DOR! DOR! DOR!
“Cari tempat yang sepi sekarang, Lix!” perintah Aiden dengan tenang sambil melihat gerak gerik dari musuh yang mengejarnya.
Felix langsung mencari tempat yang lebih sepi, dia tidak tahu apa yang ada di pikiran Tuannya itu. Sementara para anggota inti Shadow Eagle yang khusus menjaga Aiden sudah berpencar untuk mengecoh musuh.
“Tuan, kita sudah berada di tempat yang sepi.” Felix memberi tahu.
“Berapa orang yang mengikuti kita?” tanya Aiden sembari memasukkan amunisi ke dalam senjata apinya.
“Delapan orang Tuan, mereka menggunakan motor.” Jawab Felix.
“Berhenti dan pancing mereka, Lix.” Kata Aiden dengan santainya.
Felix memberhentikan mobilnya dan dari earphone Felix memberikan aba-aba untuk memperketat penjagaan karena kemungkinan Aiden akan turun dari mobil.
Melihat mobil yang mereka kejar berhenti, para preman bayaran ini memberhentikan motornya dan turun satu persatu. Tapi, belum sempat mereka mendekat ke arah mobil Aiden, anggota Shadow Eagle sudah melumpuhkan mereka dengan mudah.
“Tuan Aiden!” panggil Felix.
Aiden langsung turun dari mobilnya. Dia langsung menuju ke preman itu. Dengan tatapan dingin Aiden langsung menusuk perut salah satu dari penguntit yang di tanggap anggota Shadow Eagle.
“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Aiden dengan mencengkeram kuat pipi salah satu preman itu.
Tidak ada satu pun dari para preman itu yang mau menjawab pertanyaan Aiden. Aiden langsung mengambil pistolnya dan menodongkannya ke kaki dari penguntit itu.
“Aku bertanya sekali lagi, siapa yang menyuruhmu?” tanya Aiden dengan nada dingin yang membuat badan menjadi mengigil.
“Mereka tidak mengatakannya Tuan, tapi yang saya dengar mereka menyebut nama Jimmy, Tuan.”
“Jimmy! Ternyata itu kau!” batin Aiden sambil tersenyum miring.
DOR! DOR! DOR!
Masing-masing dari penguntit mendapatkan satu tembakan di kakinya.
“Bawa mereka ke markas.” Kata Aiden yang masuk kembali ke dalam mobil.
“Baik Tuan Aiden.” Jawab Andrew, kaki tangan Aiden di Shadow Eagle.
“Kita ke mansion, Lix!” pinta Aiden.
“Baik Tuan.” Kata Felix.
***
“Di mana Uncle?” tanya Aiden pada Tika.
“Tuan besar dan Nona Cyra ada di ruang keluarga Tuan.” Jawab Tika.
Aiden meninggalkan Tika dan pergi ke ruangan keluarga.
“Selamat malam kakakku tercinta.” Sapa Cyra.
“Hmm.” Dehem Aiden lalu duduk di samping Cyra dan mengacak rambut Cyra.
“Kamu kelihatan lelah sekali Den.” Kata Nolan yang melihat wajah Aiden yang suntuk.
“Tidak Uncle, aku dengar Sartlight Corps sedang diambang kebangkrutan.” Kata Aiden memulai pembicaraan.
“Apa Kendrik membuat masalah denganmu, Den?” Tanya Nolan.
“Tidak Uncle, hanya saja aku berpikir untuk mengakuisisi perusahaan itu. Aku lihat akan banyak keuntungannya di depan karena Sartlight Crops itu perusahaan menengah.”
“Apa kau yakin dengan apa yang kau pikirkan?” tanya Nolan serius.
“Menurut Uncle bagaimana?” tanya Aiden balik.
“Menurut Uncle kalau alasan kebangkrutannya itu masuk akal tidak masalah, tapi kalau alasannya tidak masuk akal jangan. Memang benar jika perusahaan menengah Starlight Crops lebih unggul dari yang lain, tapi setahu Uncle nama itu tidak sekuat dulu. Kamu harus menyelidiki dulu sebelum mengakuisisi perusahaan Starlight Crops, jangan sampai perusahaanmu terkena imbasnya karena mengakuisisi perusahaan lain.” Kata Nolan.
“Perusahaan kita Uncle, bukan perusahaanku!” Tegas Aiden.
“Iya, Den.” Kata Nolan sambil tersenyum.
“Kapan kamu mau melamar magang di perusahaan pusat, Ra?” tanya Aiden.
“Aku akan melamar di perusahaan cabang aja Kak. Kalau di pusat nanti selesai lulus kuliah aku akan kerja di sana.” Jawab Cyra.
“Tidak bisa, kamu harus magang di perusahaan pusat!” tegas Aiden.
“Huft! Iya, iya." Kata Cyra sambil cemberut.
“Uncle, Ayo kita bicara di ruang kerjaku." Ajak Aiden
“Baiklah,"
Nolan dan Aiden meninggalkan Cyra di ruang keluarga bersama Felix. Setibanya di ruang kerjanya, Aiden langsung mulai membicarakan hal terkait dengan niatnya untuk menikahi Jesica dan menceritakan kondisi Jesica.
“Ternyata kamu cepat menemukan perempuan itu Aiden. Baiklah besok kita akan melamarnya,” kata Nolan dengan bahagia.
“Baik Uncle.”
***
Pagi menyapa, seperti biasa Jesica bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuk keluarga Gustav.
“Hari ini adalah hari terakhir aku tinggal di rumah ini,” kata Jesica dengan pelan.
Ada rasa bahagia yang tidak bisa terungkap jika benar kalau hari ini adalah hari terakhir Jesica berada di sini, tapi tidak bisa dipungkiri kenangannya di sini bersama Kendrik dan mendiang kakek dan neneknya adalah kenangan yang tidak rela dia tinggalkan.
Selain itu Jesica masih bingung bagaimana cara menyampaikan kepada papanya terkait dengan pernikahannya itu. Walaupun terkesan seperti memaksakan diri tapi cita-cita terbesar dari Jesica saat ini hanya bisa keluar dari rumah ini tanpa diusik lagi kehidupannya.
Sarapan telah siap, baik Kendrik, Sintya dan Agnes sudah duduk di bangkunya masing-masing dan menikmati sarapannya.
“Apa aku bicara sekarang ya? Kalau ditunda pasti Papa pulang malam.” Batin Jesica.
Jesica mengikuti kata hatinya yang mana dia harus berbicara sekarang tentang Aiden yang mau berkunjung. Jesica pun memberanikan diri untuk datang ke meja makan.
“Selamat pagi, Pa ada yang ingin aku bicarakan.” Sapa Jesica.
PRANG!
“Kau mau membuat hariku sial, Hah?” bentak Kendrik dan membuang sarapannya ke lantai.
“Tidak Pa, Jesica cuma mau pamit, dan Jesica mau minta izin untuk menikah sama Papa.” Sahut Jesica pelan.
“Bagus dengan begitu kesialanku akan hilang.” Kata Kendrik.
Sintya dan Agnes membiarkan anak dan orang tua itu terus berkelahi tanpa ada niatan untuk melerainya karena satu-satunya hal yang paling mereka inginkan adalah Jesica benar-benar keluar dari rumah.
“Kalau Papa ada waktu aku minta Papa buat bertemu sebentar sama calon suamiku yang nanti malam mau datang, tapi kalau Papa tidak ada waktu tidak apa. Aku juga sekalian mau pamit sama Papa untuk tinggal bersama suamiku. Satu lagi Pa, aku menikah besok sekalipun aku tahu Papa tidak akan hadir tapi aku minta restu saja dari Papa dan itu sudah lebih dari cukup untuk.”
Jesica pergi meninggalkan meja makan sambil menangis menahan perih yang luar biasa melihat kebencian papanya yang seakan tidak memudar sedikit pun padanya.
Jesica mengemas barang-barang yang di perlukan ke dalam kopernya, hanya baju, buku dan beberapa bingkai foto saja yang dia bawa selain itu dia tinggalkan semua di kamarnya.
Setelah menggemas barang-barangnya Jesica mencuci semua pakaian kotor di rumah ini, membersihkan setiap sudut ruangan dan membuat frozen food, Jesica takut kalau keluarganya kelaparan tapi tidak ada makanan sedikit pun.
Tanpa terasa hari sudah petang, Jesica memasak untuk makan malam setidaknya ini adalah hidangan terakhir yang dia akan sajikan untuk keluarganya.
“Apa benar kak Aiden akan datang? Kalau Kak Aiden tidak datang bagaimana ya? Mana sudah terlanjur bicara lagi.” Keluh Jesica dalam hati.
Makan malam sudah selesai tak disangka-sangka Kendrik sudah pulang ke rumah bahkan dia sedikit lebih rapi dari sebelumnya, Kendrik memakai baju berkerah dan celana panjang padahal biasanya dia memakani tshirt polos dan celana pendek ketika pulang kerja.
Tepat seperti janji Aiden kepada Jesica bahwa jam 7 malam dia akan mengunjungi rumah Jesica, terdengar suara bell dari dalam rumah menandakan ada orang di luar.
Jesica hanya memakai dress simpel di atas lutut sedikit karena memang hanya itu pakaian bagus yang dia punya membukakan pintunya untuk Aiden.
“Selamat malam Tuan Aiden.” Sapa Jesica dengan manis.
“Malam, apa papamu ada?” tanya Aiden.
“Ada Tuan Aiden.” Sahut Jesica.
“Kenalkan ini Uncle yang menjadi waliku.”
Aiden memperkenalkan Nolan pada Jesica, dan ini semakin membuat Jesica tidak hati. Tadinya dia hanya mencemaskan Aiden tapi sekarang dia juga mencemaskan Uncle Nolan.
“Selamat malam Tuan.” Sapa Jesica dengan sopan.
“Selamat malam, aku Nolan.” Balas Nolan mengukurkan tangannya.
“Saya Jesica Tuan.” Jesica menyambut tangan Nolan sambil membungkukkan badannya sekilas tanda hormat.
“Tuan Aiden, bolehkah aku bicara sebentar sebelum Tuan masuk ke rumah?” tanya Jesica.
“Hmm.” Aiden agak menunduk karena tinggi Jesica hanya sedada Aiden.
“Tuan Aiden aku mohon maaf sebelumnya, jika nanti papaku tidak ramah atau malah tidak mau bertemu dengan Tuan. Dan aku juga mohon maaf sebelumnya kalau ada kata-kata yang keluar dari Ibu tiri dan kakak tiriku yang akan menyinggung Tuan. Aku harap Tuan bisa menerimanya, kalaupun Tuan tidak bisa menerimanya tidak masalah jika mau membatalkan pernikahan ini.” Ungkap Jesica jujur, mau tidak mau dia harus menjelaskan tentang keadaannya rumahnya yang sebenarnya.
“Aku akan tetap masuk, tapi kamu punya hutang penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi, Jesi.” Balas Aiden.
“Baik Tuan Aiden, silakan masuk Tuan Aiden dan Tuan Nolan.” Jesica mempersilahkan Aiden dan Nolan untuk duduk di ruang tamu sebelum dia memanggil Kendrik yang berada di ruang makan.
Ketika Aiden dan Nolan sudah duduk, Jesica meminta izin untuk memanggil papanya yang sedang ada di meja makan bersama ibu dan kakak tirinya.
“Papa, bisakah kerung tamu sebentar, calon suamiku sudah datang bersama pamannya di ruang tamu.” Kata Jesica.
PRANGG!
***