Rahasia Hati
Ia menemukan dokumen itu saat memilah milah barang tuanya, Michelle membuka lipatan kertas itu dengan keingintahuan yang biasa saja seperti saat membuka dokumen dokumen lainnya, tapi baru membaca paragrap pertama saja sudah membuat punggungnya menegang serta jemarinya gemetar hebat. Tercengang Michelle membacanya sekali lagi, matanya terbelalak semakin lebar karena ngeri.
Siapapun asal jangan dia. Ya tuhan siapapun asal jangan laki laki itu!
Michelle berhutang seratus ribu dollar kepada John Rafferty. Ditambah bunga tentu saja, bunganya berapa persen? Michelle tak mampu membaca surat itu lebih jauh untuk mengetahuinya, Ia malah menjatuhkan kertas itu ke meja kerja ayahnya yang berantakan dan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang sudah usang. Matanya terpejam menahan rasa mual karena terlalu kaget, takut, dan terutama karena kehilangan harapan yang membuatnya putus asa, ibaratnya Michelle sudah nyaris tak berdaya, tapi hutang tak terduga ini menghantamnya dengan telak.
Kenapa harus John Rafferty?
Kenapa bukan bank umum saja?
Hasil akhirnya akan sama saja minus rasa terhina itu, memikirkan harus berhadapan muka dengan lelaki itu membuat hati Michelle; sisi paling lembut dan rapuh dirinya bergolak.
Seandainya John sampai mengendus kerapuhannya, Michelle tak tahu lagi apa yang harus di lakukannya, Ia betul betul sasaran empuk, orang yang ditakdirkan untuk mati, orang yang tidak punya harapan lagi, istilah apapun yang dipakai Michelle sepertinya cocok.
Tangannya masih gemetar ketika memungut surat tadi dan kembali membacanya untuk mempelajari rincian perjanjian financial itu. John Rafferty memberikan pinjaman pribadi sebesar seratus ribu dollar kepada ayah Michelle, Langley Cabot dengan bunga dua persen lebih rendah dari pada standar bunga pinjaman di pasaran, dan tenggat pengembalian pinjaman itu empat bulan lalu.
Michelle makin merasa mual, ia tahu persis utang itu belum dilunasi karena ia sudah memeriksa pembukuan ayahnya secara terperinci sebagai upaya menyelamatkan sesuatu yang masih mungkin diselamatkan dari bencana financial yang terjadi ketika ayahnya meninggal dunia. Michelle telah menjual hampir seluruh harta mereka, kecuali peternakan ini untuk membayar semua hutang. Peternakan yang merupakan impian ayahnya ini telah menjadi satu satunya tempat Michelle berlindung sekarang.
Sepuluh tahun lalu Michelle tidak menyukai Florida ketika ayahnya menjual rumah mereka dan meninggalkan kehidupan mereka yang mewah dan teratur di Connecticut, dan menggantinya dengan panas dan lembabnya udara Florida tengah, tapi itu 10 tahun lalu, dan segalanya sudah berubah sekarang. Orang bisa berubah, waktu berubah dan waktu bisa merubah kita. Peternakan itu bukanlah perwujudan cinta ataupun impian Michelle tapi hanya itulah yang ia miliki saat ini, dulu hidup terasa begitu rumit baginya, tapi sungguh mengherankan melihat semuanya menjadi begitu sederhana ketika menyangkut menjaga kelangsungan hidup.
Bahkan sekarang sangat berat rasanya bagi Michelle untuk menyerah dan bersikap pasrah tanpa berusaha. sejak awal ia sudah tahu ia tidak mungkin mempertahankan peternakan dan mengembalikannya ke kondisi semula sendirian tapi Michelle terdorong untuk paling tidak mencoba. Ia akan dihantui rasa bersalah seandainya memilih cara mudah dan menjual peternakan ini.
Sekarang Michelle tetap harus menjual peternakan atau paling tidak semua ternaknya karena tidak ada cara lain untuk membayar utang itu, ajaibnya John belum menagih pembayaran utang ini tapi kalau Michelle menjual semua ternaknya apa gunanya memiliki peternakan?
Selama ini ia mengandalkan penjualan ternak untuk membiayai hidupnya sehari hari, dan tanpa pemasukan itu Michelle terpaksa menjual peternakan ayahnya ini.
Sangat berat rasanya bagi Michelle membayangkan harus menjual peternakan ini, ia sudah mulai berharap bisa mempertahankannya. Semula ia takut untuk berharap, mencoba untuk tidak berharap, tetapi tetap saja rasa optimisme itu mulai berkobar, sekarang ia gagal, sebagaimana Ia sudah gagal dalam semua hal lain dalam hidupnya, sebagai anak, istri, dan sekarang sebagai pemilik peternakan. Bahkan seandainya John bersedia memberikan perpanjangan tenggat pembayaran utang, sesuatu yang tidak pernah diharapkan Michelle bakal terjadi, tetap saja tidak ada harapan baginya untuk bisa membayar pada tenggat waktu selanjutnya.
Sejujurnya Michelle sudah tidak punya harapan lagi, ia hanya bisa bertahan.
Yah ia tidak akan mendapatkan apa-apa dengan menunda nunda, Ia harus berbicara dengan John, lebih cepat lebih baik. Jam dinding menunjukkan hampir pukul 09.30 malam John pasti belum tidur. Michelle mencari momor telpon pria itu dan memutarnya, dan reaksi yang sudah sangat dikenalnya muncul lagi bahkan sebelum dering pertama terdengar, Michelle mencengkeram gagang telpon itu dengan erat hingga buku buku jarinya memutih dan jantungnya melonjak, berdetak berat dan cepat seakan ia habis berlari, perutnya melilit tegang.
Oh sial! Ia takkan bisa berbicara dengan jelas kalau tidak segera menenangkan diri!
Telpon diangkat pada sering ke enam dan saat itu Michelle sudah siap berbicara dengan John ketika pengurus rumah tangga lelaki itu menjawab "kediaman keluarga Rafferty" suara Michele sudah tenang dan mantap saat minta disambungkan dengan John "Maaf dia sedang keluar, anda mau meninggalkan pesan?"
Rasanya seperti mendapat penangguhan hukuman mati berarti Michelle harus mengulangi proses menegangkan itu dari awal lagi "Tolong sampaikan supaya ia menelfon Michelle Cabot" katanya lalu memberikan nomor telponnya kepada wanita itu, kemudian ia bertanya "apakah Mr.Rafferty akan kembali dalam waktu dekat?"
Setelah diam sejenak pengurus rumah tangga itu berkata "tidak, saya rasa ia akan kembali sangat larut malam ini, tapi saya akan menyampaikan pesan anda pagi-pagi sekali besok".
"Terima kasih" gumam Michelle, lalu ia meletakkan gagang telpon.
Seharusnya ia bisa menduga lelaki itu keluar malam ini, John Rafferty pria terkenal atau lebih tepatnya terkenal gara gara hasrat s****l atau petualangan cintanya yg gila-gilaan, semua itu terjadi saat lelaki itu masih liar tapi belakangan ini ia sudah relatif tenang. Menurut gossip yg didengar Michelle dari waktu ke waktu libido John masih sehat dan aktif, satu tatapan dari matanya yg hitam kelam dan tajam itu sudah cukup membuat jantung seorang wanita berdenyut liar. John menatap begitu banyak wanita tetapi Michelle tidak termasuk didalamnya.
Permusuhan meledak diantara mereka sejak pertemuan pertama 10 tahun yang lalu dan mereka tidak pernah berhubungan baik selain perang dingin, ayah Michelle selalu menjadi penghalang diantara mereka berdua tapi sekarang ia sudah meninggal dan Michelle harus bersiap siap menghadapi yang terburuk. John Rafferty tidak pernah melakukan sesuatu setengah setengah.
Tak ada yang bisa dilakukan Michelle malam ini tentang utang itu dan ia sudah tidak berminat melanjutkan memilah berkas berkas ayahnya jadi ia memutuskan untuk berhenti beres beres, ia mandi dengan cepat. Otot otot tubuhnya yang pegal menuntut mandi shower sedikit lebih lama tetapi ia sedang berusaha menekan tagihan listrik dan karena air dari sumur harus dialirkan lewat pompa bertenaga listrik, kemewahan kecil seperti itu harus dilupakan demi kebutuhan yang lebih penting, seperti makan misalnya.
Tapi meskipun sangat lelah ketika berbaring di ranjangnya Michelle tak bisa tidur membayangkan akan berbicara dengan John lagi membuatnya gelisah, dan sekali lagi denyut jantungnya menjadi cepat. Michelle mencoba menarik nafas panjang dan perlahan lahan. Tetapi hal ini selalu terjadi dan bakal menjadi lebih parah apabila Michelle berhadapan langsung dengan laki laki itu. Seandainya saja laki laki itu tidak begitu besar! Tapi dengan tinggi 190 cm, tubuh berotot yang sangat maskulin dan bobot sekitar 100 kg John Rafferty dengan mudah membuat semua orang merasa kerdil di hadapannya. Setiap kali berada didekat lelaki itu Michelle selalu merasa terancam bahkan baru memikirkan lelaki itu saja sudah membuatnya sesak napas. Tidak ada lelaki lain didunia ini yang bisa membuat Michelle bereaksi seperti itu, tidak ada lelaki lain yang membuatnya begitu marah, Waspada, ataupun penuh semangat dengan cara yang begitu aneh dan primitif.
Hal itu sudah terjadi sejak pertama kali bertemu John sepuluh tahun lalu, saat itu Michelle masih berusia 18 tahun, sangat manja seperti yang dituduhkan John kepadanya, dan angkuh layaknya remaja yang berusaha mempertahankan harga dirinya. Reputasi John sudah diketahui Michelle lama sebelum bertemu langsung dengan lelaki itu dan Michelle sudah bertekad untuk menunjukkan kepada lelaki itu bahwa ia tidak bisa disamakan dengan semua wanita yang sibuk mengejar John. Seolah lelaki itu tertarik saja pada remaja! Pikir Michelle kecut terus membolak balik tubuhnya diranjang mencari posisi yang nyaman. Betapa kekanak kanakan dirinya waktu itu! Benar benar anak manja yg bodoh dan ketakutan.
Tapi John rafferty memang membuatnya takut, walaupun lelaki itu tidak pernah memperdulikannya.
Tepatnya, reaksinya sendirilah yang membuat Michele ketakutan. John waktu itu berusia 26 tahun, begitu dewasa sangat.kontras jika dibandingkan semua anak laki laki yang dikenalnya selama itu. Seorang laki laki yang berkat tekad dan kerja kerasnya bertahun tahun berhasil mengubah peternakan kecil dijantung kota florida menjadi kerajaan bisnis yang kuat dan terus berkembang. Michele pertama kali melihat John menjulang tinggi dihadapan ayahnya saat kedua lelaki itu membicarakan soal ternak, dan ia ketakutan setengah mati. Bahkan ia masih ingat bagaimana nafasnya mendadak terasa sesak, seakan perutnya barusaja ditinju.
Kedua lelaki itu berdiri disamping kuda John. Sebelah lengan John diletakkan di pelana kudanya, sementara tangan lain berkacak pinggang dengan gaya yang sangat santai. Lelaki jangkung itu memancarkan kekuasaan, tubuhnya berotot dan penuh intensitas, yang mampu menundukkan kudanya yang besar sekalipun dengan kehendak kuatnya. Michele sudah mendengar tentang lelaki itu, semua lelaki tertawa dan menjulukinya "pejantan" dengan suara penuh kekaguman, dan wanita wanita menyebutnya dengan julukan yang sama dengan berbisik bisik penuh semangat dan sedikit takut takut. Jika wanita berkencan satu kali dengan John rafferty, hubungan mereka masih dipertanyakan. Tetapi jika wanita yang sama dua kali berkencan dengan nya maka dapat dipastikan bahwa mereka telah tidur bersama. Saat itu Michele tidak pernah berfikir reputasi John itu hanya dilebih lebihkan, sekarangpun setelah dewasa Michele tidak berpikir begitu. Ada sesuatu dalam penampilan John rafferty yang membuat wanita mempercayai semua cerita tentang lelaki itu.
Tetapi bahkan reputasi itu tidak mempersiapkan Michele untuk menghadapi lelaki itu secara langsung, karena kekuatan dan energi yang memancar dari diri lelaki itu begitu besar dan kuat. Hidup terpancar lebih kuat dan panas dalam diri beberapa orang dan John salah satunya. Ia bagaikan nyala api hitam, mendominasi lingkungannya dengan tubuh jangkung dan perkasanya mendominasi orang orang dengan kepribadiannya yang kuat dan terkadang kejam.
Nafas Michele tersentak saat melihat lelaki itu untuk pertama kalinya. Matahari berkilauan dirambutnya yang hitam kelam, kedua matanya menyipit dibawah lengkungan alis yang tebal, kumis hitam yang rapi membayangi garis bibir atasnya yang tegas. Kulit lelaki itu coklat terbakar matahari akibat berjam jam bekerja diluar rumah dalam semua musim. Saat Michele memperhatikannya, setitik keringat mengalir menuruni tulang pipinya yang kecoklatan sebelum akhirnya menetes jatuh dari rahangnya yang persegi. Keringat membuat noda noda gelap dikemeja biru lelaki itu, dibagian ketiak, d**a, dan punggungnya. Tetapi bahkan keringat dan debu tidak bisa mengurangi aura maskulin yang kuat dan sensual, bisa jadi itu malah membuat auranya makin terpancar kuat. Tangan John yang bertumpu dipinggulnya menarik pandangan Michele ke pinggul dan sepasang kaki jenjang lelaki itu. Celana jins ketat dan pudar itu membungkus tubuh John dengan indah hingga bibir Michele terasa kering. Sejenak jantungnya berhenti berdetak, kemudian mendadak melonjak dalam dentuman berat yang membuat sekujur tubuh Michele terasa berdenyut denyut. Saat itu ia masih 18 tahun, masih terlalu muda untuk menghadapi apa yang dirasakannya, lelaki itu maupun reaksinya sendiri yang menakutkan. Karena itu Michele memutuskan untuk bersikap seangkuh mungkin ketika berjalan mendekati ayahnya untuk diperkenalkan.
Hubungan mereka sudah dimulai dengan salah Dan begitu lah yang terjadi selanjutnya. Michelle mungkin satu satu nya wanita didunia ini yang bermusuhan dengan John Rafferty, Dan ia tidak yakin bahkan hingga saat ini, ia berada pada posisi lain. Entah kenapa ia merasa jauh lebih aman bila John tidak menyukainya, paling tidak itu menjamin John tidak akan mengalihkan pesona yang memukau itu ke arahnya. Dalam hal ini sikap angkuh Dan permusuhan akan menjadi tameng terbaik baginya.
Sekujur tubuh Michelle merinding ketika berbaring di ranjangnya Dan memikirkan lelaki itu Dan sesuatu yang hanya berani ia akui pada diri sendiri; ia, sama seperti semua wanita Yang telah takluk dibawah pesona John Rafferty, tidak kebal terhadap pengaruh lelaki itu. Michelle akan tetap angkuh selama John tidak menyadari kerapuhannya terhadap maskulinitas lelaki itu. John pasti akan sangat senang memanfaatkan kekuatan pengaruhnya atas Michelle, kalau lelaki itu sampai tahu, Dan membuat Michelle membayar semua perkataan pedas yang pernah diucapkannya selama bertahun tahun serta hal hal lain yang tidak disukainya dalam diri Michelle. Untuk melindungi diri Michelle harus menjaga jarak Dari John dengan sikap angkuhnya; rasanya ironis karena sekarang ia membutuhkan kebaikan hati lelaki itu demi bisa bertahan secara finansial.
Michelle hampir lupa cara tertawa maupun tersenyum ia hanya bisa tertawa datar Dan senyumnya hanya topeng palsu untuk menghindari rasa iba orang lain. Tapi ketika sudah sendirian dalam kamar tidurnya yang gelap, Michelle bisa merasakan bibirnya melengkung kecut. Kalau ia harus bergantung pada kebaikan hati Rafferty agar bisa berahan hidup, lebih baik ia sekalian saja pergi ke padang rumput menggali lubang Dan mengubur dirinya sendiri agar tak merepotkan lelaki itu.
Keesokan paginya, Michelle Mondar mandir tanpa melakulan apapun dirumahnya, menunggu John menelpon balik. Tapi masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan Dan ternaknya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. akhir nya Michelle menyerah dan dengan gusar berjalan kegudang, pikirannya dipenuhi semua pekerjaan Dan masalah yang disajikan peternakan setiap hari nya. Masih ada beberapa ladang gandum yang harus dipotong Dan jerami yang diikat dalam bongkahan bongkahan rapi, tapi Michelle sudah menjual traktor Dan pembongkah jeraminya. Satu satunya cara yang bisa ia lakukan untuk mengikat jeraminya adalah memberikan sebagian jerami sebagai upah bagi orang yang mau membantunya melakukan pekerjaan itu. Michelle memasukkan Mobil pick up kegudang Dan memanjat ke tempat penyimpanan jerami. Dihitungnya jerami Yang masih tersisa. Persediaannya sudah menipis; ia harus melakukan sesuatu dengan segera.
Michelle tidak mungkin kuat menganggkat bongkahan jerami besar itu, tapi ia sudah mengembangkan siatem sendiri untuk menangani hal itu. Michelle memarkir Mobil pick up pas dibawah pintu loteng penyimpanan jerami, jadi yang perlu ia lakulan hanya lah mendorong bongkahan bongkahan besar itu keluar Dari pintu loteng sampai terjatuh tempat dibak belakang mobilnya. Mendorong bongkahan jerami sebesar itu juga tidak mudah, masing masing beratnya mungkin mencapai 50 kg yang berarti paling tidak sekitar 8 1/2 kg lebih ringan Dari pada berat tubuhnya sendiri -kalau berat badannya tidak berkurang- ia curiga itulah yang terjadi Dan itupun kalau satu bongkahan benar benar berbobot 50kg padahal Michelle yakin itu hanya perkiraan minimal, berat masing masing bongkahan bervariasi tapi beberapa sangat besar hingga Michelle tak mampu menggesernya sedikitpun.
Michelle mengendarai Mobil pick up itu menyebrangi padang rumput ke tempat ternaknya merumput. Semua ternaknya langsung mendongak, mata mata berwarna gelap itu mangamati Mobil yang sudah mereka kenal, kemudian mereka mulai berherak mendekat, Michelle menghentikan mobilnya Dan naik ke bak belakang. Melemparkan bongkahan bongkahan jerami juga tidak mungkin mampu dilakukannya, karena itu ia memotong ikatannya, mengurai jerami itu dengan garu besar yang dibawanya, lalu melemparkannya kebawah. Kemudian Michelle akan naik lagi kemobil, membawa jerami jerami itu menjelajahi padang rumput, Dan berhenti sesekali untuk mengulangi prosedur yang sama. Ia terus melakukan hal itu hingga bak belakang truk nya kosong. Ketika ia selesai, bahunya terasa begitu pegal Dan otot ototnya seakan terbakar. Seandaikan jumlah ternaknya tidak berkurang sebanyak InI, Michelle tahu ia tak akan bisa melakukan ini sendiri, tapi kalau jumlah ternaknya lebih banyak, Michelle mengingatkan diri nya sendiri ia akan mampu membayar orang untuk membantunya. Ketika mengenang pekerja di peternakan dulu, berapa orang yang dibutuhkan untuk menjaga peternakan ini berjalan lancar, gelombang keputus asaan menerjangnya. Menurut logika ia takkan mampu melakukan semuanya sendirian.
Tapi apa hubungannya kenyataan hidup dengan pikiran, Michelle tetap harus melakukan semuanya sendiri karena tidak ada orang lain yang membantunya . kadang kadang Michelle berfikir itulah yang ingin ditekankan kehidupan ini kepadanya: ia hanya bisa mengandalkan diri nya sendiri, tidak ada orang yang bisa dipercayai ataupun diandalkannya, tidak seorangpun yang cukup kuat untuk berdiri di belakangnya Dan membopongnya ketika ia butuh istirahat. Terkadang Michelle merasa sangat kesepian, apalagi setelah ayahnya meninggal, tapi dilain pihak ada perasaan nyaman yang tidak masuk akal, saat menyadari ia tak bisa mengandalkan orang lain selain dirinya sendiri. Michelle tidak pernah mengharapakan apapun Dari siapapun, sehingga ia tidak pernah kecewa gara-gara ada orang yang gagal memenuhi harapannya. Michelle hanya menerima fakta apa adanya tanpa berusaha menutup nutupinya, melakukan apa yang harus dilakukannya, Dan terus maju. Paling tidak ia sudah bebas sekarang, Dan tidak lagi takut ketika bagun disetiap paginya.
Michelle berjalan dengan letih, mengerjakan semua tugas Yang harus diselesaikannya, berusaha berfikir netral, Dan membiarkan tubuhnya bergerak secara otomatis. Rasanya jauh lebih mudah; ia akan memikirkan semua rasa pegal Dan lecet ditubuhnya ketika semua pekerjaan hari itu selesai, tapi Cara terbaik untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu hanya lah dengan mengabaikan protes otot ototnya, semua luka Dan lecet yang dialaminya. Tidak satupun teman lamanya akan percaya Michelle Cabot bisa menggunakan tangannya yang halus untuk melakukan semua pekerjaan kasar. Kadang kadang Michelle merasa geli membayangkan reaksi mereka, salah satu khayalannya untuk mengisi waktu. Michelle Cabot yang dulu selalu siap untuk berpesta, berbelanja, atau ikut berpesiar, Michelle Cabot yang selalu siap tertawa, bercanda, ia tampak sangat sempurna saat duduk sambil memegang segelas sampanye Dan mengenakan berlian yang berkilau ditelinganya.
Golden girl paling hebat, itulah dia.
Dan sang golden girl sekarang harus mengurus ternak, memotong gandum, memperbaiki pagar, Dan itu baru permulaan. Ia juga harus menyuntik ternaknya, tapi lagi lagi ia tidak bisa membayangkan bagaimana menangani pekerjaan itu sendiri an. Menandai ternak, mengebiri, mengembangbiakkan... Ketika Michelle membiarkan dirinya memikirkan semua yang harus dikerjakan, ia seakan tenggelam dalam gelombang keputusasaan. Karena itulah biasanya Michelle tidak mau memikirkan nya lebih jauh. Ia hanya menjalani hidup nya hari demi hari, tertatih tatih mengikuti arus, melakukan semua yang harus di lakukan. Ini masalah bertahan hidup Dan Michelle lama lama akan piawai.Pukul 10 malam ketika John tak juga menelpon, Michelle menguatkan diri Dan kembali menelpon lelaki itu. Lagi lagi pengurus rumah tangga yang mengangkat telponnya; Michelle mendesah, ia bertanya Tanya pernahkah John melewatkan satu malam dirumahnya sendiri
"Ini Michelle Cabot, saya ingin berbicara dengan John Rafferty please, apakah dia ada dirumah?"
"Ya dia sedang berada di lumbung, saya akan menyambungkan anda kesana"
Jadi John punya telpon di lumbungnya. Sambil mendengarkan suara di ujung telponnya sejenak Michelle iri dengan kelengkapan fasilitas dirumah lelaki itu. Membayangkan peternakan lelaki itu membuat denyut nadinya lebih cepat Dan nafasnya memburu.
"John Rafferty" suara yang dalam Dan tidak sabaran itu terdengar kasar, hingga Michelle terlompat kaget, tangannya mencengkeram gagang telpon makin erat Dan matanya terpejam
"Ini Michelle Cabot" Michelle berusaha menjaga suaranya tetap tenang saat menyebutkan identitasnya. "Aku perlu bicara dengan mu kalau mau ada waktu"
" sekarang ini aku sedang tidak punya waktu, kuda betinaku akan melahirkan, jadi katakan apa mau mu Dan cepat lah "
"Pembicaraan Ini membutuhlan waktu yang lebih lama Dari itu. Aku ingin membuat janji temu dengan mu, kalau begitu bagaimana kalau aku datang besok pagi?"
John tertawa, tawa singkat Dan tidak ramah "ini peternakan manis, bukan pertemuan sosial, aku tidak punya waktu untukmu besok pagi, waktu nya sudah habis"
"Kalau begitu kapan?"
John menggumamkan umpatan tak sabar "dengar, aku tidak punya waktu untukmu sekarang. Aku akan mampir kepernakanmu besok sore dalam perjalanan ke kota. Sekitar jam 6" John langsung menutup telpon sebelum Michelle tempat mengiyakan atau menolak. Tetapi ketika akhirnya Michele meletakkan gagang telponnya, dengan muram ia berfikir lelaki itulah yang memegang kendali disini, jadi tidak masalah apakah penetapan waktu itu tempat untuknya atau tidak. Paling tidak ia sudah berhasil berbicara dengan John lewat telpon, Dan ia masih punya waktu hampir 20 jam untuk mempersiapkan diri berhadapan dengan lelaki itu secara langsung. ia akan berhenti bekerja besok sore supaya cukup waktu untuk mandi Dan keramas, lalu ia akan merias wajah Dan memakai parfum seperti yang selalu dilakukannya dulu, memakai celana panjang satin, Dan blus sutranya yang berwarna putih. Dengan begitu John tidak akan mengira Michelle sudah banyak berubah Dari yang lelaki itu kenal, gadis manja yang tak berguna.