Bab 4

1234 Words
Jam menunjukan pukul tujuh malam, sebuah mobil sedan mewah masuk kedalam rumah besar yang ditempati oleh Davira, seorang pria tampan turun dari kursi penumpang, dia tampak lelah seharian mengurus perusahan berikut cabang perusahaan di daerah lainnya. Perusahaan yang berkembang pesat dan semua itu dilakukan oleh Steve demi janjinya pada sang kakak sambungnya, Benny yang telah membesarkan dan menjadikannya seorang pria yang sukses. Walaupun pada saat ini sang Kakak tidak melihat keberhasilannya secara langsung namun dia percaya di surga sana pasti Benny tersenyum melihatnya, walaupun ada beban berat yaitu Davira yang sepertinya saat ini sulit dikendalikan, dia sangat khawatir kalau putri kakaknya itu akan salah melangkah, namun sebagai orang yang dipercaya menjadi walinya Steve tidak bisa memaksakan kehendak dia khawatir Davira akan semangkin menjauh apalagi usia davira sudah lebih dari 21 tahun, jadi saat ini dia hanya bisa mengawasi Davira melalui orang kepercayaannya “Sepertinya tuan sudah pulang?” Rukmi menghampiri Steve yang baru saja masuk kedalam rumah. “Malam tuan, mau Mbok siapkan kopi atau teh Tuan?” Tanyanya dengan sopan. “Teh saja Mbok, saya ingin istirahat kalau kopi nanti saya malah tidak bisa tidur,” jawab Steve ramah. “Baiklah, tadi sore si sumi buat Nagasari kesukaan Tuan, mau saya suguhkan juga Tuan?” Tanyanya lagi. “Wah boleh tuh Mbok, berarti teh nya jangan dikasih gula ya,” ujarnya sambil duduk di sofa ruang tengah dan melepas dasi yang masih melekat di lehernya. “Baik Tuan,” Rukmi hendak berlalu namun dia membatalkan langkahnya. “Ada apa Mbok?” Tanya Steve sambil melihat arah mata Mbok Rukmi yang menatap kamar Davira di lantai dua. “Non Vira sudah pulang dari jam 1 siang tadi Tuan, tapi sepertinya dia habis menangis,” ujar Rukmi setengah berbisik khawatir yang dibicarakan mendengar. “Oya?” Steve pura-pura terkejut, karena orang suruhannya untuk mengawasi Davira sudah menceritakan walaupun dia tidak tau kronologis sebenarnya yang terjadi, yang pasti Davira sempat ribut karena mengetahui perselingkuhan Roland dengan sahabatnya yang bernama Silvia, orang suruhannya itu ditempatkan di kosan yang sama dengan Roland namun berada di lantai bawah, sehingga dia tidak bisa mengetahui secara jelas apa yang terjadi ditambah ketika keributan terjadi pintu kamar Roland kemudian ditutup. “Ya dan dari tadi Nona belum makan Tuan, saya mau membangunkannya tidak enak hati,” ujar Rukmi lagi. “Jadi maksud Mbok saya disuruh memeriksa keadaan Davira? Saya rasa dia akan baik-baik saja, mungkin sedih tapi paling satu dua hari,” ujar Steve santai. “Masalah dia belum makan Tuan, Mbok khawatir maag nya kambuh,” dengan wajah terlihat khawatir Rukmi menatap ke arah Steve. “Baiklah aku akan ke kamarnya,” ujar Steve mengalah, lalu ia berjalan menaiki anak tangga karena kamar tidur Davira ada di lantai dua. Perlahan Steve mengetuk pintu kamar Davira namun tidak ada jawaban, kamarnya gelap entah mengapa tiba-tiba saja dia memiliki pikiran buruk. Steve terlihat panik, tapi ia kemudian menarik nafasnya panjang, ia berusaha menghilangkan pikiran buruknya kemudian perlahan mengetuk pintu kamar itu. “Davira buka pintunya,” suara Steve terdengar sampai ke bawah namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Davira. “Davira, kalau kau tidak menjawab aku akan mendobrak kamarmu,” ujar Steve, namun ketika Steve memegang handle pintu kamar Davira ternyata tidak terkunci. Steve membuka perlahan tampak sepi dan gelap hanya cahaya dari jendela yang menyinari wajah Davira yang tampaknya tertidur pulas sambil memeluk foto kecil dirinya bersama Steve. Steve menarik nafas panjang lalu berjongkok di dekat Davira menatap wajah cantik gadis kecil yang sekarang sudah tumbuh dewasa. “Tuan?” Vino memanggil Steve. “Nyalakan lampunya, dia tidur seperti orang mati,” ujar Steve sambil berdiri dan bertolak pinggang. “Baik Tuan,” Vino lalu menyalakan lampung, hanya kamar Davira yang tidak disetting otomatis karena dia tidak menginginkannya jadi walau lampu ruangan dan halaman sudah menyala karena hari sudah senja, hanya kamar Davira yang masih mati lampunya kecuali dinyalakan oleh pemilik kamar. “Nona tidak apa-apa Tuan?” Tanya Rukmi yang sudah ikut berdiri didepan pintu kamar Davira. “Tidak, kembali saja kalian ke tempat masing-masing biar dia aku yang urus,” ujar Steve tersenyum jahil, Vino dan Rukmi kembali ke tempat mereka masing-masing tapi Steve malah kekamar mandi yang ada di kamar Davira lalu membasahi tangannya. “Sepertinya hanya dengan ini dia bangun,” Steve kembali mendekati Davira. “Bangun Vira kau seperti orang mati kalau tidur,” ujar Steve sambil mengusap wajah Davira dengan tangan basahnya. “Ach apa ini. Kau kurang…” Davira menggantungkan ucapannya setelah sadar siapa yang melakukannya. “Aku pikir kalau punya pacar tidurnya tidak akan seperti orang mati, ternyata sama saja. Bagaimana kalau sampai terjadi pelecehan karena kau tidur seperti orang mati,” ledek Steve membuat Davira memanyunkan bibirnya. “Aku sudah putus, puas kan Om sekarang karena doanya terkabul?” Omel Davira malah menyalahkan Steve dengan masalah yang tidak ada hubungannya dengan diri. “Lha putus kok malah nyalain Om, enak aja pacar kamu aja kali yang b******k,” ujar Steve pura-pura tidak tahu masalahnya. “Makanya sebelum punya pacar itu cek dulu bener gak nih orang, apa motivasinya dapetin kamu, bukan cuma percaya satu orang doang,” ujar Steve menambahkan. “Trus Om kenapa gak suka sama itu cecunguk?” Ujar Davira penasaran. “Filling lha. Om ini laki laki bisa tahu mana lelaki b******k dan mana yang gak,” ujarnya berdusta. “Bohong pasti ada alasan yang lain,” ujar Davira sambil duduk dipinggir kasur. “Nah kamu tahu itu kenapa harus keras kepala? Dia itu harusnya sudah lulus tahun kemarin tapi tampaknya dia lebih suka jadi mahasiswa abadi apalagi mendapat fasilitas bagus dari kamu, iya kan?” Perkataan Steve membuat Davira diam. “Orang itu seharusnya kalau diberi fasilitas dimanfaatkan sebaik mungkin bukan keenakan, numpang hidup jadinya. Om rasa dia akan terus mengejar dirimu, mungkin saja dia akan berlutut memohon kamu kembali, tapi bukan karena cinta tapi karena harta. Apalagi dia sangat tahu kalau kamu sangat mencintainya, bahkan omongan orang yang sudah bertahun-tahun hidup bersamamu tidak kau dengarkan nasehatnya,” ujar Steve lagi menyindir secara halus membuat Davira hanya tersenyum kecut. “Sudah sana mandi, kita makan malam diluar. Anggap saja ini sebagai tanda syukur Om karena anak hilang sudah kembali,” ujar Steve sambil membelai kepala Davira, Davira menoleh ke arahnya lalu tersenyum dan berdiri. “Maafin Davira ya Om, karena sudah tidak mendengarkan perkataan Om,” ujarnya sambil memeluk Steve dengan erat, hal sudah lama tidak Davira lakukan terutama sejak lulus SMA. Hal itu menimbulkan getaran aneh dalam d**a Steve, namun Steve tidak paham semua itu, dia berpikir kalau hal itu hanya karena Davira sudah lama tidak memeluknya. Steve terdiam membuat Davira terlihat bingung “Kok om diam, apa Om masih marah pada Vira?” Tanyanya tanpa melepas pelukannya “Om maafin Vira kan?” ucapnya sambil menatap Steve. “Gak marah kok sayang, Om cuma lagi mikir aja, apa makanan favorit kamu sudah berubah?” ujarnya sambil tersenyum dan membalikkan tubuhnya kemudian memeluk Davira. “Gak lah Om, masih sama kok, aku masih suka makanan western or chinese food,” ujarnya tersenyum sambil memperlihatkan barisan giginya yang rapi. “Syukur lah kalau begitu, sekarang kamu mandi, jangan lama,” ujar Steve mengurai pelukannya. “Siap komandan,” kemudian berlari kedalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Steve tersenyum melihatnya, dia merasa lega akhirnya anak hilang telah kembali. Steve mengambil foto dirinya dan Davira diatas kasur lalu kembali meletakkan foto tersebut diatas nakas dekat tempat tidur Davira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD