Bulan bersinar dengan terang ditemani beberapa tabur bintang menambah kesan syahdu dan romantis bagi siapapun yang sedang memadu kasih. Banyak muda-mudi yang sedang berceloteh, mencuri pandang dengan ekspresi yang menggemaskan, bahkan tak kurang terdengar suara laknat berkat sentuhan nakal dari pasanganya. Di sisi lain, Andre memandang jengah wanita di depannya. Berkali kali wanita yang ia lupa namanya itu berceloteh dengan nada yang di lembut lembut kan dan sedikit mendesah, menjijikan.
"Sayang, kamu dengerin aku gak sih." rajuk wanita itu manja.
"Hmm." Andre menggumam malas.
"Ihh sayang kok gitu sih, aku itu lagi kesel yank." Wanita itu merajuk dengan memukul lengan Andre.
Andre yang mendapatkan serangan mendadak melototkan matanya. Sungguh ia sangat tidak menyukai jika ada wanita yang menyentuhnya meskipun itu memukul. Kampret.
"Lo,,, gak usah sentuh sentuh gue." desis Andre.
Wanita itu yang mendengar ucapan tajam dari Andre merinding ketakutan. Andre yang ia temui kemaren sangatlah tidak sama dengan sekarang.
"Kok kamu berubah sih yank, kalo kamu kayak gitu aku minta putus."ancam wanita itu.
"Lah lo minta putus? emang kapan kita pacaran." ucap Andre dengan nada meremehkan.
"Kamu__" wanita itu tergagap oleh jawaban Andre. b******k ia baru sadar jika mereka belum ada hubungan yang jelas.
"Lo baru nyadar, inget ya gue gak pernah ngajak lo pacaran jadi hak gue lah mau merhatiin lo atau gak. Denger belinda."
"Nama aku Angel bukan Belinda." ucap wanita itu marah karena Andre dari awal selalu salah sebut nama.
"Terserah, mau nama lo Angel kek, wati kek atau siapapun." Andre memandang wanita di depanya jengah.
Wanita itu murka merasa selama ini dia dikhianati dan ditipu, apalagi melihat Andre yang sekarang malah melihat sekeliling dan tersenyum lebar ketika menatap wanita yang cantik, sungguh laki laki b******k. Dengan menahan amarah yang bergejolak di d**a, wanita itu segera mengangkat satu gelas yang masih penuh dan minyaramnya dengan ekspresi puasnya.
Byur
Andre terkejut mendapatkan serangan mendadak dari wanita di depannya. Wajahnya terasa lengket dan dingin karena Jus yang harusnya masuk keperut malah terdampar di wajahnya.
"Dugong lo." umpat Andre kepada wanita itu yang mendapatkan delikan tajam.
"Lo itu pantes dapet itu. Udah ngeghosthing gue terus gak bisa ngehargai perempuan. Gue sumpahin lo kena karma." ucap wanita itu sambil berlalu meninggalkan Andre. Namun sebelum ia beranjak Andre memanggilnya, membuat ia tersenyum karena merasa Andre takut kehilangannya, namun kalimat yang di keluarkan Andre membuat ia semakin murka.
"He lo, jangan pergi dulu, bayar tuh minuman lo." setelah mengucapkan itu Andre meninggalkan wanita itu yang sudah mengumpat.
******
"Emang sial bangat sih gue malem ini. Ahhhhh b******k berani banget wanita itu nyiram wajah ganteng gue, gak tau aja ini aset berharga gue." Andre memasuki mobil merahnya yang terparkir di depan Cafe.
Ia nyalakan musik sambil mengemudi, kali ini tujuannya ke rumah Theo. Ha ha ha katakanlah ia pengangguran, tapi ia termasuk pengangguran kaya. Ia bukan CEO tapi ia Owner sebuah perusahaan besar, karena tingkat kemalasannya yang di atas rata rata ia menugaskan asistenya untuk menjadi CEO di perusahaannya dan ia cukup memantau dan melihat hasilnya. Jangan pernah meragukan otaknya, meskipun ia tidak terjun langsung dalam perusahaan, tapi matanya sangat jeli bahkan ia dapat menemukan korupsi dalam perusahaannya meskipun cuma 100 rupiah saja.
Tin Tin
Setelah membunyikan klakson gerbang tinggi berwarna hitam itupun terbuka menampilkan mansion besar bergaya eropa.
"malem den, pengen ketemu Tuan Theo den?" tanya sosok berpakaian satpam yang tak lain pak suprato.
"Bukan pak, saya mau ketemu dedemit." Andre menjawab sambil memasukan mobilnya ke dalam dengan pelan tak lupa jendela mobil yang ia buka lebar. Di rasa mobilnya sudah masuk segera ia membuka pintu dan memasuki Mansion yang sudah lama tak ia kunjungi dan mengabaikan pak suprato yang terdiam. Pak suprato yang mendengar jawaban dari Andre mengernyitkan dahinya, berfikir keras tentang dedemit.
"Haduhhhhhhh emang di rumah besar ini ada ya dedemit? kok jadi merinding. Terus kalo emang ada dedemit apa den Andre datang kesini buat nangkep dedemitnya." Pak suprato menghembuskan nafas kasar tidak habis fikir dengan fikirannya. melihat gerbang yang masih terbuka segera ia menutupnya dan memasuki tempat untuknya berjaga.
*****
"Yuhuuuuuuu Salkom." Andre berteriak memasuki rumah besar itu.
Melihat sekeliling yang sepi segera ia memasuki dapur karena merasa haus setelah berteriak. Dengan tanpa dosanya ia membuka pendingin makanan memilih minuman dan makananya. Merasa sudah cukup mengambil beberapa makanan dan minumnya ia menutup pintu dan membalik tubuhnya.
"Dugong." umpat Andre kaget.
"Lo ngapain kampret malem-malem kerumah gue." Theo berucap dengan tajam melihat temanya yang dengan seenak jidatnya merampok makananya.
"Lah si monyet, gue kesini soalnya gue yakin lo kangen gue."
"Kangen pala lo somplak, mana ada gue kangen lo, lo masih inget kan kita baru ketemu tadi siang dugong."
"He he he"
Mereka berjalan ke ruang keluarga dengan Andre yang mendahului tuan rumah dan jangan lupakan makanan yang ia peluk erat seakan takut di curi. Sedangkan Theo memandang temanya malas, ia sudah hafal dengan kelakuannya.
"Tumben lo kesini jam segini, emang lo gak ada janjian ke hotel ama cewek-cewek." Theo memulai pembicaraan setelah duduk.
"Kriuk Kriuk Udhah kriuk sheleshai Kriuk ." Andre menjawab denagn mulut yang masih sibuk mengunyah.
"Jorok lo, telen dulu tu makanan baru ngomong."
Glek
Andre meminum sebotol soda setelah itu menjawab pertanyaan Theo.
"Lah lo kan tanyak, jadi gue jawab. Kok gue malah yang salah." Andre menatap sinis Theo.
"Lah si kampret, lo kan bisa telen dulu tu makanan baru di jawab. emang nelen makanan butuh berapa jam, orang kripik kentang doang yang lo makan beda lagi kalo lo ngunyah besi baru tu gue gak sabar nunggu jawaban." Theo membalas tatapan dan ucapan Andre tak kalah sinisnya.
"Lahhh si monyet satu ini, perasaan gue salah mulu. Kayak monyet betina aja lo." Andre mengerucutkan bibir tak lupa tanganya yang mengais keripipk kentang, mencari remahan yang masih tersisa di sana tak lupa menjilat jari-jarinya.
"Lo bacot lagi gue tampol ya, trus gue ambil makanan ama minuman yang lo bawa tuh, habis itu gue tendang dari rumah." ancam Theo.
"He he he sabar bro." Andre mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya yang basah akibat jilatanya tadi. Theo menghela nafas, menahan rasa jijik akibat melihat kelakuan temanya itu. Hening sesaat hanya terdengar suara kunyahan Andre dan tatapan jijik Theo.
"Lo ngapain kesini, gue tanya serius ini." Tanyanya.
"Gue mau nginep." Andre menjawab dengan mata yang sibuk melihat makanan yang masih bisa ia makan.
"Lo udah jadi gembel." Sarkasnya.
"Hee sekate kate lo." Andre melotot tidak terima.
"La terus ngapain lo nginep disini dugong."
"Gue lagi bosen dirumah."
"Halah lagak lo." Theo menatap tidak percaya.
Mengabaikan tatapan Theo,"He he he lo bolehin kan." Ucap andre dengan cengiranya.
"Hmmm tidur sono di ruang tamu tempat biasanya. Pokok jangan ganggu gue malam ini." putus Thro akhirnya.
"Lah emang lo mau ngapain." Kernyitan terlihat jelas di dahi mulus Andre.
"Lo pikirlah gue mau ngapain." Theo menjawab dengan wajah songongnya.
"Main kuda kudaan." tebak Andre.
"Si kampret, emang lo pikir bini gue kuda, lo bilang main kuda kudaan." Theo melotot tidak terima mendengar ucapan Andre.
"Lah hubungannya apa ama istri lo." sangkal Andre. Theo mulai kikuk bingung untuk menjelaskan.
"Lah kan gue mau main ama bini gue." jawab Theo akhirnya.
"Haa main?" Andre bertanya pura pura bodoh.
"Udahlah susah ngomong ama lo." Theo jengh sendiri dengan skap Andre.
"gue tau, lo mau naena ya." Andre tersenyum dengan lebar bahkan lesung pipinya terlihat sangat jelas.
"Bacot, gue tinggal. Lo jangan kotoran ni ruangan bisa di sambit besok gue ama bini gue kalo lihat ruangan kotor." peringatan theo sebelum beranjak meninggalkan Andre.
"Eh Yo tunggu gue mau nanya."
"Ck apaan sih, cepet tanya apa gue gak punya waktu banyak."
"he he he enak gak naena?"
"Somplak." setelah mengumpat Theo langsung meninggalkan Andre tanpa mendengar kalimat kalimat yang unfaidah itu.
"Hee Yo, jawab dulu napa. Lah si kampret."
Andre sendiri di tempat itu, memandang cemberut sosok Theo yang meninggalkannya dengan penuh rasa kepo. Setan setan mulai merasuki fikiranya.
Setan: Kalo lo kepo langsung aja tuh coba ama cewek cewek yang biasa lo dekati. Bawa ke hotel habis itu langsung aja.
Malaikat: Ehh jangan, inget Ndre jadi laki laki itu harus tanggung jawab. Termasuk tanggung jawab dengan diri lo dengan menjaga burung lo biar gak sembarang masuk sarang orang.
Setan: Udah coba aja, toh orang gak bakal tau lo masih perjaka apa nggak.
Malaikat: Astagfirullah, inget Ndre dosa. Jangan sampek lo ngikutin nafsu lo.
Setan: Halah udah ndre coba aja. Pasti enak nagih lagi Toh lo gak merkosa anak orang
Malaikat: Inget, kalo lo udah gak perjaka berarti lo jadi bekas, kan lo tahu bekas. Mending kalo jadi bekas yang bisa di daur ulang. Lah lo nanti jadi bekas yang enggak berkelas.
Setan: Santai Ndre gak ada yang tau lo bekas apa gak.
Malaikat: Inget Ndre Allah maha tau
Setan: Santai Ndre Allah maha pemaaf, habis lo ngelakuin itu tobat aja langsung.
Malaikat: Jangan Ndre, lo mau nanti Istri lo bakal dapat bekas.
Setan: Halah, gimana kalo Istri lo juga bekas
Malaikat: Astagfirullah, orang baik bakal di satuin ama orang baik
Setan: Jangan dengerin malaikat yang sok sok_an itu Ndre
Malaikat: Gak usah dengerin setan sesat itu Ndre
Setan: Dasar Malaikat
Malaikat: Dasar Setan
"Stop Berisik lo pada, dasar. Gak tau orang lagi bingung." Teriak Andre karena merasa jengah dengan bisikan dan hasutan yang tiada henti.
Brak Jdug
Lemparan sendal ia dapatkan dari lantai dua, diatas sana berdiri theo dengan wajah sangar nya jangan lupakan tangan yang sudah menggesek-gesekan lehernya seakan mengancam Andre.
Andre memandang sosok di atas itu dengan cengiran khasnya. Ia tangkupkan kedua tanganya setelah itu ia ambil sandal yang sempat mendarat sempurna di dadanya tadi. Dengan cepat ia lemparkan ke arah kepala theo dan berlari memasuki kamar tamu guna menghindari amukan Theo.
"Dasar Dugong sialan." Umpat Theo karena lemparan Andre pas mengenai kepalanya dan jangan lupakan ruang keluarga yang sudah sepeeti TPS membuat ia semakin murka.
Umpatan itu masih terdengar di balik pintu kamar Andre. Andre hanya mampu mengelus dadanya dan menyengir seperti orang bodoh. Setelah itu cengiran itu berubah menjadi serius. Ia telah mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
"Gue bakal tetep jaga kesucian gue apapun yang terjadi sampai gue nikah." setelah mengatakan itu Andre segera memasuki kamar mandi untuk bersih bersih.