Bab 2.

1218 Words
Malam ini Jesica merenung tentang pertemuannya dengan Aiden dan papanya yang ke sekian kalinya telah menyakiti jiwa dan raganya. Dadanya terasa begitu sesak mengingat kejadian hari ini. Flashback On. Pagi menyambut seperti biasa, Jesica selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Jesica adalah anak kandung dari pemilik rumah ini yang di jadikan pembantu bukan hanya oleh ibu tiri dan kakak tirinya, tapi juga papa kandungnya. Sedari lahir Jesica tumbuh tanpa kasih sayang dari seorang Papa. Secara fisik Kendrik ada, tapi secara kasih sayang dia tidak. Di meja makan hanya ada Kendrik, Sintya dan Agnes sementara Jesica hanya duduk di dapur karena Kendrik tidak mau satu meja dengan Jesica. “Pa, kita jadi makan malam di luar kan? Sudah seminggu kita gak makan malam di luar,” rajuk Agnes. “Baiklah, nanti Papa minta Satria reservasi tempat buat kita sayang. Sudah jangan ngambek gitu, nanti cantiknya hilang loh,” kata Kendrik membelaiz aw lembut rambut Agnes. “Terima kasih Papa,” kata Agnes lalu memeluk papanya. Jesica yang tidak kuat melihat pemandangan keluarga cemara itu meninggalkan dapur dan bersiap berangkat kuliah karena hari ini ada kuis. *** Selesai dengan kuliahnya, Jesica langsung pergi ke restoran A untuk kerja paruh waktu. “Selamat sore Kak!” sapa Jesica pada Evan. “Sore, Jes malam ini ada dua tamu VVIP. Tolong di backup dulu ya. Soalnya Yaya masih ada kuis,” kata Evan. “Baik kak,” kata Jesica. Jesica sibuk melayani pelanggan yang datang hingga waktunya pelanggan VVIP datang. “Selamat malam Tuan!” sapa Jesica. “Atas nama Aiden Halminton,” kata Felix. “Mari Tuan,” Jesica membawa Felix dan Aiden ke lantai dua tempat ruangan VVIP. “Silakan masuk.” “Bukannya dia temannya Cyra?” tanya Aiden dalam hati saat melihat Jesica. “Ini menunya Tuan,” kata Jesica sambil menyodorkan menu pada Aiden. Setelah melihat sebentar, Aiden langsung menyebutkan apa saja pesanannya. Jesica mencatatnya lalu mengulang pesanan Aiden dan pergi setelah semua yang dipesan tidak terlewatkan. “Tuan, Kendrik Gustav dan keluarga sudah tiba,” lapor Felix. “Bagus, jalankan sesuai rencana,” perintah Aiden dengan tersenyum miring. Aiden sengaja datang ke restoran A untuk memancing targetnya bertemu di restoran yang sama. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan ingin mengakuisisi perusahaan Kendrik, Starlight Corps. Kendrik dan keluarganya menempati ruangan di depan ruangan Aiden. Felix sengaja menunggu di luar supaya dia terlihat Kendrik ataupun Satria sang asisten pribadinya Kendrik. Dan benar saja saat Kendrik akan masuk ruangannya, matanya langsung tertuju pada Felix. “Selamat malam Tuan Felix!” sapa Kendrik sambil mengulurkan tangan. “Selamat malam Tuan Kendrik,” Felix menyambut baik uluran tangan Kendrik. “Sedang ada meeting atau ada acara apa Tuan di sini?” tanya Kendrik basa-basi. “Sepertinya bagus kalau aku bisa bicara mengenai masalah perusahaanku saat ini,” batin Kendrik. “Tidak Tuan, kebetulan Tuan Aiden sedang tidak ada acara hanya ingin makan malam saja,” kata Felix yang sengaja memancing Kendrik untuk bertemu dengan Aiden. “Boleh saya bertemu dengan Tuan Aiden? Kebetulan saya juga akan makan malam dengan keluarga di sini,” Kendrik akhirnya masuk dalam permainan Aiden. “Sebentar Tuan Kendrik, saya tanyakan dulu pada Tuan Aiden mau atau tidaknya,” kata Felix meninggalkan Kendrik di luar dan menemui Aiden. “Permisi Tuan, target masuk perangkap,” lapor Felix. “Suruh dia masuk, Lix,” perintah Aiden. “Baik Tuan Aiden,” Felix keluar memberitahu Kendrik untuk masuk. Kendrik yang senang mendengar hal itu langsung berpamitan dengan Sintya dan Agnes untuk menemui Aiden. “Selamat malam Tuan Aiden!” Sapa Kendrik mengulurkan tangan. “Maaf Tuan Kendrik, Tuan Aiden tidak bersentuhan dengan siapapun kecuali keluarganya,” kata Felix. “Ternyata rumor yang beredar itu benar, Tuan Aiden tidak tersentuh dengan siapapun dan auranya benar-benar mencekam,” batin Kendrik. “Maaf atas kelancangan saya Tuan Aiden,” kata Kendrik. “Hmm, ada apa?” tanya Aiden to the point. “Begini Tuan, saya bermaksud untuk menawarkan kerja sama dengan perusahaan Tuan Aiden. Jika Tuan Aiden tidak keberatan, bolehkah saya mengirim proposal kerja sama dan mempresentasikannya Tuan?” tanya Kendrik. Belum sempat Aiden menjawab, terdengar suara pintu di ketuk. Felix langsung membuka pintu dan melihat Jesica membawa makanan pesanan yang Aiden pesan. “Permisi Tuan, makanan sudah siap,” kata Felix. Aiden mengangguk dan Felix mempersilahkan Jesica untuk menyajikan makanan itu di meja. “Permisi Tuan, saya akan menyajikan makanan di atas meja,” kata Jesica sopan. Aiden mengangguk, sementara Kendrik terkejut ada Jesica di sana. “Papa!” gumam Jesica pelan. Kendrik yang tahu Jesica akan menyapanya langsung melayangkan tatapan tajam dengan penuh amarah. Tanpa Kendrik sadari Aiden memperhatikan interaksi mereka saat Kendrik mendengar gumaman Jesica. “Apa dia anaknya Kendrik?” tanya Aiden dalam hatinya. Jesica yang mendapatkan tatapan tajam itu buru-buru menyajikan makanannya. “Pesanan Tuan sudah lengkap, kalau ada yang kurang atau nambah pesanan bisa panggil saya, saya di depan Tuan, terima kasih,” kata Jesica dan cepat-cepat meninggalkan ruangan tersebut. “Maaf Tuan, pembicaraannya terpotong,” kata Kendrik membuka pembicaraan terlebih dahulu karena sempat hening seketika. “Felix!” panggil Aiden. Felix yang mengerti apa maksud dari tuannya langsung mengambil alih. “Terkait masalah proposal silakan kirim langsung kesini.” Felix memberikan kartu namanya, “Dan nanti bagaimana kelanjutannya akan di kabari. Karena Tuan Aiden akan makan, maka Tuan Kendrik di persilahkan keluar.” Usir Felix secara halus pada Kendrik. “Baik Tuan Aiden dan Tuan Felix terima kasih atas waktu dan kesempatannya saya harap pertemuan ini akan berlanjut dalam proyek kerja sama. Terima kasih,” Kendrik langsung pergi dengan geram, ucapannya jadi tertunda karena Jesica yang masuk menyajikan makanan. “Anak sialan!” gerutu Kendrik melihat Jesica di tempat pelayan. “Kamu ikut ke ruangan saya, ada yang ingin saya pesan.” Kata Kendrik pada Jesica. “Lix, cari informasi tentang pelayan tadi dan apa hubungannya dengan Kendrik, sekarang!” perintah Aiden. “Baik Tuan,” jawab Felix. Jesica yang baru masuk ke dalam ruang VVIP itu di kejutkan dengan sebuah tamparan yang mendarat di pipi mulusnya. “Berani-beraninya kau anak sialan mengacaukan pertemuan pentingku dengan Tuan Aiden,” kata Kendrik setelah menampar Jesica dengan kuat. Sintya dan Agnes yang sedang makan dan berbincang terkejut melihat Kendrik menampar Jesica. “Kenapa anak sialan itu di sini, Pa?” tanya Sintya. “Dia kan babu di sini, Ma,” sahut Agnes. “Cih! Pantas saja dia suka kabur waktu makan malam. Lihat saja nanti, aku tunggu kau di rumah!” kata Sintya dengan nada mengancam. Sementara Kendrik langsung mendorong Jesica dengan kuat sampai membentur pintu. “Keluar kau dari sini! Dasar anak pembawa sial!” bentak Kendrik. Suara bentakan dan benturan di pintu itu samar-samar terdengar di ruangan Aiden. Pikiran dan pendengaran Aiden terpecah saat suara Kendrik mendominasi ruangan. “Pa, Ma, apa benar dia perempuan yang tepat untukku? Apa dia bisa menerimaku, menerima pekerjaanku di dunia bawah ini? Apa aku akan membahayakannya jika menikah dengannya?” batin Aiden. Bagi sebagian mafia menganggap ini adalah hal yang sepele, tapi tidak dengan Aiden. Bukannya Aiden tidak mampu untuk menghalalkan segala cara agar posisinya tetap aman, tapi ini mengenai tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah kelak. Apalagi dia harus mengikat janji di hadapan Tuhan. Aiden berharap suatu saat dia akan menjadi seorang pemimpin yang terbaik untuk keluarga kecilnya terlepas dari dunia hitamnya. Flashback Off. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD