TRAUMA

1036 Words
Bora tersenyum. "Tapi, bukankah sebelum papa maju- kalian berdua harus menikah resmi secara negara?" Ibu Bora berdiri dan berteriak marah. "MEMANGNYA INI SEMUA GARA-GARA SIAPA?!" "Bora, masuk ke dalam kamar kamu!" Perintah papa Bora. Bora mengangkat kedua bahu dengan santai lalu masuk ke dalam kamarnya. "Kamu bela dia? Kenapa kamu selalu bela dia? Dia selalu menghina aku, hanya karena-" "Diam!" Tekan papa Bora. Bora mendengar percakapan itu saat naik tangga dan tidak berani memegang pegangan tangga, dia menaiki tangga dengan hati-hati lalu masuk kamar setelah membuka kunci. Sebelum berangkat sekolah, Bora memang mengunci pintu kamar supaya tidak ada pencuri masuk ke dalam kamarnya. Bora meletakan tas di bawah tempat tidur dan mulai mandi, rasanya melelahkan sekali seharian ini, dan juga keajaiban yang diberikan Bern. Begitu dokter Ditya menyebut tentang sistem, entah kenapa tiba-tiba muncul layar di atas kepala orang-orang lalu menunjukan gambar masa lalu yang mereka lakukan. "Besok apa lagi yang akan diberikan Bern?" Kedua tangan Bora gemetar hebat dan dia menangis di dalam kamar mandi. ---- 'Bora, apakah kamu menangis lagi?' Bora yang baru tertidur, senang melihat Bern lagi, dia segera memeluk anjing berbulu cokelat itu. "Aku merindukan kamu, Bern." 'Bora, apakah kamu merindukan aku sampai menangis?' "Tentu saja, bagaimana bisa aku tidak merindukan kamu?" 'Bisakah kamu kuat untuk aku?' "Bern." 'Aku tidak bisa selamanya menemani kamu, Bora. Aku ingin kamu tumbuh kuat dan bisa hidup dengan bahagia, aku menukar nyawa untuk kebahagiaan majikanku tersayang.' Moncong Bern bersandar di bahu Bora. "Bern." 'Jangan menangis dan jadilah anak kuat, Bora.' Tidak lama, Bern menunjukan masa depan lagi. Bora memeluk erat Bern dengan terkejut. Masa depan dimana mama dan kedua adik Bora menangisi tubuh Bora di dalam peti sementara peti papanya kosong, tidak ada datang yang menjenguk. Bukankah itu sangat aneh? "Bern, bukankah semua orang menyanjung papa dan menyuruh papa menjadi presiden? Kenapa tidak ada yang mendekati peti papa?" 'Aku tidak tahu.' Tidak lama polisi datang dan beritahu mama Bora, dia menjerit histeris lalu pingsan. Bora berusaha menggapai mamanya untuk menolong namun ternyata dia terbangun dari mimpi dengan keringat membasahi tubuh. Bora melihat kedua tangan dengan gemetar. "Sebenarnya apa yang terjadi di masa depan?" Dok! Dok! Dok! "BORA! CEPAT BANGUN! JANGAN CARI MASALAH LAGI!" Bora melihat jam di dinding, masih menunjukan pukul enam pagi. "BORA! KELUAR!" Bora turun dari tempat tidur dan menyentuh kenop pintu, tiba-tiba muncul layar monitor yang menunjukkan kedua kakak tiri Bora membuat keisengan di pintu kamarnya dengan meletakkan ember cat di atas pintu. Bora menarik tangan lalu menghubungi papanya sambil menangis. Papa yang mendengar suara Bora terkejut, baru pertama kalinya sang anak menghubungi dia sambil menangis. Tanpa pikir panjang, dia naik ke lantai dua dan memegang kenop pintu kamar Bora. Kedua kakak tiri menjadi panik dan terlambat menghalangi ayah tiri mereka, ember cat berisi cat putih turun begitu kenop pintu diturunkan, cairan cat di dalam ember tumpah. Pria itu berteriak terkejut karena siraman cat. Bora membuka pintu dengan mata berkaca-kaca setelah membuka pintu. "Papa, aku semalam mimpi buruk." Katanya sambil memeluk pinggang papanya yang sudah terkena siraman cat. Ibu tiri naik ke lantai dua begitu mendengar jeritan sang suami, betapa terkejutnya dia begitu melihat suaminya disiram cat berwarna putih. Dia tahu, bahwa ini adalah ulah kedua anaknya tapi lebih memilih ditutupi dan menyalahkan Bora. "Bora, apa yang kamu lakukan sampai ayah kamu tersiram cairan cat seperti itu?" Bora mengerutkan kening lalu mundur dan melihat tubuhnya juga terkena cat lalu menatap papanya. "Astaga, kenapa aku kena cat?" Tidak ada yang berani berkomentar karena papa Bora sudah mulai marah. ------ "Hari ini suasana hati kamu terlihat baik. Kenapa? Apakah ada yang membuat kamu bahagia hari ini?" Hari ini lagi-lagi Bora bolos dari sekolah untuk mengurus surat pindah. Bora membantu dokter Ditya menggendong puppy anjing rott yang baru dioperasi satu jam lalu ke inkubator khusus. "Ternyata memiliki sistem itu memang bagus, kenapa dokter Ditya bisa tahu tentang hal itu?" "Hanya tebakan, jadi memang benar seperti sistem?" Bora merenung lalu menjelaskan dengan hati-hati. "Sekarang yang aku lihat baru semacam layar monitor lalu menunjukan masa lalu, padahal sebelumnya bayangan masa lalu sekelibat. Berkat itu, aku berhasil menghindari hal yang tidak perlu." "Baguslah jika begitu." "Ngomong-ngomong dokter, sekolah mana yang harus aku masuki?" Tanya Bora. "Aku tadi ke sekolah hanya untuk mengurus surat pindah dan juga rekomendasi, tapi pihak sekolah bersikeras menyuruh aku tetap masuk." "Kenapa kamu tidak masuk saja untuk sementara?" "Itu-" "Apakah kamu dibully di sana?" Tebak dokter Ditya. Bora cemberut lalu mengangguk. "Setiap aku datang ke sekolah, mereka selalu menunjuk aku. Saat pelajaran dimulai, guru juga menatap aku tidak suka. Dulu ada Bern, sehingga aku menjadi tenang, tapi sekarang- aku tidak bisa berbuat apa-apa." "Bora, apakah itu sangat menyiksa?" "Ya, menyiksa sekali. Aku takut mereka akan memukul seperti yang dilakukan papa kepadaku saat emosi, bahkan aku benci suara keras." Dokter Ditya tersenyum lalu menepuk kepala Bora. "Ternyata kamu sudah berjuang keras selama ini, terima kasih." Bora menghapus air mata dengan punggung tangan. Satu hal yang membuat Bora merasa aman dan nyaman terhadap dokter hewan Bern di masa lalu, dokter Ditya masih mau menerima dirinya dan tidak pernah sekalipun mengeluh atau marah jika dia datang. Bora bisa melihat layar di atas kepala dokter Ditya mengenai dedikasi pekerjaannya. "Kamu akan sekolah swasta yang dekat dengan tempat klinik aku." Bora terkejut. "Apa?" Sekolah swasta yang dekat dengan klinik Ditya adalah sekolah mahal dari TK sampai jenjang SMA. "Dokter tidak salah rekomendasi itu?" Tanya Bora tidak percaya. "Salah satu kerabat aku punya sekolah itu, jadi tidak masalah. Kamu bisa masuk dengan jalur prestasi." Bora tertawa gugup, dirinya tidak masuk sekolah satu tahun dan harus mengulang kelas, sempat dibilang anak paling bodoh tapi- "Jika kamu ingin merubah masa depan, ikuti ini." Dokter Ditya menunjuk selebaran dari kantong jas putihnya yang panjang. "Ini adalah lomba makalah, aku yakin kamu suka dengan hukum bukan?" Bora mengangguk. "Ya, tapi-" "Lombanya dua hari lagi, kamu harus mengumpulkan makalah tepat waktu. Berikan padaku dua minggu lagi terkait masalah hukum di Indonesia." "Tapi dokter, aku baru pertama kali ikut lomba seperti itu." Ditya menghela napas. "Kamu bisa pulang sekolah seperti biasanya dan mengerjakan, lalu tunjukkan padaku." "Baik." "Bora, jangan ambil masalah hukum hewan." Saran Ditya. Bora kecewa. "Kenapa?" "Topik itu tidak populer, ambil yang paling umum misalnya psikologis anak. Bukankah kamu sudah punya contoh?" Bora mengangguk paham.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD