Bab 6.

1074 Words
Jesica mengangguk saambil memperhatikan layar yang ada di depannya tanpa mengerti apa isinya karena hanya ada grafik, dan catatan yang tidak tahu maksudnya apa. Apalagi dokumen dengan memakai bahasa asing yang jelas bukan bahasa inggris. Aiden yang melihat Jesica yang mangut-mangut seakan mengerti melihat layar laptopnya ini, tiba-tiba dengan isengnya Aiden menanyakan, “Kamu mengerti?” “Tidak.” Jawab polos terus memperhatikan layar itu. “Terus ngapain kamu ngangguk seperti orang yang mengerti saja?” tanya Aiden dengan terkekeh kecil. “Ih, namanya juga belajar.” Mendengar nada bicara yang manja itu Aiden kembali tersenyum. “Apa yang kamu pelajari?” tanya Aiden lagi. “Itu grafik-grafik gak jelas. Aku lagi cari tahu apa maksudnya itu?” jawab Jesica sambil menunjuk kearah layar. Mendengar jawaban yang menggelikan dari Jesica itu Aiden kembali terkekeh kecil dan memberikan gigitan pelan di bahu Jesica. “Aww, sakit Tuan Muda.” Gerutu Jesica sedikit kesal. Semenjak Aiden dan Jesica duduk dengan intim itu seakan-akan jarak di mana seorang yang baru kenal itu sirna. Mereka seakan menjadi sepasang insan yang sudah memadu kasih sejak lama. “Makanya kalau tidak mengerti jangan sok mengerti.” Jawab Aiden meledek. “Nama juga usaha, ngangguk-ngangguk aja dulu yang lain belakangan.” Sewot Jesica di ledek oleh Aiden. Aiden menanggapinya dengan kekahan kecil saja tanpa menyahuti omongan Jesica. Tok! Tok! Tok! Mendengar suara ketukan pintu Jesica langsung cepat mau berdiri dari atas pangkuan Aiden. Namun, lagi-lagi Aiden tidak membiarkan Jesica untuk beranjak sedikitpun dari pangkuannya. “Tuan Muda aku malu.” Cicit Jesica pelan. Aiden yang seakan tuli dengan cicitan dari Jesica ini membiarkan Andrew untuk masuk dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua di atas meja. Setelahnya Aiden mengode Andrew untuk segera keluar dari ruangannya. Jesica yang melihat Andrew sudah masuk langsung menyembunyikan wajahnya di bidang d**a Aiden. Mukanya sudah merah karena menahan malu untuk pertama kalinya Jesica melakukan hal seperti ini. “Mau makan sekarang?” tanya Aiden setelah Andrew pergi dari ruangan. “Iya Tuan.” Jawab Jesica yang masih menyembunyikan wajahnya itu. “Ayo!” Aiden bangkit sambil menggendong Jesica untuk duduk di sofa. Mata Jesica kembali membulat lebar-lebar dengan perlakuan Aiden. “Tuan aku bisa berjalan sendiri.” Seru Jesica. “Sudah sampai.” Jawab Aiden dengan entengnya. Jesica hanya membuang nafas sebalnya karena perlakuan Aiden yang mendadak membuat detak jantungnya jadi tidak aman. Aiden memotong daging menjadi kecil-kecil agar gampang di makan dan memberikannya kepada Jesica terlebih dahulu. “Makanlah.” Kata Aiden yang menukar piringnya dan Jesica. “Terima kasih Tuan.” Jawab Jesica yqng langsung memakan makanannya dengan tenang. Aiden yang mempunyai kebiasaan ketika makan tidak banyak bicara ini menyukai cara Jesica yang sama dengan kebiasaannya. Mereka pun makan dengan tenangnya. Setelah selesai makan, Jesica langsung membereskan piring di atas meja makan. “Taruh di situ biar pelayan nanti yang akan membersihkannya.” Titah Aiden. Jesica yang mendengar itu langsung menaruh piringnya di atas meja kembali. “Ayo kita pulang sekarang.” Kata Aiden yang mengulurkan tangannya dan membuka telapak tangan ke arah Jesica. Jesica mengangguk dan menyambut baik telapak tangan yang terbuka itu. Mereka mengisi jari jemarinya satu sama lain dan berjalan beriringan keluar dari ruangan. Keluar dari ruangan Aiden kembali memunculkan aura hitam dan dinginnya dan serempak para anggotanya menunduk melihat Aiden bahkan Jesica pun ikut menundukkan kepalanya karena merasa aura itu terlalu menakutkan untuknya. Sesampainya dia di mobil Aiden membukakan pintu mobil untuk Jesica. “Terima kasih.” Kata Jesica lembut tanpa melepaskan genggamannya diikuti Aiden setelahnya yang masuk. “Mansion Lix.” Kata Aiden. Markas Shadow Eagle dan tempat tinggalnya cukup dekat hanya 15 menit sudah sampai. Di dalam perjalanan pun Jesica yang sudah sangat lelah ini menahan dirinya untuk tidur. Bukannya apa-apa hanya saja dia tidak mau nanti Aiden akan berpikir yang bukan-bukan tentang dia lagian Aiden juga mengatakan cukup dekat markasnya dan mansion jadi Jesica hanya cukup menahan kantuknya sebentar. Sampai sudah mereka di mansion milik Aiden bukan milik Halminton. Aiden memang memiliki mansion sendiri karena menurutnya kalau tinggal di mansion Halminton hanya akan membangkitkan kenangan tentang kedua orang tuanya. Bukan mau melupakan kenangan itu hanya saja Aiden tidak mau larut dalam kesedihan dan kesendiriannya mengingat dirinya memang benar-benar sebatang kara saat ini. Beruntung kakeknya mengangkat Nolan sebagai anak angkatnya setidaknya masih ada orang yang tahu kalau keluarga Halminton memang masih ada dan masih bertahan sampai detik ini. “Sudah sampai Tuan.” Kata Felix yang memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk mansion. Jesica yang lelah itu mendadak senang karena akhirnya dia bisa merebahkan badannya ke kasur. “Antar koper itu ke depan kamarku!” Perintah Aiden. “Baik Tuan.” Kata Felix. Aiden dan Jesica masuk ke dalam mansion itu. Decak kagum melihat mansion bergaya Eropa klasik itu membuat Jesica tidak henti-hentinya memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada. “Wah, bagus sekali mansion ini. Bahkan rumah itu tidak ada apa-apanya dengan mansion ini.” Kagum Jesica dalam hati. Aiden mengajak Jesica untuk masuk ke kamar. Aroma maskulin yang pertama Jesica cium ketika masuk ke dalam kamar tersebut yang menandakan bahwa kamar ini empunya adalah Aiden. “Mandilah lalu langsung istirahat. Persiapkan dirimu untuk besok.” Kata Aiden sambil mengusap rambut Jesica. “Hah? Aku dan dia satu kamar?” tanya Jesica dalam hati. “Mmm Tuan.” Panggil Jesica dengan ragu. “Iya kita satu kamar. Tenanglah aku tidak akan melakukan apapun karena besok pernikahan kita jadi aku masih bisa menahannya.” Bisik Aiden yang tahu isi pikiran Jesica. Jesica yang mendengar bisikkan Aiden yang lembut di telinganya itu serasa seperti tersengat listrik yang membuat seluruh bulu kudu berdiri. “Kamar mandinya di mana Tuan Muda?” tanya Jesica untuk menghalau pikiran yang sudah berkeliaran kemana-mana. Aiden hanya tersenyum melihat wajah Jesica yang sukses merona itu dan mengantarkannya ke depan kamar mandi. “Ini.” Tunjuk Aiden ke depan pintu kamar mandi, “di sebelah sana walk in closet, pakaianmu di sebelah kiri sementara punyaku sebelah kanan.” Lanjutnya dan di balas anggukan oleh Jesica. Setelah mandi Jesica merebahkan dirinya di sofa yang empuk bahkan tempat tidur Jesica saja kalah dengan empuknya sofa itu. Sementara Aiden, dia keluar untuk mengurus pekerjaan bersama Felix dan Andrew. “Akhirnya bisa rebahan juga. Aku tunggu Tuan atau boleh langsung tidur ya?” gumam Jesica sembari berpikir kemungkinan yang terjadi kalau dia tidur duluan atau dia menunggu Aiden. Dari segala kemungkinan akhirnya dia memutuskan untuk tetap menunggu Aiden sembari memainkan game yang ada di ponselnya atau sesekali mengecek sosial media. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD