Suara alarm dari ponsel milikku sontak membuatku tersentak dari alam bawah sadar.
Setelah mematikan alarm tersebut, perlahan aku bangkit dari kasur, takut membangunkan Mas Harris yang masih tertidur lelap.
Pukul tiga dini hari. Aku selalu bangun lebih awal dari semua orang yang tinggal di rumah ini.
Apa yang aku lakukan di saat hari masih gelap seperti ini? Pertama, aku akan pergi mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, aku akan meluangkan waktu beberapa menit untuk mengadu pada Tuhan.
Selesai salat tahajud dan sedikit berkeluh kesah pada Sang Pencipta, aku lekas menuju dapur, tempat yang bisa dibilang adalah kantorku, di sinilah aku bekerja, membuat hidangan yang mampu mengenyangkan semua penghuni rumah.
Saat azan subuh berkumandang, aku melihat ibu mertuaku datang mendekatiku yang hampir selesai memasak semua hidangan sarapan pagi ini.
“Udah selesai?” tanya Mama Hanum. Beliau berdiri di dekat meja makan, memandangi makanan yang sudah tersaji di sana.
Aku tersenyum tipis menyambut kehadirannya, “Udah, Ma. Tinggal pindahin ini ke wadah,” tuturku sembari menunjuk ayam goreng yang baru selesai aku masak.
Mama Hanum menatap sekilas ayam goreng itu, kemudian beliau melangkah pergi ke arah kulkas, mengambil air dingin yang ada di dalam kulkas tersebut, lalu kembali menuju meja makan untuk meminumnya.
“Harris udah bangun?” tanya Mama Hanum, usai meminum air dingin yang diambilnya tadi.
“Belum tahu, Ma,” jawabku.
“Coba sana kamu lihat dulu suamimu udah bangun apa belum. Kalau belum bangun, bangunin. Ini udah subuh, harusnya dia udah bangun dari tadi,” tutur Mama Hanum.
“Iya, Ma.” Aku menanggapinya sembari bergerak cepat mencuci tanganku, sebelum kemudian aku berlalu pergi menuju lantai atas untuk membangunkan Mas Harris yang mungkin saja memang belum bangun. Pasalnya, semalam dia mengeluh kelelahan, aku bahkan sampai harus tidur larut malam karena sibuk memijatnya tanpa ingat waktu.
Setibanya di dalam kamar, aku melihat lampu kamar sudah menyala terang, ranjang kami pun sudah tampak kosong. Dan dari dalam kamar mandi, aku mendengar suara gemericik air. Ah, ternyata Mas Harris sudah bangun, dan mungkin saat ini dia sedang mandi.
Aku lantas bergerak menuju ranjang, merapikan selimut, bantal dan guling yang tampak berantakan, serta seprai yang sedikit kusut.
Saat tengah sibuk merapikan tempat tidur, tiba-tiba merasakan sebuah tangan melingkari pinggangku, tangan itu terasa memelukku erat dari arah belakang. Tapi aku sama sekali tidak terkejut, karena aku tahu kalau itu adalah kelakuan Mas Harris. Pasalnya, dia cukup sering secara tiba-tiba memelukku tanpa aba-aba.
“Udah selesai mandinya?” tanyaku sembari diam-diam menikmati aroma sabun mandinya yang jujur saja selalu membuatku candu. Aromanya benar-benar segar, hingga terkadang membuatku merasa sangat betah menempel padanya.
Hal yang aku herankan dari seorang laki-laki, kenapa sih setiap kali para pria mandi pasti aroma tubuhnya selalu semerbak dengan bau sabun, bahkan kamar mandi pun ikut wangi. Padahal, aku dan Mas Harris memakai sabun yang sama.
“Hm.” Mas Harris terdengar menjawab pertanyaanku ala kadarnya.
“Mas udah salat?” tanyaku lagi. Seperti tidak puas mendapatkan jawaban singkat padat darinya.
“Belum,” jawabnya, kali ini dia membuka mulutnya, tapi seraya menyusupkan wajahnya ke area tengkuk leherku. “Kamu udah salat?” Dia bertanya balik.
“Belum.” Aku menanggapinya singkat sembari menahan risih karena kelakuan Mas Harris yang kini mulai menciumi area tengkukku berulang kali.
“Mas, salat bareng yuk,” ajakku, agar dia lekas melepaskan pelukannya.
Kemudian, kudengar Mas Harris menghela napasnya pelan, lalu dia merenggangkan pelukannya, tapi bukan berarti dia melepasku. Karena tak lama setelah itu, Mas Harris perlahan memutar posisi tubuhku, hingga kini kami saling berhadapan. Lalu, detik selanjutnya, bibir Mas Harris tiba-tiba langsung menyapa bibirku, menyabotasenya cukup lama hingga aku harus memberontak lantaran hampir kehabisan napas.
“Ayo, kita salat bareng,” ujarnya, usai membuatku sedikit kesal karena tingkah lakunya barusan. Tapi apalah dayaku, aku sebagai istrinya hanya bisa bungkam, tak kuasa menyuarakan protes padanya.
***
Pukul tujuh pagi. Aku masuk ke dalam kamar usai mencuci semua piring dan gelas kotor bekas sarapan tadi.
Di dalam kamar, terlihat Mas Harris tengah duduk di tepi ranjang sembari memainkan tabletnya.
Saat melihatku masuk, Mas Harris langsung bangkit dari duduknya, lalu mengambil sebuah dasi yang sejak subuh tadi sudah aku siapkan untuknya.
Setelah itu, Mas Harris berjalan mendekatiku sembari membawa dasi itu padaku.
Tanpa dia berbicara, aku sudah tahu apa maunya.
Tanganku seketika itu bergerak mengambil dasi yang dia sodorkan ke arahku. Lalu, aku mulai memakaikan dasi itu ke lehernya, menguntai dasi itu hingga rapi.
“Udah,” ucapku, setelah selesai memasangkan dasi untuknya.
Namun, Mas Harris tampak diam tak menanggapi perkataanku barusan, tapi kuliah sorot matanya begitu lekat menatap wajahku, dia seolah tak mau menatap ke arah lain selain aku. Entah apa yang dia pikirkan, tapi tatapannya itu membuatku was-was, seolah ada yang ingin dia sabotase dari wajahku.
Dan benar saja, Mas Harris tiba-tiba menangkup wajahku, lalu menarikku agar lebih menempel padanya. Sampai akhirnya, bibirnya lagi-lagi menyapu habis bibirku.
Tapi kali ini ciumannya terkesan lembut dan cukup singkat. Aku juga tidak merasakan nafsu di dalamnya.
“Makasih,” ujar Mas Harris kemudian.
Aku sedikit kaget mendengar kata itu meluncur halus dari bibirnya. Faktanya, setelah sekitar dua bulan lebih kami menikah, baru kali ini aku mendengar kata itu terlontar dari mulutnya.
“Ma-makasih untuk apa, Mas?” tanyaku.
“Makasih untuk semuanya,” jawab Mas Harris, wajahnya terlihat teduh, bahkan tatapan seriusnya membuatku tak ingin beralih.
“Semuanya?” Alisku kembali bertaut. Rasanya aku masih sulit mengerti, aku juga masih tidak percaya kalau dia akan melontarkan kata itu padaku.
“Makasih karena udah berusaha jadi istri yang baik buat aku. Dan makasih udah mau nurutin semua kemauan mamaku. Aku yakin, kamu pasti cukup kesulitan beradaptasi di rumah ini,” tutur Mas Harris.
Seketika itu aku terdiam, membeku dalam keterkejutan. Sungguh, aku tidak pernah menyangka kata-kata berkarisma itu akan terlontar dari bibir Mas Harris. Dan betapa mudahnya hatiku luluh hanya karena mendengar rentetan kalimatnya itu.
Parahnya, berkat perkataannya barusan, sebagian besar rasa kesalku yang selama ini aku tahan dengan penuh kesabaran, kini tiba-tiba terasa pudar, seolah baru saja disiram bersih oleh hujan besar.
Aku benar-benar dibuat bengong olehnya.
Sampai kemudian, Mas Harris kembali bersuara.
“Aku berangkat kerja dulu, ya,” pamitnya.
Seketika itu aku terkesiap dari lamunan, lalu secara refleks kepalaku mengangguk singkat menanggapinya, dan setelah itu aku buru-buru mengamit tangannya, serta tak lupa mengecupnya kilas.
Usai aku melakukan kebiasaanku setiap pagi, barulah Mas Harris mengambil tas kerjanya, juga kunci mobil yang disimpannya di dalam laci.
Setelah mendapatkan semua yang dia butuhkan, Mas Harris lantas melangkah menuju pintu kamar. Aku pun langsung bergerak mengekorinya, hendak mengantarnya hingga depan rumah.
Tapi kemudian, tiba-tiba langkah Mas Harris berhenti, lalu berbalik dan kembali menatap ke arahku.
Keningku pun berkerut, menatapnya penuh tanya saat dia terlihat seperti ingin memberitahukan sesuatu padaku.
“Ada apa, Mas? Apa ada yang ketinggalan?” tanyaku padanya.
“Aku lupa mau kasih tahu kamu,” ujarnya.
“Kasih tahu apa?” Aku kembali bertanya.
“Nanti malem kita pergi keluar,” kata Mas Harris.
“Keluar? Ke mana?”
“Ke acara reuni,” terang Mas Harris.
“Reuni?”
“Iya, reuni alumni SMA-ku dulu,” jelasnya.
“Aku harus ikut?” tanyaku, lagi.
Kulihat Mas Harris menghela napasnya berat saat mendengar pertanyaanku barusan.
“Ya iyalah kamu harus ikut. Kamu kan istri aku,” tukas Mas Harris.
Aku pun diam mendengar perkataan kesalnya itu.
“Kalian berdua kenapa pagi-pagi begini udah ribut-ribut?” sahut mertuaku, beliau muncul dari arah tangga.
Helaan napas Mas Harris kembali terdengar. Suamiku itu kemudian tersenyum pada ibunya.
“Enggak ribut kok, Ma,” tutur Mas Harris, lembut. “Maaf, kalau suaraku agak keras,” lanjutnya, kemudian dia kembali menatapku.
“Maaf, ya. Tadi aku agak sedikit kesel,” imbuhnya, kali ini dia berbicara padaku.
Dan aku hanya boleh memberinya satu jawaban. Yaitu, sebuah anggukan kepala. Ya, aku tidak boleh menolak permintaan maafnya. Karena begitulah mertuaku mengajariku selama ini.
Tapi kuakui, Mas Harris memang tipe pria yang sangat menjaga hati setiap wanita yang dicintainya—yaitu ibunya dan aku istrinya. Dia sangat lembut, penyayang dan bahkan siap memenuhi semua kebutuhan wanita yang disayanginya.
Namun, tentu saja tingkat kasih sayangnya padaku dan pada ibunya sudah pasti sangat berbeda.
Jika pada ibunya, Mas Harris seperti sosok pria yang sangat patuh, penurut dan bahkan satu kali pun aku tidak pernah melihatnya membangkang, mendengarnya berkata ‘ah’ pada ibunya atau ayahnya saja rasanya tidak pernah.
Tapi, lain halnya denganku. Jika denganku, Mas Harris memang sangat menyayangiku, layaknya seorang suami yang meratukan istrinya. Namun di sisi lain, dia juga menuntutku untuk patuh padanya. Aku tidak boleh membangkang, aku harus mendengarkan perintahnya, beserta nasihatnya.
Intinya, apa pun yang keluar dari bibirnya, aku harus menurutinya, menyanggupinya, dan tidak boleh menolaknya. Ya, seperti itulah posisiku.
Aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkannya, hanya saja sikapnya itu terkadang membuatku sangat tertekan, belum lagi sikap ibunya yang selalu ikut campur dengan rumah tangga kami, dan sering kali mendorongku untuk menjadi istri yang sempurna.
Lebih parahnya lagi, ibu mertuaku itu seolah tidak pernah puas dengan kinerjaku. Padahal aku sudah mati-matian berusaha menjadi istri yang baik untuk anak tunggalnya itu.
Namun terkadang, aku juga berpikir, apa semua ini hanya karena aku yang terlalu baper saja? Apa memang yang terjadi padaku saat ini adalah hal yang wajar? Apa sungguh wajar seorang wanita menjadi seperti ini setelah menikah? Bagai babu yang dikoyak mentalnya.
Sejauh ini, yang terus-menerus membelaku hanya Silla—teman baikku sejak SMA. Tapi belakangan, aku sengaja menghindarinya karena tidak mau membuat Silla bertengkar dengan Mas Harris hanya karena aku.