Aku menatap jam dinding yang melekat di dapur, hari sudah sore, tapi karena Mama Hanum memintaku untuk membuat camilan kue bawang, tentu aku masih harus berkutat di dapur. Padahal siang tadi Mas Harris sudah mengingatkanku agar jam lima sore ini aku sudah siap, setidaknya aku sudah mandi dan mulai make up. Karena setelah magrib nanti kami akan berangkat ke acara reuni SMA-nya Mas Harris.
Hanya saja, mulutku terlalu kaku untuk berbicara pada Mama Hanum, entah bagaimana mentalku menjadi setipis tisu, aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk berkata bahwa aku tidak bisa melanjutkan membuat camilan lagi, karena aku harus bersiap untuk ikut Mas Harris pergi.
Sampai akhirnya dua jam pun berlalu, pukul enam sore menjelang magrib, akhirnya aku selesai membuat camilan kesukaan ibu mertuaku itu.
Setelah membereskan dapur, aku langsung berjalan cepat menuju kamar.
Tapi saat kakiku baru menginjak satu anak tangga, tiba-tiba Mama Hanum memanggilku dari arah depan rumah.
Aku bernapas pelan, dan tanpa bisa membantah—tubuhku langsung bergerak menuju ke tempat Mama Hanum berada.
Saat aku tiba di area ruang tamu, kulihat Mas Harris sudah pulang, dia baru saja masuk ke dalam rumah dan disambut hangat oleh ibunya.
“Wi, suamimu udah pulang, buruan disambut,” suruh Mama Hanum.
Aku langsung mendekati Mas Harris yang tampak menatapku dengan kening berkerut heran.
“Dek, bukannya aku udah kasih tahu kamu kalau hari ini kita mau pergi keluar? Bahkan aku juga udah ingetin kamu kalau jam lima sore tadi harusnya kamu udah siap. Dan sekarang udah jam enam loh, Dek. Lihat diri kamu, kamu bahkan belum mandi, masih kelihatan kucel begini. Bentar lagi harusnya kita berangkat ke acara reuni itu,” omel Mas Harris.
Aku hanya bisa diam dengan kepala tertunduk.
“Loh, kamu sama Dewi mau pergi keluar, Ris?” tanya Mama Hanum.
“Iya, Ma. Aku ada acara reuni alumni SMA. Tapi Dewi malah belum siap begini, mandi aja belum,” ujar Mas Harris, terlihat sangat kesal padaku.
Hatiku mendesah. Andai keberanianku tidak hilang, andai rasa takutku tidak setebal batu karang, mulutku ini pasti sudah sejak tadi berkata kalau aku belum sempat bersiap karena Mama Hanum-lah yang membuatku kehilangan banyak waktu hanya karena menuruti perintahnya yang katanya ingin sekali makan kue bawang.
Tapi semua itu hanya perandaianku saja. Karena kenyataannya, aku tidak pernah berani bersuara semenjak aku sadar diri bahwa di sini diriku adalah seorang b***k.
“Kamu kok enggak bilang sama mama sih Wi kalau mau pergi sama Harris? Kalau mama tahu kamu sama Harris mau pergi, pasti mama enggak akan minta kamu buatin cemilan,” tutur Mama Hanum.
Aku menghela napas pelan, tak dapat menyanggahnya, hanya bisa diam.
“Jadi Dewi enggak sempet siap-siap karena Mama minta buatin camilan sama dia?” tanya Mas Harris.
“I-iya. Tapi mama bukannya sengaja, Ris. Salah dia sendiri kenapa enggak mau bilang ke mama kalau dia mau pergi sama kamu, kalau dia bilang kan pasti mama enggak akan minta dia buatin cemilan,” jawab Mama Hanum, terkesan membela dirinya sendiri, dan malah semakin menyudutkanku agar disalahkan oleh Mas Harris.
“Makanya, Wi. Kalau punya mulut itu dipakai, jangan diem mulu, tiap hari mama lihat mulutmu itu jarang banget bicara,” lanjut Mama Hanum, entah apa maksudnya tapi aku merasa sakit hati mendengar perkataannya barusan. Padahal selama ini aku diam karena berusaha menahan diri agar tetap sabar menghadapi tingkah lakunya yang selalu menekanku agar menjadi istri dan menantu yang sempurna.
“Sudahlah, Ma,” sahut Mas Harris, dia terlihat mencoba meredam amarah ibunya yang berkobar padaku. “Aku minta maaf kalau sifat Dewi buat Mama kesel. Aku enggak mau lihat Mama berantem sama istriku,” tuturnya, halus.
Aku merasa kesal saat Mas Harris malah meminta maaf pada ibunya atas namaku. Masalahnya, aku sama sekali tidak merasa kalau diriku salah. Diamku selama ini karena aku tidak mau membuat wanita paruh baya itu kecewa karena Mas Harris telah menikahi wanita dari kalangan bawah sepertiku. Tapi sungguh ironis, diamku justru disalahkan, entahlah, aku benar-benar merasa serba salah di rumah ini.
Yang aku bingungkan, jika diamku adalah sebuah kesalahan, lantas aku harus bersikap bagaimana lagi? Sangat tidak mungkin jika aku menjadi diriku sendiri.
Aku bisa saja menentang semua perintah dan perkataan ibu mertuaku yang sering kali menekanku, memerintahku ini dan itu sesuka hatinya, layaknya aku ini adalah babunya.
Alasanku tidak mau menampakkan naluri asliku, karena aku masih menghargai Mama Hanum sebagai ibu mertuaku, dan aku juga masih menghormati Mas Harris sebagai suamiku. Tapi nyatanya, sikap diamku justru dipandang sebagai sebuah kesalahan. Dan aku yakin, banyak bicara pun juga pasti akan tetap dinilai salah.
Sepertinya, aku memang tidak pernah bisa membuat Mama Hanum puas. Sebaik apa pun usahaku, Mama Hanum akan selalu haus dengan kinerjaku, beliau akan terus mendorongku agar menjadi istri dan menantu yang sempurna ‘di matanya’.
“Dek, kenapa masih diem di sini? Buruan sana siap-siap, kita enggak punya banyak waktu,” cakap Mas Harris.
Aku mengangguk singkat menanggapi perkataan suamiku itu. Lalu, aku melangkah pergi tanpa berkata apa pun.
Dan saat aku pergi, aku mendengar Mama Hanum kembali mencemoohku.
“Lihatlah istrimu itu, dia bener-bener kayak orang bisu. Apa mungkin karena dia dari keluarga kurang mampu jadi sifatnya kayak gitu? Rendah banget, enggak ada kharismanya sama sekali,” komentar Mama Hanum, walau aku sudah menjauh, aku masih bisa mendengarnya dari balik dinding pembatas ruang.
“Ma, jangan bilang begitu. Walaupun Dewi dari keluarga biasa aja, tapi sekarang dia istriku,” tutur Mas Harris.
Tapi pembelaannya itu sama sekali tidak membuatku merasa senang, hatiku masih sakit mengetahui fakta kalau ternyata aku sangat rendah di mata mertuaku sendiri.
“Coba dulu kamu lebih agresif sama Sora, pasti kamu ....”
“Ma, tolong jangan sebut nama itu lagi. Hubunganku sama dia udah selesai tujuh tahun yang lalu. Lagian dia udah bahagia sama pria lain. Jadi untuk apa mama bahas dia.”
“Mama bukannya ingetin kamu soal dia. Mama cuma mau bilang, andai aja kamu punya istri kayak Sora. Pasti kamu lebih beruntung,” tutur Mama Hanum.
“Udahlah, Ma. Jangan bandingkan Dewi dengan dia. Dewi punya kelebihannya sendiri, Sora juga begitu. Sekali lagi aku mohon sama Mama, tolong jangan bahas soal Sora lagi. Kecuali Mama mau lihat aku pindah dari rumah ini,” cakap Mas Harris.
Untuk pertama kalinya aku mendengar suara Mas Harris dipenuhi emosi saat berbicara dengan ibunya. Entah siapa Sora itu, tapi hatiku menebak mungkin saja dia adalah salah satu mantan kekasih Mas Harris yang diharapkan oleh Mama Hanum bisa menjadi menantunya.