Bertemu Mantan

1982 Words
○08. Dira merasakan hatinya tak tenang sedari tadi. Beberapa kali, wanita itu akan melirik ke arah kaca spion untuk memastikan, bahwa tak ada orang yang mengikuti perjalanan mereka. Keluar dari apartemen adalah sesuatu yang sangat menantang untuk Dira. Mengingat lagi keberadaan Riko yang bisa saja menghantuinya di luar ini. Pria itu gila, Dira hanya takut, sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya karena kegilaan Riko sendiri. Wanita itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia menyandarkan punggungnya dan menutup matanya sejenak. Mika yang sedari tadi menyadari kecemasannya langsung menengok. Untuk beberapa saat, wanita itu menatap dengan lekatnya Dira yang tengah khawatir. "Apa yang terjadi denganmu?" tanya Mika. Dia mengambil sebotol air mineral yang langsung diberikan kepada Dira, dia sangat yakin sekali kalau Dira pasti sangat membutuhkan air untuk menenangkannya hatinya. "Aku hanya merasakan firasat buruk yang akan datang dan itu membuatku merasa tak tenang saat ini," ujar Dira dengan jujurnya, membagi isi hatinya yang saat ini tengah sangat keresahan. Mika menatapnya dengan satu alis yang menukik naik, seolah belum begitu mengerti dengan maksud ucapan dari Dira tadi. "Tentang Riko, aku takut dia semakin gila dan mengejarku sampai sini." Mika membulatkan mulutnya. "Kau coba untuk santai saja. Selagi ada kami di dekatmu, aku yakin kalau dia tak akan mau maju dan menyentuhmu barang sedikitpun," ujar Mika yang berusaha untuk menenangkan hati Dira. Yah, setidaknya apa yang dilakukan Mika itupun juga cukup berhasil, karena kini Mika tak terlalu cemas lagi seperti tadi. Wanita itu berusaha meyakinkan dirinya agar kecemasan ini bisa hilang. Dengan menutup matanya dan mengosongkan pikirannya, setidaknya dengan dia melakukan hal tersebut, kini hatinya benar-benar telah merasakan tenang. "Sudah jangan dipikirkan," ujar Mika. Merasakan mobilnya yang kini telah berhenti melaju, lantas wanita itu membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya, melihat suasana sepi dan cukup gelap di sekitarnya. Ternyata mereka sudah sampai basement kantor. Bersama-sama, mereka keluar dari mobil tersebut. Dira membawa slipbag nya berjalan seiringan dengan teman-teman nya itu untuk menuju ke sebuah lorong yang masuk ke dalam kantor. Ujung lorong itu terdapat lift, mereka pun masuk ke dalam sana, menunggu beberapa detik lamanya, sampai saat pintu lift tersebut terbuka, langsung saja mereka keluar dari sana. Meja Dira dan teman-teman nya sejajar dan berurutan. Dari Dira, Dewi, Mika dan Mely. Itulah yang menyebabkan pertemanan mereka semakin erat, karena pekerjaan yang dilakukan sering bekerja sama. Dira menghembuskan napasnya dengan kasar ketika dia membuka laptopnya. Mengambil libur, bukan berarti pekerjaannya berhenti begitu saja selama masa liburan itu. Semuanya tak gratis, demi mendapatkan gaji, dia harus membayar waktu liburannya itu dengan pekerjaan yang dibayar setelah liburan. Terbukti kini, sudah ada beberapa tugas dan email yang memenuhi komputer. Tak lupa juga tempelan-tempelan kertas di komputer nya yang berisikan beberapa tugasnya. "Sepertinya malam ini aku harus lembur." Dira benar-benar merasa sangat tak yakin, bahwa pekerjaan itu akan selesai dengan cepat. Wanita tersebut sangat tak suka menunda-nunda pekerjaan nya. Dia ingin cepat tenang dan menyelesaikan segala macam deadline nya ini dan menjalani kehidupannya bekerja yang santai seperti teman-teman nya. "Ini sudah akhir bulan, kau juga harus ingat untuk menyelesaikan dokumen keuangan yang sudah disetir setiap divisi," ujar Dewi yang mengingatkan lagi tentang pekerjaan Dira. Dengan malasnya, Dira menganggukkan kepalanya. Wanita itu pun mulai fokus bekerja. Bahkan saat jam istirahat dimulai, dia berusaha menahan diri untuk tak beranjak dan ke kantin, karena hal tersebut sangat membuang waktunya. Mely sempat menawarkan diri untuk membelikan pesanan Dira. Tentu saja Dira tak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia telah meminta Melly untuk memberikannya makanan berupa sandwich dan sebotol s**u pisang kesukaannya. Setidaknya, saat ini Melly membutuhkan sesuatu agar bisa mengganjal perutnya itu. "Nih Dira, makan dulu. Nanti mag mu kambuh," ujat Melly yang memberikan peringatan kepada sahabatnya itu. Dira menanggapi hanya dengan menganggukkan kepalanya saja. Tak lupa dia tadi sempat mengucapkan terimakasih kepada sahabatnya itu yang telah membantunya tadi. Wanita itu bekerja seraya makan. Ini adalah hal biasa yang sering dilakukan olehnya jika sedang bekerja. Bukan hanya dirinya, dia yakin juga karyawan lainnya juga pasti sering melakukan hal yang sama. Sampai saat matahari terbenam, ternyata pekerjaannya itu masih saja belum selesai. Dia masih harus memeriksa ulang hasil laporan keuangan yang baru saja dibuatnya agar bisa langsung disetorkan besok kepada bos nya. "Kau tak ingin pulang?" tanya Dewi. Wanita itu memperhatikan Dira yang ternyata masih saja sibuk. "Ayo kita pulang dulu." "Aku akan lembur, kalian bisa pulang duluan," ujar Dira dengan sekali melirik ke arah Dewi. Lantas Dewi menghembuskan napasnya dengan kasar kala mendengar itu. Dia tak bisa memaksa Dira untuk berhenti bekerja sementara, karena dia tahu benar bagaimana Dira adalah seorang yang tak bisa dicegah. "Baiklah, kami pulang lebih dulu. Jaga dirimu baik-baik, okay!" Dira menganggukkan kepalanya. Sempat dia mengangkat tangannya dari keyboard dan melambaikan tangannya itu ke arah teman-teman nya yang akan pergi. Satu-persatu karyawan lain mulai bepergian. Meninggalkan Dira yang tinggal sendirian di sana. Wanita itu yang memang terbiasa lambur tak begitu masalah jika sendirian di sini. Apalagi dengan keadaan yang lebih hening, dia yakin pasti pekerjaannya bisa lebih cepat selesai. Dia yakin itu. Sampai jarum jam menunjuk ke angka 9, dia baru selesai merekam dan juga meneliti laporannya. Wanita itu menghembuskan napasnya dengan lega. Langsung saja dia melakukan peregangan pada tubuhnya yang terasa sangat pegal sekali. Wanita itu beranjak, dia mengambil tas nya dan memasukkan lagi barang-barang yang akan dibawanya pulang. Dia sudah benar-benar lelah dan niatnya nanti, setelah pulang dia akan mandi air hangat yang tentunya dapat menenangkannya nanti. Sempat wanita itu mengedarkan pandangannya. Dia benar-benar tak melihat siapa-siapa di sini. Sebelum Dira pergi dari sana. Terlebih dahulu dia mematikan beberapa lampu yang ada di kantornya itu, lalu setelahnya baru dia akan masuk ke dalam lift. Lift itu masih berfungsi di jam segini, biasanya satpam akan menutup akses lift ketika jam 10 malam. Dia telah sampai di lobby. Dilihatnya satpam yang berdiri di daun pintu. Ketika dia melewati satpam tersebut, terdapat sebuah sapaan untuknya yang langsung dibalas dengan cukup ramah oleh mereka juga. Untungnya tadi Dira sudah sempat memesankan taksi online, sehingga kini dia hanya perlu menunggu di halte dekat kantornya itu. Wanita itu mengayunkan kakinya. Beberapa kali dia akan menengok ke kiri atau kanan, berharap kalau tulang ojek itu, secepatnya datang ke sini, karena dia benar-benar merasakan firasat buruk itu datang lagi kepada dirinya. Jalanan terasa sangat sepi sekali. Mirna tak tahu, apakah ini hanya sebuah kebetulan saja. Padahal tempat ini adalah kota yang terkenal akan keramaian dan biasanya, saya malam hari pun suasana yang ada di kota ini pasti akan ramai. "Kau merindukanku aku, sayang?" bisikan halus itu tiba-tiba saja didengar oleh Dira dengan sangat jelas. Wanita itu membelalakan matanya, dia mengenal suara ini. Suara yang terdengar tak asing baginya. Respon tubuhnya saat ini terbilang tak baik, tubuhnya menjadi kaku dan tiba-tiba saja dia merasakan belaian halus di sekitar bahunya. Susah payah wanita itu menengok, melihat ke arah samping, di mana sudah ada seorang pria yang memunculkan seringai menyeramkan di wajahnya itu. "Kau." Tubuh Dira terasa mulai bergetar. Dia mulai menjauhkan tubuhnya itu dari jangkauan pria yang ada di depannya. Pergerakannya lambat tentu saja kalah dengan pergerakan pria itu yang terbilang sanagt cepat sekali saat menarik tangannya. "Kau tak akan bisa kabur lagi dariku setelah ini." Tiba-tiba saja tubuh Dira ditarik dengan kuat oleh wanita itu, membuatnya kini berada di pelukan pria yang dibencinya itu. Pelukan yang sangat erat sekali, sampai Dira dibuat sangat sesak dalam pelukan ini. "Aku sangat merindukanmu," bisik pria itu dengan lirihnya. Sedetik kemudian, dia merasakan pemberontakan dari gadis kecilnya. Dira berusaha untuk memukul, menendang atau bahkan mencubit tubuh Riko agar terbebas dari pria itu. Namun pertahanannya sangat kuat sekali, dia tak bisa melakukan apa-apa. "Ayo ikut denganku, kau harus tinggal bersamaku mulai hari ini." Pria itu langsung menarik dengan sangat kencang tangan Dira, membawanya menuju ke sebuah mobil yang sudah terparkir kan dengan baik, di bawah pohon yang sepi dan juga gelap. Dira semakin ketakutan. "Tolong," teriak wanita itu dengan sangat kuat. Dia berusaha memberontak, melepaskan tangan Riko yang mencekalnya dengan sangat kuat. Namun, itu terasa sangat sulit sekali. "Riko, kumohon lepaskan aku. Biarkan aku bebas," ujar Dira yang kini berusaha membujuk pria tersebut. Riko tak memperdulikan bujukannya, dia tetap berusaha untuk membawa Dira pergi dari sini. Meski harus dengan susah payah. Satu hal yang paling menyebalkan bagi Dira, tak ada satupun orang yang ingin membantunya. Bahkan ketika dia melihat sebuah motor yang melewati jalan raya,dia telah meneriaki pengendara motor itu, tetapi tampaknya dihiraukan saja. Riko membuka dengan lebarnya pintu mobil miliknya itu. Kini dia berusaha membawa tubuh Dira masuk ke dalam mobil tersebut. "Tolong aku!" teriak Dira. Dia memukul tubuh Riko dengan kuatnya. Sampai beberapa menit kemudian, dia mulai merasakan tarikan yang sangat kuat. Bukan, ini dari arah belakang yang membuatnya langsung mundur beberapa langkah hingga akhirnya dia terjerembab di atas tanah. Posisinya menjauhi Riko. Dira menatap terkejut pada sosok pria yang kini tengah berada di depannya. Posisi pria itu membelakanginya, hingga dia belum tahu siapa yang telah membantunya barusan itu. Namun, tentu saja Dira sangat berterimakasih pada pria yang telah membantunya saat dalam situasi yang sangat buruk seperti saat ini. "Jangan ikut campur urusanku, pergi dari sini sekarang juga," ujar Riko dengan penuh emosi. Pria itu benar-benar terlihat menyeramkan dengan bara api yang terlihat di manik matanya itu. Sungguh, Dira sangat takut. Dia hanya bisa berharap, kalau pria itu bisa mengalahkan Riko. Dira memilih untuk langsung beranjak dan mencari tempat persembunyian yang pas, yaitu dibalik pohon. Dilihatnya pertengkaran antara pria itu dengan Riko. Pertengkaran yang sangat sengit. Antara pria yang membantunya terlihat tenang dan Riko yang penuh akan emosi. Sekilas, Dira bisa melihat wajah pria itu. Lantas, dia pun mengedipkan matanya beberapa kali, merasa tak menyangka dengan apa yang baru saja dirinya lihat. Wajah itu, terlihat sangat tak asing sekali bagi Stella. Dia seperti pernah melihatnya, dan bukankah pria itu adalah ... Azka? Dira membelalakan matanya ketika dia diberikan kesempatan untuk melihat wajah pria itu dan apa yang diduganya tadi benar, kalau pria itu adalah Azka. Azka yang sangat pandai dalam bela diri, hanya perlu menangkis setiap serangan yang diberikan oleh Riko. Energinya masih tersimpan banyak, berbanding jauh dengan Riko yang kini sudah mulai terlihat kelelahan. Pria itu mengepalkan tangannya,dia benar-benar merasa sangat geram sekali karena serangan yang sedari tadi diberikan olehnya, tak mampu mematikan lawan yang ada di depannya itu. "Pergi dari sini dan jangan ganggu aksiku!" ancam Riko menatap Azka dengan marahnya. Azka tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang dianggap keren oleh Riko sendiri. "Jangan pernah memaksa wanita, apalagi sampai kau menyakitinya." Azka memberikan nasehatnya itu dengan sangat tenang dan tanpa emosi. "Ini bukan urusanmu. Dira adalah istriku, jadi aku bebas untuk melakukan apa saja padanya." Mendengar kebohongan itu, Dira lantas menggeram kesal. Tak akan Sudi dia mau menjadi kekasih Riko yang gila itu. Bisa-bisa, hidupnya nanti hancur jika dia bersama dengan Riko. "Istri atau bukan, kau harus bisa menghormati wanita. Ini adalah sebuah kewajiban." Azka membalikkan tubuhnya, dia melihat beberapa orang yang mulai berdatangan ke tempat mereka. Dira yang melihat itu lantas berdecak kesal. Padahal tadi dia sudah berteriak memanggil mereka untuk minta tolong. Lalu, mengapa mereka baru saja datang? Sungguh menyebalkan sekali rasanya. "Ada apa ini?" tanya salah satu warga yang ada di sana. "Tidak, hanya sedikit masalah saja," ujar Azka yang menanggapi pertanyaan mereka dengan sangat tenang. "Jangan membuat kekacauan di sini, atau kami nisa saja langsung menghubungi polisi untuk menangkap kalian semua, mengerti!" Azka menganggukkan kepalanya. "Maaf jika kamu telah mengganggu warga di sekitar sini." Tutur sapa pria itu sangat bagus sekali, terlihat tenang dan penuh akan kesopanan. Para warga tersebut mulai bepergian setelahnya. Azka membalikkan tubuhnya, dia sempat melihat ke arah Riko yang terdiam. Pria itu tak akan berani melakukan apapun, karena saat ini banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Langsung saja Azka menuju ke tempat Dira. Bisa dilihatnya wajah Dira yang sangat lega akan kedatangannya di sini. "Ayo pulang bersamaku, aku akan mengantarmu." "Sebentar, kenapa kau bisa berada di sini?" Itulah pertanyaan yang sedari tadi beredar di dalam otaknya. Dia benar-benar kebingungan melihat keberadaan Azka di sini. "Kebetulan aku ada urusan pekerjaan di sini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD