Aku tersentak dari tidurku saat merasa ada sesuatu yang janggal.
Dan benar saja, sinar matahari sudah tampak menerobos masuk ke dalam kamarku. Cahayanya begitu terang, menandakan kalau hari sudah lewat dari kata subuh.
Saat aku menoleh ke samping, kulihat Mas Harris sudah tidak ada di tempatnya.
Ya Tuhan. Matilah aku, sepertinya aku bangun kesiangan.
Buru-buru aku melihat ponselku untuk memastikan waktu saat ini.
Pukul delapan pagi, lewat dua puluh menit.
Mataku terbelalak melihat angka itu. Apa ini cuma mimpi? Mimpi di dalam mimpi. Aku harap begitu. Tapi ini terlalu nyata.
Aku lantas membuka Google untuk memastikan waktu saat ini, dan kudapati Google juga memberikan jawaban serupa. Saat ini benar-benar pukul delapan lebih.
Ya Tuhan, untuk pertama kalinya aku bangun kesiangan di rumah mertuaku.
Padahal jam dua dini hari tadi aku sudah bangun, aku juga sempat melakukan rutinitas ibadahku seperti biasa.
Namun, setelah salat subuh, aku tak langsung pergi ke dapur, melainkan kembali naik ke atas kasur dan kembali tidur lantaran terlalu lelah.
Semalam, sehabis pulang dari acara reuni, nyatanya Mas Harris tidak membiarkanku istirahat, dia justru memintaku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
Aku sudah berusaha menolaknya dengan baik-baik, mengatakan padanya bahwa aku terlalu lelah untuk melayaninya.
Tapi sifat Mas Harris yang egois, tentu membuatku kalah debat dengannya.
Pada akhirnya, dia mendapatkan apa yang dimintanya. Dan aku hanya bisa pasrah menahan jijik serta resah.
Tepat pukul sebelas malam, Mas Harris berhasil menuntaskan hasratnya, lalu dia langsung pergi tidur usai mengucapkan beberapa kalimat rayuan.
Sedangkan aku, mataku baru bisa terpejam sekitar pukul dua belas lebih. Jadi bisa dibayangkan betapa ngantuknya aku saat sempat bangun jam dua dini hari tadi. Karena itu setelah salat subuh tadi tanpa sadar kakiku bergerak kembali ke atas kasur, melanjutkan tidurku.
Dan imbasnya, aku berakhir bangun kesiangan.
Aku pun lekas bangkit dari atas kasur dengan perasaan gelisah.
Pertama, aku berlari ke kamar mandi, menyempatkan diriku untuk menggosok gigi dan mencuci mukaku agar tidak ada bekas seperti orang baru bangun tidur.
Setelah itu, aku bergegas keluar dari kamar dengan jantung yang sudah berdetak tak karuan.
Setiap kakiku melangkah, bertambah pula rasa takutku yang sudah menggerayangi hampir seluruh otakku, cemas pun turut serta mengusikku.
Ah sial. Andai saja ini bukan rumah mertuaku, aku tidak akan secemas ini. Mas Harris juga pasti tidak akan mengomeliku karena dia paham betul alasanku bangun kesiangan karena.
Selang beberapa saat kemudian, aku tiba di dapur. Di sana, aku tidak melihat siapa pun. Tak ada seorang pun.
Piring dan gelas kotor bekas sarapan pun tampak sudah dicuci bersih oleh seseorang, yang pastinya adalah Mama Hanum—ibu mertuaku.
“Udah bangun?”
Suara itu membuat napasku seperti dicekik oleh sesuatu. Aku sontak menoleh ke sumber suara itu berasal, arah pintu belakang.
Ya, di sana aku melihat sosok ibu mertuaku. Sepertinya beliau baru selesai menyirami tanamannya yang biasa aku rawat.
“Maaf, Ma,” lirihku sembari menatap wanita paruh baya itu dengan gelisah.
“Tadi mama suruh Harris bangunin kamu, tapi dia bilang kamu kecapean dan nyuruh mama biarin kamu tidur,” cakap Mama Hanum. “Memangnya kamu capek apa sih? Perasaan semalam kalian pulang dari acara reuni enggak malem-malem banget,” komentarnya.
“Kalau bicara soal capek, harusnya Harris yang lebih capek dari kamu. Tapi buktinya dia masih bisa bangun pagi,” lanjut Mama Hanum.
“Maaf, Ma,” ucapku lagi.
Sungguh tak ada kata selain maaf yang boleh kuutarakan padanya. Karena jika aku menanggapinya dengan sikap yang tegas, beliau pasti akan semakin tersulut emosi.
“Maaf, maaf, semudah itu kamu bilang maaf,” oceh Mama Hanum. “Harusnya waktu itu aku enggak langsung setuju dengan keputusan Harris yang tiba-tiba mau menikah dengan perempuan seperti kamu. Tapi karena waktu itu aku terlalu senang melihat putraku akhirnya mau menikah, aku dengan bodohnya langsung setuju begitu saja tanpa melihat latar belakangmu. Kalau saja aku tahu bagaimana tabiatmu, aku pasti enggak akan pernah merestui Harris menikahimu,” tukasnya.
Hatiku rasanya perih mendengar perkataan ibu mertuaku barusan.
Jika saja beliau tahu fakta yang sebenarnya, apakah beliau tetap akan berbicara sekasar ini padaku?
Wahai ibu mertua. Aku ini bukan perempuan bodoh yang tergila-gila dengan putramu.
Aku ini bukan parasit yang berniat menumpang hidup di dalam kehidupan putramu.
Aku ini juga seorang putri tercinta dari seorang ibu tangguh. Bahkan, jauh sebelum aku menikah dengan putramu, hidupku sudah sangat bahagia. Bisa dibilang, tak pernah sekalipun tersebit di dalam benakku kalau aku ketergantungan pada putra tercintamu itu.
Aku menikah dengan putramu bukan karena kemauanku, tapi putramulah yang memintaku, dan bahkan memaksaku.
Bahkan, dia telah melakukan hal menjijikkan padaku, demi membuatku menjadi miliknya.
Wahai ibu mertua, banyak yang sudah kukorbankan karena menikah dengan putramu.
Aku kehilangan kebebasanku, kebahagiaanku dan bahkan aku telah kehilangan diriku sendiri.
Sungguh, aku tidak mengenali diri ini, karena sekarang aku benar-benar telah berubah menjadi sosok pengecut yang sangat bodoh.
Ironisnya, saat ini hatiku sudah menjerit, menggebu-gebu ingin melontarkan semua kalimat yang sudah kususun rapi itu.
Namun, aku adalah seorang pengecut. Aku tak memiliki sedikit pun keberanian untuk menguraikan semua kalimat yang padahal sudah terasa sesak membanjiri sanubariku.
“Kok kamu malah sibuk ngelamun sih?” Mama Hanum kembali bersuara. “Kamu mending pergi belanja sana, bahan masakan di kulkas udah menipis. Jangan sampai nanti kamu masakin Harris pakai lauk seadanya. Dia udah capek kerja seharian, kamu seharusnya layani dia dengan baik. Paham?” ujarnya.
“Iya, Ma,” ucapku seraya mengangguk pelan menanggapinya.
“Ya udah sana buruan pergi, minta sopir anterin kamu,” suruh Mama Hanum, kemudian aku mendengar ibu mertuaku menghela napasnya berat, lalu beliau melangkah pergi, melewatiku tanpa berkata apa-apa lagi.
Selepas kepergian Mama Hanum, tanganku langsung bertumpu pada dinding yang ada di dekatku, rasanya tubuhku hampir ambruk menahan semua gejolak kesal dan amarah yang kutahan erat di dalam diriku.
Pada titik ini, aku merasa sulit untuk bertahan. Semua perkataan Mama Hanum tadi benar-benar membuat mentalku hancur berantakan.
Mama Hanum sungguh memandangku rendah, satu kali pun tak pernah aku melihatnya menghargai diriku.
Beliau selalu bersikap tegas dan sarkas padaku. Seolah aku ini dianggap babu olehnya.
Mungkin dalam benaknya, aku lebih cocok menjadi pembantu di rumah ini daripada menantunya.
Aku meringis merasakan betapa sesaknya hatiku saat ini.
Tuhan. Harus sampai kapan aku bersikap sabar?
Aku ingin pergi dari sini.
Aku ingin pulang ke rumah ibuku.