Mona berlari keluar dari rumah besar ayahnya. Diiringi dengan hatinya yang terluka dan suaranya yang meneriakan kekecewaan terhadap Lansa. Gadis itu mengejar Lansa hingga sang Hulubalang Maka berhasil menahan langkah anaknya untuk mengejar lelaki itu. Air mata Mona mengalir sederas sungai. Tak berhenti walau suara sang ayah memintanya untuk tak menangis. Hatinya benar-benar merasakan sakit. Harapan dan mimpinya diperistri Lansa, hancur berkeping-keping. Ucapan dari bibir Lansa seperti kilat yang menyambar tubuhnya.
Lansa menghela kudanya dengan cepat. Sekilas, terbesit rasa iba mendengar isak tangis Mona yang ingin bersamanya. Terbayang bahwa dia pernah mendengar tangis yang sama dari perempuan Zuni, bertahun lalu. Namun, ia meneguhkan niatnya untuk meninggalkan Zuni. Ada ribuan ton beban berat terangkat dari atas d**a Lansa ketika akhirnya dia memiliki keberanian untuk menggagalkan pernikahan yang tak diinginkannya itu. Bukan saja karena adanya Yiska yang mau tak mau harus Lansa pertimbangkan keberadaanya, bahwa perempuan itu kini sering mengganggu pikirannya. Tapi jelas karena Lansa ingin mengubur kenangan mudanya bersama Hima.
Kalaupun harus melibatkan Yiska, Lansa hanya berharap bahwa itu sebuah kebetulan yang menguntungkan kedua belah pihak, setidaknya untuk dirinya, dan juga Yiska karena gadis itu akan mendapatkan kebebasannya, nanti, setelah semua rencana penggagalan itu berjalan lancar. Karena Lansa yakin, Hulubalang Meka maupun Mona tak akan menerima begitu saja penggagalan ini. Belum lagi ayahnya dan Bibi Aruma yang akan marah besar, jika mereka tahu bahwa Lansa sudah sudah lancang dengan menggagalkan pernikahan itu, secara sepihak.
Tapi tekad Lansa telah membulat. Dia tak akan mundur dan mengulang kembali keresahannya selama ini. Tiba di perbatasan pemukiman Zuni, Lansa menghentikan laju kudanya dan berbalik menatap rumah-rumah penduduk Zuni yang berjajar rapi di sepanjang jalan kampung itu.
“Maaf, Hima. Aku harus memutuskan semua hal yang berkaitan denganmu. Bukan karena aku tak mencintaimu, tapi aku tak mau terpasung oleh bayanganmu,” Lansa bergumam lirih, membayangkan, seolah Hima ada di hadapannya sedang menunduk sedih.
Tapi Lansa mengabaikan khayalannya itu. Dia kembali menghela Russo untuk bergegas meninggalkan pemukiman ini. Meninggalkan mimpi mudanya yang pernah dia tambatkan di sini, di suku Zuni. Tapi kini, dia sudah bertekad untuk mencabut impian itu hingga ke akarnya, atau dia akan terpasung selamanya dalam bayang-bayang Hima.
Sementara di rumahnya yang besar, terlihat Meka mencoba untuk tidak meledakkan amarahnya karena kelancangan Lansa menggagalkan pernikahannya dengan Mona. Ada Mona yang sedang kalut dan terluka yang harus dia jaga perasaannya. Karena Meka tahu, bagaimana Mona sangat memuja Lansa sebagai laki-laki sempurna yang pantas untuk dia cintai.
“Tahan emosi dan sakit hatimu, Anakku. Jangan merendahkan diri hanya karena kamu memujanya. Laki-laki itu tak pantas mendapatkan gadis seperti dirimu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari laki-laki itu.” Meka mencoba untuk terus membesarkan hati Mona, memberinya penghiburan dan pengharapan bahwa Mona tak sepantasnya kecewa atau sakit hati dengan kelakuan lancang Lansa.
Mona hanya terpaku berdiri, menyesali cintanya yang terlempar sia-sia setelah sekian tahun meneguhkan diri hanya untuk mencintai Lansa. Namun, kini harus berakhir sia-sia. Air mata Mona telah merebak dan mendesak hendak menghambur keluar, ditahankannya dengan sekuat hati.
“Tapi aku mencintainya, Yah.” Mona menjawab datar dengan suara bergetar menahan amarah yang sejujurnya juga ingin meledak. Mona menyesali harga dirinya yang terinjak oleh sikap arogan Lansa beberapa saat yang lalu.
Meka terdiam. Ditatapnya gadis itu dengan pandangan kasihan sekaligus geram dengan keteguhan cinta Mona yang konyol.
“Masih banyak laki-laki lain yang lebih pantas yang tak kalah gagah, tak kalah sempurna dari Lansa.” Meka menjawab tegas.
“Apakah akan semudah itu mengalihkan cinta, Yah? Lalu kalau ayah menganggap aku harus melupakan Lansa, setelah sekian tahun menunggu, kenapa Ayah tak menikah lagi setelah Ibu meninggal?” Mona menatap ayahnya dengan pandangan nanar penuh protes.
Hulubalang Meka tersentak dengan pertanyaan Mona yang menohok hatinya.
“Jangan ungkit Ibumu yang sudah tak ada hanya karena hatimu terluka oleh laki-laki itu, Mona! Ibumu perempuan luhur dan hebat luar biasa. Dia tak pantas dibandingkan dengan laki-laki pengecut seperti Lansa!” Meka mendengkus kesal dan menatap Mona dengan kemarahan yang nyaris meledak karena tak suka ketika Mona mengungkit ibunya bahkan membandingkannya dengan Lansa yang dirasanya tak pantas.
“Seharusnya Ayah mencari cara agar aku tetap menikah dengan Lansa. Aku bersumpah atas nama Ibu, jika aku tak bisa memiliki Lansa, maka perempuan manapun tak akan bisa memilikinya.”
Seketika petir menyambar di cemerlangnya langit Zuni. Matahari yang bersinar terang benderang dalam hitungan menit langsung tertutup oleh awan hitam yang berarak pesat dan menggulung segala kecerahan pemukiman Zuni. Kemudian terlihat beberapa pekerja Hulubalang Meka yang kalang kabut mengusung hasil bumi yang semula masih berserak dijemur di halaman samping rumah besar Meka.
“Tuhan mendengar sumpahmu, Mona.”
Hulubalang Meka menatap tajam ke arah Mona, dengan senyum sinis yang penuh dukungan akan tekad Mona. Wajah gadis itu tetap saja mengeras, menandakan keteguhan hatinya bahwa dia tak akan membiarkan sesiapapun memiliki Lansa.
“Aku akan mencari tahu, Ayah. Apa yang membuat Lansa menggagalkan pernikahan kami begitu saja. Padahal pernikahan itu tinggal bulan depan.” Mona berucap dengan mata merah dan wajah dingin mengeras.
Meka tersenyum sinis mengingat bagaimana sombongnya Lansa ketika meninggalkan Mona yang meratapi sakit hatinya karena pernikahan yang digagalkan. Dalam hati Meka bersumpah akan menggempur lembah Cherokee dan menjadikan perkampungan subur itu menjadi lantak dalam genggamannya. Sekaligus menjadikan zona emas sebagai lahan baru yang akan semakin memperkaya Zuni. Kemakmuran akan menjadi sebuah mimpi yang tak kan pernah terwujud bagi Cherokee, karena Meka akan menggantinya dengan mimpi buruk dan kesengsaraan. Dan sebaliknya, kemakmuran Zuni dengan sumber kekayaan yang akan dikeruknya dari wilayah Cherokee sudah terbayang di depan mata Meka, membuatnya tersenyum penuh rasa puas.
“Tenang, Anakku. Ayah pasti akan membalaskan sakit hatimu itu! Lansa akan merasakan penyesalan telah meninggalkanmu dalam tangis. Ayah bersumpah akan membalas sakit hatimu!” Hulubalang Meka berucap lirih namun tegas, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Sementara Mona hanya terpaku. Sedang mencari jalan terbaiknya agar bisa melupakan Lansa sambil mencari tahu, apa yang membuat laki-laki itu begitu saja menggagalkan pernikahan mereka yang sudah di ambang pintu. Dalam tak sadar, Mona meraba dadanya yang mendadak sakit dan sesak karena menahan marah. Rumah besar Meka senyap, meski di luar sana beberapa pekerja sibuk menyelamatkan hasil bumi yang dijemur, dari hujan yang tiba-tiba turun.
* * *
Di tengah perjalanan menuju Cherokee, langit berubah menjadi hitam, suara petir kerap terdengar di berbagai sisi. Cahaya kilat seperti mengejarnya bersamaan langkah kaki kudanya. Huja seketika turun dengan cepat dan melebat. Laki-laki itu menghela kudanya agar lebih cepat tiba di Cherokee. Entah mengapa perasaannya tiba-tiba tidak nyaman ketika dia mengingat Yiska.
Kampung Cherokee sudah kelihatan di depan mata, ketika Ruso meringkik keras sembari mengangkat kaki depannya, membuat Lansa terkejut namun tetap siaga agar tak terpental dari pelananya.
“Hei, Ruso! Ada apa denganmu?” Lansa berteriak lantang untuk mengalahkan suara derasnya air hujan. Namun Ruso hanya meringkik kembali. “Hei, tenang, Ruso. Kita harus segera kembali ke rumah. Hujan semakin deras! Ayo!” Lansa memaksa kembali kudanya untuk memasuki Cherokee segera.
Ketika menyusuri jalan kampung, suasana terlihat sepi karena para penduduk jelas lebih memilih untuk berdiam diri di rumahnya daripada menikmati derasnya hujan dan petir kali ini.
Lansa langsung menuju ke istal untuk memberikan Ruso pada Lanu yang sudah menunggu dengan kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Sepertinya ada sesuatu yang Lanu ketahui, namun dia tak berani mengatakan apapun. Maka ketika Lansa tiba, dia hanya menyambutnya untuk mengambil alih keberadaan Ruso dari tangan Lansa, tanpa berani menatap Lansa lebih lama karena Lanu tak ingin apa yang ada di kepalanya terbaca oleh Lansa.
Masih dengan pakaian yang basah dan sebuah topi yang juga kuyub, Lansa memasuki rumahnya dan langsung menuju ke biliknya. Tapi keningnya berkerut ketika mendapati bahwa biliknya kosong, tak ada Yiska di sana.
“Yiska!” Lansa memanggil dengan suara pelan.
Diam. Tak ada sahutan.
“Yiska!” Lansa kembali mengeraskan suaranya. Siapa tahu Yiska tak mendengar suaranya karena derasnya air hujan. Tapi sampai pada teriakan ketiga, sama sekali tak ada sahutan membuat Lansa bergegas ke dapur, mencari Leti.
Di dapur, Lansa melihat Leti sedang memanggang daging rusa yang kelihatannya akan sangat lezat jika disantap malam ini di sela derasnya hujan.
“Hei, Leti! Apakah kau tahu Yiska ada di mana?” suara Lansa mengagetkan Leti yang sedang tekun dengan pekerjaannya.
Leti menatap Lansa dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan, membuat Lansa menatap Leti dengan penuh permintaan maaf.
“Maaf jika mengagetkanmu, Leti. Aku hanya ingin tahu, dimana keberadaan Yiska.” Tanya Lansa mengatur napasnya yang dihalangi rasa penasaran akan keberadaan Yiska.
Leti menghembuskan napasnya dalam, lalu menggeleng.
“Maaf, sedari tadi saya hanya memasak di dapur. Sepertinya dia masih di biliknya.”
Lansa berkacak pinggang dengan kesal.
“Dan kalau gadis itu masih di biliknya, aku tak akan bertanya kepadamu, Leti.” Jawab Lansa kesal. Ia mendenguskan udara dari hidungnya. Ada yang tak beres pikirnya.
“Maaf, saya tidak tahu.” Ucap Leti lagi sembari menundukkan kepala.
“Sudahlah!” Lansa kemudian bergegas meninggalkan dapur dengan diiringi tatapan tak habis pikir yang terlempar dari mata Leti. Dalam hati Leti membathin, bahwa Lansa pantas kalang kabut ketika kehilangan Yiska, karena tak bisa dipungkiri lagi bahwa gadis kota itu memang sangat cantik dan mempesona.
Lansa lantas bergegas mencoba mencari Yiska sekiranya masih ada di ruangan lain. Tapi beberapa panggilan Lansa tak mendapat sahutan sama sekali. Ketika hendak menaiki tangga menuju ke atas, Lansa bertemu dengan Dalton.
“Hei, Lansa?! Dari mana saja kamu dengan baju basah kuyub begini?” sapa Dalton dengan wajahnya yang selalu datar tak pernah menyunggingkan senyumnya.
“Aku dari Zuni, dan sekarang sedang mencari Yiska. Dia tak ada di bilikku. Apakah kamu mengetahui dimana gadis itu berada?”
Dalton menggeleng, lalu berkata. “Dari tadi pagi aku baru pulang dari berburu saat hujan mulai turun. Dan aku sama sekali tak melihat gadis itu.”
Tiba-tiba Aruma datang dari belakang, mendengar percakapan antara Lansa dan Dalton dengan raut wajah yang datar.
“Kamu mencari Yiska?” tiba-tiba Aruma bertanya. Keranjang buah yang dibawanya masih terlihat basah.
Lansa menoleh ke arah Aruma dengan penuh tanya.
“Ya. Aku mencari gadis itu. Apakah dia bersama bibi?” tanya Lansa sambil melihat ke arah belakang, siapa tahu Yiska mengikuti bibi Aruma memetik buah di belakang.
Bibi Aruma hanya menggeleng lantas kembali meneruskan langkahnya memasuki ruang tengah untuk menaruh buah-buahan yang dipanendari kebun belakang. Jeruk segar dengan apel merah itu terlihat sangat menyenangkan.
Lansa mengikuti Aruma dengan gusar.
“Apakah bibi benar-benar tidak tahu dimana keberadaan Yiska?” Lansa kembali bertanya penuh dengan kecurigaan. Matanya memandang Aruma penuh selidik.
Aruma tak menggubris.
“Bibi sarankan padamu, Lansa. Tak seharusnya kamu mengurusi gadis lain di saat pernikahanmu tinggal bulan depan.” Aruma menjawab sambil meletakkan keranjang buahnya di atas meja di ruang tengah rumah besar Lewanu.
“Maaf, Bibi. Tapi aku sudah menggagalkannya.” Lansa berkata sedikit lirih dan datar, namun terdengar sangat jelas di telinga Aruma, membuat perempuan itu melototkan matanya tajam ke arah Lansa.
“Apa yang baru saja kau katakan, Lansa?” Aruma bertanya dengan sengit.
“Aku mengatakan bahwa aku baru saja dari Zuni dan telah menggagalkan rencana konyol itu kepada paman Meka.” jawab Lansa tenang.
Dalton yang sama terkejutnya dengan Bibi Aruma segera berjalan mendekati Lansa.
“Kamu gila, Lansa!” Dalton menghardik Lansa dengan sedikit gusar. Sementara bibi Aruma hanya menatap Lansa dan kehilangan kata-kata.
Lansa balas menatap pada Dalton.
“Hei, Dalton! Kamu pikir aku akan senang menjadi suami anak kesayangan kepala suku Zuni? Apa kau tak melihat bahwa suku Zunilah yang selama ini selalu menginginkan zona emas milik kita? Apakah aku harus bergabung dengan keluarga yang sudah mengingkari perjanjian?”
Dalton diam tak menjawab. Bagaimanapun Lansa benar. Selama ini secara sembunyi-sembunyi, orang-orang Zuni sedang menyusun strategi untuk merebut zona emas yang menjadi wilayah perebutan antara Zuni dan Cherokee.
“Dan kamu tahu, Lansa? Resiko apa yang akan ditanggung oleh Cherokee dengan segala penduduknya? Meka tak akan lagi mengambil hasil bumi kita untuk kita jual ke kota! Karena hanya Meka yang memiliki kendaraan memadai. Apa kamu sudah memikirkan hal ini? Bahwa kelangsungan hidup penduduk kita secara tak langsung juga bergantung pada Zuni dan Meka?” Aruma menghardik dengan mata tajam menatap Lansa.
“Bibi Aruma, bukahkah aku sudah mengatakan berkali-kali? Bahwa aku tak mau menjadi jaminan atas sebuah kemakmuran yang sebenarnya bisa kita usahakan. Bukan malah bergantung pada orang lain!”
Bibi Aruma tersenyum sinis.
“Kalau kamu seekor katak, jangan berlagak menjadi seekor lembu, Lansa. Selama ini hanya Meka yang bersedia mengambil hasil bumi penduduk kita. Lalu apa yang akan kamu kerjakan untuk menolong hasil bumi penduduk Cherokee?”
Lansa tak bisa menjawab.
“Aku akan menemukan jalan. Tapi yang pasti, aku harus menemukan Yiska terlebih dahulu.”
Aruma marah mendengar alasan Lansa kali ini.
“Tak salah jika aku menyingkirkan gadis itu dari rumah ini, Lansa. Aku tak menyesal karena sudah melakukannya. Karena setidaknya, ini membuatmu tak hanya mengurusi gadis kota itu!” Aruma tanpa sadar berujar jujur tentang apa yang dilakukannya tadi.
Lansa yang semula hendak beranjak meninggalkan tempat itu untuk mencari Yiska, seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Aruma dengan pandangan tajam penuh selidik.
“Apa? Jadi Bibi menyingkirkan gadis itu dari rumah ini? Apakah Bibi sadar, bahwa dia adalah calon istriku!” teriak Lansa geram. Hatinya seakan terkejut mendengar ucapan wanita yang telah ia sayang selama ini.
“Aku dan ayahmu, Lewanu, hanya menganggap bahwa istri yang paling tepat untukmu hanyalah Mona, anak Kepala Suku Zuni. Bukan perempuan kota yang tak jelas asal usulnya itu.” Aruma menjawab lantang dan tegas. Ketegasan yang selama ini tak pernah Aruma keluarkan ke permukaan.
“Terserah kalian mengatakan apa. Yang pasti, aku sudah menggagalkan pernikahan dengan gadis pinangan Bibi itu. Oh ya, kalau Bibi Aruma masih ingin bermenantukan Mona, sepertinya Dalton bersedia menjadi suami yang patuh pada Mona. Yang jelas, bukan aku orangnya!” Lansa lantas beranjak bergegas meninggalkan Aruma dan Dalton yang masih termangu, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Lansa.
“Kamu tak bisa melakukan semua semaumu sendiri, Lansa. Kamu anak kepala suku Cherokee. Kelangsungan dan kemakmuran Cherokee seutuhnya bergantung pada sikap dan keputusan kamu!” Aruma berteriak membuat langkah Lansa terhenti untuk kemudian menoleh kembali ke arah Dalton dan Aruma.
“Kalau Tuhan memberiku pilihan, aku lebih memilih menjadi Dalton, Bibi. Katakan padanya, aku akan dengan senang hati bertukar posisi dengannya,” ucap Lansa sambil menatap Dalton sekilas. Sementara Dalton hanya menatap Lansa dan Aruma bergantian dengan ekspresi tak mengerti.
Dalton lalu menghembuskan napas, kemudian segera menenangkan Aruma begitu Lansa meninggalkan mereka menuju ke istal untuk mengambil Ruso kembali.
“Hei, mau kemana lagi, Lansa? Hujan demikian lebat, tidakkah kau tahu? Badai bisa saja datang nanti,” tanya Lanu.
“Apakah kamu tahu kemana Bibi Aruma membawa Yiska?” Lansa seperti tergesa-gesa bertanya pada Lanu, tak peduli dengan peringatan yang diberikan Lanu barusan.
Lanu mengerutkan keningnya, sepertinya tidak ngeh dengan pertanyaan Lansa.
“Yiska itu gadis kota yang beberapa hari lalu tersesat dan tertangkap itu.”
Lanu tersenyum begitu menyadari siapa yang ditanyakan oleh Lansa.
“Maaf, Lansa. Aku akan memberitahumu, tapi tolong jaga namaku di depan bibi Aruma. Aku tak mau dinilai bermuka dua, karena aku juga sebenarnya, kasihan dengan gadis itu, Lansa.” Lanu malah bicara panjang lebar membuat Lansa jengah.
“Tak bisakah kau menggunakan kalimat singkat yang aku mengerti dengan cepat, Lanu?”
Lanu tersenyum kikuk.
“Aku melihat bibi Aruma membawa gadismu itu ke arah selatan,” Lanu berkata lirih.
Lansa berpikir cepat. Ke arah selatan? Apakah bibi Aruma sudah mengantar Yiska ke area camping itu? ‘Sial’ Lansa mengumpat kemudian tanpa berpikir panjang lagi, ia bergegas ke arah Ruso yang baru saja ditambatkan oleh Lanu. Kemudian dengan segera melepas tali pengikatnya dan Lansa naik ke atas pelana yang dipasangnya dengan tergesa untuk kemudian menghela kudanya sekencang yang bisa dilakukan Ruso untuk berlari ke selatan.
Tujuan Lansa hanya satu. Yakni tanah datar yang biasa digunakan oleh orang-orang kota untuk acara camping. Jarak antara lembah Cherokee dan tanah lapang itu bukan jarak yang pendek sebenarnya. Tapi sejauh apapun Lansa tak peduli. Bahkan jika hujan badai mungkin saja datang.
Lansa terus memacu kudanya menuju ke selatan. Berhenti sejenak di tepi sungai kecil tempat Aruma melepaskan Yiska, sebelum kemudian turun dan menyeberanginya. Lansa yakin, bibi Aruma membawa Yiska ke tempat ini, karena ini satu-satunya jalan yang menghubungkan Cherokee dengan dunia luar. Sembari membawa kudanya dalam langkah pelan, Lansa meneliti, karena derasnya hujan mengaburkan pandangan matanya. Tak dia pedulikan bagaimana cuaca dingin ini nyaris membekukan tubuhnya.
Pandangan matanya yang sedikit terganggu oleh hujan lebat itu membuat Lansa harus bekerja ekstra kuat untuk menajamkan penglihatannya. Barangkali Yiska masih berada di sekitar tempat itu.
Tapi sampai Lansa berhasil menyeberangi hutan pinus itu, dia tak menemukan keberadaan Yiska. Maka dengan segera laki-laki berambut panjang itu segera menghela kembali kudanya menuju ke tanah lapang. Hujan badai sepertinya memang akan datang, tapi sekali lagi Lansa tak peduli. Karena dia sudah berjanji pada Yiska bahwa dia akan menjamin keselamatan gadis itu sampai masa perjanjian mereka berakhir.
Ketika beberapa saat kemudian Lansa tiba di tanah lapang itu, dia segera menuju ke sebuah pos penjagaan yang memang dibangun untuk memandu keberadaan acara camping. Setelah turun dari punggung Ruso dan menambatkan hewan itu di salah satu palang pagar pos penjagaan, Lansa berjalan menghampiri rumah itu.
“Halo, Tuan, ada yang bisa saya bantu?” seorang penjaga pos keluar begitu mendengar derap kaki kuda milik Lansa.
“Anda benar, Sir. Saya sedang mencari seorang gadis dengan wajah bulat, mata bulat dan rambut kecoklatan. Mungkin Anda melihatnya di area perkemahan ini?”
Si penjaga pos terlihat berpikir sejenak.
“Maaf, Tuan. Tetapi para peserta camping ini bahkan sudah pulang tadi pagi, karena ramalan cuaca memang kurang bagus untuk hari ini,” ujar si penjaga setelah mengingat.
Hati Lansa mencelos. Dia tak menyangka akan kehilangan jejak Yiska kali ini.
“Baiklah, terima kasih, Sir.”
“Baiklah Tuan. Mari singgah untuk sekedar minum, Tuan. Sepertinya hujan ini cukup menguras panas tubuh kita.”
“Terima kasih, Sir. Mungkin lain kali.”
Lansa kembali mengambil Ruso dan segera naik ke punggungnya. Kemudian segera bergegas meninggalkan pos penjagaan dan kembali menyusuri jalanan menuju pulang. Hujan masih mengguyur kawasan hutan pinus, membuat hutan itu semakin gelap. Lansa kali ini tak melajukan kudanya dengan kencang. Dia hanya mengajak Ruso berjalan pelan, sambil menyusuri jalanan yang sedikit licin, sepanjang jalan dia mengedarkan pandangannya, mencoba mencari keberadaan Yiska.
Hatinya mulai gundah ketika pada pertengahan perjalanan, dia tak juga menemukan Yiska. Dalam hati dia akan meminta pertanggung jawaban Bibi Aruma jika sampai Yiska tak bisa dia temukan. Karena satu-satunya yang bisa dan pantas membantunya menggagalkan pernikahannya dengan Mona hanyalah Yiska. Mona akan semakin yakin bahwa Lansa memang tak berniat melanjutkan rencana pernikahan mereka jika Lansa telah menikah dengan Yiska.
Karena jika Lansa tak segera menikah, bukan tak mungkin Hulubalang Meka akan kembali membujuk Lewanu untuk menikahkan mereka berdua. Tidak! Tekad Lansa telah bulat. Seumur hidupnya, dia tak akan menikah dengan perempuan suku Zuni.
Di tengah pikirannya yang melamun, tiba-tiba mata Lansa menatap sekelebatan warna putih bergerak beringsut dan bersembunyi di balik sebuah pohon pinus. Lansa menghentikan jalannya Ruso untuk meredam rasa penasarannya.
“Siapa di sana?” Lansa berteriak lantang.
Diam. Tak ada sahutan sama sekali. Karena penasaran, akhirnya Lansa mengajak Ruso mendekati bayangan yang beringsut tadi hanya untuk terkejut karena di sana, di bawah pohon pinus itu dia melihat seorang gadis berbaju putih sedang meringkuk dan terduduk dengan tubuh yang menggigil kedinginan.
Saat itu juga, perasaan Lansa yang mengambiul alih kendali pikira Lansa. Kepala Lansa dan hati seakan terhubung. Lansa memicingkan matanya. Ia seperti melihat sesosok perempuan, dan hatinya pun menumbuhkan sebuah perkiraan.
* * *