Bab 5.

1083 Words
“Menikah? Mendadak sekali.” Batin Andrew yang terkejut dengan kabar pernikahan tuannya. “Baik, sesuai perintah Tuan.” Kata Andrew tertunduk dan Aiden mengangkat tangan tanda Andrew untuk keluar. Aiden mendekat ke Jesica menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya. “Jesi ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu.” Kata Aiden menatap intens mata Jesica. “Iya Tuan.” Kata Jesica dengan sikap yang seriusnya. “Jesi, besok kita akan menikah dan aku ingin tahu apa alasanmu menerima ajakanku untuk menikah?” tanya Aiden dengan serius. “Bolehkah aku jujur Tuan?” Tanya Jesica memastikan. “Tentu saja kalau kamu berbohong maka tanggung sendiri akibatnya.” Kata Aiden dengan tatapan mata yang tajam. “Tuan sebenarnya—“ Jesica mengambil nafas untuk menetralkan jantungnya yang berpacu tidak karuan antara takut dan salah tingkah karena bertatapan langsung dengan Aiden. “Sebenarnya aku menerima ajakan Tuan karena aku pikir ini adalah satu-satunya jalan agar aku bisa keluar dari rumah itu.” Kata Jesica dengan pelan. “Aku tidak tahu apa keputusanku ini tepat atau salah, tapi aku hanya ingin keluar dari rumah yang tidak ada seorang pun menganggap aku ada.” Kata Jesica dengan nada yang gementar mengungkapkan perasaannya. Aiden melihat jelas bahwa di mata Jesica tidak ada kebohongan apapun yang dia sembunyikan. “Kehidupan pernikahan kita tidak akan seindah yang kamu bayangkan, Jesi.” Kata Aiden. “Aku tahu Taun Muda, aku sudah terbiasa dengan takdir yang selalu tidak berpihak padaku sedari aku lahir. Aku butuh 22 tahun agar bisa keluar dari tempat yang aku yang seharusnya buat aku nyaman. Aku tidak akan menuntut apapun dari Tuan Muda, aku masih bisa hidup dan bertahan sampai detik ini saja bisa di katakan itu sebuah keberuntungan. Setidaknya takdir masih memihak kepadaku untuk hal itu.” Air mata Jesica jatuh saat mengucapkan perasaannya, dia membuang muka dan buru-buru mengusapnya dan kembali menatap Aiden. Entah kenapa air mata Jesica yang jatuh itu sedikit banyak mengusik hati kecil Aiden. Aiden yang terkenal dengan kebengisannya dan tidak peduli dengan tangisan, tiba-tiba hatinya mendadak sedikit tersentuh. “Apa kamu tahu pekerjaanku?” tanya Aiden lagi masih dengan nada seriusnya. “Tidak Tuan.” Kata Jesica dengan menggelengkan kepalanya. “Aku seorang pembunuh berdarah dingin, aku akan menghabisi musuhku dengan tanganku sendiri apabila ada yang berani menyakiti atau mengusik milikku. Aku seorang mafia, Jesi dan ini adalah markas utamaku.” Kali ini Aiden memunculkan aura hitam dan dinginnya kepada Jesica. Jujur saja pengakuan Aiden membuat Jesica terkejut bahkan untuk menelan salivanya saja susah. Dia kira tempat ini adalah tempat pelatihan pengawal untuk petinggi negara bukan markas mafia. “Berarti aku memilih orang yang tepat untuk aku nikahi.” Kata Jesica belaga yakin padahal sebenarnya nyalinya sekarang menciut. Aiden yang mendengar ucapan Jesica tersenyum tipis, tapi buru-buru dia memasang muka tegas dan seriusnya supaya tidak terbaca oleh Jesica. “Kenapa kau terdengar seperti ketakutan?” pancing Aiden, Aiden bisa membaca gestur tubuh Jesica yang sedang menutupi ketakutannya itu. “Sedikit Tuan, mau bagaimanapun ini kali pertamanya aku kenal seorang mafia.” Kata Jesica sedikit berbohong. “Yakin hanya sedikit?” Tanya Aiden dengan nada mengejek serta mengeluarkan aura hitam dan dingin juga. “Yakin Tuan.” Dengan nada yang bergetar. Sreekkk! Aiden mengambil pistol dari bawah kursi Jesica kemudian dia berdiri dan menodongkannya ke kepala Jesica. “Ya Tuhan!” teriak batin Jesica. Jesica yang di todong pistol itu memberanikan diri untuk tetap menatap mata Aiden. Kali ini tatapan matanya pasrah dan berani. Aiden yang melihat sorot mata Jesica itu terus memunculkan aura kejam seorang mafia melihat keberanian Jesica yang terus menatapnya. Jesica yang mendengar suara kokangan pistol itu semakin menatap Aiden tanpa melakukan perlawanan apapun terhadap Aiden. “Walaupun hanya sebentar merasakan udara bebas, aku hanya ingin bilang terima kasih Tuan Muda sudah mewujudkan impian terbesar dalam hidupku.” Kata Jesica, Jesica seketika menutup matanya tanda siap untuk diakhiri hidupnya oleh Aiden. “Kau milikku Jesica!” tegas Aiden dalam hati. Begitu melihat Jesica menutup mata Aiden langsung menaruh pistolnya di atas meja kerjanya dan menarik Jesica ke dalam pelukannya kemudian mengusap lembut kepala Jesica dan memberikan kecupan di kepalanya. “Itu tanda perkenalan dariku Sayang.” Kata Aiden dengan suara lembutnya. Jesica yang mendengar itu langsung membuka matanya dan mendongak ke atas melihat Aiden yang sudah menunduk melihat kearahnya. “Aku terima salam perkenalannya Tuan Mafia.” Kata Jesica dengan tulus dan tersenyum. Aiden pun tersenyum tipis pada Jesica dan dia kembali duduk setelah melihat senyum terbit di wajah Jesica itu. “Lapar?” tanya Aiden. Jesica mengangguk dengan cepat, dia memang dia lapar dan belum sempat sama sekali untuk makan malam saat di rumahnya karena terlalu tegang menunggu kedatangan Aiden. Belum lagi drama perkenalan barusan benar-benar menguras tenaga, hati dan pikirannya. “Sebentar biar aku suruh Andrew untuk pesankan makan malam untuk kita.” Kata Aiden. Aiden menekan telepon yang ada di ruangannya yang terhubung dengan ponsel Andrew. Tok! Tok! Tok! “Masuk!” “Permisi Tuan.” Andrew menunduk memberi salam. “Pesankan makan malam untukku dan Jesica, sekarang!” titah Aiden. “Baik Tuan.” Andrew berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dan keheningan kembali pada ruangan itu. Aiden menaruh kembali pistol di bawa tempat duduk Jesica. “Kok bisa gerakannya begitu cepat dan tidak terbaca sama sekali kalau dia mengambul pistol itu tepat di bawah kursiku?” batin Jesica saat melihat Aiden menaruh kembali pistol di bawah tempat duduknya. “Tuan, bolehkah aku bertanya.” Kata Jesica memulai pembicaraan. “Hmm.” Dehem Aiden menoleh kearahnya. “Tuan, apa yang aku perlu persiapkan untuk pernikahan kita besok?” Tanya Jesica. “Tidak ada, kamu hanya perlu mempersiapkan diri untuk menjadi istriku!” Jawab Aiden. Jesica hanya membentuk bulatan di mulutnya sambil mengangguk mengerti akan jawaban dari Aiden. “Apa Tuan mau duduk di sini? Sepertinya Tuan agak terganggu pergerakannya duduk disitu?” Aiden memang bukan duduk di bangku kebesarannya melainkan Jesica. Aiden yang sedang memeriksa berkas yang entah isinya apa memang agak sedikit kurang leluasa karena berkas lainnya ada di sebelah Jesica. Aiden mengangguk setuju dengan ucapan Jesica itu berdiri dan pindah ke kursi kebesarannya seketika menarik pergelangan tangan Jesica. Jesica yang tidak siap itu tiba-tiba terjatuh di atas pangkuan Aiden. “Tuan Muda maaf.” Kata Jesica terbata-bata sambil mau berdiri. Rasanya salah tingkah dan takut Aiden risi yang mendominasi hatinya. Aiden bukan membiarkan Jesica berdiri malah menaruh satu tangannya pinggang Jesica untuk mencegahnya berdiri. “Tuan.” Panggil Jesica. “Temani aku kerja sebentar.” Kata Aiden yang mengerti maksud dari Jesica memanggilnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD