Suara mobil dari luar rumah membuatku langsung bergerak menuju pintu utama.
“Dewi.” Suara ibu mertuaku menggema, aku tahu kenapa dia memanggilku, pasti karena suara mobil Mas Harris yang juga beliau dengar.
“Iya, Ma. Ini Dewi mau bukain pintu buat Mas Harris,” ucapku, menatap Mama Hanum yang berdiri di puncak tangga.
Wanita paruh baya itu diam sejenak, lalu beliau menyingkir setelah puas menatapku beberapa saat.
Aku mengembuskan napas panjang, rasanya lega ketika mata elang itu melepas pandangan dariku.
“Assalamu’alaikum.” Suara Mas Harris kemudian terdengar. Kakiku secara refleks langsung berjalan menuju pintu utama, mendekati Mas Harris yang baru masuk ke rumah.
“Wa’alaikumussalam, Mas,” ucapku, menyambutnya dengan senyum merekah, begitulah mertuaku menganjurkan. Aku harus terlihat rapi dan sumringah di depan suamiku yang baru pulang dari kerja.
Dan tentu saja, aku tidak akan pernah bisa menolak titah mertuaku karena aku yakin saat ini beliau pasti tengah mengawasiku dari CCTV yang terpasang di dekat pintu utama.
Sekilas aku melirik ke arah CCTV itu, sinar merahnya seolah tengah memeloti gerak-gerikku, mengawasi setiap oksigen yang aku hirup.
Usai menyalimi tangan Mas Harris, aku langsung berjongkok, melepaskan sepatu dan kaos kakinya.
Ya, ini juga perintah dari mertuaku.
Selama aku menjabat menjadi istri putra semata wayangnya, dia mengajariku banyak hal, beliau mendidikku keras demi membentukku menjadi istri yang sempurna untuk putra tunggalnya itu.
Beliau juga menegaskan padaku bahwa aku harus memperlakukan suamiku sedemikian rupa. Layaknya seorang pelayan pada raja, begitulah aku menilainya.
“Kamu masak apa hari ini?” tanya Mas Harris.
Aku mendongak sembari melepaskan kaos kakinya.
“Ayam, Mas. Sama sayur—”
“Ayam lagi?”
Seketika tanganku berhenti bergerak. Ingin rasanya aku membalas perkataannya dengan caraku sendiri. Tapi aku lekas sadar diri, di sini aku hanyalah orang asing yang menumpang, yang diberi kemewahan karena menyandang status sebagai istri tunggal pengusaha kaya.
“Maaf, aku belum sempet beli bahan makanan. Besok akan aku masakan menu yang lain,” tuturku, dengan kepala menunduk, seolah menunjukkan bahwa aku menyesal. Ini juga sikap yang diajarkan oleh mertuaku.
Helaan napas Mas Harris terdengar, pria itu lantas berjalan melewatiku yang baru selesai melepas kaos kakinya.
Melihatnya pergi begitu saja membuat diriku benar-benar terlihat menyedihkan. Sungguh, aku lebih pantas disebut babu daripada istrinya.
Satu bulan aku tinggal di rumah ini. Satu bulan juga batinku tersiksa.
Awalnya aku dan Mas Harris tinggal di rumah lain, rumah milik Mas Harris. Namun, mertuaku—Mama Hanum—tiba-tiba meminta kami untuk tinggal di rumahnya.
Dan karena beberapa hal, Mas Harris menuruti perintah ibunya, kami pun pindah, dan begitulah awal mula penderitaanku. Mentalku dibantai habis sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah besar ini. Tapi sampai detik ini aku hanya diam, seolah semua baik-baik saja.
Entah sampai kapan aku akan bertahan di sini.
Mungkin sampai kesabaranku berada di ambang batas.
“Sayang.” Suara Mas Harris memanggil dari lantai atas, tubuhku seketika langsung bergerak menghampirinya. Bodohnya aku, tubuhku seolah patuh dengan semua perintah orang-orang di rumah ini, walau padahal hati dan isi kepalaku sudah menjerit-jerit gila.
“Iya, Mas?” Aku berdiri di depannya.
Mas Harris menatapku dari atas sampai bawah, lalu matanya berhenti pada tanganku yang masih memegang sepasang sepatu miliknya.
“Taruh dulu sepatunya, masa kamu datengi suami kamu dalam keadaan seperti pembantu sih, rapi dikit dong,” komentarnya.
Aku tertohok mendengarnya, jika saja ini bukan di rumah orang tuanya, rasanya ingin sekali sepatu yang kupegang ini kulempar ke wajahnya.
Tentu saja saat ini aku hanya bisa bersabar.
Tubuhku sontak bergerak menuju sisi kanan kamar. Aku masuk ke dalam ruang ganti.
Ruang ganti?
Ya, kamar kami—lebih tepatnya kamar Mas Harris, luas kamarnya setengah dari rumah kecil orang tuaku.
Di tengah kamar ada kasur tidur besar yang melebar kokoh dekat jendela, ada sofa kecil di dekat tempat tidur itu. Ada televisi yang menggantung besar di dinding. Ada ruang khusus untuk mandi yang ukurannya dua kali lipat dari kamar mandi di rumah orang tuaku.
Dan tentu saja ada ruang ganti atau ruang penyimpanan khusus yang bahasa kerennya biasa disebut walk in closet. Di dalam sana penuh dengan barang-barang milik Mas Harris dan milikku, tapi yang lebih mendominasi adalah milik Mas Harris, dia memiliki banyak barang mewah ketimbang diriku.
Usai meletakkan sepatunya di dekat pintu walk in closet, aku bergegas kembali menghampiri suamiku yang terlihat tengah melepas satu demi satu kancing kemeja hitamnya.
“Siapin air panas, aku mau mandi,” suruhnya kemudian.
Hatiku menggerutu. Coba tebak, apa aku bisa membantahnya? Tentu aku bisa, tapi sayangnya aku sudah dibentuk untuk menjadi pengecut di rumah ini. Keberanianku entah lenyap ke mana.
Aku hanya bisa menurut. Menuruti perintah Mas Harris yang semakin lama, semakin memperlakukanku seperti babu.
Aku pun berlalu dari hadapannya, berjalan menuju kamar mandi yang luasnya membuatku merasa cukup takjub waktu pertama kali tinggal di sini.
Segera aku menghidupkan keran air hangat yang perlahan mengalir di bathub, sesaat setelah air hampir mengisi setengah bathub, aku lekas mematikan keran air tersebut, lalu menaburkan sabun dan membuat busa di dalamnya.
Sebenarnya saat aku melakukan semua ini, jantungku ikut berdebar kencang. Aku takut, jika Mas Harris tidak terlalu lelah dia pasti akan mengajakku mandi bersama, tak peduli seberapa capeknya aku hari ini.
Sungguh, rasanya hari ini aku tidak memiliki tenaga jika harus melayaninya. Bukan maksudku tak mau memenuhi kebutuhan biologis suamiku, hanya saja aku ... tidak pernah merasa bahagia setiap kali dia menyentuhku.
Rasanya hambar. Bahkan terkadang membuatku merasa jijik, mual, dan ingin menangis dalam keheningan.
“Sudah belum?” Suara Mas Harris menyentakku dari lamunan.
Aku lekas bangkit dari posisiku, berdiri di dekat bathub yang sudah siap dia pakai.
“Udah aku siapin, Mas. Air hangat kan?” ucapku.
Mas Harris mengangguk, lalu dia berjalan melewatiku sembari melepas handuk kimononya begitu saja. Benar-benar melepas handuk itu sesuka hatinya, hingga handuk tersebut tergeletak bagai keset di lantai kamar mandi.
Sontak tanganku langsung memungutnya, kemudian menggantungkannya di gantungan yang tersedia di dekat cermin.
“Kenapa enggak keluar?” Suara Mas Harris terdengar, bersamaan dengan derak air dari bathub yang menandakan bahwa pria itu sudah berendam di dalam sana.
Aku sontak menoleh dari depan cermin yang ada di dekat pintu, menatap Mas Harris yang terlihat menikmati kegiatan berendamnya.
“Hari ini aku capek,” ujarnya. “Aku enggak akan sentuh kamu, maaf,” imbuh Mas Harris.
Hatiku meringis. Dia berkata seperti itu seolah-olah aku memintanya menyetubuhiku. Ingin rasanya aku mengumpat, tapi sungguh aku tak mau berdosa. Dia masihlah suamiku.
Tanpa berbicara, aku lekas berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Tak lupa aku menutup pintu kamar mandi tersebut rapat, tak mau melihatnya yang tak berbusana.
Sesaat aku mengatur napasku yang dirundung emosi. Tanganku mengepal kuat, tapi kemudian melonggar bersamaan dengan helaan napasku yang berembus berat.
Tenang, sabar, aku harus bertahan. Tiga kata itu bagai obat yang harus aku telan mentah-mentah setiap hari.
Entah sampai kapan kata-kata itu mampu membuatku tetap teguh menerima semua ini. Karena aku yakin, kesabaranku tak seluas lautan di bumi ini.
Aku yakin suatu saat emosiku akan meledak. Tapi, entahlah, kapan itu akan terjadi. Kenyataannya, saat ini aku masih mencari keberanianku yang selama sebulan ini telah pergi meninggalkanku, membuatku bagai pengecut yang sangat menyedihkan.