bc

Perempuan Misterius : Cerita mengenai konflik sindikat dan keterlibatan antara orang biasa dengan golongan atas sindikat

book_age4+
16
FOLLOW
1K
READ
like
intro-logo
Blurb

Cerita berawal dari perkelahian antar sindikat yang melibatkan anak dari salah seorang sindikat terkuat dan Putri penerus Raja Sindikat Lama

chap-preview
Free preview
Pertemuan Tidak Terduga
Jakarta, Mei 1990 Suasana malam yang cukup cerah nampak terlihat menghiasi suasana kota Jakarta dengan sinar-sinar lampu dari gedung-gedung tinggi disekitar wilayah Chase Building di Jl. Sudirman, Jakarta Pusat, menjadi suatu pemandangan tersendiri. Halte bis saat itu nampak penuh sesak, karena memang malam itu masih termasuk waktu orang pulang bekerja. Nampak beberapa bis PATAS AC, beberapa kopaja, berbaris tidak beraturan di depan halte Chase Building I. Mereka berusaha mengumpulkan penumpang sebanyak-banyaknya. Nampak kernet PATAS AC Jurusan Kampung Rambutan, turun ke jalan dan memberikan jalan kepada para penumpang yang turun. Beberapa orang lelaki dan perempuan yang memang sudah menunggu kedatangan PATAS ini dari tadi, nampak dengan tergesa-gesa berlari-lari mengejar ke arah PATAS tersebut dan berkumpul di pintu masuk sebelah depan, tetapi ternyata banyak juga calon penumpang lain yang tidak berhasil masuk dari pintu belakang, berlari pula kearah pintu depan, sehingga terjadi sedikit pergumulan antar calon penumpang di depan pintu masuk sebelah depan. Melihat ini, kernet bis dengan cepat menyelinap masuk mengikuti penumpang yang sedang berebutan naik ke atas bis, dan segera PATAS tersebut mulai jalan pelan-pelan meninggalkan halte, dan menutup pintu masuk. Melihat pintu masuk mulai ditutup, nampak 2 orang lelaki dan satu orang perempuan berpakaian kerja, segera berhenti berebutan untuk naik dan kembali berjalan kearah halte. Mereka sadar tidak mungkin mendapatkan tempat di bis tadi, dan terpaksa menunggu kedatangan bis berikutnya. Nampak dengan muka kesal dan agak terengah, mereka bertiga berjalan melangkah kembali kearah halte. Memang hal ini sudah menjadi pemandangan yang biasa di saat kesibukan pulang kerja, yang memang sudah sering terjadi di setiap halte bis. Lelaki yang berbaju lengan pendek itu bernama Riki, berusia 25 tahun. Dia baru bekerja 3 bulan di perusahaan kartu kredit yang berada di chase building 1, sebagai staff marketing. Riki adalah seorang anak pendiam yang berasal dari keluarga menengah di pinggiran Jakarta. Dia hidup bersama dengan orang tuanya yang sudah lanjut usianya, dan adik perempuannya yang berusia 10 tahun. Ayahnya baru saja pensiun dan tidak bisa memberikan uang sekolah kuliah kepada Riki, yang saat itu sebenarnya masih mengikuti kuliah di semester 5 jurusan akuntansi ekonomi di sekolah swasta di Jakarta. Akhirnya Riki harus berhenti kuliah di semester 5, dan akhirnya memutuskan bekerja sambil kuliah. Saat itu memang terbilang lebih mudah untuk bekerja sebagai marketing kartu kredt, karena memang peminat kartu di Jakarta saat itu banyak sekali, sehingga Riki sengaja bekerja sebagai salah satu marketing kartu kredit dengan tujuan untuk bisa kembali melanjutkan kuliahnya. Lelaki yang berbaju biru tua itu bernama Hendi. Dia berusia 30 tahun, dan bekerja di perusahaan asuransi di sekitar chase building, sudirman. Sedangkan yang perempuan bernama Sindi, yang juga bekerja di perusahaan asuransi tetapi berbeda kantor dengan Hendi. Sambil berjalan Riki, berujar, “ kalau seperti ini terus kayaknya susah nih pulang on time, harus cari rute lain kayaknya.” Hendi yang juga sedang ingin pulang lebih cepat, membalas spontan,” setuju juga tuh, Mas.” Memang tadi saya dengar dari beberapa orang di halte, katanya PATAS AC jurusan rambutan akan jarang hari ini karena ada banjir disekitar wilayah pasar cililitan, jadi banyak yang putar balik. Macetnya panjang banget, Mas.” Sindi, juga langsung ikut menimbrung, “ iya saya juga mau pulang cepat, pulang kearah cawing atas. Kayaknya saat ini tidak mungkin kalau harus nunggu lagi, bagaimana kalau kita cari rute lain aja ? serunya kepada Hendi. Hendi nampak terdiam sebentar. Memang dia dengan lelaki berbaju putih dan perempuan ini tidak saling mengenal. Hanya mereka memang sering bertemu di halte itu untuk naik PATAS AC jurusan Kampung Rambutan. Jadi walaupun tidak saling kenal, tetapi masing-masing sudah sering melihat wajah. Riki juga mengiyakan, “ bener juga kata Ibu ini, Mas. Keliatannya Mas juga mau kea rah cawang kan?” Bagaimana kalau kita ambil Kopaja yang kearah terminal blom M dulu, baru darisana ambil Bis Patas AC yang jurusan Kampung Rambutan-Blok M?” Kebetulan saat mereka mengobrol, Kopaja jurusan blok M langsung berhenti di dekat mereka, dan nampak hanya sedikit penumpangnya. Tanpa berbicara lagi, ketiganya nampak segera naik ke kopaja tersebut. Dengan cepat Kopaja segera berjalan kembali menuju kearah terminal Blom M. Ketiga orang yang tidak secara sengaja harus berjalan bersama itu, nampak turun di area samping terminal Blok M, tepat disebrang gedung Mal Blok M Plaza. Saat itu sudah sekitar jam 19.45, tetapi di depan area blok M sepanjang trotoar sampai kearah lampu merah masih nampak ramai dengan orang yang berlalu lalang. Dan disepanjang jalan trotoar, banyak sekali dijumpai pedagang kaki lima mulai dari kerak telor, sate ayam, tahu-bakwan goreng, ubi bakar lembu, dan masih banyak lagi. Tiba-tiba selagi mereka bertiga berjalan di trotoar menuju kearah terminal, dari arah lampu merah terdengar suara keras seperti suara ledakan “DDDUUUAAARRRRR..””” nampak dari kejauhan, orang-orang dari arah lampu merah berlarian berserabutan, ada yang sebagian menuju kearah Fatmawati dan Grand Wijaya, ada yang lari-lari kearah radio dalam, dan sebagian ada yang berlari kearah terminal blok M, kearah mereka bertiga! “Hati-hati, ada yang bawa pistol nembak-nembak, Ada yang bawa bom. Awass ada kerusuhan di depan hotel,” sambil berlarian seorang pria usia 50 tahun yang nampak seorang pedagang disana berteriak-teriak. Dibelakanya banyak sekali orang yang berlarian dengan muka yang panik. Nampaknya pedagang-pedagang, yang lari serabutan kearah tiga orang muda yang menuju ke arah terminal. Dengan terkejut, ketiga orang kantor ini segera menjauhi terotoar dan bersembunyi di balik gerobak di pinggiran terotoar menghindari tubrukan dengan gerombolan panik tersebut yang berlari seperti sekumpulan kuda liar lepas dari hutan. Terdengar suara-suara tembakan beberapa kali..DDuuurr….doorrrr…..dooorrrrr…….. Dibelakangnya, nampak beberapa orang dengan setelan warna hitam-hitam, nampak berlari pula, sepertinya mereka berusaha lari menjauh dari kejaran musuh dibelakangnya. Di tengah-tengah orang bersetelan hitam-hitam ini, nampak 1 orang pria muda dengan muka pucat dan bibirnya sdikit berdarah juga ikut berlarian. Sekumpulan orang bersetelan hitam ini nampak bergerak cepat sambil menembak-nembak kearah belakang mereka. Dengan muka pucat, pria muda yang berada di tengah, juga ikut berlarian. Sepertinya pria muda ini dilindungi oleh sekumpulan pria berbaju hitam ini. Dan memang di belakang mereka, nampak bayangan orang – orang dengan baju yang tidak seragam mengejar mereka sambil membalas dengan tembakan. Rata-rata sekumpulan orang yang mengejar adalah para lelaki berusia 30-40 tahun dengan perawakan rata-rata besar seperti badan tentara militer, prajurit terlatih dengan pakaian yang tidak seragam. Kelompok orang baju hitam yang dikejar, nampak berangsur-angsur berjatuhan di jalan. Nampak seram sekali pemandangan malam itu. Satu per satu orang-orang berbaju hitam ini berjatuhan terkena tembakan balasan dari belakang. Ada yang terkena lanngsung tidak bergerak. Ada juga yang terjatuh, dan masih bisa bergerak berusaha bangkit, tetapi akhirnya ditembak lagi oleh musuh dibelakangnya. Riki, Hendi, dan Sindi yang turut menyaksikan ini juga ikut bergidik dan meremang bulu tengkuknya. Sepertinya sekarang hanya tinggal satu orang lagi yang nampak masih dengan kepayahan berusaha melindungi pria muda bermuka pucat itu. Dan kebetulan sekali jarak antara 2 orang pria yang terdesak ini dengan Riki, Hendi, dan Sindi semakin dekat. Dan akhirnya mereka berhasil mendekati gerobak yang dijadikan tempat persembunyian dari Riki, Hendi, dan Sindi. “Duuaaarrr…””” Bunyi letusan terdengar keras, dan.....nampak pria berbaju hitam tersebut terjatuh dan terkapar diatas lantai trotoar yang berjarak hanya kurang lebih 5 meter dari tempat persembunyian Hendi, Sindi, dan Riki. Nampaknya pria ini tertembak di d**a nya. Baju hitam sebelah kiri nampak lembab basah dengan darah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Rise from the Darkness

read
8.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

TERNODA

read
198.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook