Beberapa menit setelah aku mengobrol singkat dengan Kak Ferdy, pria itu berpamitan saat dia mendapatkan telepon dari kekasihnya.
Kini aku berakhir sendirian, seperti orang asing yang terjebak di dunia lain.
Mas Harris juga terlihat masih asyik mengobrol dengan pria paruh baya itu. Aku tentu tak berani mengganggunya.
Setelah cukup lama berdiam diri, aku memutuskan untuk keluar dari ballroom.
Mungkin di luar sana lebih nyaman untukku.
Setibanya di luar hotel, aku menyibukkan diriku dengan berkeliling di sekitar taman hotel yang sangat luas.
Di bagian tengah taman, aku melihat ada sebuah kursi kayu yang membuatku langsung mendekatinya.
Aku duduk di sana sembari menghela napas pelan, akhirnya kakiku bisa istirahat setelah beberapa saat lalu kupaksakan berdiri.
“Sendirian aja?” Seorang pria tiba-tiba berbicara.
Sontak aku terkejut mendengar ada orang lain di sekitar sini. Aku pun langsung menoleh ke arahnya seraya memasang sikap waspada, aku harus sigap kalau-kalau pria itu hendak berbuat buruk padaku.
“Ah, sorry, kayaknya aku buat kamu kaget, ya,” kata pria itu, yang sepertinya sudah cukup lama dia duduk di bawah pohon rindang tepat di belakang kursi yang kutempati.
Tapi, apa yang dilakukannya seorang diri di sini? Apalagi dia memilih tempat yang cukup gelap untuk menyendiri. Aku bahkan tidak akan pernah menyadari keberadaannya kalau saja dia tidak bersuara.
“Melihat dari pakaianmu, apa kamu datang ke sini untuk menghadiri acara reuni SMA Theia?” tanyanya.
Mendengar pria itu membahas soal acara reuni SMA-nya Mas Harris, sepertinya dia juga alumni dari SMA elite itu.
Namun, walau aku tahu dia juga alumni SMA Theia, aku memilih diam tak menanggapi pertanyaannya. Lagi pula untuk apa aku menanggapi perkataan orang asing.
Aku pun lantas bangkit dari kursi yang sempat kusinggahi sesaat.
Aku berniat pergi dari tempat itu, meski sebenarnya aku sudah cukup nyaman merehatkan diriku di taman ini.
“Mau ke mana?” Pria itu kembali bersuara saat aku baru saja hendak melangkah pergi.
Aku menoleh sekilas padanya, lalu kembali melangkah pergi dan memilih mengabaikan pertanyaannya.
Tapi kemudian, dia kembali berbicara padaku.
“Kamu mau balik lagi ke tempat mengerikan itu?” tanyanya. “Kamu udah susah payah keluar dari sana, kenapa mau balik lagi ke sana? Kamu bisa stay di sini, anggep aja aku enggak ada. Aku juga bakal diem,” tutur pria misterius itu.
Perkataannya seketika membuatku ragu. Faktanya, aku juga memiliki pikiran yang serupa dengannya.
Bagiku, tempat diadakannya pesta acara reuni itu memang terasa mengerikan. Aku bahkan merasa tidak percaya diri.
Rasa tidak percaya diri ini hadir karena aku sangat sadar kalau aku tidak sederajat dengan orang-orang yang ada di dalam sana. Apalagi Mas Harris malah sibuk sendiri, dan aku akan benar-benar seperti orang bodoh jika masih memaksakan diri untuk tetap berada di tempat itu.
“Duduk aja, kakimu itu bisa sakit kalau kelamaan berdiri,” ujar si pria misterius, yang sampai detik ini tak aku ketahui dengan jelas bagaimana rupanya, aku hanya bisa melihat wajahnya samar, karena dia bersembunyi dengan sangat apik di bawah pohon tanpa ada lampu yang menerangi.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya aku memutuskan untuk duduk kembali di kursi kayu tadi.
Aku duduk dengan posisi membelakangi si pria misterius yang masih berdiam diri di bawah pohon.
Sesuai janjinya, pria itu benar-benar diam saat aku kembali duduk di kursi kayu ini.
Aku bahkan mulai merasa seolah hanya ada aku seorang di sini.
Sampai kemudian, suara dering panggilan masuk dari ponselku membuat tanganku secara refleks langsung mengambil handphone tersebut dari dalam tas yang kubawa.
Aku menghela napas pelan saat melihat nama Mas Harris muncul di layar handphone, dia pasti sedang mencariku karena tidak melihatku berada di dalam sana.
Aku lantas bangkit dari kursi yang padahal sudah membuatku merasa sangat nyaman duduk di sana.
“Mau pergi?” tanya pria misterius tadi.
Aku menoleh padanya usai mengirimkan sebuah pesan singkat pada Mas Harris kalau aku akan segera kembali.
“Makasih udah izinin aku singgah di sini. Tapi sekarang aku harus pergi, suamiku nyariin,” ujarku pada pria misterius itu.
Dan pria itu tak menanggapi, tapi aku bisa melihat tubuhnya tampak menghadap ke arahku, dia seperti tengah menatapku yang disinari cahaya bulan.
“Aku permisi,” pamitku kemudian.
Setelah itu, aku buru-buru melangkah pergi, meninggalkan pria misterius itu seorang diri.
***
Setelah dua jam berlalu, acara reuni itu akhirnya selesai. Sebenarnya beberapa teman lama Mas Harris ada yang mengajaknya untuk makan di luar dulu dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Tapi untungnya Mas Harris menolak, dengan berdalih kalau besok dia ada rapat penting.
Aku sangat bersyukur dengan keputusan Mas Harris, karena sejak awal aku memang sudah ingin sekali pulang. Aku benar-benar tidak betah berada di sini. Badanku juga sudah terasa pegal semua.
Walau tadi aku sempat istirahat beberapa saat di area taman hotel.
Setelah berpamitan dengan beberapa temannya Mas Harris, akhirnya kami pergi menuju basement.
Namun.
“Hai, Ris.” Seorang pria terdengar memanggil nama Mas Harris saat Mas Harris hendak membukakan pintu mobilnya untukku.
Mas Harris dan aku sontak menoleh ke arah seorang pria yang tampak berdiri tak jauh dari mobil kami.
“Akhirnya aku ketemu sama kamu.” Dia berbicara.
Saat mendengar suara pria itu, entah kenapa aku merasa tidak asing dengan suaranya. Seolah-olah aku pernah mendengar suara itu di suatu tempat.
“Steven.” Senyum Mas Harris tiba-tiba merekah sempurna, tak pernah kulihat suamiku sebahagia itu, kecuali saat dia berhasil menikahiku ketika ijab kabul dulu.
“Kamu apa kabar?” tanya si pria yang dipanggil ‘Steven’ oleh Mas Harris.
“Always good,” jawab Mas Harris, menatap pria itu seperti saudara dekatnya.
“Dia ....” Pria itu kini menatap ke arahku.
“Dia istriku, kami belum lama menikah. Aku pikir kamu udah tahu tentang kabar pernikahanku. Asal kamu tahu, aku sangat ingin memukulmu karena tidak datang di acara pernikahanku,” cakap Mas Harris, yang kemudian langsung dibalas kekehan ringan oleh pria di depannya itu.
“Sayang sekali ya gadis secantik kamu harus menikah dengan pria seperti Harris ini,” ujarnya sembari menatap ke arahku.
Mendengarnya berkata seperti itu, kupikir Mas Harris akan marah, tapi nyatanya Mas Harris justru tertawa renyah, seolah tahu kalau perkataan pria itu adalah sebuah candaan.
“Boleh aku tahu namanya?” tanya pria itu, meminta izin pada Mas Harris.
Kulihat Mas Harris tampak mengernyit.
“Tunggu dulu,” ujar Mas Harris kemudian. Aku melihat tatapannya menandakan sebuah keheranan.
“Ada apa?” tanya si pria bernama Steven.
“Aku kira kalian udah saling kenal,” cakap Mas Harris.
Sontak aku mengerutkan keningku bingung, lalu aku berkata, “Aku enggak kenal sama dia, Mas. Ini pertama kalinya aku ketemu sama dia.”
“Dia itu kakaknya Silla, Sayang,” terang Mas Harris.
Aku kaget mendengarnya. Sontak aku langsung menatap wajah pria itu, menatapnya lekat, mencari kemiripan antara dia dan Silla.
“Istrimu kenal sama Silla?” Pria itu bertanya.
“Dia sahabat baiknya Silla dari SMA sampai sekarang, aku kenal dia juga dari Silla. Waktu itu kami enggak sengaja ketemu pas aku gantiin kamu jemput Silla pulang kuliah,” papar Mas Harris.
“Ah, andai aja waktu itu aku enggak sibuk, pasti aku yang bakal kenal sama istrimu ini,” ujar pria bernama Steven itu, yang kini kutahu kalau dia adalah kakak Silla yang selalu Silla ceritakan jarang pulang ke rumah.
“Ngomong-ngomong, kamu dateng ke sini karena acara reuni?” tanya Mas Harris kemudian.
Kak Steven—pria itu mengangguk menanggapinya.
“Awalnya aku dateng karena mau ketemu sama kamu, tapi tadi aku lihat kamu lagi sibuk ngobrol sama Pak Antonio. Akhirnya aku keluar dan pas aku balik lagi ke ballroom, ternyata acaranya udah selesai,” terang Kak Steven.
Mas Harris terkekeh mendengar ceritanya. “Kamu memang belum berubah, ya. Si paling anti sosial. Tapi kalau disuruh public speaking jago banget,” ujarnya.
“Yup, kamu tahu sendiri, aku paling benci acara seperti itu, bagiku berada di tempat seperti itu rasanya mengerikan,” kata Kak Steven.
Aku tertegun saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Rasanya aku pernah mendengar kalimat itu di suatu tempat. Tapi karena terlalu lelah, otakku seakan tak mampu mengingat di mana aku pernah mendengarnya.