Steve keluar dari kamarnya pagi ini dia seperti biasa bersiap untuk berangkat ke kantor, celana abu dan kemeja tangan panjang berwarna hitam, bentuk tubuhnya yang bagus membuat pakaian yang ia pakai terlihat semakin mahal dan sempurna ditubuhnya.
“Pagi Tuan, mau kopi atau teh?” Tanya Rukmi mendekat kearah Steve yang sudah duduk di kursi makan.
“Kopi boleh Mbok, sepertinya tidurku terlalu lelap sehingga ketika terbangun aku masih agak mengantuk,” ujarnya sambil membuka tabletnya, seperti biasa dia akan membaca berita terbaru terutama dunia ekonomi dan politik tapi tentu saja dari laman terpercaya.
“Pagi Om?” Sapa Davira sambil mengecup pipi Steve dari belakang.
Hal itu membuat Steve terdiam sesaat karena terkejut.
“Kaget ya Om, abis Vira dah lama gak ngelakuin ini sama Om. Vira minta maaf ya Om sudah mengacuhkan Om. Padahal Om sudah membesarkan Vira dengan baik,” ucapnya sambil memeluk Steve yang sedang duduk dari belakang.
“Iya gak apa-apa Om sudah lupakan, hanya kalau begini biasanya kamu ada maunya,” ujar Steve membuat Davira tertawa lalu melepaskan pelukannya dan menarik kursi di samping Steve untuk dia duduki.
“Tau aja Om,” ujarnya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi.
“Jadi kamu mau apa?” Tanya Steve tanpa merubah posisi duduknya sambil memakan sepotong sandwich yang di temani secangkir kopi hangat buatan Rukmi.
“Aku mau minta tolong untuk membalikan nama motor yang aku beli untuk Roland ke namaku, aku gak ikhlas,” ujarnya sambil terus menatap Steve yang sedang menikmati kopi hangatnya.
“Kenapa gak kamu ikhlaskan saja?” Tanya Steve dengan santai.
“Ih enak aja, gak lah itu bukan motor murah yang harganya under 50 juta,” ujar Davira dengan nada tinggi hal itu membuat Steve memandang wajah Davira dengan wajah terlihat tidak suka.
“Kamu beli barang semahal itu dan tidak bilang sama om, apa kamu mau aku stop dana bulanan kamu? Biar kamu tahu bagaimana orang diluar sana sulit
mencari uang, sementara kamu dengan mudahnya memberi orang seperti itu barang mewah, tanpa mendiskusikan dulu dengan Om?” Ujar Steve dengan nada tegas.
Wajah Steve tampak kesal karena bisa-bisanya Davira membelikan Roland motor mahal padahal status mereka hanya pacaran.
Mendengar perkataan Steve, Davira hanya bisa menggaruk kepalanya. Selama ini dia memang sudah terlalu memanjakan Roland, mulai dari biaya kuliah yang alasannya nanti diganti jika sudah di transfer orang tuannya sementara Roland sendiri tidak pernah terlihat berangkat ke kampus untuk mengurus tugas akhirnya padahal dia sudah di semester sepuluh. Davira juga yang membayar tempat kost mewah yang ditempat oleh Roland tiap bulan dengan nilai nominal yang lumayan besar, ditambah setiap makan selalu Davira yang membayar termasuk barang-barang mewah mulai dari tas, sepatu sampai dengan handphone yang digunakan Roland.
“Berapa harga motor yang kamu beli?” tanya Steve lagi karena Davira tampaknya bingung untuk menjawab. Davira mengangkat tiga jarinya dan menunjukan kearah Steve yang hanya bisa menarik nafas sambil menggelengkan kepalanya.
“Bpkbnya dimana?” Tanya Steve melunak, jika sudah melihat wajah Davira memelas ia pasti tidak tega, namun dia tetap berusaha untuk tidak menunjukan itu.
“Ada di aku, bersama surat jual belinya juga,kuncinya juga aku sudah ambil,” ujar Davira menjelaskan.
“Bawa semua kemari, biar nanti Vino yang membereskan semuanya,” ujar Steve membuat Davira tersenyum dan kembali memeluk Steve.
“Terima kasih om sayang, muach,” Davira mengecup pipi Steve dengan gemas, lalu berlari menuju kamarnya untuk mengambil dokumen yang diminta.
“Pagi Mas, ada yang bisa saya bantu?” Vino menghampiri Steve lalu berdiri disampingnya. Rupanya Steve mengirim pesan pada Vino untuk menemuinya mengurus masalah Davira.
“Vira sudah membeli motor seharga 300 juta dan bodohnya dia, nama di bpkb adalah pria itu, dan dia menyesal setelah mengetahui kebodohannya. Tolong bantu dia untuk membalik nama motor itu atas namanya. Minta tolong inspektur Haris untuk mengurusnya,” ujar Steve menjelaskan.
“Baik , mana dokumennya Mas. Aku akan mengurus segera,” jawab Vino yang memang selalu bekerja cepat tanpa menunda-nunda setiap perintah Steve.
“Vira sedang mengambilnya, duduklah,” pintanya.
Tak lama Davira keluar dari kamarnya lalu menuruni anak tangga dengan membawa sebuah map berwarna putih.
“Ini kunci dan dokumennya Om,” ujar Davira sambil menyerahkan map yang tadi dia bawa dari kamarnya.
“Baiklah, berikan pada Vino dia yang akan mengurusnya,” ujar Steve lalu Vino mengambil dokumen yang diberikan Davira padanya lalu memeriksa isinya.
“Kalau begitu saya permisi dulu Mas, Nona,” ujarnya sopan.
“Om Vino tolong sekalian tarik juga motornya, aku tidak mau dia memakainya apalagi sambil membonceng l***e itu,” ujarnya dengan wajah kesal.
“Siap Nona! minggu ini diusahakan motornya sudah ada ditangan Non Davira,” ujar Vino memastikan.
“Jual saja, siapa juga yang mau memakainya,” pinta Davira dengan nada ketus.
“Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu,” pamit Vino lalu ia meninggalkan Steve dan Davira.
“Om harap ini jadi pelajaran berharga untukmu,” ujar Steve sambil menatap kearah Davira.
“Iya Om,” jawabnya sambil menunduk. Steve tak tega melihat ia berpikir kalau Davira pasti sedang patah hati, tapi dia malah memarahinya.
“Sini,” Steve merangkul tubuh Davira lalu memeluknya seperti dulu jika dia sedang bersedih.
“Om tidak melarangmu memiliki teman ataupun teman spesial, tapi kamu harus tahu latar belakang kehidupannya, Om tidak keberatan jika dia dari kalangan biasa selama dia orang baik-baik dan tidak hanya berniat mengambil keuntungan darimu, yang penting dia menyayangimu dengan tulus,” ujarnya sambil membelai punggung Davira lalu mengecup ujung kepalanya.
“Om, kenapa sih di dunia ini aku sulit menemukan teman yang tulus berteman denganku, mereka selalu melihat aku karena aku memiliki harta, bukan tulus ingin berteman denganku?” Ujarnya sambil menatap ke arah Steve, membuat Steve terkekeh mendengarnya.
“Mungkin sulit sayang menemukan teman yang baik dan tulus, tapi Om yakin ada. Cobalah berteman dengan orang sekitarnya tanpa kau harus mentraktirnya tiap hari, pasti ada. Jangan pernah selalu ingin jadi bos, apa-apa kau yang bayar. Berteman sewajarnya. Kalau mau traktir sekali-kali saja. Kalau ada yang bilang kau pelit itu tandanya dia tidak tulus ingin berteman denganmu orang-orang seperti itu biasanya hanya orang-orang yang ingin memanfaatkanmu,” ujar Steve mempererat pelukannya dan Davira membalasnya, tempat paling nyaman memang hanya Steve untuknya.
“Om sekarang mau kemana?” Tanya Davira karena melihat sudah bersiap hendak pergi.
“Ke Kantor, kamu lupa ini hari kerja?” Ujar Steve sambil menjawil hidung Davira.
“Om, aku ikut ke kantor ya?” Pintanya sambil mengedip-ngedipkan matanya, membuat Steve tertawa.
“Tumben kamu mau ikut ke kantor?” Tanya sambil menatap Davira dengan tatapan sayang.
“Kenapa? Gak boleh apa Om takut pacar Om datang ke kantor dan aku mengganggunya?” Tanya Davira mulai merajuk.
“Hahaha… kau ini lucu, kantor itu untuk bekerja bukan untuk pacaran, lagian siapa yang punya pacar?” Ucap Steve gemas, ia lalu menjawil pipi Davira.
“Lalu kenapa aku gak boleh ikut?” Tanya menatap Steve dengan wajah senang.
“Yang bilang gak boleh siapa, Om hanya tanya, tumben kamu mau ikut?” Tanya Steve menegaskan perkataannya.
“Aku mau cari bahan Skripsi soalnya seharusnya dari akhir semester kemarin aku harus menyerahkan judul, cuma belum-belum aja,” jawabnya sambil memainkan kancing kemeja Steve. Steve menarik nafas panjang, ada senyum di sudut bibirnya.
“Ya sudah kalau begitu, ayo siap-siap,” ujarnya menyuruh Davira untuk berdandan.
“Siap Om,” ucapnya sambil berdiri dari kursi lalu mengecup pipi Steve dan berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Sementara itu Rukmi tersenyum melihatnya, karena Steve akhirnya kembali bisa mengendalikan Davira dengan baik, karena hampir setahun lebih Davira seperti memusuhi Steve hanya karena pria tak tahu diuntung yang bernama Roland.