Davira sebenarnya terkejut, namun untuk menghilangkan rasa gugupnya dia malah tertawa.
“Tadi kamu ngomong apa?” Tanya Steve sambil mendekap Davira agar dia tidak lari.
“Aku cuma bingung, kenapa sampai sekarang Om belum nikah?” Tanya Davira masih dipangkuan Steve dia lalu menatap wajah Steve.
“Om itu tampan, kaya jadi gak mungkin gak ada yang suka sama Om. Aku aja suka sama Om cuma aku kan bukan selera Om, sampai seusia sekarang aja Om belum ada pendamping,” ujar Davira dengan wajah serius sementara Steve hanya terkekeh.
“Karena gak ada yang cocok, Om punya kriteria sendiri,” Steve sambil menatap Davira.
“Memangnya botol sama tutupnya mesti cocok, yang pasti aku bukan selera Om,” ujar Davira sambil melingkarkan tangannya di leher Steve.
“Sok tau? Kamu tuh suka banget menduga-duga sendiri, sampai akhirnya malah dapet pacar gak jelas,” ujar Steve sambil tidak melepaskan pelukannya.
“Lah yang akhirnya aku pacaran sama Roland b******k itu kan Om. Coba kalau Om gak nolak waktu ajak nikah, gak bakalan aku pacaran ama cowok b******k modelan Roland, eh udah punya pacar malah gak boleh pacaran, kan nyebelin, ya walaupun akhirnya Davira ngerti sih kenapa Om ngelarang aku pacaran sama si b******k itu,” ujar Davira sambil melipat kedua tangannya di d**a.
Davira ingat pertengkarannya dengan Steve ketika Steve melarangnya pacaran dengan Roland awal permusuhannya dengan Steve, Davira tidak habis pikir karena Steve melarangnya pacaran dengan Roland sedangkan permintaannya untuk menikahinya ditolak oleh Steve.
“Kamu harus kuliah yang baru kalau perlu sampai S3 jangan memikirkan pacaran apalagi menikah,” ucap Steve kala itu.
“Tapi aku tidak mau menjadi perawan tua, aku tidak mau mati dalam kondisi kesepian, aku bukan Om yang memilih sampai tua hidup sendiri,” ujar Davira kala itu sambil masuk kedalam kamar dan sejak saat itu juga perang dingin dirinya dengan Steve dimulai. Namun jika mengingatnya Davira justru sangat menyesal sudah berlaku kasar dengan orang yang sudah menjaga dan mengurusnya sejak ia masih kecil.
Dan ironisnya apa yang dikatakan Steve semua benar pria yang diharapkan bisa hidup menua bersama ternyata seorang pecundang.
Tapi hebatnya Steve pemberontakan Davira bukan menjadi dirinya merasa menyesal telah mengurusnya dari kecil ia tetap menjaga dan mengawasi Davira dengan menggunakan perantara orang bayarannya.
Steve terkekeh mendengarnya perkataan Davira.
“Kau tidak tahu mengapa sampai saat ini aku melajang?” Pertanyaan ambigu yang membuat Davira hanya terdiam.
Davira memandang Steve dia seperti mencari jawaban, jika Steve pernah disakiti wanita mungkin Davira bisa maklum masalahnya Steve tidak pernah sekalipun terlihat memiliki kekasih.
Akhirnya Davira menyerah dia tidak bisa menebak, jika karena menjaga dirinya bukankah sekarang dia sudah kuliah dan bisa menjaga diri walaupun dalam urusan masalah mencari pacar tetap saja Davira payah.
“Aku tidak tahu, karena waktu Om menolak keinginanku untuk menikah denganmu, Om malah menolaknya,” ujar Davira sambil memainkan kancing baju Steve.
“Hahaha kapan aku menolakmu? yang aku ingat aku mengatakan padamu untuk belajar yang betul agar kau bisa masuk perguruan tinggi sesuai dengan keinginan kau, apakah disitu ada kata-kata aku menolakmu,” Tanya Steve menatap dalam ke arah Davira lalu membetulkan anak rambut Davira yang jatuh ke wajahnya.
“Iya juga sih, tapi pertanyaannya bukan itu Om,” ujar Davira cemberut.
“Kenapa aku belum menikah? Itu kan pertanyaanmu?” ujar Steve yang dijawab dengan anggukan kepala Oleh Davira
“Karena aku sudah berjanji pada ayahmu, kalau aku akan menjagamu dengan baik, sampai kau dewasa dan mandiri, jika memang ada pria yang bisa menjagamu dengan baik, mencintaimu dengan tulus baru aku akan melepasmu,” ujar Steve dengan wajah serius.
“Kalau orang yang seperti itu tidak aku dapatkan, apakah aku akan menjadi perawan tua dan Om mati kesepian?” Tanya Davira tidak kalah serius.
“Tapi kalau aku menikah sekarang dan perempuan itu ternyata tidak sayang padamu bagaimana? Lebih baik Om yang mengalah toh Om masih punya kamu,” ujar Steve dengan wajah serius. Davira terdiam pertanyaan selama ini yang ada dipikirannya akhirnya terjawab.
“Kalau begitu aku tidak akan pernah meninggalkan Om dan aku tidak akan mencari pria lain, aku sudah cukup memiliki Om di dunia ini dan kita akan menua bersama tanpa ada yang kesepian,” ujar Davira memeluk Steve membuat pria itu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Davira.
“Tidak seperti itu juga maksudnya Davira?” Ujar Steve bingung harus berkata apa lagi.
“Terserah Om mau bilang apa tapi itu sudah jadi keputusan Vira,” ujar Davira berdiri dari pangkuannya.
Baru saja Steve mau menjawab perkataan Davira tiba-tiba saja pintu ruangannya kerjanya diketuk.
“Masuk,” ujar Steve bersamaan dengan Davira.
“Ada apa Sam?” Tanya Steve karena dia merasa tidak memanggil Sam.
“ Maaf Pak tamunya sudah di ruangan rapat,” ujar Sam.
“ Oh iya aku hampir saja lupa, Baiklah aku akan kesana, kau sudah siapkan materi rapat hari ini?” Tanya Steve walaupun dia tahu hal itu tidak perlu ditanyakan Sam pasti sudah menyiapkan segalanya.
“Sudah Pak ini saya sudah bawa,” ujar Sam sambil menunjukan laptop dan satu map Plastik berisi dokumen dan catatan penting tentang proyek yang akan mereka bahas.
“Bagus kalau begitu. Vira aku tinggal sebentar jangan kemana-mana,” ujar Steven yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Davira.
“Satu lagi jangan sentuh laptopku, disitu banyak data penting tentang perusahaan,” ujar Steve, mengingatkan Davira selalu ceroboh.
“Ia bawel, tapi kalau tab ini boleh aku pinjam?” Ujar Davira sambil menunjuk benda pipih yang berada di atas meja kerja Steve.
“Ya boleh, ingat jangan kemana-mana, aku tidak lama,” ujar Steve kemudian dia benar-benar meninggalkan Davira diruang kejanya.
10 menit berlalu Davira mulai merasa jenuh
“Ehm ngapain ya, bosan juga ternyata sendirian,” ujarnya mulai mondar mandir di ruangan Steve, ia lalu membuka lemari pendingin dan mengambil minuman cola lalu membukanya.
“Ah bosan tapi aku mengantuk,” ujar Davira, ia lalu memasuki ruangan yang berada di belakang meja kerja Steve.
"Ruangan ini masih sama seperti dulu," ujarnya tersenyum.
“Tidur disini sajalah,” ujarnya sambil membuka sofa bed dan mengambil bantal yang ada di lemari di ruangan tersebut.
Tak lama Davira terlelap.