bc

GARWO KINASIH SANG DALANG

book_age16+
4
FOLLOW
1K
READ
HE
love after marriage
age gap
friends to lovers
heir/heiress
sweet
bxg
kicking
witty
addiction
like
intro-logo
Blurb

Kalau orang lain mengagumi tokoh Rama, saya lebih mengagumi Rahwana yang memiliki cinta tulus pada Sinta ____ D.S. Chandani Meskipun diceritakan bahwa Rahwana mencintai Sinta dengan tulus, namun menculik istri orang tetap melanggar etika norma dari segi manapun____ P. Suwiryo

chap-preview
Free preview
BAB 1: KELUARGA SANG NDORO
SELAMAT MEMBACA *** Suasana pagi di rumah sang Ndoro sekarang terasa sangat hidup sejak kehadiran empat manusia tim hore dari Ndoro Putri. Jika dulu hanya hanya ada suara Ndoro Putri yang meramaikan meja makan sekarang ada suara-suara lain yang selalu membuat keributan pagi di rumah besar Ndoro. Bunyi ketukan tongkat terdengar dengan jelas, empat manusia yang tadi duduk dengan tenang sontak saja menoleh. "Sugeng enjing (selamat pagi), Ndoro," ucap Pandu, Bima dan Bayu bersamaan. Saat Ndoro Karso dan Ndoro Putri itu datang ke meja makan. Panji, Pandu, Bima dan Bayu sudah duduk di meja makan sejak tadi menunggu kedatangan kedua orang tuanya itu. Ndoro Karso yang mendengar sapaan ketiga putranya hanya bisa menghela napasnya dengan pelan lalu melirik ke arah istrinya yang berdiri di sampingnya. Ajaran siapa lagi ini, kalau bukan ajaran Ndoro Putri. "Sugeng enjing (selamat pagi), Romo," kali ini Panji yang berbicara. Putra sulung sang Ndoro itu memilih tidak ikut-ikut usil seperti adiknya yang lain. "Enjing," (pagi) jawab Ndoro Karso singkat. Ndoro Putri itu mengacungkan satu jempol pada keempat putranya sambil tersenyum lebar. "Selamat pagi juga anak-anak ganteng," sapa Sekar dengan wajah ramah berserinya. "Selamat pagi, Mami," jawab Pandu, Bima dan Bayu bersamaan. Suasananya jadi seperti di taman kanak-kanak. Panji yang melihat itu sudah tidak kaget lagi, dia hanya tersenyum tipis. "Kalian berdua, hari ini uang jajannya dipotong 50%. Kamu, pajak panen naik 80%," ucap Ndoro Karso dengan santainya, menunjuk Pandu, Bima dan Bayu. "Tidak bisa Ndoro, ehhh Romo. Tidak boleh dipotong uang jajannya." Si bungsu Bayu langsung protes. Dia langsung menatap maminya dengan tatapan mengiba. Berharap mami mereka itu mau memberikan uluran tangannya pada kedua anak yang tengah tertimpa musibah ini. Sekar hanya tertawa lirih sambil menyendokkkan nasi ke atas piring Ndoro. "Ndoro mau sarapan apa?" tanya Sekar pada Ndoro Karso. Ndoro Karso langsung menatap istrinya dengan tajam. Lihat, hasil kebiasaan dan ajaran tidak benar dari istrinya selama ini membuat anak-anaknya bahkan hingga sebesar ini masih sering memanggilnya Ndoro. "Mami salah panggil, dipotong juga harusnya uang bulanannya, Romo," proses Bayu pada romonya. Namun, Ndoro Karso memilih diam. "Romoooo..." rengek Bayu lagi. "Sing wes ra kenek ditulung yo wes," (yang sudah tidak bisa ditolong ya sudah) hanya itu yang Ndoro katakan. Sekar terkekeh pelan mendengar ucapan suaminya itu. Ini adalah bentuk nyata, dari sikap pasrah dari Ndoro. Ndoro Karso beralih melirik pada putra sulungnya, beruntung si sulung ini menyebalkannya hanya sewaktu kecil. Saat dewasa sifatnya berubah drastis. Lebih tenang dengan pembawaan yang dewasa. Berbeda dengan para adiknya, Ndoro merasa hingga tua nanti sifat mereka akan seperti itu. Sudahlah darah istrinya mengalir deras di sana. Tidak perlu dibahas lagi, ketimbang menaikkan tensi darah. "Anak-anak, hari ini acaranya mau ke mana?" "Ke sekolah," jawab Bayu. "Ke kampus," jawab Bima. "Ke kebun," jawab Pandu. "Istirahat di rumah," jawab Panji. Di antara ke empat putranya yang terlihat santai memang hanya Panji, selebihnya mereka selalu sibuk dengan berbagai urusan dari yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Terutama si petani paling sukses, Pandu. Putra ke dua sang Ndoro itu hanya akan terlihat batang hidungnya di rumah ketika senja hingga malam tiba. Ketika matahari terbit, sudah hilang lagi ke kebun. "Kopi, nanti temani Mami ya, Mami mau pergi," ucap Sekar pada Pandu. Pemuda itu langsung menggeleng dengan serius. "Aku sibuk mau ngurusin panenan, Mi," jawab Pandu. "Ngapain kamu yang sibuk, itu bisa diurus yang lain." "Tidak bisa. Harus aku yang urus sendiri, Mi," jawab Pandu lagi menolak ajakan maminya. Sekar langsung mendengus, dia merasa tidak lebih penting ketimbang urusan panen putranya. Sekar lalu beralih menatap si sulung, meski sebenarnya dia tidak berencana pergi dengan Panji karena Panji butuh istirahat hari ini. Tapi karena tidak ada yang lain, baiklah mari dicoba. "Alex, nanti pergi sama Mami, mau ya?" Bujuk Sekar pada Panji. Panji yang ditanya seperti itu tidak langsung menjawab, justru menatap ke arah sang Ndoro, seolah bertanya mau ke mana Ndoro Putri mereka itu. Biasanya pergi sama suaminya kenapa sekarang dia yang harus menemani. "Temani mami sebentar. Romo ada tamu siang nanti," ucap Ndoro Karso dengan tenang. "Nggih (iya), Romo," ucap Panji dengan patuh. Sekar yang melihat itu langsung mendengus kesal. Lihat anak-anaknya kalau sama romo mereka patuhnya minta ampun. Semisal diminta terjun ke laut saja ibarat kata langsung berangkat tanpa nanti-nanti. Tapi kalau dia yang memberi perintah alasannya dari A sampai Z dikeluarkan. "Kalian Mami yang suruh banyak alasan, giliran romo yang bicara kok langsung patuh begitu, kesenjangan sosial di dalam keluarga ini namanya," protes Sekar langsung. Bima dan Bayu yang tidak ikut-ikut sejak awal namun justru terseret pada akhirnya hanya bisa diam tidak berani menjawab. Panji yang juga tidak protes pun demikian. Ini sumber masalahnya ada di Pandu, bukankah seharusnya bukan 'kalian' kata yang digunakan. Kalau 'kalian' pasti merujuk pada ke empatnya. "Aku kan sibuk betulan, Mi. Masih ada Mas Panji yang bisa menemani, sama akunya lain kali saja," ucap Pandu berusaha membujuk maminya. "Alasan terus, memang kalian ini yang tidak ada yang peduli sama Mami," ucap Sekar penuh drama. "Atur saja, bagaimana bagusnya menurut Mami," ucap si bungsu Bayu justru mengompori mami mereka yang sedang kesal sambil menikmati sarapannya dengan santai. Dijawab dengan kekehan pelan oleh saudaranya yang lainnya. Hal tersebut semakin membuat Sekar merasa jengkel. "Kalian itu anak-anak siapa sih sebenarnya?" "Anak Romo," jawa ke empatnya dengan kompak. "Jadi cuma anak romo, makanya cuma nurut sama romo. Tidak nurut sama Mami, karena bukan anak Mami. Jadi kalau tidak ada Mami kalian mau dilahirkan dari rahim siapa?" "Ya pasti ada maminya, kalau tidak ada Mami Sekar, kan bisa mami yang lain. Adiknya mantan Pak Lurah dulu bisa, atau Ndoro Putri yang dulu juga bisa. Kan banyak perempuan yang bisa jadi mami kami," dibungsu Bayu sepertinya terlalu tenang hidupnya pagi ini sehingga tampil untuk membangunkan macan betina. "Mami potong lagi uang jajannya, 90%," ucap Sekar dengan ketus sambil menunjuk Bayu. "Romo cuma memotong 50%, tidak ada yang bisa memotong lagi selain romo," jawab Bayu lagi dengan ekspresi santainya. "Ndoroooooo, jangan kasih uang jajan ke mereka, Ndoro," Sekar kahabisan kata-kata, pada akhirnya dia hanya bisa merengek pada Ndoro. Ndoro Karso sudah terbiasa, bahkan yang lebih parah dari ini sudah sering terjadi. Pagi sang Ndoro selalu dibuka dengan perdebatan kecil antara istrinya dengan para anak-anaknya. Dasarnya memang anak-anak ini yang suka menggoda mami mereka. "Ndoroooooo," kali ini Pandu ikut merengek seolah mengejek tingkah manja mami mereka. "Ndoooo..." Panji lebih dulu menyuapkan roti ke dalam mulut Pandu agar adiknya itu diam dan berhenti menggoda mami mereka. Sekar yang melihat itu tidak jadi merajuk, dia justru tertawa. Apalagi melihat ekpresi Pandu yang tidak bisa berkutik di tangan Panji. Sekar merasa bangga, tidak sia-sia dia punya empat anak setidaknya ada satu yang selalu membelanya. Yang tiga, tidak usah dibahas. Kerjaan mereka setiap hari hanya membuat tensinya naik. "Sarapan dulu. Nanti, lagi bicaranya," ucap Ndoro Karso dengan nada santai namun berhasil membuat lima manusia di meja makan itu langsung terdiam dan kembali pada sarapan masing-masing. Hanya cukup satu kalimat teguran yang keluar dari lisan sang Ndoro, meja makan yang awalnya ramai berubah sunyi dalam seketika. *** "Mami sudah beli yang model itu bulan lalu," ucap Panji saat melihat gelang yang sedang dicoba oleh Sekar. Sekar yang mendengar ucapan Panji, hanya menatapnya dengan malas. Mau sudah dibeli bulan lalu, memangnya tidak boleh beli lagi bulan ini. "Memangnya kenapa kalau sudah beli bulan lalu?" jawab Sekar dengan santainya. "Untuk apa lagi Mi kalau modelnya sama?" "Untuk koleksi. Kok kamu rewel sih, romo saja kalau menemani Mami belanja tidak protes sedikitpun seperti kamu ini," Sekar mengomel pada Panji. Karena putranya itu sejak tadi mengomentari apapun yang dia lakukan. Panji yang mendengar itu hanya bisa mengangguk pelan tanpa bantahan. Dia hanya menyuarakan isi hatinnya bukannya bermaksud protes. Panji berjalan ke arah jajaran gelang kaki, karena hanya di bagian sana yang lumayan senggang. Tiba-tiba dia melihat sebuah gelang cantik. Yang di pasang di patung etalase. Panji menatapnya dalam diam, gelang itu kecil namun berkilau. Pasti akan terlihat sangat manis jika dikenakan. Dan yang lebih menarik lagi, gelang itu memakai liontin dengan huruf P. Terbesit dalam pikiran Panji, jika dia ingin membeli gelang itu, tapi langsung teringat mau dibuat apa. Laki-laki tidak mamakai gelang kaki. Jika ingin diberikapun, pada siapa, adiknya semua laki-laki tidak ada yang perempuan. Juga, mungkin saja gelang itu pesanan, karena sudah menggunakan inisial huruf tertentu. "Beli kalau suka, jangan cuma dilihat," ucap Sekar tiba-tiba sudah berada di sebelah Panji. Panji menoleh dan tersenyum tipis, sambil menggeleng pelan. "Laki-laki tidak memakai gelang kaki, Mi," ucap Panji lirih. "Simpan saja, nanti dikasihkan ke siapa begitu. Kalau mata melihat, hati bilang bagus, langsung beli. Dari pada menyesal, ayo beli. Jangan pelit kamu, ketimbang gelang satu saja, pelit," ucap Sekar memaksa Panji. Karena sejak tadi dia perhatikan putranya itu mengamati gelang kaki yang di pajang di patung oleh toko. Jika tidak suka tidak mungkin melihat selama itu kan. *** KUTAI KARTANEGARA, 11 MARET 2025 SALAM E_PRASETYO

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Desahan Sang Biduan

read
55.6K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.4K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.9K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.6K
bc

After We Met

read
188.3K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
9.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook