “Sama-sama, Bu Dewi,” ujar si satpam, dengan senyum ramahnya yang masih terus terukir. Aku tentu balas tersenyum padanya. Tak lama setelah aku masuk ke dalam lift, pintu lift pun tertutup. Saat itulah senyumku luntur. Bukannya aku tak ikhlas bersikap ramah pada satpam itu. Tapi, masalah hidupku yang belakangan ini menghajarku secara terus-menerus membuat kepribadianku sedikit berubah. Saat ini, aku merasa enggan bersikap ramah pada siapa pun. Aku tak ingin berekspresi, aku hanya ingin menampilkan wajah datar sepanjang hari, seolah tak ada gairah dalam hidupku. *** “Oke, rapat hari ini sampai di sini saja. Untuk hal-hal yang sudah disepakati, silakan langsung dikerjakan. Minggu depan kita akan rapat lagi untuk evaluasi akhir,” ujar Harris. Semua orang yang ada di dalam ruang rapat itu mengangguk paham. Usai menutup rapat, Harris langsung keluar dari ruang rapat tersebut. Pria itu berjalan menuju ruangannya sembari membalas sebuah pesan masuk dari sang istri. Setibanya di dalam ruangan CEO, Harris mengernyit saat dia mendapati sosok Arin tampak berdiri di dekat jendela. Wanita itu bersikap sangat tenang, seolah tidak masalah jika Harris memergoki dirinya yang diam-diam masuk ke dalam ruangan CEO tanpa izin. “Apa yang kamu lakukan di ruangan saya, Arin?” tukas Harris, emosinya tertahan, dia tak mau membuat keributan. Arin menoleh bersama senyum manisnya. “Ah, rapatnya udah selesai, ya?” tanya Arin. Harris muak melihat mimik muka perempuan itu, yang menurutnya sok merasa paling cantik. Walau faktanya Harris akui kalau Arin memanglah cantik, dia bahkan bisa dinobatkan menjadi perempuan lajang paling cantik di perusahaannya. Tapi, Harris tak menyukainya, berdekatan lama dengan Arin saja sudah cukup membuat Harris merasa merinding. Cantik tak menjamin menarik. Begitulah pikir Harris. “Keluar dari ruangan saya,” titah Harris. “Lain kali jangan asal masuk ke dalam ruangan saya tanpa izin, apalagi saat saya tidak ada di ruangan ini. Untuk sekarang, saya akan maafkan kamu, tapi kalau kamu masih bersikap lancang seperti ini lagi, saya tidak akan segan-segan memecat kamu, ingat itu,” ancamnya. Namun, Arin masih terlihat tenang, seakan-akan dia tidak peduli jika dirinya benar-benar dipecat. Melihat tingkah Arin yang dengan sengaja mengabaikannya, tentu membuat Harris merasa diremehkan oleh bawahannya sendiri. “Arin,” amuk Harris, wajah bengisnya mulai tampil tegas. Tapi sayangnya, Arin masih tampak tenang walau Harris sudah membentaknya cukup keras. Harris sontak mengembuskan napasnya kasar, dengan penuh emosi dia berkata, “Oke, kalau ini mau kamu. Mulai detik ini kamu saya pe—” Perkataan Harris terpotong saat Arin tiba-tiba bergerak cepat membungkam bibir Harris dengan bibirnya. Wanita itu sangat berani, sungguh tak tahu malu. Tapi anehnya, Harris tampak diam saja, dia memang kaget, tapi tubuhnya membeku bersamaan dengan hormon testosteronnya yang seolah bangkit. Apalagi saat ciuman Arin terasa menggiurkan, Harris seakan sengaja pasrah menikmati ciuman itu. Ya, begitulah pria—terutama Harris—padahal sebelumnya dia bersikap tegas pada Arin, tapi setelah disodorkan hal yang menggetarkan hasratnya, dia hanya diam, tak menolak. Sebenarnya, sejak awal Arin tak berniat mencium Harris, dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya pada Harris, berharap pria itu sadar kalau ada gadis cantik yang tergila-gila padanya. Tapi ... saat Arin tanpa sengaja melihat Dewi masuk ke dalam ruangan Harris, akal Arin seolah menjadi dangkal. Dengan penuh dendam pada Dewi, Arin sengaja menyerobot bibir Harris tepat di depan mata perempuan itu. Di sisi lain, dalam sudut pandang Dewi. Beberapa saat yang lalu aku baru saja tiba di depan ruangan Mas Harris, kemudian aku lekas masuk ke dalam ruangan itu usai membaca pesan singkat dari Mas Harris yang mengatakan kalau dia sudah selesai rapat. Namun, saat aku baru saja menginjakkan kakiku ke dalam ruangan, mataku langsung disungguhi dengan pemandangan yang sangat meresahkan. Seorang perempuan yang kuingat bernama Arin terlihat sedang berciuman dengan Mas Harris. Sebenarnya aku tahu kalau ciuman itu dimulai dari Arin yang tiba-tiba memotong pembicaraan Mas Harris. Tapi seperkian detik berlalu, Mas Harris tak menunjukkan respons apa pun. Pria yang memunggungiku itu terlihat seolah menikmati ciuman yang Arin berikan. Namun, walau aku tahu kalau Mas Harris menikmati ciuman itu di depan mataku, aku justru diam. Bukan karena aku tak berani bersuara, tapi karena aku memang sengaja diam. Aku ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah setelah ini Mas Harris akan melepas pakaian Arin? Aku sangat menantikan hal itu terjadi, karena sekarang aku tengah merekam mereka. Siapa tahu dikemudian hari rekaman ini mungkin saja bisa menjadi salah satu bukti ketika kelak aku ingin menggugat cerai Mas Harris. Dua menit berlalu, Arin baru melepaskan ciumannya. Catat. Arin yang melepaskan ciumannya, bukan Mas Harris. Artinya, pria itu memang benar-benar menikmatinya. Dari sini aku tahu, Mas Harris memang dipenuhi nafsu. “Akh!” Arin tiba-tiba memekik dengan mata yang tertuju padaku, seolah dia kaget mengetahui keberadaanku yang memergokinya berciuman dengan suamiku. Hatiku meringis melihat sikap pura-puranya itu. Sungguh, aku tahu kalau sejak aku baru masuk ke dalam ruangan ini, Arin sudah melihat keberadaanku. “Dek,” lirih Mas Harris. Dia langsung mendekat ke arahku. Aku tak kabur, aku diam menunggunya tiba di hadapanku. “Sayang,” ucap Mas Harris memanggilku. Aku tersenyum miring, kemudian tanganku bergerak, bukan untuk menamparnya, tapi dengan sengaja aku mengelap bekas lipstik Arin yang menempel di bibir Mas Harris. Aku juga membenarkan dasinya serta satu kancing bajunya yang terbuka. “Enak ya, Mas?” tanyaku sembari menatapnya tanpa ekspresi. “Aku bisa jelasin,” kata Mas Harris. “Enggak perlu dijelasin, aku udah lihat semuanya,” ujarku, tetap bersikap tenang. “Dek, bukan Mas yang—” “Aku tahu,” potongku. “Aku tahu bukan Mas yang memulainya,” lanjutku. Mas Harris terlihat mengembuskan napasnya. “Maaf,” ucapnya kemudian. “Oke, enggak masalah,” ujarku sembari memasukkan ponselku ke dalam tas. Lalu aku berjalan menuju sofa dan duduk di sofa itu sambil melihat ke arah Arin. “Aku dengar katanya kamu asisten barunya Mas Harris, ya?” tanyaku pada Arin. “Iya.” Arin menjawabnya dengan nada ketus. Aku tersenyum, lalu berkata, “Kalau begitu tolong belikan saya es kopi americano, ya. Duitnya minta sama suamiku.” “Aku bukan pesuruhmu,” tukas Arin. “Tapi kamu asisten pribadinya Mas Harris. Dan Mas Harris adalah suamiku. Di sini aku adalah tamu. Tugas asisten pribadi adalah melayani keperluan bosnya dan juga tamu pentingnya,” cakapku. “Arin sudah aku pecat, Sayang. Jadi enggak perlu minta tolong sama dia. Kita bisa pergi keluar untuk beli es americano yang kamu mau,” sahut Mas Harris. “Loh? Kok dipecat, Mas? Kasihan dong dia. Apalagi dia udah kasih pelayanan spesial buat kamu,” kataku, berniat menyindir Mas Harris. Tapi tampaknya pria itu tidak peka kalau aku tengah menyindirnya. “Aku memang udah mau pecat dia dari tadi pagi, dan sikapnya barusan semakin buat aku yakin kalau aku harus pecat dia,” jelas Mas Harris. Aku mangut-mangut mendengarnya. Kemudian kembali menatap Arin yang terlihat sangat kesal. Dari matanya saja aku bisa melihat ada kobaran emosi yang tertahan. “Maafin suamiku ya, Arin. Padahal kamu udah berusaha kasih service yang penuh gairah ke dia. Tapi sayang banget ya, kayaknya suamiku kurang puas sama pelayanan kamu. Mungkin kedepannya kamu bisa lebih berusaha lagi,” tuturku sembari menatap Arin dengan senyum mengejek. Mas Harris berdehem mendengarku berbicara seperti itu, sepertinya dia mulai merasa tertohok dengan sindiranku barusan. “Arin, lebih baik kamu cepat keluar dari ruangan saya. Nanti tim SDM bakal hubungi kamu untuk mengurus pengunduran dirimu dari perusahaan,” cakap Mas Harris. Arin menghela napasnya kasar, kemudian dia melangkah keluar dengan kaki mengentak kesal. Aku tersenyum puas melihat pelakor itu kalah telak. Tanpa perlu membuang energi, aku menjadi pemenang dalam hal ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD