Aku menghela napas panjang, rasanya gugup saat kakiku berpijak di sebuah hotel bintang lima yang terkenal kemewahannya. Jarang sekali kalangan biasa sepertiku bisa masuk ke dalam hotel ini. Anggap saja aku sangat beruntung karena memiliki suami yang kaya raya. Itulah yang membuat banyak wanita iri padaku.
Tangan Mas Harris terasa melingkar pada pinggangku, aku sempat terkejut, tapi kemudian aku berusaha bersikap biasa saja. Tak lama setelah itu, Mas Harris mulai menarikku pelan menuju ballroom hotel tersebut.
Saat masuk ke dalam ballroom, pandanganku seolah silau dengan orang-orang yang semuanya mengenakan pakaian mewah.
Ternyata seperti ini ya rasanya masuk ke dalam kalangan orang-orang kaya, aku merasa seperti itik buruk rupa yang kesasar di kandang burung merak.
Tanganku bahkan seketika terasa berkeringat, hingga Mas Harris tampak menoleh ke arahku.
“Kamu gugup?” tebaknya.
Dan, ya, dia benar. Aku gugup, bukan hanya sekedar gugup biasa, tapi aku benar-benar sangat gugup.
“Mas, aku takut ada di sini,” jujurku.
Mas Harris sontak mengerutkan keningnya, dia sepertinya heran dengan penuturanku barusan.
“Harris.” Seseorang memanggil nama Mas Harris cukup lantang, hingga membuat beberapa orang di sekitar kami tampak menoleh, memusatkan perhatian mereka ke arah Mas Harris, dan tentu saja aku pun turut menjadi pusat perhatian mereka.
“Jangan gugup. Kamu itu istri aku, tunjukin kalau kamu itu adalah nyonya muda Kennedy, istri dari Harris Kennedy,” bisik Mas Harris, sebelum kemudian dia tersenyum ke arah seorang pria yang tadi memanggil namanya.
“Wah, ternyata kabar lo nikah emang bener, ya,” kata pria itu, kemudian dia menatap ke arahku, melemparkan senyum ramahnya sembari mengulurkan tangannya, mengajakku berjabat tangan.
“Gue Ferdy, temen sebangku Harris pas SMA dulu,” ujar pria itu. “Salam kenal,” imbuhnya.
Aku balas tersenyum ramah padanya. Kemudian, aku melepaskan pegangan tangan Mas Harris agar aku bisa menerima jabatan tangan dari pria bernama Ferdy itu. Kedepannya aku akan memanggilnya ‘kakak’, karena dia seumuran dengan suamiku, maka artinya dia lebih tua lima tahun dariku.
Namun, saat aku mencoba mengulurkan tanganku untuk menerima uluran tangan Kak Ferdy, tiba-tiba Mas Harris menyerobot, menerima uluran tangan si Ferdy. Setelah itu Mas Harris kembali menggenggam tanganku lagi.
Lihatlah, sikapnya itu jelas sekali menunjukkan seolah dia tidak memberi izin Kak Ferdy menyentuhku sedikit saja.
Aku cukup kaget melihat tindakan suamiku barusan, ternyata sikap posesifnya sangat kuat.
Kak Ferdy kemudian tampak tertawa, lalu dia berkata, “Wah, sekarang lo jadi cowok yang super posesif ya, Ris.”
Mas Harris tak menanggapinya, dia hanya memberikan sedikit senyum tipisnya untuk menanggapi perkataan temannya itu.
Tak lama kemudian, ada tiga orang lainnya yang datang mendekati kami, dua wanita dan seorang pria.
“Hai, Ris. Gue kira tahun ini lo enggak bakal dateng lagi kayak tahun-tahun kemaren,” kata si pria yang memiliki rambut bercat abu-abu tua.
“Dia istri lo ya, Ris? Gue denger lo udah nikah, tapi kayaknya enggak ada satu pun temen SMA kita yang lo undang,” sahut seorang wanita yang sejak datang tadi terus bergelayut di lengan si pria berambut abu-abu tua.
“Iya, dia istri gue. Namanya Dewi. Dan soal undangan pernikahan kami, maaf enggak undang kalian, karena gue memang enggak undang semua orang, gue cuma undang orang-orang terdekat, dan rekan bisnis aja,” jawab Mas Harris, dia menjawabnya dengan penuh wibawa, seolah tengah men-skakmat dua orang di depannya itu.
Aku tersenyum tipis melihat betapa kerennya Mas Harris saat ini.
Pantas saja banyak wanita yang iri denganku. Ternyata sisi ini yang membuat mereka tergila-gila pada suamiku.
Anehnya, aku sudah mengenal Mas Harris selama dua tahun lebih, tapi selama ini aku tidak pernah menyadari pesonanya sama sekali.
Bahkan, dulu aku selalu tegas menolak perasaannya setiap kali dia mengajakku untuk menjalin hubungan.
Tapi kenyataannya, sampai detik ini aku memang masih belum memiliki perasaan apa-apa padanya, selain perasaan kagum dan menghormatinya sebagai sosok yang berkarakter tegas.
Di tengah-tengah kekagumanku pada karakter Mas Harris yang cool. Aku merasakan ada sepasang bola mata yang sejak tadi terus menatapku lekat. Sepasang bola mata itu cukup lama menatapku dari atas hingga bawah, seolah dia tengah menilai penampilanku saat ini.
“Gue terpesona sama pakaian istri lo, Ris,” komentar perempuan si pemilik bola mata jeli itu. Dia bahkan masih menatapku lekat, tapi kali ini dia menatap wajahku dengan raut tak bersahabat.
“Gaun itu keluaran terbaru dari brand yang sangat luar biasa terkenal, dan syarat kepemilikan gaun itu cukup ketat. Mereka menjual gaun itu dengan metode satu negara satu gaun, yang artinya di negara ini hanya ada satu orang yang bisa memiliki gaun itu,” katanya, entah apa yang dia bicarakan. Aku memahaminya tapi aku tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba membahas tentang gaun pesta yang kukenakan?
“Dan gue yang cukup mampu untuk membeli gaun itu, ternyata kalah cepet sama istri lo, Ris. Pantas aja pengajuan pembelian gue ditolak. Gue kira siapa yang udah beli gaun impian itu, ah, ternyata perempuan ini, istri Harris Kennedy, sang nyonya muda,” imbuhnya.
Dari caranya menatapku, terlihat jelas kalau dia sangat tidak suka padaku. Tapi, masa iya hanya karena gaun yang kukenakan ini dia menjadi begitu sangat tidak suka padaku?
“Bell, sudah dong, lo jangan serius gitu deh, lihat tuh istrinya Harris ketakutan gara-gara lo,” kata si perempuan yang bergelayut manja tadi. Dia berbicara seperti itu seakan ikut mengejekku.
Tak lama setelah perempuan itu berbicara, si Bella terlihat mengurai senyumnya, lalu wajahnya tiba-tiba berubah ramah. Aku tahu itu keramahan palsu.
“Sorry ya, gue cuma bercanda kok. Tadi gue sedikit agak kaget aja lihat gaun impian gue jadi milik seseorang yang ternyata is-tri-nya Harris,” cakap si Bella, caranya berbicara dengan menekankan kata ‘istri’ seolah ada suatu makna sindiran yang sepertinya ditujukan untuk Mas Harris.
“Iya, enggak pa-pa kok,” balasku, malas mencari masalah dengannya.
“Andai Sora yang pakai gaun itu, pasti lebih cocok lagi, iya kan, Ris?” si Bella tiba-tiba kembali berbicara dengan menyebut nama seorang perempuan yang sebelumnya pernah aku dengar.
Ya, nama itu adalah nama yang beberapa jam lalu juga sempat disebut oleh ibu mertuaku, yang kuduga sebagai mantan kekasihnya Mas Harris.
Aku melirik ke arah Mas Harris yang terlihat tak memberikan respons apa pun. Suamiku itu terlihat masih tenang. Dia hanya diam, seolah tidak peduli dengan sikap Bella yang terkesan mengajaknya bermusuhan.
“Oh, ya, Ris. Lo belum nyapa Pak Antonio kan? Beliau tahun ini datang sebagai perwakilan guru sekolah kita, tadi beliau cariin lo, buruan sana lo samperin, bawa istri lo sekalian, kenalin dia sama guru tercinta lo itu,” sahut Kak Ferdy, sepertinya pria itu sengaja membahas soal Pak Antonio demi memecah suasana yang saat ini terasa memanas.
Mas Harris tampak mengangguk singkat menanggapi perkataan Kak Ferdy barusan. Kemudian, dengan sopan dia berpamitan pada tiga temannya tadi.
“Permisi,” ucapnya, dingin.
Setelah itu, Mas Harris menarikku pelan, membawaku ke sebuah tempat yang diarahkan oleh Kak Ferdy.
Hingga akhirnya, aku dan Mas Harris tiba di bagian tengah ballroom, di sana aku bisa melihat Pak Antonio yang ditunjuk oleh Kak Ferdy, dia seorang pria paruh baya berusia sekitar enam puluhan tahun, dan tampak sedang mengobrol dengan beberapa orang.
“Fer, gue titip istri gue, ya. Gue mau temuin Pak Antonio sendirian,” tutur Mas Harris.
Aku sedikit heran dengan perkataannya barusan. Padahal beberapa saat lalu dia bahkan tidak membiarkanku bersalaman dengan Kak Ferdy, tapi sekarang, dia justru menitipkanku pada temannya ini.
“Hei.” Kak Ferdy dengan sengaja menyentak lamunanku saat aku sibuk menatap kepergian Mas Harris yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri saat ini.
“Tenang aja, suami lo enggak akan ilang kok, enggak usah dilihatin terus,” komentar Ferdy sembari terkekeh kecil melihat tingkahku yang seperti anak ayam ditinggal induknya. Ya, aku cemas ditinggal sendirian oleh Mas Harris. Masalahnya, di sini aku tidak mengenal siapa-siapa.
Aku pun tersenyum canggung menanggapi perkataan Kak Ferdy barusan.
“Dewi,” panggil Kak Ferdy kemudian.
“Iya, Kak?” ucapku menanggapinya.
“Kak?” Pria itu tampak heran saat mendengarku memanggilnya dengan embel-embel ‘kak’.
“Apa cara aku manggil kedengeran aneh?” tanyaku.
“Enggak sih, aku cuma sedikit kaget aja,” ujarnya. “Tapi kalau boleh tahu, memang usiamu berapa?” tanyanya kemudian.
“Ah, itu, aku beda lima tahun sama Mas Harris, dan karena Kak Ferdy temennya Mas Harris jadi aku pikir kalian seumuran, makanya aku panggil begitu. Tapi kalau Kak—eh anu maksudku kamu, kalau kamu enggak nyaman sama caraku manggil, aku bisa—”
“Enggak pa-pa, gue santai kok orangnya. Gue malah seneng, karena akhirnya setelah tiga puluh tahun gue hidup ada juga orang yang manggil gue kakak, berasa punya adek gue,” kata Kak Ferdy sembari tertawa renyah, hingga aku bisa melihat betapa manisnya gigi gingsul yang dia miliki.
Aku hanya mesem menanggapi perkataan Kak Ferdy barusan.
“Oh, ya, soal omongan Bella tadi, jangan terlalu lo pikirin ya. Bella emang udah lama enggak suka sama Harris. Dia mulai benci sama Harris semenjak Harris putus sama adeknya,” terang Kak Ferdy.
“Maksudnya putus sama perempuan yang namanya Sora tadi?” tebakku.
Kak Ferdy mengangguk. “Sora juga beda lima tahun sama Harris, dulu pas SMA sebenernya Harris mau deketin Bella, tapi setelah ketemu sama adeknya Bella yang masih SMP, dia jadi suka sama si Sora itu. Dan pas Harris kuliah dia mulai pacaran sama Sora, tapi mereka udah lama putus sekitar tujuh tahun yang lalu gara-gara Sora selingkuh,” papar Kak Ferdy.
“Kalau gitu, bukannya si Sora yang salah? Terus kenapa Kak Bella benci sama Mas Harris.”
“Enggak tahu, tapi menurutku karena dulu Bella sebenernya suka sama Harris, tapi karena Harris suka sama adeknya, akhirnya dia ngalah. Dan pas Harris putus sama adeknya, Bella sempet deketin Harris lagi, tapi Harris nolak karena dia trauma sama semua yang berhubungan dengan Sora,” jelas Kak Ferdy.
“Hubungan Harris sama Sora retak semenjak orang tua Sora cerai. Kabarnya ibunya Sora selingkuh, dan setelah perceraian orang tuanya, Sora dibawa sama ibunya tinggal di Singapura di rumah ayah tirinya,” lanjut Kak Ferdy.
“Dan Kak Bella ikut ayahnya?” terkaku.
“Betul, tapi ayahnya belum lama ini meninggal, jadi Bella sekarang tinggal sendirian di rumah besar peninggalan ayahnya, dan dia juga yang ngelola perusahaan perhiasan milik mendiang ayahnya.”
Aku terdiam, pantas saja aura kemewahan terpancar jelas dari diri perempuan berama Bella tadi, ternyata dia seorang pengusaha sukses, ditambah harta warisan dari ayahnya sangat melimpah.
Sungguh berbeda denganku, aku dan adikku ditinggal mati oleh ayahku dalam keadaan tidak punya apa-apa. Jangankan mengharapkan harta warisan, kami justru diwarisi hutang piutang oleh mendiang ayahku.