“Perempuan b*****t! Berapa kali harus saya bilang, jangan menunjukkan mukamu saat saya sedang makan!” bentak Kendrik dengan nada tinggi.
“Aku hanya ingin Papa menyapa mereka!” cicit Jesica.
“Sampai mati aku tidak sudi menyapa laki-laki itu!” kata Kendrik dengan nada yang naik satu oktaf.
“Dia calon suamiku Pa, aku hanya ingin Papa mengenalnya dan memberikan restu kepada kami!” kata Jesica yang terus membujuk Kendrik agar mau bertemu Aiden dan Nolan.
“Restu kau bilang? Siapa kau? Kau hanya anak pembawa sial yang membuat ibumu sendiri meninggal, sialan!” sergah Kendrik.
“Tapi aku juga anak Papa!” kata Jesica lirih.
Kendrik yang sudah naik pitam mendekat ke arah Jesica kemudian menampar Jesica dengan keras.
PLAAKKK!
“Kau bukan anakku! Kau hanya orang yang membawa malapetaka di hidupku!” teriak Kendrik.
“Pa, sudah ya jangan marah-marah lagi. Ayo makan, biar mama yang suapi dari pada buang-buang waktu buat marah sama anak gak tahu diri ini!” sahut Sintya membawa suaminya kembali ke meja makan.
“Lebih baik kau pergi aja deh, kasihan Papa sudah lelah seharian kerja malah kau buat Papa marah-marah begini!” cibir Agnes.
Diruang tamu Aiden dan Nolan mendengar dengan jelas pertengkaran yang terjadi antara Jesica dan Kendrik.
“Aiden, apa kita hanya diam saja?”
Nolan sudah terlalu kesal mendengar setiap kata yang keluar dari mulut jahat Kendrik.
“Biarkan Uncle. Aku pastikan dia akan mendapat balasan yang jauh lebih menyakitkan dari ini.” Aiden mengatakan hal itu dengan nada dinginnya dan penuh akan penekanan di setiap katanya.
“Tapi kalau sudah keterlaluan Uncle tidak akan tinggal diam lagi Aiden!” tegas Nolan.
“Iya Uncle.” Kata Aiden penuh makna.
Jesica yang mendapat cibiran dari Agnes sebenarnya ingin membalas, tapi dia tahu kondisi Kendrik yang sedang emosional saat ini. Di tambah ada Aiden dan Nolan di ruang tamu, Jesica yakin pertengkaran ini pasti di dengar dengan jelas oleh Aiden dan Nolan.
Jesica kembali ke ruang tamu untuk menjelaskan kepada Aiden dan Nolan mengenai hal yang baru saja terjadi.
“Tuan Aideen dan Tuan Nolan maaf kalau mendengar hal yang tidak sepantasnya kami lakukan.” Kata Jesica dengan masih berdiri dan kepala tertunduk dalam.
“Kemarilah!” pinta Aiden dengan tenang, lalu dia berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
“Sekarang kamu ambil semua barang yang sudah kamu kemas, kita keluar dari sini.” Kata Aiden memeluk Jesica.
“Baik Tuan Muda.”
Jesica melepaskan pelukannya dan mengambil barang yang sudah dia kemas untuk dibawa, kemudian dia kembali kepada Aiden.
“Hanya ini?” tanya Aiden memastikan tidak ada yang tertinggal dan Jesica mengangguk.
“Lix, bawa ini semua ke mobil.” Sambungnya.
“Baik Tuan Muda.” Sahut Felix mengambil barang Jesica.
“Di mana sekarang papamu?” tanya Nolan yang sudah berdiri bersiap untuk keluar dari rumah.
“Ada di ruang makan Tuan.” Jawab Jesica.
“Berhenti memanggilku Tuan, biasakan manggil aku dengan sebutan Uncle.” Kata Nolan dengan lembut.
“Baik Uncle.” Jesica mengikuti kemauan Nolan walaupun lidahnya agak kaku mengucapkan itu.
“Good girl, sekarang tunjukan di mana ruang makannya.” Titah Nolan.
“Di sana Tu- eh Uncle.” Jesica menunjukkan arah menuju ruang makan.
“Ayo kita pamit dengan papamu.” Aiden merangkul pinggang Jesica dengan posesifnya.
“Uncle, Tuan Aiden sebaiknya tidak usah. Lebih baik langsung keluar saja.” Cegah Jesica karena takut Kendrik akan memaki Nolan dan Aiden.
Aiden yang paham kenapa Jesica mencegahnya ini hanya tersenyum kecil.
“Baiklah kita langsung pergi dari sini kalau begitu.” Kata Aiden.
“Iya Tuan Aiden terima kasih untuk pengertiannya.” Kata Jesica.
Aiden, Nolan dan Jesica sudah mau keluar dari pintu seketika langkah kakinya terhenti saat suara Kendrik terdengar.
“Kau sudah bukan tanggung jawab saya lagi anak pembawa sial. Jangan berani menginjakkan kakimu di rumah-“
Kendrik berhenti berbicara saat melihat Aiden dan Nolan bersama Jesica diujung pintu.
“Tu-Tuan Aiden, Tu-Tuan Nolan.” Kata Kendrik terbata-bata.
“Mulai detik ini Jesica bukan lagi menjadi tanggunganmu dalam segala hal, jadi jangan beraninya kau menunjukkan batang hidungmu di depan calon istriku apalagi mengganggunya!” tegas Aiden dengan nada dinginnya yang membuat semua orang mengangguk tanpa bantahan.
“Apa? Anak sialan ini calon istri Tuan Aiden?” kata Kendrik dalam hati sambil melotot matanya mendengar ucapan Aiden.
“Ayo Jes.” Ajak Nolan lembut ke calon istri keponakannya itu.
“Tuan Aiden, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud-“
Aiden melihat Jesica yang sudah masuk mobil langsung mencengkeram kuat pipi Kendrik.
“Kuperingatkan sekali lagi! Jangan berani menyentuh apalagi mengganggu milikku Kendrik! Ini untuk penghinaanmu terhadap calon istriku dan Uncle-ku.” Aiden mengambil pisau kecil dari dalam kantong dalam jasnya.
JLEEBB!
Aiden menusuk perut Kendrik sambil melihat kedua matanya.
“Auw!” ringis Kendrik ketika pisau itu menancap kuat di perutnya.
Sintya dan Agnes yang mendengar ringisan Kendrik ingin keluar tapi pintu sudah di tahan oleh Felix.
“Tuan Muda, Nona Jesica sedang berjalan kesini.” Kata Felix.
Aiden langsung menghempaskan tubuh Kendrik dengan kasar hingga terjatuh di lantai. Untungnya penerangan di depan rumah Kendrik hanya seadanya jadi Jesica tidak bisa melihat keadaan Kendrik saat ini yang berlumuran darah di perutnya.
“Tuan Aiden.” Kata Jesica lembut.
“Ayo Jesi, jangan kesini!” Perintah Aiden membalikkan tubuh Jesica supaya tidak melihat kondisi Kendrik.
Aiden dan Jesica sudah masuk ke dalam mobil, sementara Felix segera menyusulnya masuk. Sedangkan Uncle Nolan sudah lebih dulu pergi.
“Jesica!” Panggil Aiden.
“Iya Tuan Muda.” Sahut Jesica menoleh ke Aiden.
“Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.” Kata Aiden.
“Silakan Tuan Muda.” Kata Jesica ramah.
“Bukan di sini, tapi nanti setelah kita sampai.”
“Baik Tuan Muda.” Kata Jesica.
Aiden membawa Jesica ke markas Shadow Eagle. Di sepanjang jalanan Jesica hanya melihat jalan saja. Ketika sudah masuk kawasan hutan nyali Jesica mendadak menciut.
“Serem banget di sini ya ampun.” Batin Jesica.
“Ayo kita turun.” Kata Aiden yang membuka pintu mobil untuk Jesica dan memecah lamunannya.
“Baik Tuan Aiden.”
Walaupun Jesica saat ini terkesan kebingungan, tapi dia tetap menuruti apa yang Aiden katakan.
“Selamat malam Tuan Aiden.” Sapa laki-laki bermasker dengan badan tegap dan berisi itu tertunduk di depan Aiden.
Jesica yang terkejut dengan sapaan dan melihat ada banyak sekali orang yang memakai masker dengan baju serba hitam ini langsung mundur ke belakang tubuh Aiden dan menarik pelan ujung baju dari Aiden.
“Tidak usah takut, ada aku di sini.”
Aiden menarik lembut pinggang Jesica ke dalam dekapannya. Jesica mengangguk mendengar ucapan Aiden ini.
“Andrew kau ikut aku.” Titah Aiden kepada pria bermasker yang baru saja menyapanya.
Aiden masuk dengan aura yang menghitam dan mendadak suasana menjadi dingin pekat seperti Aiden yang biasanya.
Sementara anak buah yang lain mereka semua tertunduk melihat kedatangan Aiden dan Jesica.
Sesampainya di dalam ruangan khusus itu Aiden menarik Jesica untuk duduk di bangku kebesarannya sementara dia berdiri berhadapan dengan Andrew.
“Duduk dengan tenang di sana.” Kata Aiden.
“Baik Tuan Muda.” Sahut Jesica dengan patuh.
“Drew, besok adalah hari pernikahanku. Aku minta semua bersiap tanpa ada kesalahan sedikitpun. Aku minta untuk menurunkan seluruh pasukan inti di dalam gedung. Sementara di luar gedung sniper dengan radius 5 km. Semua harus aman dari gangguan apapun kecuali tamu undangan. Kalau ada kesalahan sekecil apapun kau yang menjadi taruhannya.” Perintah Aiden dengan nada datarnya.
“Hah?”
***