“Selamat pagi, Pak Harris.” Sapaan itu membuat Harris mengangkat kepalanya.
“Ada apa, Rin?” tanya Harris pada asisten barunya. Asisten yang menggantikan posisi Dewi.
Ya, sebelumnya Dewi adalah asisten pribadinya Harris, dia selalu ada di samping Harris sepanjang hari, menemani pria itu bekerja seharian. Tapi semenjak mereka menikah, Dewi tak lagi bekerja di perusahaan showroom mobil-mobil mewah milik keluarga suaminya itu. Dan posisi asisten pribadi pun diambil alih oleh Arin, yang sebelumnya adalah seorang kepala manajer pemasaran.
“Ini, Pak. Kemarin saya coba-coba buat kue, dan ini saya bawain untuk Pak Harris,” tutur Arin.
Harris menyipitkan matanya. “Maksud kamu, kamu mau jadiin saya kelinci percobaan?” tukasnya.
“Eh? Bu-bukan begitu, Pak. Yang saya bawain untuk Pak Harris ini rasanya enak kok, Pak. Sebelumnya saya juga udah cobain,” cakap Arin.
Harris menghela napasnya pelan, lalu berkata, “Saya enggak suka makan kue,” ujarnya.
“Tapi waktu itu saya lihat Pak Harris makan kue bareng Dewi di cafe deket kantor,” protes Arin.
“Itu karena saya ingin menghargai wanita yang saya cintai. Dia suka, maka saya harus suka,” terang Harris.
“Kenapa Pak Harris harus memaksakan diri kalau memang tidak suka? Kalau terus-terusan begitu, Pak Harris bisa menderita,” tutur Arin.
“Maksud kamu?”
“Memaksakan diri sendiri untuk menyukai sesuatu yang padahal Pak Harris enggak suka, itu artinya Pak Harris menyiksa diri sendiri,” urai Arin. “Lagian harusnya Dewi tahu makanan apa yang Pak Harris sukai dan yang enggak Pak Harris sukai,” imbuhnya.
Embusan napas berat Harris terdengar. Pria itu lantas melepaskan kacamatanya, lalu sorot matanya menatap Arin tajam.
“Jadi maksud kamu, kamu mau jelekin istri saya di depan saya, begitu?” Harris terlihat kesal.
“Pak Harris, saya enggak pernah bermaksud menjelekkan nama baik Dewi yang sekarang sudah menjadi Nyonya Muda di keluarganya Pak Harris. Saya cuma enggak mau Pak Harris menderita karena terlalu memaksakan diri untuk menyukai sesuatu yang enggak Pak—”
“Sudah cukup,” sela Harris. “Saya enggak mau denger omongan kamu lagi. Lebih baik kamu keluar dari ruangan saya, dan bawa pergi kue buatan kamu itu,” usirnya.
Seketika Arin bungkam. Dia diam dengan hati yang tentu saja sangat dongkol. Tapi dia tidak kesal dengan Harris, melainkan dengan sosok Dewi yang padahal tidak tahu apa-apa.
Faktanya, sejak Dewi menjadi asisten pribadinya Harris dan terlihat sangat dekat dengan Harris, Arin memang sudah tidak menyukainya.
Bisa dibilang, Arin iri dengan Dewi, karena dia pikir bahwa dialah yang lebih dulu menyukai Harris, dan dia sudah cukup lama berusaha merayu bosnya itu. Tapi sayang, perjuangannya harus terhalang oleh sosok Dewi yang tiba-tiba muncul sebagai orang terdekat Harris.
Itulah yang membuat Arin sangat-sangat tidak menyukai Dewi.
“Kenapa kamu masih ada di sini? Cepat sana keluar, urusin kerjaan kamu. Saya itu gaji kamu bukan untuk santai-santai,” oceh Harris.
Arin mendengus sebal, dengan rasa kecewanya dia pergi dari ruangan Harris sembari membawa serta kue yang padahal sudah susah payah dibuatnya demi merayu sang bos.
Setelah keluar dari dalam ruangan Harris, Arin tak segan-segan melempar kue buatannya itu ke dalam tong sampah sambil menggerutu kesal.
“Sialan, padahal aku lebih cantik dari Dewi, aku juga lebih populer dari dia, tapi bisa-bisanya aku kalah saing sama perempuan seperti dia,” kesal Arin.
“Kamu kenapa, Rin?” Seorang pria yang hendak masuk ke dalam ruangan Harris tampak heran menatap Arin yang diselimut emosi.
Arin menatap pria itu sinis, lalu dia mengembuskan napasnya berat, sebelum kemudian dia melangkah pergi tanpa menghiraukan pertanyaan pria tadi.
***
Hiruk pikuk suasana pasar tradisional membuatku harus menahan diri agar betah di tengah-tengah suara riuh para pembeli dan penjual yang saling tawar menawar.
Ramainya pasar hari ini kuduga karena beberapa hari lagi akan ada kenaikan harga bahan pokok. Dan karena itulah para ibu rumah tangga akan membeli cukup banyak persediaan bahan makanan, sebelum nantinya harga akan naik beberapa kali lipat.
Setelah sekitar setengah jam aku berkeliling pasar. Aku merasa beberapa bahan masakan yang aku beli sudah cukup untuk stok satu minggu ke depan.
“Mbak Dewi, apa ada yang mau dibeli lagi? Kalau masih ada yang mau dibeli lagi, saya bawa dulu belanjaan ini ke mobil,” ujar seorang pria paruh baya, dia adalah Pak Rahmat, sopir pribadinya mertuaku.
“Udah enggak ada yang mau saya beli lagi kok, Pak. Kita pulang aja,” tuturku, halus.
“Oh, baik, Mbak.”
Pria paruh baya itu lantas berjalan mendahuluiku, sesekali dia berlari kecil menuju mobil yang ada di area parkir.
Setibanya di dekat mobil itu, Pak Rahmat langsung memasukkan semua belanjaanku yang dibawanya itu ke dalam bagasi. Kemudian Pak Rahmat mendekatiku, lalu mengambil alih kantong belanjaan yang aku bawa.
Setelah memasukkan semua belanjaan ke dalam mobil, Pak Rahmat membukakan pintu mobil bagian belakang untukku.
“Makasih, Pak,” ucapku sembari masuk ke dalam mobil tersebut.
“Sama-sama, Mbak,” balas Pak Rahmat, menanggapi ucapan terima kasihku.
Kemudian, setelah menutup pintu mobil, Pak Rahmat bergegas menuju bagian kemudi.
Tak lama setelah itu, mobil pun melaju pergi dari area parkir.
Dalam perjalanan pulang, aku sibuk memeriksa list belanjaan yang aku buat sebelum berangkat ke pasar tadi, dan setelah kuperiksa untungnya semua sudah aku beli, termasuk titipan mama mertua.
Usai memeriksa list belanjaan itu, aku menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhku pada kursi mobil, merehatkan badanku yang rasanya pegal semua.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar ponselku berbunyi, sebuah panggilan masuk dari Mas Harris tampak menghiasi layar handphone-ku.
Aku pun langsung mengangkatnya.
“Sayang?”
“Assalamu’alaikum, Mas. Ada apa?”
“Wa’alaikumussalam,” ucap Mas Harris, menjawab salam yang kulontarkan padanya. “Kamu udah bangun?” tanyanya kemudian.
“Udah dari tadi, Mas,” jawabku.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Tadi Mas sengaja enggak bangunin kamu. Mas tahu kamu kecapean,” tutur Mas Harris dari seberang panggilan.
Aku mengembuskan napas berat. Mungkin perempuan lain akan berpikir kalau tindakan Mas Harris terkesan sangatlah romantis.
Tapi, aku yang menyimpan dendam padanya justru berpikir kalau tindakannya itu malah mempersulitku. Pasalnya, kalau saja dia membangunkanku, maka Mama Hanum mungkin tidak akan terlihat sekesal tadi padaku.
“Sayang,” panggil Mas Harris.
“Iya?”
“Kamu lagi di mobil, ya?” tanyanya kemudian.
Sepertinya dia mendengar suara derum mobil yang kutumpangi.
“Iya, aku baru pulang dari pasar, ini mau balik ke rumah,” terangku.
“Oh.”
“Mas ada perlu apa telepon aku?” Aku bertanya karena ingin lekas mengakhiri panggilan penuh basa-basi ini.
“Ah, itu, nanti siang kamu dateng ke kantor, ya,” ujar Mas Harris.
Aku mengernyit bingung, kemudian bertanya, “Memangnya ada keperluan apa Mas suruh aku dateng ke kantor? Bukannya Mas udah enggak bolehin aku kerja lagi? Tapi kalau Mas mau aku kerja lagi ya aku enggak pa-pa sih, aku malah seneng karena aku enggak perlu di rumah terus.”
“Enggak, sayang. Aku enggak mau kamu kerja lagi,” tegas Mas Harris.
“Terus kenapa Mas suruh aku dateng ke kantor?”
“Mas cuma kangen aja kerja ditemenin sama kamu,” terangnya.
“Tapi sore nanti aku harus siapin makan malem, Mas,” kilahku, berharap dia tidak lagi menyuruhku datang ke kantor, apa pun alasannya.
“Nanti biar aku yang ngomong sama mama,” cakap Mas Harris.
Aku diam mendengarnya. Satu hal yang aku lupakan, bahwasanya aku tidak akan pernah bisa mengekang kehendak Mas Harris. Jika pria itu sudah memutuskan ini dan itu, maka dia pasti akan memaksaku untuk mengikuti keputusannya.
“Ya sudah, ya. Aku mau rapat, sampai ketemu siang nanti, I love you,” ucapnya.
“Hm.” Aku menanggapi singkat, kemudian langsung kumatikan panggilan tersebut tanpa membalas ungkapan cintanya.
Aku yakin di sana pasti Mas Harris sangat kesal mendapati sikapku yang nyatanya masih belum bisa membalas perasaannya.