Bora bangun pagi setelah berbincang sejenak dengan Bern di dalam mimpi lalu berjanji akan melindungi teman-temannya. Mungkin, cerita yang dialami dirinya sekarang tidak dapat dipercaya, namun alam bekerja secara misterius dan manusia tidak mengetahuinya dengan pasti.
Bora menyapa papanya seperti biasa yang membaca koran, semenjak kejadian cairan cat itu, papa Bora menghukum kedua anak tirinya dengan tidak memberikan uang saku selama satu tahun, dan juga melarang mereka mendekati Bora.
Ibu tiri duduk sambil mengoles roti untuk sarapan sementara kedua saudara tirinya makan dengan tenang dan wajah cemberut, tidak seperti biasanya.
Bora mengintip layar di atas kepala papanya, lalu mengalihkan tatapan dengan wajah merah.
Ibu tiri terlihat duduk di bawah dan kepalanya menghadap ke bagian celana papa Bora. Meskipun masih SMA, dia tahu tindakan apa itu. Rupanya ibu tiri merayu sang papa dengan cara begitu.
Bora mulai berpikir kembali tentang hubungan kedua orang tua kandungnya. Mama Bora memiliki harga diri tinggi dan pasti tidak mau melakukan hal itu, namun ibu tiri memiliki nafsu serakah sehingga bisa melakukan apa pun yang dia inginkan.
Bora menggigit roti yang baru dioles dengan selai cokelat. Yang menjadi perhatian Bora adalah- kenapa di masa depan tidak ada yang berkunjung? Bukankah saat ini papanya populer?
Papa menegur Bora. "Papa mendapat telepon dari sekolah, katanya kamu tidak masuk sekolah kemarin dan hanya mengajukan surat pengunduran diri. Siapa yang menyuruh kamu keluar sekolah? Apakah kamu ingin menjadi anak tida berguna?"
Posisi Bora saat ini lemah dan memiliki riwayat penyakit psikologis, dia tidak bisa melawan papanya secara terang-terangan. "Katanya aku disuruh masuk sekolah asrama."
"BORA!" Papa Bora memukul meja makan dengan keras sehingga semua orang di meja makan sontak menoleh.
"Mau sampai kapan kamu menjadi anak tidak berguna? Sekolah sangat penting untuk masa depan kamu!"
Bora menatap papanya dengan sorot mata kecewa. "Apakah selama ini aku terlihat tidak berguna di mata papa?"
Papa Bora terkejut dengan pertanyaan anaknya. "Bukan seperti itu- papa-"
Bora mengalihkan perhatian papanya. "Selama ini Bora hanya anak pengecut dan menyakitkan hati papa, terima kasih kemarin sudah datang ke atas saat mendengar Bora menangis, tapi- Bora anggap itu terakhir kalinya Bora melakukan itu."
Karena Bora tahu, ibu tirinya akan selalu merayu sang papa untuk bisa memudahkan jalan kedua anak tiri.
Bora bangkit dari kursi lalu mengambil tas yang diletakan di dekat kakinya. "Tenang saja, Bora sudah tahu masa depan apa yang akan Bora hadapi."
Papa Bora memijat keningnya dengan kesal, dia tidak bisa memenangkan hati putrinya kembali sejak kejadian Bern, kadang kala dia merasa bersalah tapi juga menyalahkan putrinya yang tidak bisa menjaga diri.
"Kenapa kamu berubah dan menjadi anak tidak penurut? Jika hanya karena masalah Bern, papa bisa belikan penggantinya."
Bora tidak suka dengan hal itu, bagi papanya, uang bisa menggantikan segalanya dengan mudah. "Tidak perlu, hari ini aku akan pergi ke sekolah."
Ibu tiri Bora berusaha menenangkan suaminya yang sakit kepala.
Bora keluar dari rumah dan berjalan hingga keluar kompleks lalu naik angkutan umum.
Sesampainya di sekolah, Bora pergi menemui kepala sekolah dengan nekat. Hanya ini cara satu-satunya yang bisa dia dapat.
Kepala sekolah terkejut melihat sosok Bora yang ingin menemui dirinya, sebagai putri walikota di ibukota, nama dia terkenal di media sebagai anak lemah dan juga selalu tidak masuk sekolah, orang-orang juga mengatakan Bora hanyalah anak penakut yang tidak berani bertemu siapa pun.
Tapi sekarang, justru kepala sekolah melihat tekad di mata Bora, berbeda dengan gosip yang selalu dia dengar.
"Ada apa Bora?"
"Pak kepala sekolah tahu Papa dicalonkan sebagai presiden, bukan?"
"Tentu saja, banyak yang suka dengan kinerja papa kamu. Saya juga salah satu pendukungnya."
"Kalau begitu, bisakah anda membantu saya?"
"Membantu?"
Bora mengeluarkan selebaran dari dalam tas ransel sekolahnya. "Saya ingin pindah ke sekolah ini, kemarin saat saya mengajukan pengajuan pindah, guru malah melapor ke orang tua saya."
Kepala sekolah terkejut dengan keputusan Bora lalu membaca selebaran yang diberikan. "Bora, sekarang kamu kelas tiga SMA dan mengulang satu tahun karena tahun ini tidak lulus. Bagaimana bisa kamu mendadak pindah? Apakah kamu tidak cerita ke orang tua?"
"Aku tidak butuh keputusan mereka, mereka hanya peduli pada diri sendiri. Anda tahu sendiri saya menderita anxiety disorder, namun justru mereka membakar anjing saya dengan alasan menggigit salah satu tamu."
Kepala sekolah tahu cerita itu dan sangat menyayangkannya. "Apa yang kamu inginkan?"
"Saya akan ikut lomba makalah nasional untuk tingkat SMA supaya bisa masuk ke sekolah itu. Saya akan mewakili sekolah untuk lomba, jika saya bisa menang, tolong rekomendasikan saya." Bora melihat layar di atas kepala pria di hadapannya.
Rupanya ibu Bora sempat datang ke sekolah dan menawarkan sesuatu, namun kepala sekolah menolak keras. Bora masih belum tahu tentang apa itu, tapi yang pasti di sekolah ini, hanya kepala sekolah yang bisa dipercaya.
Kepala sekolah menghela napas panjang. "Bora, tidak perlu melakukan hal sejauh itu. Kamu cukup datang ke sekolah dan belajar, sebelum masalah anjing kamu dibakar, kamu anak yang berprestasi. Jadi-"
"Saya akan masuk asrama."
"Apa?"
"Jika saya masuk asrama, berarti saya harus masuk pondok pesantren. Lebih baik saya masuk asrama sekolah di selebaran itu daripada pondok pesantren."
"Bora-"
"Saya percaya dengan bapak, tolong saya pak." Bora membungkuk serendah mungkin untuk menarik simpati kepala sekolah.
Kepala sekolah menghela napas. "Saya tidak berani merekomendasikan kamu jika tidak ada wali, apakah kamu punya wali yang bisa dipercaya?"
"Tenang saja, hari ini saya akan pergi ke kantor papa untuk memberikan tanda tangan wali kepada seseorang yang saya kenal."
"Bora-"
"Ya?"
"Saya tidak tahu kenapa kamu mendadak berubah seperti sekarang, tapi yang pasti- saya ingin melihat Bora yang mudah tersenyum seperti dulu. Meskipun senyum kamu canggung."
Bora tidak tahu harus menjawab apa. "Terima kasih, pak."
"Jadi, hari ini kamu tidak masuk kelas lagi?"
"Ya."
Kepala sekolah menghela napas ironi. "Dewan pendidikan pasti akan menegur saya, jika kamu tetap tidak masuk sekolah."
"Tenang pak, saya akan keluar sekolah secara baik-baik dan membawa penghargaan."
Kepala sekolah menghela napas sekali lagi.
Bora pamit undur diri lalu keluar dari ruang kepala sekolah, saat hendak menuju gerbang luar, seseorang menghadangnya.
"Oh, apakah ini si pengecut Bora? Hanya karena anjingnya mati dibakar, jadi tidak masuk sekolah selama satu tahun."
Dua teman di belakang menertawakan kebodohan Bora.