Bab 6

1235 Words
Sepanjang perjalanan kantor Davira bercerita banyak tentang kampusnya juga rasa tak enak hati dan malu enak dirinya pada Dua sahabat Sma yaitu Raisa dan juga Eva karena sudah mengabaikan bahkan tak percaya ketika mereka menyampaikan rasa curiga tentang hubungan Roland dan Silvia . “Kalau mereka sahabat sejati pasti akan memaafkan dan memaklumi dirimu, lagi pula dengan mereka yang berusaha memberitahu kecurigaan tentang hubungan mantanmu itu saja, seharusnya sudah bisa menjelaskan kalau mereka menyayangimu, coba kamu dekati mereka lalu minta maaf karena kamu sudah mengabaikan dan berburuk sangka pada mereka, Om rasa mereka akan mengerti kalau mereka sahabat sejati,” ujar Steve memberi pandangan. “Ia juga sih Om, baiklah aku akan meminta maaf karena memang aku yang bodoh tidak bisa melihat mana yang tulus dan tidak,” ujarnya sambil menunduk. “Tapi kalau misalnya mereka tidak mau memaafkanmu, kamu harus berlapang d**a karena memang kamu yang salah,” ujar Steve memberi masukan kemungkinan terburuk yang terjadi. “Iya Om,” jawabnya terlihat sedih. Steve lalu merangkul Davira dan memeluknya. “Mereka bukan aku yang akan memaafkanmu sebesar apapun itu Vira, tapi jika mereka mau memaafkanmu jangan pernah abaikan lagi persahabatan yang kalian punya,” Steve lalu mengecup pucuk kepala Davira, yang menjadikan kekuatan untuk Davira untuk saat ini. Akhirnya mereka pun sampai, dari turun di lobi hingga masuk kedalam gedung besar yang merupakan kantor pusat itu membuat beberapa mata memandang ke arah mereka apalagi sepanjang jalan Steve menggenggam tangan Davira dengan Erat. Suara bisik-bisik mulai terdengar, ada yang mengagumi ada yang berbisik tak suka membuat kehebohan lobi kantor yang ramai dengan para karyawan yang baru datang. “Itu pacarnya Pak Steve? Sangat muda sekali. Aku pikir pak steve itu pacaran dengan ibu Saskia, walaupun ibu Saskia janda tapi dia cantik dan dewasa,” ujar salah satu pegawai di depan toilet karena sedang mengantri. “Atau Pak Steve lebih suka gadis muda dari perempuan matang,” ujar perempuan yang satunya lagi. “Tapi kasian Bu Saskia,” ujar yang satunya lagi. “Kasihan kenapa?” Tanya yang lain bersamaan karena penasaran “Ya… diberi harapan palsu oleh Pak Steve,” “Mh… gosip saja kerja sana jam berapa ini,” ujar seorang yang ternyata direktur Hrd. “Eh Bapak,” ujar mereka terkejut lalu mereka membubarkan diri padahal mereka berniat untuk touch up agar kelihatan fresh setelah tadi menggunakan kendaraan umum menuju kantor. Mereka membubarkan diri dengan segera terlihat ketakutan apalagi mereka tau Bastian adalah salah satu teman dekat Steve dan orang kepercayaan bos mereka. “Sempat-sempatnya mereka merumpi di jam kerja,” ujar Bastian sambil bertolak pinggang. “Memangnya siapa sih yang dibawa Steve, tumben bawa cewek ke kantor, penasaran gue,” Bastian lalu berjalan menuju ruangan Steve. “Pagi Bos,” ujarnya membuat Davira yang sedang berbaring di sofa sambil bermain ponsel terbangun dan langsung duduk. “Eh sorry, aku pikir tidak ada tamu,” ujarnya sambil melihat ke Davira. “Eh gue kok kaya kenal ama nih cewek,” pikirnya dalam hati. “Kebiasaan, kalau masuk keruangan orang langsung nyelonong. Ketuk dulu!” ujar Steve sambil melotot, untung saja Davira menutup bawah kakinya dengan jas milik Steve. “Sorry bos, gue pikir gak ada tamu soalnya lu kan gak pernah bawa orang kedalam ruangan, apalagi cewek,” ujar sambil berbisik. “Dia keponakanku Davira, apa kau sudah lupa. Sejak kapan aku bawa cewek ke kantor,” ujarnya terdengar tidak suka dengan perkataan Bastian. “Hah Davira? maksudmu anaknya mas Bram, serius bukankah dia masih kecil?” Ujarnya dengan nada tidak percaya. “Aku dikasih makan Om. Dan umurku juga sudah mau dua puluh dua tahun, om saja yang awet tua,” ujar Davira yang membuat Steve terkekeh “Ya ampun kau sudah besar ternyata, cantik lagi,”ujarnya tidak menghiraukan perkataan Davira. “Kan sudah aku bilang, aku dikasih makan oleh Om ku yang paling baik dan tampan ini,” ujar Davira menghampiri Steve yang sedang duduk di bangku kerjanya. “Kau juga tidak hanya tambah besar, tapi tambah cantik dan tubuhmu sangat seksi sekarang. Apa kau sudah punya pacar?” Tanya Bastian yang membuat Wajah Davira langsung cemberut. “Dia sudah putus, karena kekasihnya memilih kantong kresek dari pada tas bottega,” ujar Steve yang membuat Bastian langsung tertawa terbahak~bahak. “Bagaimana kalau Om kenalkan dengan teman Om yang masih muda, jangan sampai kau menjadi bujang lapuk seperti Om mu itu,” ujarnya berkata seolah Steve tidak ada disana. “Sembarangan bujang lapuk, aku lebih baik sendiri daripada sepertimu yang hobi menyakiti anak orang,” ujar Steve sarkasme karena Bastian sudah dua kali bercerai,alasannya tidak ada kecocokan antara mereka. “Loh kalau sudah tidak cocok mengapa harus dipaksakan,” ujarnya membela diri. “Kau pikir hidup ini seperti botol dan tutupnya, kau saja yang egois tidak mau menyesuaikan diri dengan istrimu, makanya kalau pacaran jangan cari enaknya saja, bicarakan dulu misi dan visi hidup kalian baru melangkah ke jenjang yang lebih pasti, kalau tidak ketemu juga jalan yang sama kalian bisa berpisah dengan baik, buka sudah menikah karena dengan alasan tidak cocok, kau pilih cerai padahal kau yang egois,” ujar Steve panjang lebar. “Jadi Om Bas sudah berapa kali bercerai?” Tanya Davira penasaran. “Dua kali, dan sepertinya akan jadi yang ketika karena dia mulai mengeluh dengan istrinya yang katanya kebiasaannya tidak sesuai dengan dirinya,” ujar Steve melirik kearah Bastian yang malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena apa yang dikatakan oleh Steve benar adanya. “Semoga aku gak ketemu pria macam Om Bastian,” ujar Davira dengan wajah serius. “Hahaha, kalau sampai kamu jatuh cinta dengan orang macam dia, Om pastikan kamu akan Om kurung dalam rumah,” ujar Steve pura-pura mengancam. “Ah itu sih alasan dia aja biar selalu dekat dengan kamu Vira, apalagi kau sekarang sangat cantik,” ujar Bastian yang membuat Steve melotot dan hendak melempar buku tebal kearahnya membuat Bastian kabur sambil tertawa sebelum kepalanya benjol. “Kalau kau amat menyayanginya lebih baik kau nikahi saja,” ujar Bastian sambil menjulurkan kepalanya dari pintu lalu tertawa puas. Sementara Davira tersenyum senang. “Jangan kau dengar Omongan,” ujar Steve lalu kembali duduk. Wajah Davira terlihat kesal mendengar perkataan Steve padahal sebenarnya dia senang mendengar candaan tersebut tapi sepertinya Steve tidak suka dengan lelucon Bastian “Sepertinya aku memang bukan tipenya,” ujar Davira dalam hati lalu ia berjalan kembali ke sofa sementara Steve menyunggingkan senyumnya yang hampir tidak terlihat. “Om,” panggil Davira memecah keheningan diantara mereka. “Mmm.” Jawabnya seperti orang bergumam. “Memangnya benar Om Bastian mau cerai lagi?” Tanya Davira yang memulai pembicaraan. “Semoga saja tidak, karena sampai kapanpun dia mencari wanita yang sempurna seperti yang dia inginkan sama saja mencari jarum jatuh di tumpukan jerami, lagi pula mana ada manusia yang sempurna,” jawabnya tanpa memalingkan wajahnya dari laptop yang ada di depannya. “Yang satu udah nikah sibuk mikirin cerai, sementara yang satu laku saja belum,” gumam Davira namun terdengar oleh Steve. “Kamu bilang apa tadi?” Tanya Steve membuat Davira tersenyum lalu menggelengkan kepala. “Sini?” Panggil Steve sambil melambaikan tangannya agar Davira mendekat tapi dia sudah hafal kebiasaannya Steve jika dia meledeknya, Steve pasti akan mengelitiknya sampai dia minta ampun. “Gak mau,” ujarnya sambil memeletkan lidahnya. “Berani ya kamu meledek aku,” Steve mendekat kearah Davira gadis itu bersiap berdiri namun Steve lebih cepat dan berhasil meraih tangannya sehingga Davira jatuh dalam pangkuannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD