BENIH LUKA MONA

3526 Words
Setelah Lansa menerima nampan berisi makanan untuk Yiska, laki-laki itu menutup pintu biliknya, memberi Leti peringatan bahwa perempuan itu sebaiknya pergi dari biliknya daripada harus melongo menatap Yiska dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Kemudian dengan langkah panjang segera mendekati Yiska yang kini duduk di atas dipan biliknya. “Makanlah.” Lansa memerintah Yiska untuk makan setelah meletakkan nampan itu di depan Yiska. Yiska menatap Lansa dengan pandangan penuh selidik dan kecurigaan yang berlebihan. “Aku hanya menyuruhmu makan, bukan menyuruhmu menatapku seolah aku makhluk aneh.” Lansa menghardik Yiska membuat gadis itu membuang muka semakin kesal. “Tak mau makan?” Lansa bertanya setelah melihat bahwa Yiska sepertinya tak hendak menyentuh makanan yang diberikannya. Yiska menatap kembali ke arah Lansa dengan pandangan sengit. “Bukan aku tak mau makan. Tapi, aku tak mau mati sia-sia kalau kamu menaruh racun di makanan ini,” Yiska menjawab dengan ketus, membuat Lansa tertawa terbahak sekaligus kesal dan marah. Kalau saja yang dihadapinya bukan seorang perempuan muda yang menggemaskan namun mengesalkan, mungkin Lansa sudah menamparnya karena kelancangan kalimat yang diucapkannya. “Untuk melenyapkanmu aku tak butuh racun, Nona. Tapi hanya dengan sebilah belati kecil, aku bisa mengirimmu ke alam yang bahkan tak pernah kau bayangkan!” Lansa spontan mengucapkan ancamannya dengan geram dan geli karena Yiska menatapnya dengan pandangan horor. Yiska menatap ragu ke arah Lansa dan makanan itu, bergantian. “Makan! Atau aku akan kembali melemparmu ke penjara belakang!” Yiska merengut, kemudian dengan ragu-ragu menjamah makanan yang dibawa Leti untuknya. Sejenak Yiska tertegun sesaat, menelaah rasa yang kini membanjiri lidahnya, memanjakannya dengan cita rasa makanan yang ternyata sangat luar biasa. Yiska berhenti mencicipi untuk meresapi rasa apa yang sekiranya kini dicecap lidahnya. Sesekali dia menjilat ujung jarinya yang masih berlumuran makanan. Selama ini masakan Mommy-nya memang yang paling nikmat, tapi makanan di depannya kali ini benar-benar menyuguhkan cita rasa yang berbeda dan seolah terasa sangat tepat untuk lidahnya. Wangi rempah alami yang menguar lewat asap kuahnya sangat sempurna untuk lidah. Atau karena perutnya yang benar-benar lapar? Entahlah, karena yang Yiska tahu, dia ingin melahap habis sup panas itu. “Kenapa terdiam? Tak enak? Tak suka karena rasanya tak seperti makanan kota?” Lansa menggoda sekaligus mengejek Yiska yang akhirnya menghabiskan makanan itu hingga tandas tak tersisa sama sekali. Yiska tak menggubris kalimat Lansa dan bahkan meneruskan makannya dengan lahap. Tak peduli pada tatapan Lansa yang memandangnya penuh tanda tanya. Satu mangkuk tembikar berisi sup panas telah berpindah ke perut Yiska, bersamaan dengan potongan daging bakar yang hanya semangkuk kecil. Lansa tersenyum mengejek ke arah Yiska, namun gadis itu tak menghiraukannya. “Sudah?” Yiska mendongak menatap Lansa dan mendapati dirinya sendiri malu karena Lansa menatapnya dengan pandangan mengejek. “Kita akan segera membicarakan kesepakatan yang akan kita jalani untuk beberapa waktu ke depan.” “Apakah aku mengatakan bahwa aku setuju?” Yiska bertanya begitu Lansa mengambil nampan bekas makan Yiska untuk menaruhnya di atas meja kayu di dekat pintu bilik. Lansa terkejut, namun laki-laki ini selalu memiliki jawaban untuk sikap ketus Yiska. “Dan apakah kamu sudah tahu, bahwa aku tak memberimu pilihan lain selain menerima?” Yiska merasa semakin geram dan menatap Lansa dengan sengit, membuat Lansa semakin tersenyum mengejek karena berhasil mempermainkan emosi Yiska. “Cepat katakan apa yang harus aku lakukan agar aku bisa bebas dari tempat yang membuatku gila ini!” “Tempat ini tak akan membuatmu gila, Nona. Tapi akan membuatmu tergila-gila, nanti, suatu saat.” Lansa tertawa penuh ejekan. “Bermimpilah, Tuan Indian. Karena begitu kesepakatan ini selesai kita jalani, aku akan bebas dari lembah sepi ini dan tak akan tergila-gila dengan tempat ini, seperti apa yang kamu katakan.” Yiska menjawab ketus. Lansa hanya tertawa, dan melanjutkan ucapannya, “Kita lihat nanti saja, Nona.” “Akan lebih baik jika kamu segera mengatakan apa yang bisa aku lakukan. Aku ingin segera keluar dari sini. Charly pasti sudah mencari dan menungguku.” Lansa mengerutkan keningnya mendengar Yiska menyebutkan nama Charly. Entah mengapa, ada perasaan tak suka ketika dia mendengar Yiska menyebut nama seorang laki-laki. “Charly?” Lansa bertanya dengan nada menggantung. Yiska menatap Lansa bingung.  “Ya, Charly. Dia teman dekatku. Ada yang salah?” Yiska menatap Lansa dengan pandangan tanpa dosa. Lansa mendengus dan melempar pandangannya ke arah luar melalui jendela. Tapi hijaunya kebun belakang rumah besar Lewanu itu ternyata tak mampu meredam rasa tak suka yang terlanjur melebur di dadanya. “Persetan dengan Charly atau siapapun. Yang pasti, kamu sudah setuju dengan kesepakatan yang aku ajukan, dan aku akan menggantinya dengan keselamatan dan kebebasanmu begitu rencanaku berhasil.” Yiska menghembuskan napas tak sabar ketika dirasanya Lansa terlalu berbelit-belit dengan kalimatnya. “Bisakah kamu mengatakannya dengan lebih jelas dan terperinci? Sepertinya hanya alasan-alasan saja yang dari tadi pagi kamu ungkapkan tanpa aku paham satupun.” Lansa menghela napas sedikit berat. Dia kemudian duduk di sisi dipan yang lain. “Sesuai kesepakatan yang dibuat ayahku dan kepala suku Zuni, kau harus menikah dengan anak kepala suku Zuni saat aku berusia dua puluh tujuh tahun. Dan itu artinya bulan depan. Bulan depan aku harus menikah dengan Mona. Dan aku ingin kamu membantuku untuk menggagalkannya,” Lansa berkata datar namun sangat jelas di telinga Yiska, membuat gadis itu terperanjat dengan kegilaan yang didengarnya barusan. “Apa?” Yiska ingin mendengar kembali apa yang dikatakan Lansa. “Kurasa kamu bukan gadis dengan pendengaran yang terganggu. Jadi aku pastikan tak akan mengulangi apa yang telah aku katakan kalau itu yang ingin kamu tahu.” Yiska menggeleng sembari mencibir. “Harap kamu tahu, ya. Aku perempuan. Dan aku tak akan menyakiti hati perempuan lain dengan menggagalkan pernikahannya dengan tujuan apapun!” “Oh ya? Apakah itu artinya kamu berniat untuk  tetap berada di lembah Cherokee ini selamanya? Bermimpilah untuk bisa bebas dari sini, jika menolak rencanaku, Yiska!” Lansa lantas berdiri hendak meninggalkan Yiska. “Tunggu!! Apa maksud kamu?” Yiska beranjak terburu-buru untuk mengejar Lansa yang telah sampai di pintu bilik, hendak keluar. Lansa menatap Yiska tajam dengan rahang terkatup rapat. “Kamu mengatakan tak akan membantuku menggagalkan pernikahanku. Itu artinya...hidupmu akan sangat menyedihkan karena akan berakhir di penjara belakang. Di bawah kekuasaan Yoki. Kamu pasti tahu, apa artinya kan?” Lansa menjawab lirih dan tegas, membuat Yiska mengkerut ngeri. “Apa tak ada kerjasama lain yang bisa kulakukan selain menyakiti perasaan perempuan lain?” Yiska menatap Lansa penuh permohonan, berharap Lansa memiliki keepakatan lain yang barangkali bisa dia lakukan. Sayangnya Lansa menggeleng. Meski tak begitu tegas, tapi Yiska tahu bahwa dia tak akan mendapatkan kebebasannya jika dia menolak tawaran Lansa. Gadis itu memutar otak, mencari cara lain untuk bebas dari lembah Cherokee. “Kamu punya kesempatan berpikir sampai besok pagi. Jika kamu setuju, kamu bisa tinggal bebas di sini, tapi tetap dalam pengawasanku. Tapi kalau kamu tidak setuju, jelas kamu akan berada dalam pengawasan Yoki.” Lantas dengan bergegas Lansa meninggalkan Yiska yang bingung dan termangu tanpa bisa mengambil keputusan atas apa yang ditawarkan Lansa. Yiska kesal. Dia berbalik lagi ke dalam bilik dan duduk dengan gelisah di atas bilik. Tapi dia resah. Gadis itu kemudian berdiri dan berjalan mondar mandir didalam ruangan bilik, ketika kemudian terdengar ketukan di pintu. “Siapa?” Yiska bertanya. “Saya, Nona. Leti.” Suara Leti terdengar santun dari luar. Yiska bergegas ke pintu dan membukanya. Di sana dilihatnya Leti sudah menunggu, berdiri dengan santun. Mau tak mau, Yiska tersenyum. “Leti?” Yiska bertanya sopan. Gadis di depan pintu bilik itu mengangguk santun. “Apakah, ada sesuatu?” Yiska kembali bertanya. Dengan agak kikuk, Leti mendongak menatap Yiska yang berdisi di depannya. Sejenak Leti benar-benar terpesona dan takjub. Gadis di depannya itu demikian cantik dengan kulitnya yang putih bersih, pipi gembil yang dibingkai oleh segenggam tebal rambutnya yang hitam kecoklatan, juga sepasang mata yang berbinar dan bersinar ceria. Sejenak Leti merasa sangat iri dengan perbedaan antara dirinya dengan Yiska. Tapi yang tak kalah menakjubkan adalah bahwa gadis di depannya itu bahkan bak pinang dibelah dua dengan Hima. “Leti?” Yiska memanggil gadis itu karena merasa risih ditatap sedemikian tajam. “Ya?” Leti tergagap dengan sapaan Yiska. Gadis itu merasa kikuk karena kedapatan mengamati Yiska dengan demikian teliti. “Apakah ada sesuatu yang aneh dengan saya?” Yiska bertanya. Leti terlihat menggeleng gugup dan menunduk. “Maaf, saya harus mengambil mangkuk sup tadi.” Yiska hanya mengangguk dan kemudian menyingkir dari dekat pintu bilik untuk memberi Leti jalan agar masuk. Yiska hanya menatap Leti yang sedang mengambil mangkuk bekas makan paginya tadi. “Emm, supnya enak. Makanan ini, kamukah yang memasaknya?” Yiska mencoba mendekati Leti. Gadis itu hanya mengangguk. Menyembunyikan rasa bangga karena ada yang memuji masakannya. Selama ini tak pernah ada yang mengatakan bahwa makanan yang dimasaknya enak, apalagi Yoki. Laki-laki itu terlalu angkuh untuk mengatakan bahawa masakan Leti sangat lezat. Karena Yoki selalu mengatakan bahwa Leti mempunyai kelezatan yang lain. “Ehm, Leti...” Yiska memanggil Leti dengan ragu. Leti menatap Yiska dengan ragu. “Ya?” Jawab Leti yang tergagap karena lamunannya terampas. Yiska tersenyum kikuk namun sedikit takut-takut ketika tiba-tiba terbesit sedikit niatnya untuk pergi. “Apakah, kamu bisa mengantarku, ke tanah lapang tempat kami berkemah?” Yiska bertanya dengan terbata dan lirih. Wajah Leti terlihat terkejut.  “Maaf, saya tidak berani melakukannya.” Ucap Leti cepat. “Tapi kamu tahu kan ke arah mana aku harus pergi jika aku ingin pergi dari tempat ini? Please, aku sungguh tak betah di sini. Aku rindu dengan Mommyku, mereka pasti sedih mencariku.” Yiska memasang wajah menyedihkan, mengerahkan segenap kemampuan aktingnya untuk menerbitkan air matanya, agar Leti merasa iba dan mau mengantarnya menuju jalan keluar dari kampung Cherokee ini. “Maaf, Nona. Saya tidak berani,” ucap Leti menunduk. Dan ini kejujuran Leti, karena dia jelas tak berani melakukan hal yang akan membuat Lansa murka, apapun alasannya. Yiska bingung bagaimana cara membujuk Leti. “Ehm, bagaimana jika aku memberimu imbalan? Aku nanti akan memberimu beberapa perhiasan dari kota yang bisa membuatmu menjadi lebih cantik.” Leti menatap Yiska seperti tertarik. “Imbalan? Yang bisa membuatku lebih cantik? Secantik anda?” tanya Leti tertarik, membuat Yiska bingung harus memberi jawaban apa. karena sejujurnya, dia merasa biasa saja, tak secantik seperti apa yang dikatakan oleh Leti barusan. Yiska memutar otak mencari jawaban. “Ya. Imbalan. Kamu mau kan?” Yiska tersenyum dengan mata berbinar, membuat Leti semakin terkagum-kagum menatapnya. Tapi harapan Yiska harus terlempar ke awang-awang ketika Leti kembali menunduk sambil menggeleng pelan. Yiska hilang akal untuk meyakinkan Leti. Akhirnya Yiska menyerah. Mungkin lain kali Yiska akan dapat membujuk Leti agar bersedia mengantarnya menuju ke kota. Akhirnya Yiska membiarkan Leti keluar dari bilik Lansa yang kali ini ditempatinya. Sementara seseorang yang sejak tadi mendengar pembicaraan antara Leti dan Yiska, hanya tersenyum sambil manggut-manggut sebelum kemudian berlalu meninggalkan depan bilik Lansa untuk menghindari kecurigaan Leti maupun Yiska.   * * *   Sementara Lansa yang sejak tadi meninggalkan biliknya, kini menghela Ruso, kudanya kesayangannya menuju ke barat, ke arah pemukiman suku Zuni. Beberapa penduduk yang mengenali Lansa sebagai calon menantu Hulubalang Meka, segera mengangguk sebagai sapaan hormat. Namun laki-laki bertubuh cokelat itu bahkan tak menghiraukan sapaan itu, karena dia nyaris seperti terseret arus masa lalunya. Kalau boleh jujur, Lansa tak ingin menginjakkan kakinya ke tanah Zuni. Karena setiap jengkal tanah Zuni selalu mengingatkannya pada sosok Hima. Ya, Lansa sejujurnya benci ketika menyadari bahwa dia tak bisa melupakan perempuan itu. Tapi kali ini, Lansa tak memiliki pilihan lain. Bagaimanapun dia harus datang ke pemukiman suku Zuni dan menghadap Hulubalang Meka. Karena untuk menggagalkan rencananya, dia memang harus bertindak sendiri. Ayahnya, Lewanu, jelas tak akan setuju dengan sikapnya kali ini. Tapi Lansa bahkan tak akan menggubris apapun yang akan Lewanu katakan. Seorang anak buah Meka yang melihat kedatangan lansa segera menyambut laki-laki itu dengan tergopoh-gopoh untuk mengambil alih Ruso, kuda kesayangan Lansa. “Apakah Hulubalang Meka ada?” Lansa bertanya tanpa memandang anak buah Meka. “Ada, Lansa. Beliau baru saja datang dari berburu tadi malam.” Lansa mengangguk dan bergegas memasuki rumah Hulubalang Meka yang berdiri menjulang dengan gagahnya diantara rumah-rumah warga suku Zuni. “Salam, Paman. Saya minta ijin untuk menemui Anda,” Lansa mengucap salam sebagai tanda penghormatan kepada Hulubalang Meka. Bagaimanapun, selama ini Lansa menghormati dan menghargai Hulubalang Meka karena beliau adalah teman  Lewanu, ayahnya. Hulubalang Meka mendongak dari duduknya yang sedang tekun memandangi beberapa kertas yang berisi catatan pengiriman hasil panen gandum warga Zuni yang dikirimnya pada seorang pedagang besar di kota. Ya, selain sebagai seorang penguasa atas suku Zuni, Hulubalang Meka juga seorang saudagar yang menampung hasil panen warga Zuni kemudian menjualnya secara kolektif pada seorang pedagang besar di kota. Tak heran jika Hulubalang Meka terlihat demikian kaya diantara penduduk lainnya. Beberapa pekerja terlihat hilir mudik di sekitar rumahnya, setiap hari. Juga beberapa perempuan yang bekerja untuk mengurus dapur dan melayani Mona. Bahkan beberapa gadis yang bekerja itu selalu menatap Lansa dengan pandangan lapar ketika tadi  Lansa berjalan melewati mereka yang sedang bekerja di samping rumah Meka. “Oh, Lansa? Silahkan!” Hulubalang Meka menyambut ramah kedatangan Lansa dengan mempersilahkan Lansa duduk di sebuah kursi di depan Meka. Lansa dengan tegap kemudian duduk di depan Meka. “Apa kabarmu, Lansa. Bagaimana juga kabar Lewanu dan Aruma?” Meka memulai percakapan dengan basa basi. “Seperti yang Anda lihat, Hulubalang. Saya sehat.” Meka tersenyum penuh misteri, seolah mampu membaca apa yang menjadi tujuan Lansa datang ke rumahnya itu. Karena jujur saja, Hulubalang Meka merasa akan ada sesuatu yang tidak mengenakkan. “Baguslah kalau kalian semua sehat. Angin apa yang membuatmu datang ke sini, Lansa? Karena, sepertinya kamu tak pernah lagi bertandang ke sini semenjak collegemu selesai.” Lansa terdiam, menghela napas dalam-dalam untuk kembali meneguhkan tekadnya. Diakuinya bahwa ingatan Hulubalang Meka sangat tepat, karena memang dia tak pernah berkunjung ke Zuni semenjak dia lulus dari college, beberapa tahun lalu. Meka menatap Lansa dengan pandangan penasaran. “Maaf jika kedatangan saya kurang berkenan, Paman. Tapi saya memang harus menemui Anda.” “Tak masalah, Lansa. Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Apakah ini berhubungan dengan, Mona?” Meka bertanya dengan hati-hati dan ragu. Diam-diam Hulubalang Meka khawatir dugaannya mendekati benar. “Ya. Anda benar, Paman. Kedatangan saya ada hubungannya dengan Mona.” Meka terdiam menunggu dengan hati berdebar. “Saya ingin mengatakan bahwa saya tak akan melanjutkan pertunangan saya dengan Mona, Paman.” Jantung Meka berdebar dengan kencang, tiba-tiba. Apa yang dikatakan Lansa benar-benar seperti sebuah bom yang diledakkan diatas kepalanya dan membuatnya terhenyak bahkan dalam hitungan detik. Meski Meka sudah memiliki firasat bahwa jalinan persahabatan yang  dijalinnya dengan Cherokee akan kandas, tapi tak urung, hal ini tetap saja membuat Meka sangat terkejut. “Maaf jika Paman tak berkenan dengan apa yang saya katakan. Karena akan menjadi sebuah ganjalan jika saya tak mengatakannya. Saya tak mau menjalani sesuatu yang tak saya inginkan dengan tulus.” Lansa kembali menambahkan apa yang ada dalam kepalanya, membuat kepala Meka semakin berdenging seperti mau pecah. Laki-laki tua itu lantas berdiri dan berjalan pelan ke arah jendela untuk mencari sedikit saja angin segar untuk mengisi paru-parunya yang serasa kekurangan oksigen. “Sejak awal aku suda menduga bahwa kamu tak akan sepatuh itu untuk menuruti apa yang direncanakan oleh Lewanu, Lansa. Karena aku tahu. Kamu lahir diantara dua orang yang memiliki sifat keras kepala dalam berpendirian.” Meka mengungkapkan apa yang selama ini menjadi kecurigaannya semenjak dulu. “Jadi...” Meka berhenti bicara, dia menghadap ke arah Lansa yang masih duduk dengan tegak dan tegar di kursinya. Sama sekali dia tak merasa terintimidasi dengan suara Hulubalang Meka yang datar dan sarat nada kemarahan di dalamnya.  “Jangan salahkan aku atau juga orang-orang Zuni jika suatu saat kita berada pada posisi yang berseberangan, Lansa. Terutama berhubungan dengan zona emas yang selama ini menjadi sengketa antara suku kita.” Ungkap Hulubalang Meka meredam rasa marahnya. Lansa mendongak menatap meka dengan pandangan tajam dan berani. Bahkan laki-laki itu berdiri gagah menatap ke arah Meka. Diam-diam Meka kagum dengan keberanian Lansa yang tak gentar oleh apa yang dia ucapkan. “Kami adalah suku Cherokee, Paman. Paman tahu bagaimana kami semenjak dulu hingga kini. Kami akan dengan lapang d**a melepaskan apa yang bukan hak kami, dan tetap akan mempertahankan apa yang memang menjadi hak kami. Demikian pun dengan area emas itu. Karena menurut peta perjanjian, zona emas adalah tanah kami, maka kami tetap akan mempertahankan apa yang memang  menjadi hak kami. Apapun resikonya!” Meka tersenyum sinis menanggapi sikap Lansa yang dinilainya terlalu berani. Sejujurnya, Meka kagum dengan keberanian yang dipertontonkan Lansa dihadapannya. Dan laki-laki seperti inilah yang diinginkan Meka untuk menjadi suami Mona, menggantikan ntahtanya suatu saat. Tapi… “Dan itu artinya kalian tentu sudah siap dengan ekspansi yang sebenarnya sejak lama kami redam.” Tanya Hulubalang Meka tegas. “Kami siap untuk mempertahankan hak kami, Paman. Cherokee menunggu kedatangan Zuni, Paman. Permisi!” Lansa bergegas meninggalkan ruangan itu ketika tiba-tiba dari salah satu bilik muncul Mona dengan rautnya yang menunjukkan perasaan terpukul. Sepertinya dia mendengar apa yang dibicarakan Lansa dan ayahnya.  “Lansa!” teriak Mona memanggil lelaki itu. Lansa terkejut dengan panggilan suara Mona. Dia tak menyangka bahwa Mona akan muncul disini. Ditatapnya wajah Mona dengan pandangan meminta maaf. Tapi tak satu katapun keluar dari mulut Lansa. “Apakah keputusanmu itu karena ada perempuan lain?” Mona tiba-tiba menduga dengan spontan. Lansa kehilangan kata-kata, tapi dia lantas menggeleng. “Tidak, Mona. Keputusan ini sudah aku pikirkan bulat-bulat sejak lama. Kita tak cocok dalam banyak hal, Mona.” “Karena kamu tak mencoba menemukan kecocokan kita, Lansa.” Mona berkata dengan nada tegas, namun jelas bahwa ada rasa perih dalam nadanya. Bukan perih karena hatinya yang kecewa, tapi lebih karena merasa bahwa harga dirinya yang dilukai. “Sudahlah, Mona. Tak sepantasnya keluarga Meka meminta seorang laki-laki yang tak pantas untuk diminta,” Hulubalang  Meka melerai ketidakpuasan  Mona atas keputusan Lansa. Lansa hanya tegak dan tetap mencoba untuk tidak terpengaruh dengan kalimat ejekan yang dilontarkan Hulubalang Meka untuknya. “Tapi, Ayah...” Mona mencoba menyela kemarahan ayahnya. “Cukup, Mona! Jangan merendahkan diri untuk laki-laki tak bisa diuntung seperti dia!” Meka semakin murka dengan sikap Mona. Lansa menghembuskan napas. Ditatapnya Mona dengan rasa bersalah, bagaimanapun dia tak bisa bersama dengan perempuan ini. Tindakan sepupu Mona yang merampas Hima dari sisinya membuatnya tak bisa menerima kenyataan. “Maafkan aku, Mona. Kita memang tak berjodoh.” Lansa mengucap kalimatnya yang disusul dengan langkah tegapnya meninggalkan ruangan luas di rumah Hulubalang Meka. “Lansa! Tunggu, Lansa!” Mona mengejar sambil berteriak memanggil Lansa. Namun hanya punggung Lansa yang terlihat semakin jauh meninggalkannya. Mona termangu di tempatnya. Hatinya terluka.   * * *   Di bilik Lansa, Yiska berdiri termangu di dekat jendela. Kepalanya berpikir mencari jalan bagaimana caranya bisa keluar dari lembah ini tanpa halangan. Di tengah kecamuk pikirannya, tiba-tiba pintu biliknya terketuk dari luar. “Siapa? Leti kah?” “Bukan. Aku Aruma.” Kening Yiska mengerut mendengar nama Aruma. Tapi gadis itu kemudian memutuskan untuk membuka pintu bilik Lansa. Dan seraut wajah datar kini terlihat di depannya, membuat senyum Yiska yang semula hendak terbit, kini terpaksa tenggelam kembali. “Bisa ikut denganku?” Aruma bertanya datar. Yiska menatap Aruma ragu. Tapi keseriusan Aruma membuat Yiska mengangguk dengan ragu. Kemudian Yiska segera bergegas mengikuti langkah Aruma yang berjalan mendahuluinya. Sebenarnya Yiska ingin bertanya, tentang siapa Aruma dan akan kemana mereka menuju. Tapi pertanyaan itu hanya terkumpul sia-sia di benak Yiska. Aruma membawa Yiska menuju ke kandang kuda, dimana terdapat beberapa kuda jantan yang tangguh yang menjadi kendaraan andalan Cherokee. Berhenti di sebelah seekor kuda hitam jantan yang gagah, Aruma lantas naik ke atas punggung kuda tersebut kemudian berbalik menatap Yiska yang sedari tadi hanya terdiam. Tangan Aruma memegang tali kekang kuda itu agar tak terlalu liar dalam bergerak. “Naiklah.” Ucap Aruma mengulurkan tangannya pada Yiska. Yiska tertegun. Dia menatap Aruma dengan ragu dan penuh tanya. Bagaimana mungkin dia harus naik ke atas kuda, sementara seumur hidup Yiska tak pernah melakukannya. “Maaf. Benarkah saya harus naik?” tanya Yiska sedikit takut. “Ya. Cepat lakukan jika kamu ingin bebas dan pergi dari lembah ini. Waktumu tak banyak, sebentar lagi Lansa akan datang.” Mendengar kata bebas, keraguan Yiska lenyap. Maka dengan takut-takut dia berusaha sekuat tenaga agar bisa sampai di atas punggung kuda. Setelah mengusir rasa takutnya, Yiska kini duduk diatas punggung kuda hitam gagah itu, dengan Aruma ada di depannya. “Berpeganglah erat, kita akan meninggalkan tempat ini sesuai keinginanmu tadi pagi.” Yiska terkejut. Bagaimana mungkin perempuan setengah baya ini tahu bahwa dia telah berbincang dengan Leti dan mengatakan bahwa dia ingin bebas dari lembah ini. Yiska hanya mengangguk dan mengikuti saran Aruma untuk memegang erat. Kemudian Aruma dengan pandai menghela kuda hitam itu keluar dari kandangnya dan memacu pelan meninggalkan rumah besar Lewanu. Beberapa orang yang melihat kepergian Aruma dengan membawa Yiska, hanya menatap tanpa berani berprasangka. Meski mereka tahu bahwa Yiska masih seorang tahanan. Tapi yang pasti, mereka tak berani berpikiran lain. Aruma terus menghela kudanya menuju ke selatan, meninggalkan lembah Cherokee yang masih berselimut kabut tipis. Sisa hujan semalam masih terlihat dari basahnya jalanan yang mereka tempuh. Juga beberapa pohon yang daunnya masih basah, terlihat kelas di sepanjang jalan menuju ke selatan. Tiba di tepi sebuah sungai kecil yang dialiri air jernih, Aruma menghentikan kudanya. Yiska yang sedari tadi memegang erat Aruma, kini memberanikan diri untuk bertanya. “Apakah kita sudah sampai?” Yiska memandang sekeliling dengan hati yang sedikit getir. “Ya. Turunlah.” Ucap Aruma. Yiska terkejut. Turun? “Bagaimana mungkin saya bisa turun kalau saya tak menemukan jalan kembali ke kota?” “Menyeberanglah ke sungai itu. Dari jalan setapak hutan pinus itu, kamu akan menemukan jalan lurus menuju ke tanah lapang dimana kalian mengadakan acara camping. Kamu bisa bertanya pada petugas yang berada di pos tanah lapang itu.” Yiska menatap ke seberang sungai, dan ingatannya kembali pada sore dimana dia dan Charly serta Angela kemarin berjalan menyusuri hutan pinus itu. Meski terbayang bahwa jarak antara tempatnya kini berdiri dengan tanah lapang itu lumayan jauh, tapi tekad Yiska untuk bebas dari lembah Cherokee membuatnya berani. “Pergilah! Tapi ingat! Jangan sekali-kali mengatakan pada siapapun bahwa aku yang mengantarmu ke sini.” Yiska tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, bibi Aruma. Saya tak akan mengatakan apapun pada siapapun.” “Bagus. Pergilah!” Yiska mengangguk tegas. Dengan langkah setengah berlari, Yiska meninggalkan Aruma yang masih mengawasinya dari atas kudanya. Menyeberangi sungai yang alirannya tak begitu deras itu, Yiska kini sampai di seberang sungai. Sejenak menoleh ke arah Aruma yang masih mengawasinya, Yiska melambaikan tangannya. “Sekali lagi terima kasih, Bibi Aruma.” Yiska berteriak dari seberang sungai. Setelah Aruma mengangguk, Yiska segera berlari menyusuri jalan setapak di tengah hutan pinus yang terlihat gelap karena sinar matahari yang tak mampu menerobos terang di antara dahannya. Setelah Yiska hilang dari pandangannya, Aruma segera menghela kudanya meninggalkan tepi sungai dan kembali ke pemukiman Cherokee. Dalam hati Aruma berharap gadis itu bisa menemukan orang yang tepat yang bisa mengantarnya sampai ke kota sebelum Lansa datang dan menyadari bahwa Yiska telah tak ada di biliknya. Karena diam-diam Aruma khawatir akan kemurkaan Lansa jika mengetahui bahwa perempuan yang akan dinikahinya itu telah pergi. Tapi bagaimanapun, Lansa memang harus dijauhkan dari Yiska atau, ekspansi suku Zuni akan benar-benar datang menghampiri dan impian akan Cherokee yang makmur akan menguap begitu saja.  * * * *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD