Rengganis mengutuk sikapnya yang ceroboh. Entah kapan ia bisa menjadi wanita yang anggun. Sepertinya tidak akan. Sekali lagi Ren melihat bawah dresnya yang basah karena tidak sengaja menabrak pelayan cafe tadi. Dengan langkah cepat ia segera mengarahkan mobilnya ke butik.
"Emang kampret banget sih hidup gue hari ini. Dari pagi ampek siang kok gak ada enak-enaknya. Sial mulu deh. Ni juga jalanan ngapain pakek macet segala sih, mana gue buru-buru banget mau ke butik, emang kampret." Ren berteriak di akhir kalimatnya hingga suaranya menggema di dalam mobil. Beberapa menit kemudian jalanan yang padat kini mulai terlihat senggang dengan cepat ia segera tancap gas menuju butik tercintanya.
"Ehhh lo si dugong. Jam berapa nih baru dateng ke mana aja lo." todong wanita dengan perut buncitnya yang tak lain Anjani.
"He he piece kanjeng ratu Anjani, tadi gue sempet kena musibah." acung Ren dengan kedua jarinya.
"Hee sumpah lo kena musibah apa. Tapi kok badan lo masih utuh utuh aja gak ada lecet." Anjani menggoncang tubuh Ren kasar. Ren yang merasa keplanya mulai berputar akibat tubuhnya yang digoncang Anjani segera menyentak tanganya.
"Ehh dasar bumil somplak. Emang musibah itu kecelakaan doang. Tadi gue waktu mau kesini tuh gak sengaja nabrak pelayan terus baju gue jadi basah nih lihat, dan lo tau tadi diperjalanan juga Macetnya parah banget." Ren memijat pelipisnya pelan menghalau rasa pusing akibat gocangan.
"Haduh kasian ya pelayanya." lirih Anjani yang masih dapat didengar Ren.
"Lah kok malah si pelayanya." Ren melotot.
"Lah iya lah, kena sial gara gara nabrak lo."
"Hee a*u lo." umpat Ren tanpa menyadari Anjani yang melotot tajam ke arahnya.
"Ehhh dasar mulut lo kayak kambing, gak ada filter banget sih, ingat di perut gue ni ada jabang bayi."
"Lo sih ngomongnya suka bikin jleb."
"Lah emang salah omongan gue. "
"He he he salah lah, yang ada orang yang gue tabrak itu yang beruntung mana ada sial."
"Udah deh terserah lo. Ayo masuk tu barang barang udah pada dateng."
Setelah itu mereka masuk ruangan yang di dalamnya sudah terdapat beberapa kain yang indah dengan pernak perniknya, dengan serius Ren mulai membuka satu-persatu barang yang datang dirasa semua sudah sesuai Ren segera melihat beberapa dokumen yang harus segera ia urus, tanpa sadar langit sudah menggelap. Ren tersadar ketika mendengar alarm di hp,segera ia kemasi barang-barangnya dan beranjak pulang.
******
Rengganis mengutuk sikapnya yang ceroboh. Entah kapan ia bisa menjadi wanita yang anggun. Sepertinya tidak akan. Sekali lagi Ren melihat bawah dresnya yang basah karena tidak sengaja menabrak pelayan cafe tadi. Dengan langkah cepat ia segera mengarahkan mobilnya ke butik.
"Emang kampret banget sih hidup gue hari ini. Dari pagi ampek siang kok gak ada enak-enaknya. Sial mulu deh. Ni juga jalanan ngapain pakek macet segala sih, mana gue buru-buru banget mau ke butik, emang kampret." Ren berteriak di akhir kalimatnya hingga suaranya menggema di dalam mobil. Beberapa menit kemudian jalanan yang padat kini mulai terlihat senggang dengan cepat ia segera tancap gas menuju butik tercintanya.
"Ehhh lo si dugong. Jam berapa nih baru dateng ke mana aja lo." todong wanita dengan perut buncitnya yang tak lain Anjani.
"He he piece kanjeng ratu Anjani, tadi gue sempet kena musibah." acung Ren dengan kedua jarinya.
"Hee sumpah lo kena musibah apa. Tapi kok badan lo masih utuh utuh aja gak ada lecet." Anjani menggoncang tubuh Ren kasar. Ren yang merasa keplanya mulai berputar akibat tubuhnya yang digoncang Anjani segera menyentak tanganya.
"Ehh dasar bumil somplak. Emang musibah itu kecelakaan doang. Tadi gue waktu mau kesini tuh gak sengaja nabrak pelayan terus baju gue jadi basah nih lihat, dan lo tau tadi diperjalanan juga Macetnya parah banget." Ren memijat pelipisnya pelan menghalau rasa pusing akibat gocangan.
"Haduh kasian ya pelayanya." lirih Anjani yang masih dapat didengar Ren.
"Lah kok malah si pelayanya." Ren melotot.
"Lah iya lah, kena sial gara gara nabrak lo."
"Hee a*u lo." umpat Ren tanpa menyadari Anjani yang melotot tajam ke arahnya.
"Ehhh dasar mulut lo kayak kambing, gak ada filter banget sih, ingat di perut gue ni ada jabang bayi."
"Lo sih ngomongnya suka bikin jleb."
"Lah emang salah omongan gue. "
"He he he salah lah, yang ada orang yang gue tabrak itu yang beruntung mana ada sial."
"Udah deh terserah lo. Ayo masuk tu barang barang udah pada dateng."
Setelah itu mereka masuk ruangan yang di dalamnya sudah terdapat beberapa kain yang indah dengan pernak perniknya, dengan serius Ren mulai membuka satu-persatu barang yang datang dirasa semua sudah sesuai Ren segera melihat beberapa dokumen yang harus segera ia urus, tanpa sadar langit sudah menggelap. Ren tersadar ketika mendengar alarm di hp,segera ia kemasi barang-barangnya dan beranjak pulang.
******
Di ruangan yang bernuansa hutan itu terdapat sosok gadis yang tak lain Rengganis sedang fokus membaca sesuatu di laptopnya. Mungkin kalian bisa menebaknya. Beberapa kertas berserakan di sekeliling meja itu ia abaikan karena terlalu fokus pada benda kotak itu. Tak lama kemudian gebrakan terdengar.
"b******k, kenapa sih tiap Novel yang keren pasti cowoknya blangsak. Suka ONS lah sadislah Haduuhhh. Hmm gak papa sih kalo latarnya luar negri. Lah ini kebanyakan Indonesia tapi kenapa ceritanya si cowok suka banget ONS. Woyyy sekali lagi cerita lo itu berlatar di Indonesia. Meskipun ia cowok kaya tetep aja, apalagi kalo udah nyebutin agamanya behhh serasa pengen gue bacok dah." gerutu Ren yang tak sadar di belakangnya sudah ada sang mama yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kenapa sih Ren?" tanya wanita paruh baya itu tiba-tiba karena melihat anaknya yang seperti cacing kepanasan.
"Kampret." umpat Ren yang terkejut.
"Kamu berani ya ngumpat sama mamah, gak takut kualat. Dasar anak zaman sekarang.” Marsha melotot mendengar anaknya yang mengumpat.
"Haduhhh Ma sorry, sumpah Ren gak tahu kalo mama yang ngomong, lagian mama sih ngapain juga ngagetin Ren." jelas Ren.
“Loh kok Ren salahin Mama.” pelotot Marsha.
Ren yang melihat Marsha terpancing emosinya segera menunjukan wajah memelas, berharap Marsha luluh.
“Ihh Mama, Ren gak maksud gitu tau maaf ya?” bujuk Ren dengan menangkupkan kedua tangan di depan d**a.
"Hmm iya di maafin. Kenapa kamu marah-marah Ren." tanya Marsha.
"Gini lo mah, aku kan hari ini udah baca 7 Novel. Ceritanya bagus bagus sih mah tapi aku pasti ilfil kalo udah baca keterangan kalo si cowok udah biasa ngelakuin ONS, atau bahkan sudah biasa ketika pacaran berhubungan badan."
"Lahh wajar dong kan yang Ren baca cerita orang luar."
"Yahh masalahnya ni mah, yang Ren baca tuh ceritanya tinggal di Indo, kan aku mikir seakan-akan emang hal seperti itu wajar banget di Indo. Bukanya negara kita masih mengikuti aturan Timur ya mah? atau memang cerita yang Ren baca cuma ngarang aja biar menarik pembacanya atau lebih parahnya pemuda Indonesia memang kayak gitu gaya percintaannya sekarang?" mata Ren memancarkan bara yang seakan siap melahap siapapun yang memancingnya membuat Marsha mengernyikan dahi serta menahan geli.
"Lah Ren tanya ke mama terus mama jawabnya gimana?"
"Ya tinggal jawab aja deh mah, sumpah Ren kepo banget. Ren juga bingung mau ngungkapin pemikiran ini ke siapa."
"Gini Ren, zaman mamah, pacaran aja itu sudah termasuk hal tabu. Gak ada tuh cerita jalan jalan berdua, makan barenglah, kencanlah apalagi sampek ngelakuin hal berlebihan kayak gitu udah di arak keliling kampung paling parah dilempar batu habis itu di paksa nikah. Kalo ada yang pengen ngapel ya kerumah si perempuan itu pun di batasi waktu. Kalo zaman sekarang Mama kurang tahu Ren, kan harusnya Ren yang lebih tahu. Tapi sih kalo mamah lihat dari segi tingkat keriminal kayak tingkat aborsi dan bunuh diri gara gara hamil diluar nikah kayaknya emang di cerita Novel ada benernya juga."
"Ihh kok gitu sih mah, apa sih yang bikin mereka ngelakuin ONS? kadang Ren sering mikir gitu deh mah."
"Lah kalo Ren baca di Novel alasanya apa?"
"Alasanya sih katanya si cowok butuh kebutuhan biologis, lah sekarang aku mikir mah emang cowok doang yang butuh emang cewek gak punya nafsu, kan kelihatan Bulshitnya."
"Ha ha ha Ren Ren ada ada aja pemikiranmu. Tapi satu hal yang mamah minta, kamu jangan pernah samakan tokoh Novel sama tokoh nyata ya. Gak semua yang terlihat buruk di Novel itu juga sama di dunia nyata, begitu pula sebaliknya."
Ren mengernyit mendengarkan penjelasan Marsha, dalam hati Ren mendumel. Mama tuh sekali ngomong bijak pasti gue gak faham, apa Gue yang terlalu bodoh?
"Maksudnya mah." tanya Ren akhirnya.
" Hmmm emang susah ngomong sama jomblo karatan." Marsha mencibir status Ren.
"Ihh Mama mulutnya julid banget sih sama anaknya sendiri. Harusnya Mama bangga punya anak yang gak pacaran, artinya Ren bisa jaga diri."
" He gak semua orang yang pacaran itu buruk lo Ren, baik buruknya orang gak dilihat dari statusnya. hmm tapi Mama bangga kok Ren gak pernah pacaran, masalahnya kalo udah umur segini Ren gak pernah ngenalin cowok ke Mamah, mamah juga jadi takut Ren." Marsha menatap Ren penuh khawatir.
"Haa takut kenapa Ma?" tanya Ren dengan alis yang menukik tajam.
"Takut Ren jadi perawan tua. Ha ha ha "
"Ihh mamah mulutnya kok julid banget sih."
"Ren jangan ke seringan baca novel ya." nasehat Marsha.
"Emang kenapa mah?"
"Kadang baca Novel itu bikin kita Over thingking."
Rain terdiam mendengar ucapan mamanya. Memang Ren selalu berpatok terhadap dunia Novel. Bahkan ia sering menyangkut pautkan kehidupan Novel dengan nyata, terutama dengan para lelaki di dunia Novel yang kebanyakan sudah tidak perjaka karena melakukan ONS, dan hal itu pula yang membuat traumanya terhadap laki laki dan sebuah hubungan semakin kuat.
"Udah kok malah ngelamun sih Ren, pelan pelan aja. Mamah gak ngelarang kok Ren baca Novel, asalkan Ren bisa bedain aja. Jangan terlalu di bawa perasan atau kata gaulnya jangan baper. tidur gih udah malem. Inget jangan terlalu baper sama Novel apalagi kayak tadi pagi waktu ke makam papa. Udah bikin heboh orang banyak gara-gara gal ada angin gak ada badai nangis di makam, ehh ternyata alesanya nangis gara gara Novel padahal Ren kita semua udah mikir Ren itu kangen papa atau gak gitu belum ikhlas sama kepergian papa," Marsha berucap dengan mencebikkan bibirnya di akhir kalimat.
Ren hanya cengengesan melihat mamanya. Sungguh jika diingat-ingat ekspresi keluarganya ketika ia menangis tadi pagi membuatnya pingin ngakak, terlebih ekspresi adiknya yang sudah terlihat sangat khawatir.
"He he he iya Ma, udah Mama tidur aja udah larut ini. Ren mau beresin sketsa-sketsa ini dulu." ucap Ren sambil menunjuk beberapa kertas yang berserakan di samping laptotnya.
"Eh Ren besok anter mamah ke Cafe Nagih ya."
Rain mengernyit mendengar permintaan sang mama, tumben-tumbenan mama minta anter, biasanya juga pergi sendiri.
"Siap Ma, emang ada acara apa Ma?" tanya Ren penasaran.
"He he he rahasia, pokok Ren besok dandan yang cantik."
Ren semakin mengernyit bingung. Kenapa mamanya seakan menutupi sesuatu. Ia jadi curiga bahkan ia mulai bergidik ngeri. Jika biasanya di Novel, nih pasti kalo orang tua udah main rahasia-rahasian gini apalagi di suruh dandan yang cantik fix, pasti ini menyangkut masa depan dengan kata lain perjodohan.
"Mam jangan macem macem lo ya." peringat Ren yang melihat mamanya sudah membuka pintu kamarnya bersiap keluar.
"Gak kok mama cuma minta dua mecm." setelah itu Marsha segera meninggalkan kamar anaknya.
Ren yang mendengar jawaban dari sang mama mulai berfikir aneh aneh. Sumpah awas saja jika mamanya main jodohin Ren, Ren bakal kasih pelajaran sama tuh cowok yang mau maunya dijodohin ama Ren.
Ren dengan cepat membereskan sketsanya, kemudian menumpuknya tepat disamping laptopnya. Ia melihat sekeliling ruangan yang sudah rapi dengan nuansa asri. Dengan pasti ia langkahkan kakinya menuju ranjang empuk. Pertama pastikan bantalnya sesuai, kedua ketebalan selimut dan Terakhir kebersihan ranjang, dirasa ok segera ia rebahan.
Ren mulai memejamkan mata namun, baru saja matanya terpejam bayangan tentang pernikahan hasil perjodohan terbayang jelas di otaknya. Yang mana si laki laki yang tidak suka dengan perjodohan itu dan tidak mampu menolak permintaan orang tuanya. Hingga akhirnya ia meninggalkan sang kekasih demi menuruti orang tua. Selanjutnya kehidupannya yang bakal di penuhi dengan drama perselingkuhan suami dengan sang kekasih lama. Sumpah itu hal yang paling menjijikan. Hingga tanpa sadar Ren mulai memuntahkan semua isi perutnya ke kamar mandi.
"Kampret, sumpah gue gak mau hidup kayak di novel novel. Cowok yang awalnya b******k kemudian bakal luluh setelah ditinggal si cewek soalnya udah gak kuat di selingkuhi ama di kasarin ama si cowok. Udah cowoknya gak perjaka terus si cewek masih perawan. Drama menjijikan." setelah menggerutu dengan sebal di depan cermin perut Ren pun bergejolak lagi.
Huek Huek Huek
"b******k. Mati aja cowok kayak gitu apalagi cewek lemah kayak gitu. Ehh tapi beneran ada gak sih cowok ama cewek kayak gitu, atau jangan jangan itu cuma haluan. Kalo emang itu cuma haluan sumpah gue bakal ngehujat penulis yang suka bikin cerita kayak gitu. Kampretttttt."
Huek Huek Huek