Mendekat dan Pastikan

3854 Words
Michelle terpaku Dan wajahnya langsung pucat pasi. Michelle seakan kehilangan arah; untuk beberapa saat kata kata John seakan tidak bisa dipahaminya. Lelaki itu berdiri menjulang disampingnya, begitu tinggi Dan maskulin, membuat Michelle merasa tidak berarti seperti Yang selalu dialaminya setiap kali berhadapan dengan John, sementara panas Dan aroma tubuh lelaki itu menenggelamkan kesadarannya. Lelaki ini berdiri terlalu dekat ! Kemudian kata kata itu perlahan membuat makna Dan pipi Michelle seakan ditampar keras, rasa panik Dan amarah menggantikan keterkejutannya tadi. Tanpa pikir panjang lagi, Michelle berkata tajam "kau pasti bercanda!" Tindakan yang salah. Dan Michelle menyadari nya begitu kata kata itu terlontar Dari mulutnya. Sekarang bukan waktu Yang tempat untuk menghina lelaki itu, tidak ketika ia membutuhkan kerjasama John untuk bisa menyelamatkan peternakan nya. Namun harga diri Dan kebiasaan lama membuat Michelle balas menyakiti. Michelle bisa merasakan perutnya menegang sementara ia mendongak Dan memandang John dengan tatapan angkuh, menunggu reaksi Yang ia yakin akan muncul setelah ia melemparkan tantangan kehadapan lelaki itu. Menantang John Rafferty bukan lah tindakan bijaksana, Dan Michelle malah melakukan nya dengan cara Yang paling keras Wajah John tampak keras Dan kaku, matanya menyipit Dan berkilat kilat ketika menatap Michelle. Michelle bisa merasakan bahwa lelaki itu berusaha keras menahan diri supaya tidak bergerak "apa aku kelihatan sedang bercanda?" Tanya John dengan Nada pelan Yang menyiratkan bahaya "selama Ini kamu selalu punya orang Malang yang menyokongmu, bisa jadi sekarang giliranku. Kau tidak bisa mengaturku dengan hidung sombongmu itu seperti Yang kau lakukan pada lelaki lain, tapi kurasa kau tak bisa bersikap terlalu pemilih sekarang" "Memang nya kau tahu apa soal sikap pemilih?" Wajah Michelle tampak semakin pucat, ia mundur lagi semakin manjauhi John. Michelle seakan bisa merasakan pengaruh lelaki itu padanya, padahal John sama sekali tidak bergerak. John sudah pernah berhubungan dengan begitu banyak wanita, hingga Michelle bahkan tak mau memikirkan hal itu, karena memikirkan nya membuat hati nya sakit. Apakah semua wanita tenggelam dalam panas Dan sensualitas lelaki ini? Michelle tidak bisa mengendalikan naluri Dan respon alami tubuhnya; ia selalu menyadari kelemahannya itu tiap Kali berurusan dengan John, Dan itulah yang membuat nya ketakutan, yang membuat nya berusaha melawan Dan bersikap sinis terhadap John selama bertahun tahun. Michelle tidak terima dimanfaatkan John begitu saja, hal itu akan terlalu berarti bagi Michelle, namun tidak ada artinya sama sekali bagi lelaki itu. "Jangan menjauh dariku" kata John, suaranya terdengar makin lembut, lebih dalam membelai kesadaran Michelle seperti beledu hitam kelam. Suara itu pasti dipakainya setiap malam, pikir Michelle kalut, benaknya dipenuhi bayangan tubuh John yang langsing Dan kuat itu menindih seorang wanita sambil menggumamkan kata kata rayuan yang menggoda. John tidak akan pernah menjadi kekasih Yang lemah lembut; ia akan selalu perkasa Dan apa adanya, menguasai setiap panca indera seorang wanita. Dengan panik Michelle menghapus bayangan itu Dari pikirannya, membuang muka hingga ia tak perlu lagi memandang wajah lelaki itu. Amarah kambali membara dalam diri John ketika melihat Michelle membuang muka, seakan tidak tahan melihat nya. Dan Michelle sama sekali tidak berusaha menutupi rasa ngeri yang dirasakannya saat membayangkan harus tidur dengan John. Hanya dengan tiga langkah lebar, John mengitari meja Dan mencengkeram kedua lengan Michelle dengan tangannya Yang kuat, lalu merengkuhnya erat. Bahkan dalam kabut amarahnya, John menyadari ini lah Kali pertama ia menyentuh Michelle, merasakan kelembutan Dan kerapuhan tulang wanita itu. John memegang erat lengan Michelle, Dan jemarinya tidak ingin melepaskannya, ingin membelainya. Hasratnya Yang bangkit kembali menyingkirkan sebagian amarah Yang tadi menguasainya. "Jangan bersikap bagai putri es terhadapku" perintahnya kasar, "kerajaan kecilmu sudah hancur, honey. Seandainya kau belum sadar, teman teman mu yang kaya itu belum tentu tahu kau sudah tidak mampu lagi bermain main dengan mereka. Yang pasti mereka tidak menawarkan diri untuk membantu, bukan?" Michelle mendorong d**a John tapi rasanya seperti mendorong dinding kokoh "aku belum pernah meminta bantuan Dari mereka!" Jeritnya sambil terus mendorong John "aku belum meminta bantuan si apapun, apalagi darimu!" "Kenapa tidak?" John mengguncang tubuh Michelle perlahan, matanya menyipit Dan bersinar tajam "aku bisa menghidupimu honey" "Aku tidak bisa dibeli!" Michelle berusaha melepaskan diri, tapi Percuma. meskipun John tidak mencengkeram nya terlalu erat hingga menyakitkan, Michelle tidak berdaya melawan kekuatan lelaki itu. "Aku tidak tertarik untuk membeli" gumam John sambil menunduk "aku hanya tertarik untuk menyewamu selama beberapa waktu" Michelle meneriakkan kata kata Yang tidak jelas Dan berusaha berpaling, tapi John mencengkeram rambutnya Dan memegangnya supaya tidak bergerak Dan siap menerima ciumannya. Sekilas Michelle sempat melihat mata hitam John menyala nyala karena hasrat, kemudian bibir lelaki itu memangut bibirnya, Dan Michelle gemetar dalam cengkeraman lelaki itu bagai binatang yang ketakutan. Bulu mata Michelle gemetar Dan matanya terpejam, tubuhnya melemas didada lelaki itu. Bertahun tahun Michelle membayangkan bibir John, seperti apa rasanya dicium lelaki itu. Apakah bibir lelaki itu akan terasa lembut atau keras, apakah kumisnya akan merasa menggelitik. Bola bola kenikmatan meledak dalam dirinya Dan membanjiri Michelle dengan panasnya. Sekarang ia tahu kehangatan bibir lelaki itu begitu mambukkan, kumisnya menggelitik, bagaimana lidah lelaki itu begitu mantap masuk kemulutnya, seakan ia memang berhak untuk berlaku seintim itu terhadap Michelle. Entah bagaimana, kedua tangan Michelle telah merengkuh bahu John, kuku kuku jarinya terbenam pada tubuh dibalik kemeja Yang basah kuyup itu. Dan entah bagaimana, tubuh Michelle semakin merapat, dengan lelaki itu memeluk begitu erat sementara mencium bibir Michelle lebih dalam, lagi Dan lagi. Michelle tidak merasakan kelembaban Dari pakaian basah Yang meresap ke pakaiannya; satu satu nya Yang ia rasakan hanya lah panas Dan kokohnya tubuh John. Samar Samar ia sadar kalau ia tidak berhenti sekarang, John tidak akan pernah berhenti sama sekali. Michelle tak ingin berhenti, belum apa apa ia sudah luluh, karena tak ada yang lebih diinginkan nya saat itu selain berbaring bersama John Dan merasakan kehangatan tangan itu membelainya. Michelle sudah menduga rasanya akan seperti ini, Dan ia tahu, ia tak boleh membiarkan ini terjadi, tidak boleh membiarkan lelaki ini mendekat. Perasaan ini begitu kuat hingga membuat Michelle takut. Lelaki itu akan menuntut terlalu banyak darinya, hingga tak ada lagi Yang tersisa ketika John meninggalkannya nanti. Sejak dulu Michelle tahu ia tak akan mampu mengendalikan lelaki itu. Michelle mengerahkan segenap kekuatan dalam dirinya untuk bisa berpaling Dari bibir John Yang panas, untuk meletakkan telapak tangannya dibahu lelaki itu Dan mendorong nya menjauh. Michelle tahu ia tidak cukup kuat untuk bisa memaksa John menjauh; ketika John melepaskannya Dan menjauh, dengan pahit Michelle terpaksa mengakui bahwa John mundur karena kemauannya sendiri, bukan kemauan Michelle. Lelaki itu memandang nya, menunggu keputusannya. mengisi ruangan itu, sementara Michelle berjuang mendapatkan kembali ketenangannya dibawah tatapan John Yang tajam. Michelle bisa merasakan situasi mulai tak terkendali. Selama sepuluh tahun ia membangun dinding permusuhan diantara mereka, terlalu takut membiarkan John tahu bahwa memandang kelaki itu saja membuat tulang tulang Michelle luluh lantak. Michelle tak ingin John melihat nya sebagai wanita; ia tak ingin menjadi salah satu wanita Yang dimanfaatkan lelaki itu untuk kemudian dicampakkan begitu saja. Masalah nya sudah cukup saat ini tanpa perlu ditambah patah hati, Dan John Rafferty adalah perwujudan sempurnya penyebab patah hati. Michelle benar benar terpojok, ia tidak akan mampu menanggung satu masalah lagi, baik emotional maupun finansial. Tapi tatapan John serasa membakar Michelle dengan kobaran api kelam, meluncur turun menjelajahi tubuhnya, seakan sedang mengukur payudaranya, apakah akan pas ditelapak tangannya; pinggul Michelle apakah bisa menyesuaikan dengan pinggulnya sendiri; tungkai Michelle akankah bisa melilit pinggangnya saat didera kenikmatan. John tidak pernah memandang nya seperti itu Dan itu menggetarkan Michelle hingga ketulang tulangnya. Mata lelaki itu memancarkan sensualitas penuh. Dalam pikiran John, ia sudah berada dalam tubuh Michelle, mengecapnya, memberikan kenikmatan pada wanita itu. Hanya sedikit wanita Yang tahan ditatap dengan tatapan yang terang terangan mengundang seperti itu, dengan pengalaman yang keyakinan arogan bahwa seorang wanita akan mendapatkan kepuasan dalam pelukannya. John menginginkan Michelle; ia bertekad mendapatkan nya. Dan Michelle tidak mungkin membiarkan itu terjadi, seumur hidup ia terkungkung dalam sangkar emas; pertama tama dengan sikap ayahnya Yang terlalu memanjakannya, kemudian oleh kecemburuan obsessive Roger. Untuk pertama Kali dalam hidupnya , Michelle sendirian, bertanggungjawab terhadap diri nya sendiri Dan menemukan rasa puas dalam tanggungjawab itu. Gagal atau pun berhasil, Michelle butuh melakukannya sendiri, bukan nya berlari mencari bantuan seorang lelaki. Ia memandang John dengan ekspresi kosong. Lelaki itu menginginkannya, tapi John tidak menyukai atau pun menghormatinya, Dan Michelle tidak akan menyukai atau pun menghormati diri nya sendiri kalau sampai diri ya menjadi parasit seperti Yang dituduhkan John pada nya. Perlahan seakan ototnya nyeri, Michelle menjauhkan diri Dari John Dan duduk dimeja kerjanya, dengan kepala sedikit tertunduk agar John tidak bisa melihat wajahnya. Sekali lagi, hargadiri Dan kebiasaan lama menyelamatkannya; suaranya terdengar tenang Dan dingin ketika berkata "seperti Yang Ku bilang tadi aku tak punya uang untuk membayar utang itu sekarang, Dan aku sadar tengat waktu pembayaran utang itu sudah lewat. Solusinya tergantung padamu ______" "Aku sudah mengajukan penawaran" sela John, matanya menyipit melihat ketenangan wanita itu. John duduk dimeja disamping wanita itu, pahanya yang berotot menyentuh lengan Michelle. Michelle menelan ludah untuk membasahi mulutnya Yang mendadak terasa kering, mencoba memandang otot kekar Yang terbungkus jins itu. Kemudian John membungkuk, menumpukan lengan bawahnya dipaha, Dan itu semakin nemperparah keadaan, karena d**a lelaki itu terasa semakin dekat, memaksa Michelle menyandarkan punggung. "Yang perlu kau lakulan hanya lah menerima tawaran itu, bukan nya membuang buang waktu Percuma dengan berlagak tidak suka kusentuh". Michelle melanjutkan perkataannya dengan keras kepala " kalau kau menginginkan pembayaran sekarang juga, aku harus menjual ternak Ku untuk mendapatkan uangnya, Dan aku ingin menghindari hal itu. Aku bergantung pada hasil penjualan ternak untuk mempertahankan peternakan ini. Aku pikir untuk menjual sebagian tanah peternakan ini untuk mendapatkan uang, tapi tentu saja itu butuh waktu Yang lama. Aku bahkan tidak bisa menjanjikan bisa melunasi utangku 6 bulan lagi karena semuanya tergantung seberapa cepat aku mendapatkan pembeli". Michelle menahan nafas menunggu respon John. Menjual sebagian tanah peternakan adalah satu satunya jalan Yang terpikir oleh Michelle, tapi semua tetap tergantung kesediaan John untuk bekerja sama. Perlahan lahan John menegakkan tubuh, alisnya Yang tebal berkerut ketika memandang Michelle. "Tunggu sebentar honey, mari kita mundur sedikit. Apa maksud mu mempertahankan peternakan ini? Peternakan ini sudah mati" "Tidak, belum". Sanggah Michelle keras kepala "aku masih punya beberapa ternak" "Dimana?" Ketidak percayaan terdengar jelas dalam suara John "Dipadang rumput sebelah selatan. Pagar disebelah Timur perlu diperbaiki, Dan aku belum _____" suara Michelle menghilang saat melihat amarah Yang tubuh diwajah John. Kenapa pria itu marah? Tanah mereka sebagian besar berbatasan disebelah utara; ternak lelaki itu tidak akan tersesat. "Mari kita mundur lebih jauh lagi" sahut John tegang "siapa yang menangani kawanan ternak itu?" Jadi itu masalahnya, John tidak mempercayainya karena lelaki itu tahu tidak ada pekerja lagi di peternakan ini, "aku Yang menangani nya" wajahnya tampak kaku Dan angkuh, John bahkan tidak berusaha menutupi ketidakpercayaannya akan kemampuan Dan kemauan Michelle mengerjakan pekerjaan kasar seperti itu. John mengawasi Michelle dengan seksama Dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan kedua alis terangkat. Michelle tahu Persis apa Yang dilihat lelaki itu, karena ia memang sengaja ingin menampilkan kesan itu dimata John. Lelaki itu melihat kuku kuku jari Michelle yang dicat ungu pucat, sandal berhak tinggi, celana panjang linen putih, Dan blus sutera putih, yang lembab karena bersentuhan dengan baju John Yang basah. Tiba tiba Michelle menyadari bagian depan tubuhnya Yang basah semua, Dan wajahnya langsung merah padam, tapi dagunya tetap terangkat angkuh. Biar saja lelaki itu melihat, persetan. " bagus" ujar John lambat "coba kulihat tangan mu" Tanpa sadar Michelle mengepalkan tangannya Dan menatap John dengan tatapan menantang "kenapa?" John bergerak seperti ular derik yang menyerang korbannya, menangkap pergelangan tangan Michelle Dan mencengkeram nya. Michelle berusaha menarik diri, meronta, Dan menggeliat tapi John hanya mempererat cengkeramannya Dan memaksa Michelle membuka kepalannya, Wajahnya tampak kaku Dan datar ketika memandangi telapak tangan Michelle selama beberapa menit. Diraihnya telapak tangan Michelle Yang lain Dan memeriksanya lagi. Ia mengendurkan cengkeramannya. Ditelusurinya bekas bekas luka Dan lecet dengan ujung jarinya, disentuhnya telapak tangan yang mulai kapalan itu. Michelle duduk dengan bibir terkatup rapat, wajahnya tampak kosong. Ia tidak malu dengan tangannya; bagaimana pun juga pekerjaan kasar pasti akan meninggalkan bekas di kulitnya, dan ia menemukan sesuatu Yang menenangkan dalam pekerjaan berat Yang harus dilakukannya di peternakan. Tapi tidak peduli betapa mulianya bekas bekas itu, ketika John yang mengamati nya, Michelle merasa seakan ditelanjangi Dan dipermalukan, lelaki itu sudah melihat sesuatu Yang sangat pribadi Dari dirinya, Michelle tidak ingin John melihat begitu banyak tentang dirinya, ia tidak mau perhatian lelaki itu tertuju pada diri nya, ia tidak membutuhkan rasa iba Dari siapa pun Dan lebih Dari itu Michelle tidak mau John melembut padanya. John mendongak Dan memandang Michelle, sepasang mata kelam itu mengamati ekspresi angkuh Dan kaku di wajahnya. Membuat setiap sel dalam tubuh Michelle meneriakkan peringatan untuk waspada. Terlambat! Mungkin semuanya sudah terlambat sejak lelaki itu pertamakali menginjakkan kaki diteras rumah nya tadi. Sejak semua Michelle telah merasakan ketegangan dalam diri lelaki itu, sikap hati hati Yang di salah tafsirkan Michelle sebagai sikap bermusuhan. John Rafferty tidak terbiasa menunggu wanita Yang diinginkannya, Dan Michelle sudah membuat nya menunggu hingga 10 tahun. Satu satunya waktu saat Michelle benar benar aman Dari lelaki itu adalah selama pernikahan singkatnya, ketika jarak Antara Philadelphia Dan Florida tengah lebih dari ratusan kilometer, Dan mereka hidup dalam dunia yang sama sekali berbeda, baik bentuk maupun substansinya. Tapi sekarang Michelle sudah kembali berada dalam jangkauan lelaki itu Dan Kali ini posisinya sangat rapuh. Ia bangkrut, sendirian, Dan berutang $100.000 kepada John. Mungkin John berharap bisa meraih Michelle dengan mudah. "Kau tidak harus melakukan nya sendirian" akhirnya lelaki itu berkata, suaranya Yang dalam terdengar makin dalam Dan lebih tenang. John masih memegang kedua tangan Michelle, ibu jarinya Yang kasar bergerak lembut, membelai telapak tangan Michelle, sementara ia berdiri Dan menarik Michelle untuk ikut berdiri. Michelle sadar John tak akan menyakitinya; lelaki itu memang selalu membuat nya kesal Dan marah, tetapi ia tidak pernah melukai. Sentuhan lelaki itu begitu lembut, tetapi Michelle tahu persis ia tidak akan bisa melepaskan diri kecuali lelaki itu memutuskan untuk melepaskannya. Satu satunya senjata Michelle adalah sikap merendahkan Yang ia tunjukkan pada lelaki itu sejak semula. Michelle tersenyum cerah "tentusaja aku harus melakukan nya sendiri an, seperti yang kau katakan dengan manis tadi, teman temanku tidak berhamburan kemari untuk membantuku bukan ?" Bibir John melengkung kesal mendengar kata "teman teman". Ia tidak pernah bisa sabar pada orang orang kaya yang suka bersenang senang Dan cepat bosan " kau bisa saja datang padaku" Sekali lagi Michelle tersenyum seperti tadi, tahu Persis John tidak menyukai senyumnya itu. "Tapi butuh waktu Yang sangat lama untuk bisa mengumpulkan Dana $100.000 itu bukan?, kau tahu sendiri bukan kalau aku sangat benci merasa bosan. p*****r terbaikpun hanya mendapatkan... Berapa ya.... $100 sekali main, bahkan jika kau sanggup melakukan nya tiga Kali sehari, masih dibutuhkan sekitar satu ta______ " Amarah yang gelap melingkupi kedua mata John, ia akhirnya melepaskan tangan Michelle, kemudian mencengkeram bahu wanita itu. Pandangannya seakan menelanjangi tubuh Michelle lagi. "Tiga Kali sehari?" Tanya nya dengan mata mengancam, dipandanginya p******a Dan pinggul Michelle. "Yeah aku siap melakukannya, tapi kau melupakan bunga nya honey, aku menetapkan bunga yang tinggi". Michelle gemetar dalam cengkeraman John. Ingin rasanya ia memjamkan mata supaya tidak perlu memandang lelaki itu. Ia sudah menantang lelaki itu dengan berani, Dan lelaki itu membalikkan kata katanya. Ya lelaki itu memang mampu Dan siap melakukannya. Hasrat John Rafferty begitu kuat, rasanya seakan berkobar kobar, Dan memikat semua wanita, seperti ngengat tak berdaya yang tertarik pada nyala api. Dengan putus asa Michelle berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk tetap tersenyum, Dan akhirnya berhasil mengangkat bahunya sedikit, meskipun tangan John masih mencengkeram nya erat. " trims, tapi aku lebih suka mengaduk pupuk kandang". Seandainya John kehilangan kontrol diri, mungkin Michelle malah bisa bernafas lega mengetahui ia masih berada diatas angin, meskipun batasnya sangat tipis. Seandainya Michelle bisa menjauhkan lelaki itu dengan menghina, ia akan aman. Tapi meskipun cengkeraman John sesikit mengencang dibahunya. Lelaki itu tetap bisa mengendalikan amarahnya. "Jangan memaksakan diri honey" nasihatnya kalem " tidak sulit bagiku untuk menunjukkan pada mu sekarang apa yang sebenarnya kau sukai. Sebaiknya kau katakan terusterang kepadaku bagaimana kau akan menjalankan peternakan ini sendirian." Selama beberapa saat mata Michelle tampak begitu jernih Dan tak berdasar, diliputi keputusasaan, sesuatu yang tidak diduga John akan dilihatnya disana. Pipi Michelle tampak tegang; kemudian sikap sinis Dan menghina itu kembali lagi, matanya tampak hijau Dan sulit dipahami, bibirnya melengkung angkuh, membuat John ingin mengguncang guncang tubuh wanita itu "peternakan ini masalahku" matanya mengabaikan tawaran John yang tersirat dalam kata kayanya tadi. Michelle tahu Persis harga Yang harus dibayarnya bila mau menerima bantuan lelaki itu "Yang perlu kau pikirkan adalah bagaimana aku bisa melunasi utang itu" Akhirnya John melepaskan bahu Michelle Dan kembali duduk dimeja, kakinya dijulurkannya Dan pergelangan kakinya disilangkan "seratus ribu dollars adalah jumlah Yang banyak. Tidak akan mudah mengumpulkan uang sebanyak itu." Michelle tahu itu John mungkin memiliki a set milyaran dollar tapi uang pemilik peternakan terikat dalam bentuk tanah Dan ternak, dengan keuntungan yang selalu diputar untuk pemeliharaan peternakan. Tidak akan ada uang untuk keperluan yang tidak penting. Rahang Michelle terasa tegang "Japan kau menginginkan uang mu kembali?" Tuntutnya. "Sekarang atau nanti?". Ali's tebal John terangkat " mengingat kondisinya, kurasa kau berusaha bersikap manis terhadapku, bukannya malah membentak bentak seperti itu. Kenapa kau tidak menjual peternakan sekaligus semua ternak Yang tersisa? Toh kau tak akan mampu menjalankan peternakan ini, Dan dengan begitu paling tidak kau mendapatkan cukup uang untuk hidup sampai kau mendapatkan orang Yang akan menanggung kebutuhan finansialmu. "Aku bisa mempertahankan peternakan ini" sergah Michelle, wajahnya memucat. Harus, karena hanya ini Yang ia miliki sekarang. "Tidak mungkin Honey" "Jangan panghil aku honey!" Kemarahan dalam suaranya membuat Michelle terkejut sendiri, John memanggil semua wanita honey. Itu hanya sebutan kosong Yang tak bermakna, Karena begitu banyak wanita lain yang telah mndengarnya Dari mulut John. Michelle tidak tahan memikirkan John terbaring dalam kegelapan bersama wanita lain, suaranya terdengar malas malasan Dan berat sementara mereka bercakap cakap Dan John memanggil wanita itu Honey. John menangkap dagu Michelle dengan tangannya Yang besar Dan kasar, memaksa Michelle mendongak menatap nya, ibu jari lelaki itu perlahan membelai bibir bawah Michelle, "aku akan memanggilmu dengan sebutan apa saja Yang aku sukai.... Honey, Dan sebaiknya kau tutup mulut, karena kau berutang sangat banyak kepada ku, Dan kau tidak bisa membayarnya. Aku akan memikirkan utang itu dan apa Yang akan kita lakukan mengenainya. Sementara aku memikirkan nya, bagaimana kalau kau memikirkan yang satu ini?". Terlambat bagi Michelle untuk menjauhkan wajahnya. John juga tetap memegang dagunya dengan erat, Dan bibir hangat lelaki itu sudah memangutnya sebelum Michelle sempat melepaskan diri. Matanya terpejam Dan ia berusaha mengabaikan gelombang kenikmatan Yang mendera sekujur tubuhnya. Ciuman kedua ini lebih buruk Dari pada Yang pertama, karena lelaki itu mencium dengan perlahan Dan membujuk. Michelle mencoba memalingkan wajah, tapi John melumpuhkannya dengan memerangkap tubuh Michelle diantara kakinya. Michelle mulai gemetar, kedua tangannya menekan d**a John, tapi ia bisa merasakan detak jantung John Yang memukul mukul telapak tangannya, dirasakannya ritme detakan itu makin meningkat, Dan Michelle ingin membiarkan dirinya hanyut dalam detak jantung lelaki itu. Perlahan John menyandarkan kepala Michelle dibahunya Dan jemarinya menjalin erat rambut Michelle. Tidak mungkin lagi Michelle memalingkan wajahnya, Dan perlahan lahan Michelle mulai pasrah, mulut nya terbuka menyambut John. John mencium Michelle dengan kesungguhan yang meluluhkan, seakan tak pernah bisa puas menikmatinya. Bahkan meskipun Samar Samar terpikir oleh Michelle bahwa John pasti sudah melatih teknik Yang sama dengan ratusan wanita lain, pemikiran itu tidak mampu melemahkan kekuatan sensasi itu. Michelle benar benar sepenuhnya terselimuti oleh lelaki itu, tenggelam dalam sentuhan, aroma Dan rasa lelaki Itu, tubuhnya terasa menggelenyar nyeri baik oleh kenikmatan maupun kebutuhan untuk semakin banyak mengecap lelaki itu. Michelle mendambakan John Rafferty sejak dulu. Lelaki itu telah menjadi obsesi hidupnya sejak pertama Kali mereka bertemu, Dan Michelle sudah melewatkan sebagian besar waktunya selama 10 tahun terahir untuk melarikan diri Dari obsesi itu, hanya untuk mendapatkan dirinya benar benar berada dibawah belas kasihan lelaki itu. John mendongak perlahan, kelopak matanya tampak berat, bibirnya tampak basah akibat ciuman tadi. Kepuasan besar tergambar jelas di matanya ketika menatap Michelle. Wanita itu hanya mampu bersandar lumouh dalam pelukannya, wajah Michelle tampak bingung karena mendamba, bibirnya menerah Dan bengkak. Dengan sangat lembut John menjauhkan Michelle, tetap memeluk pinggangnya hingga Michelle mampu berdiri mantap. Lalu ia pun berdiri. Seperti Yang selalu ia rasakan setiap Kali lelaki itu berada didekatnya, tanpa sadar Michelle melangkah mundur. Dengan panik Michelle mencoba mencari sesuatu Yang bisa dikatakannya untuk menyangkal responsnya terhadap lelaki itu. Tapi apa yang bisa dikatakannya Yang bisa membuat lelaki itu percaya? Ia sudah terang terangan merespons! Begitu juga sebaliknya. Tak ada gunakanya mendebatkan sesuatu Yang sudah jelas, Dan Michelle tidak akan membuang buang waktu untuk itu. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah menghentikan kekacauan ini. Wajah Michelle tampak pucat saat memandang John, kedua tangannya terjalin erat "aku tidak akan tidur dengan mu untuk membayar utang Ku, tidak peduli apapun Yang kau putuskan, apakah kau datang kemari malam ini Dan berharap bisa langsung meniduri ky malam ini, mengira aku bersedia menjadi p*****r untuk mu?" John memandang Michelle dengan tajam "hal itu sempat terpikir oleh Ku. Aku bersedia" "Sayangnya aku tidak!" Nafas Michelle memburu Dan ia berusaha mengendalikan amarah yang verkbar karena merasa terhina. Ia harus bisa mengendalikan diri; ia tidak biloleh menangis sekarang. "Aku senang, karena aku sudah berubah pikiran" kata John dengan Nada malas malasan. "Astaga, kau memang berhati besar!" Bentak Michelle "Kau pasti akan tidur dengan Ku, tapi bukan untuk membayar utang mu. Kalau waktubya sudah tiba, kau akan member ikan dirimu kepadaku, Karena kau menginginkan ku sama seperti aku menginginkan mu." Cara John menatap nya membuat Michelle menggigil Dan bayangan Yang timbul Dari kata kata kasar lelaki itu terasa bagai kilat Yang menyambar pikirannya. John Rafferty akan memanfaatkan Dan mencampakannya begitu saja, seperti Yang telah dilakukannya kepada wanita lain, seandainya ia membiarkan lelaki itu mendekat, "terimakasih, tapi itu tidak perlu. Aku tidak pernah tertarik melakukan seks berkelompok, Dan itulah Yang akan terjadi bilang bersamamu!" Michelle ingin membuatnya marah, tetapi John hanya merangkum kedua tangannya yang terkepal Dan mengusapkan ibu jarinya ke buku buku jari Michelle "tidak usah hawatir, aku berani jamin hanya ada kita berdua di balik selimut. Tenanglah Dan biasakan dirimu dengan gagasan ini. Aku akan datangvlagi besok pagi tu menengok peternakan ini, Dan melihat apa Yang perlu dilakukan -------" "Tidak" sela Michelle tegas, sambil menyentakkan tangannya Dari genggaman John "peternakan ini milikku. Aku bisa menanganinya sendiri" "Honey, kau bahkan belum pernah menangani buku Cek sendiri, jangan hawatir aku akan mengurus semuanya" Kata kata John membuat Michelle menggertakkan Gigi, lebih karena takut lelaki itu benar. "Aku tidak mau kau mengurus semuanya!" "Kau tak tahu apa yang kau ingin kan" jawab John dengan sedikit membungkukkan badan dan mengecup bibir Michelle sekilas "sampai jumpa besok" John berbalik Dan keluar Dari ruangan itu. Beberapa saat kemudian baru lah Michelle menyadari lelaki itu sudah pergi. Ia mengejar John Dan tiba dipintu saat lelaki itu berlari cepat menembus hujan deras Dan kembali kemobilnya. John tidak menganggapnya serius. Yah untuk apa? Pikir Michelle pahit. Tidak ada Yang pernah menganggapnya serius. Michelle bersandar diambang pintu Dan memperhatikan lelaki itu memacu mobilnya pergi; kakinya gemetar seakan tidak kuat lagi menyangga tubuhnya. Kenapa sekarang? Ia sudah berhasil menjauhi lelaki itu selama bertahun tahun dengan bersikap bermusuhan, tapi dalam waktu sekejap, benteng pertahanannya hancur berantakan. Seperti predator, John bisa merasakan kerapuhan korbannya Dan dengan cepat memangsanya. Tanpa suara, Michelle menutup pintu, meredam suara hujan. Keheningan rumah itu menyelimutinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD