“Harris, kamu enggak pa-pa, kan? Mana yang sakit? Kepala kamu pusing? Badan kamu sakit?” tanya Mama Hanum. Ibu mertuaku itu langsung datang ke rumah sakit usai aku beritahu kalau putranya sedang dirawat. Tidak kusangka beliau akan datang secepat ini setelah kukabari sekitar satu jam yang lalu, padahal sekarang masih pukul tujuh pagi, harusnya pasien belum boleh dikunjungi oleh sanak keluarga ataupun teman. Untungnya rumah sakit ini milik Pak Darsono—ayahnya ayah mertuaku, jadi ibu dan ayah mertuaku diizinkan masuk sebagai bentuk hak istimewa. “Aku enggak pa-pa, Ma,” lirih Mas Harris yang saat ini terbaring lemah di atas ranjang pasien. Mama Hanum menghela napasnya pelan, sesaat dia menatap sendu putra tercintanya yang terlihat lemah tak berdaya. Tak lama setelah itu, pandangan Mama Ha

