True Love 5

1444 Words
Tubuh dingin, dan lemas Rei sudah terbaring di atas karpet lebar di ruang tamu kediamannya, lengkap dengan kain panjang coklat bermotif batik yang menutupi seluruh tubuhnya, dan di kelilingi oleh para pelayat yang sebagian dari mereka sedang melantunkan ayat Suci Al-Qur'an. Tepat di sampingnya terduduk seorang wanita cantik dengan raut wajah pucat, serta mata yang sembab dengan mengenakan pakaian serba putih dan kepala yang tertutup hijab putih. Pandangan wanita itu menatap hampa kepada tubuh sang suami yang sudah tertutup kain batik itu, rasanya air mata di kedua sudut matanya tidak bisa di hentikan agar tidak terus keluar. Dua lengan wanita paruh baya merangkul bahu sang wanita, lalu menuntun kepalanya agar bersandar pada dad-anya, dan satu tangannya mengelus lembut lengan sang wanita dengan baju serba putih itu. "Sudah nak, ikhlaskan suamimu, ini sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa" ucap sendu Rosalind ibunda Keysa, wanita yang berada dalam dekapannya. Keysa memejamkan matanya, dengan dahi yang berkerut juga air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya. Tidak lama, terdengar suara anak kecil memanggilnya. "Mama" panggil Keenan yang berada pada gendongan Bela. Keysa dan Rosa pun menatap kepada asal suara, sebelumnya Keysa lebih dahulu menghapus jejak air mata di pipinya. "Sayang, sudah bangun nak?" Tanya Keysa dengan memaksakan seulas senyum di wajahnya. Keenan pun meminta diturunkan dsri gendongan Bela, lalu berjalan menghampiri sang Mama. Dengan wajah polosnya, kedua tangan Keenan terangkat mengelus pipi sang Mama dan juga mata teduh Keenan menatap wajah Keysa lamat-lamat. "Mama habis nangis ya?" Tanya polos Keenan, membuat Keysa menggigit bibir bawahnya menahan agar tangisnya tidak pecah. "Kenapa Mama nangis?" Tanya bocah laki-laki itu kembali dengan kepala yang dia miringkan dan kedua tangan yang tetap beras dikedua pipi sang Mama. Pertanyaan Keenan membuat Rosa dan Bela meneteskam air matanya. "Siapa yang bikin Mama nangis, Ma?" Keysa meraih kedua tangan mungil yang berada di pipinya, menggenggamnya penuh kelembutan. Keysa menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Keenan, dengan bibir yang berkedut menahan tangisnya. "Mama kenapa gak bangunin Kee semalam?" Tanyanya "Kata Mama, kayao Papa puyang Mama mau bangunin Kee!" Lanjutnya. Keysa sudah tidak bisa menahan tangisnya, wanita cantik itu pun memeluk tubuh mungil sang putra, dengan air mata yang kembali mengalir membasahi pipinya. Mata Keenan pun tertuju kepada sosok di samping dirinya dan sang Mama berada. "Ma, itu siapa Ma?" Tanyanya sembari melepas pelukannya dengan Keysa. Keysa menatap ke arah pandangan Keenan, membuat Rosa dan Bela pun menatap ke arah yang sama. "Sayang!" Kata Keysa dengan menahan tangisnya, agar dirinya bisa menjelaskan kepada sang putra apa yang terjadi. Namun Keysa tidak kuat untuk menjelaskan apa yang telah menimpa sang Papa kepada putranya, hingga Bela menghampiri ibu dan anak itu. "Keenan, mandi dulu yuk sayang!" Ajak Bela, namun Keenan tidak mau karena dirinya belum menemukan sosok sang Papa di sini, diantara banyaknya orang disini, tetapi dia belum menemukan sosok Papanya. "Keenan sayang, Keenan janji kalau Mama beritahu Papa dimana Kee jangan nangis ya?" Tanya Keysa kepada putranya dan di jawab dengan anggukan kepala oleh putranya. Keysa menuntun putranya mendekati tubuh yang terbaring lemas dan tertutupi kain itu, lalu membuka bagian yang menutupi kepalanya saja, dan menampillam sosok Rei dibaliknya. "Papa kenapa tiduy di sini, kenapa nggak di kamay Mama sama Papa?" Oceh Keenan anak kecil itu. "Nak, Papa.." ucapan Keysa menggantung karena menahan tangisnya. "Mama kenapa nangis yagi, Mama jangan nangis yagi ya!" Kata Keenan yang membuat tangis Keysa semakin igin pecah. "Kee gak mau yihat Mama nangis yagi" kata Keenan, membuat Keysa menelan salivanya susah payah lalu menganggukan kepalanya dengan tangis yang terus dirinya coba tahan dengan semampunya. "Ya sudah, Kee mandi duyu sama aunty Bela ya Ma" ucapnya polos membuat Keysa kembali memeluk tubuh mungil itu, dan wanita itu pun sudah tidak bisa lahi menahan tangisnya saat mendekap tubuh mungil sang putra dan menumpahkan tangisnya di bahu kecil Keenan. Pemandangan ini tak luput dari perhatian para pelayat, Rosa dan juga Bela. Membuat mereka semua meneteskan air matanya melihat pemandangan yang begitu menyayat hati ini. Hingga waktunya tiba, dan jenazah Rei akan di kebumikan. Jenazah pun di angkat oleh beberapa bapak-bapak di sana, membuat Keenan bocah laki-laki itu kebingungan, akan mereka bawa kemana Papanya ini. "Ma, Papa mau dibawa kemana?" Tanyanya kepada sang Mama, sang Mama pun tidak bisa mengatakannya kepada Keenan, dia hanya bisa menangis menjawab pertanyaan bocah polos ini. Keysa menutup matanya sesaat lalu kembali memberi pengertian kepada sang putra. "Sayang, Allah lebih sayang sama Papa, jadi Papa akan bertemu dengan-Nya lebih dahulu" kata Keysa. "Keenan, aunty Bela gendong yuk, biar Mama sama Nenek ya, kita anterin Papa, sayang!" Kata Bela lalu meraih tubuh mungil Keenan dan membawanya dalam gendongannya. Sedangkan Keysa, dia di tuntun oleh sang Mama mengikuti para rombongan yang akan mengantarkan Rei ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sedih, rapuh, lemas, itulah yang sedang Keysa rasakan saat ini. Melihat tubuh sang suami tercinta di timbun oleh tanah merah, hati seorang istri mana yang tidak merasakan kerapuhan di hatinya begitu melihat tubuh sang suami yang sudah tertutup oleh tanah merah. Dirinya sudah tidak akan bisa melihat wajahnya, merasakan hangat pelukannya, merasakan sentuhan tangan kekar sang suami, yang tersisa hanyalah sebuah kenangan dan kerinduan yang mendalam, kerinduan yang tidak akan bisa terobati. Karena kerinduan yang paling terdalam dan tidak bisa terobati adalah rindu kepada mereka yang telah tiada. Keenan, anak laki-laki itu menangis melihat tubuh sang Papa di timbun dan sudah tidak terlihat lagi oleh dirinya, bocah itu merasakan kebingungan dan kesedihan dalam benaknya menjadi satu. Di ujung jalan, ada seorang pria dengan wajah yang masih pucat menyaksikan acara pemakaman Rei, pria itu memandangi wajah Keysa juga Keenan bergantian. Melihat pemandangan di depan sana yang membuat hati siapa pun pasti akan teriris melihatnya dan merasakan sesak di dad-a. Hingga semua telah selesai, Keysa, Keenan, Rosa, dan Bela kembali ke rumah, Bela membantu memandikan Keenan yang belum mandi sedangkan Keysa dia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya lebih dahulu, dan Rosa sedang mengatur untuk acara selamatan nanti malam. Begitu Keysa membuka pintu kamarnya, dad-anya terasa sesak, air matanya kembali menetes, dengan langkah lemasnya Keysa masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya. Melihat ke setiap sudut yang menampilkan banyak kenangan bersama sang suami. Ingatan dalam benaknya kembali terputar, menampilkan semua kenangannya bersama sang suami dan juga anaknya Keenan di kamar ini. Keysa merasakan kembali sesak di dad-anya, tangisnya pecah tubuhnya pun terjatuh di atas lantai dingin kamar, kaki lemas Keysa sudah tidak bisa lagi menahan tubuhnya. Keysa terduduk di atas lantai dengan kepala yang tertunduk, dan kedua mata yang terus mengeluarkan cairan beningnya. Sesak di dad-anya kembali dia rasakan, wanita ini mencoba untuk ikhlas, namun kenyataannya sulit. Karena ikhlas adalah kata yang mudah di ucapkan tetapi sulit untuk di terapkan dalam diri kita. Ketika bibir dengan mudah mengatakan ikhlas, tetapi berbeda dengan hati yang tidak bisa dengan mudah begitu saja menerimanya. Keysa mengangkat wajahnya menatap sebuah foto yang berada di atas meja, foto dirinya bersama snag suami juga anak laki-lakinya Keenan. Foto yang sengaja Rei ambil saat Keenan berusia dua tahun, Keysa bangkit dari duduknya di atas lantai lalu berjslan mendekati meja dekat tempat tidur, mendudukan dirinya di pinggiran kasur, meraih foto dirinya bersama suami dan anaknya. "Sayang!" Lirihnya. Lalu memeluk foto yang dia pegang, dengan tangis pilus yang menemaninya. Bayangin Rei muncul di kepala Keysa, saat pertama kali mereka menempati kamar ini. Rei mengangkat tubuh Keysa, lalu membaringkannya di atas kasur ini, mereka berdua nampak begitu bahagia pada saat itu, apalagi dengan kondisi Keysa yang tengah hamil muda dan Rei memberikan rumah ini sebagai kado untuk Keysa juga sang calon buah hati. Rei adalah tipe suami yang menyanyangi istri, tipe kepala keluarga yang menyanyangi keluarganya, dan tipe seorang ayah yang begitu menyanyangi anaknya. Pria itu akan melakukan apa saja untuk keluarganya, di akan berusah yang terbaik untuk sang istri dan anaknya, dia akan terus membuat keluarganya menjadi orang paling bahagia. Terhadap mertuanya pun, Rosalind, Rei akan sebisa mungkin membuatnya bahagia, menyayanginya seperti ibu kandungnya sendiri. Reinaldo adalah sosok pria sempurna di mata keluarganya, sosok yang penuh dengan kasih sayang dan rela melakukan apa pun agar keluarganya hidup bahagia dan nyaman. Keysa memejamkan kedua matanya dengan kepala yang tertunduk dan isakan tangis yang memilukan, hingga dirinya membuka matanya dan menatap di hadapannya yang menampilkan wajah teduh sang suami yang tersenyum lembut kepadanya, membuat tangis Keysa kembali pecah dan merasakan sesak sekali di dalam dad-anya. Rei menggelengkan kepalanya menatapa Keysa yang terus saja mengeluarkan air matanya, tangan Rei terulur menghapus derasnya air mata yang membasahi kedua pipi Keysa dengan kepala yang dia gelengkan dan masih dengan senyuman lembutnya, hingga Keysa menutup matanya, menggigit bibir atasnya dan saat dirinya membuka kembali matanya sosok Rei sudah tidak ada lagi di hadapannya. Membuat Keysa kembali menangis dalam heningnya ruangan yang di penuhi dengan segala kenangan dirinya dan mendiang sang suami, Reinaldo Ephraim.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD