Kenangan Val
Pada sore hari yang cerah, sebuah mobil Toyota Avanza berwarna hitam metalik keluar dari sebuah rumah megah di kompleks perumahan elit. Di kabin supir duduk seorang lelaki tampan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Di balik kacamata hitamnya, mata elang lelaki itu memandang jalanan yang terhampar di depannya.
Sembari menyetir, Ulrich Valredo Schmidt, asyik menghibur dirinya sendiri dengan ikut menyanyikan lagu yang melantun dari radio di dalam mobilnya. Saat lagu Arti Kehidupan yang diciptakan oleh Doel Sumbang terdengar di telinganya, hati lelaki tampan berhidung bangir itu tiba-tiba bergetar. Memorinya kembali ke masa lalu.
“Val, kamu hapal lagunya Doel Sumbang enggak? Arti Kehidupan judulnya. Hapal enggak?” tanya seorang gadis mungil berwajah manis nan rupawan dengan suara manja kepada seorang lelaki muda yang sedang duduk di hadapannya sambil memeluk gitar.
Laki-laki itu menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Aku nyanyi lagu itu dan kamu iringin aku nyanyi pakai gitar ya?” pinta gadis itu.
Val pun mulai memetik gitarnya. Sang gadis pun mulai bernyanyi dengan suara merdu. Val tersenyum memandangi gadis manis yang memiliki postur tubuh imut-imut itu. Gadis itu tampak acuh tak acuh karena sedang asyik mendendangkan lagu kesukaannya.
“Kay,” panggil Val dengan suara lembut usai gadis itu selesai menyanyi.
“Iya, Val?” sahut gadis itu sambil tersenyum.
Jantung Val berdetak kencang menatap seuntai senyuman manis di wajah Kay.
“Kay, kenapa kamu suka sekali lagu Arti Kehidupan? Apa kamu punya kenangan dengan lagu ini?”
Mata Kay berbinar menatap Val.
“Makna yang terdapat dalam lagu itu sangat dalam, Val. Aku suka banget. Cinta tidak boleh disembunyikan karena cinta itu anugerah. Untuk itu cinta harus disirami agar merekah sepanjang hari. Seperti itu.”
Val tersenyum mendengar jawaban Kay.
Seakan tidak puas dengan jawaban Kay, dia pun kembali bertanya,” apakah lagu itu mengingatkanmu dengan seseorang? Apakah dia cinta pertamamu?”
Kay nampak terkejut mendengar pertanyaan Val barusan. Hatinya tiba-tiba menjadi kacau seketika. Dia merasa heran dengan laki-laki yang di hadapannya karena menanyakan hal itu kepadanya secara tiba-tiba.
Kay berusaha menenangkan hatinya. Dia ingin sekali mengatakan bahwa lagu itu selalu mengingatkannya kepada Val. Dan ia ingin sekali menyatakan cintanya kepada laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya selama dua tahun belakangan ini. Sayangnya, ia tak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.
“La-la...eh...langitnya cerah ya, Val?” tanya Kay gugup berusaha mengalihkan pembicaraan.
Val mengernyitkan kening. Dia merasa heran dengan sikap tak biasa dari Kay.
Kay menatap langit seperti memohon agar waktu cepat berlalu supaya dia bisa menghindari pertanyaan Val. Dia tidak punya keberanian menatap wajah Val lagi karena takut Val akan mengetahui isi hatinya. Tanpa disadari, Kay menarik napas dalam-dalam.
Val yang dari tadi memperhatikan Kay secara seksama, merasa khawatir ketika melihat Kay menarik napas dalam-dalam.
“Are you okay, Kayla?” tanya Val dengan suara berbisik.
Kay yang sedang berusaha menata hatinya, tiba-tiba kaget mendengar suara bisikan Val di telinganya.
“Ah enggak. Enggak kok. Aku enggak apa-apa kok. Aku baik-baik aja, kok!” "seru Kay dengan suara agak lantang dan gugup.
Val semakin bingung dengan sikap Kay.
Suara klakson mobil yang berada di belakangnya membuyarkan lamunan Val. Bibir indah Val membentuk seuntai senyuman. Melihat lampu lalu lintas sudah hijau, dia pun melanjutkan perjalanannya.
“Di mana kamu sekarang, Kayla? Aku kangen kamu,” gumam Val dalam hati.
Val baru menyadari bahwa Kay sangat mencintainya ketika mereka sudah lulus kuliah. Padahal kala itu mereka sudah bersahabat empat tahun lamanya. Val yang tergugah setelah membaca email dari Kay yang memberitahunya bahwa dia sangat mencintai Val, menjadi bimbang. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sebab, dia sudah menganggap Kay seperti adiknya sendiri. Kasih sayangnya kepada Kay murni kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.
Di sisi lain, Val juga tidak ingin menyakiti hati sahabatnya itu. Tapi dia tidak punya keberanian menolak cinta Kay. Ia tidak ingin persahabatannya dengan Kay menjadi rusak karena penolakan yang diberikannya. Oleh sebab itu, ia tidak pernah menjawab email dari Kay sampai ia melanjutkan kuliah di London dan mengetahui kondisi Kay dari cerita teman-teman sekolahnya.
Val mendengar desas desus bahwa Kay yang dikenalnya sebagai anak manis dan tidak pernah macam-macam di sekolah, berubah menjadi seorang gadis yang memiliki sifat yang sangat dibenci orang. Teman-temannya mengatakan bahwa Kay yang sekarang bukanlah Kay yang dulu lagi.
“Gue juga enggak tahu kenapa lidah Kayla sekarang tajam banget. Suka nyinyirin orang dan ngomongnya juga kasar banget,” kata salah seorang teman sekolahnya mengeluh padanya mengenai perubahan sikap Kay.
Temannya yang lain berkata,”gue denger dia udah gila sekarang gara-gara broken home gitu sejak kecil. Enggak nyangka ya Kayla yang manis di sekolah bisa menyimpan luka yang dalam akibat digebukin bokapnya sejak kecil. Dulu waktu masih sekolah seingat gue enggak kelihatan dia kayak anak yang sering dikasarin orang tuanya.”
Val menarik napas dalam-dalam. Dia masih tidak percaya dengan cerita teman-teman sekolahnya yang sering bergosip tentang Kay ketika mereka mengadakan reuni beberapa tahun setelah Val kembali ke Jakarta. Saat itu Val sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama sebagai seorang kepala sebuah divisi. Dia juga tengah merintis karirnya sebagai seorang foto model dan aktor di waktu luangnya.
Val bukan tidak mau menemui Kay untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dia sebenarnya sudah berusaha menghubungi nomor telepon rumah Kay. Tapi ternyata Kay dan keluarganya sudah pindah dari rumah itu. Teman-temannya juga tidak ada yang mengetahui keberadaan Kay karena gadis itu sangat tertutup. Mereka hanya mengetahui kondisi Kay yang berubah dari postingan-postingan yang ditulis Kay di sosial medianya. Beberapa orang teman yang berteman dengannya di sosial media sempat menunjukkan kepadanya status-status yang ditulis oleh Kay. Val melihat ada kesedihan dan kemarahan yang sedang menyelimuti jiwa Kay melalui tulisan-tulisannya. Akan tetapi Val tidak tahu apakah itu kondisi nyata atau hanya cerpen semata. Sebab, Val sangat tahu pasti bakat menulis Kay. Gadis itu sangat gemar menulis cerpen.
Oleh sebab itu, Val tidak mau terpancing dengan cerita teman-temannya. Dia tidak akan percaya cerita mereka sebelum melihat langsung kondisi Kay, sahabat yang sangat disayanginya. Ia memilih percaya bakat Kay semakin terasah dan tajam sehingga dia bisa mempermainkan emosi teman-temannya hanya melalui tulisan saja.
Namun jauh di lubuk hatinya, Val berharap bisa bertemu kembali dengan Kay. Dia sangat merindukan sahabatnya. Sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan sahabatnya yang selalu bersikap manja kepadanya itu.
Val memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sebuah kantor majalah. Setelah itu dia lalu mengambil koper berukuran sedang dari bagasi mobil dan kemudian bergegas masuk ke dalam lobby kantor.
Sesampainya di lobby, Val disambut oleh beberapa orang yang kelihatan sudah mengenalnya dengan akrab. Mereka pun berjalan bersama-sama menuju sebuah ruangan. Di ruangan yang telah disetting background untuk pemotretan berlatar belakang suasana pantai, ada 2 orang fotografer dan beberapa orang crew yang sudah menunggu kedatangan Val. Mereka menyambut kedatangan Val. Tak lama kemudian, Val bersiap-siap melakukan sesi pemotretan.
Sesi pemotretan selesai beberapa jam kemudian. Semua orang tersenyum puas melihat hasilnya. Usai berbincang-bincang sebentar dengan seorang fotografer, Val pun pamit pulang.
Val mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi namun masih bisa berhati-hati dengan kondisi lalu lintas di jalan yang dilalui. Dia memang harus segera pulang ke rumah dan beristirahat agar besok pagi agar bisa fresh kembali. Sebagai seorang pekerja kantoran yang merangkap bekerja sebagai model dan aktor, jadwal laki-laki berusia 33 tahun itu memang sangat padat. Untuk menjaga kesehatan fisiknya, dia bisa dibilang sangat disiplin dalam menjalani kehidupannya dan juga mengatur waktunya. Tidak heran jika sampai saat ini ia dapat terus mendulang kesuksesan dalam karirnya.