KESEPAKATAN

3199 Words
Angin malam masuk melalui celah-celah rumah mereka. Perkataan Aruma merambat di seluruh ruangan itu. Wajah Lewanu seketika menegang mendengar perkataan Aruma. Baru kali ini ia mendapati ide gila dari Aruma, yang tak lain adalah kakaknya. Perempuan yang ia kenal bisa mengatakan hal sesadis itu, yang selama ini bahkan pasti tak akan pernah dilakukan oleh seorang Aruma. Tapi ketika Lewanu menatap Aruma, laki-laki kepala suku Cherokee itu menemukan kesungguhan di mata Aruma. “Apakah itu artinya...” Lewanu tak meneruskan kalimatnya, karena dia khawatir dengan apa yang melintas di kepalanya. “Ya, Lewanu. Kita harus menjauhkan gadis itu dari Lansa, bagaimanapun caranya.” Aruma kembali menegaskan. “Jangan katakan kita harus membunuh gadis itu, Aruma. Kamu tahu sudah beberapa generasi kita menghindari pembunuhan tanpa sebab.” Aruma tersenyum kecil. “Kita masih bisa menempuh banyak cara untuk menjauhkannya dari Lansa, selain membunuh.” Lewanu terdiam menatap Aruma dengan pikiran penuh cabang. Sambil mengira-ngira dalam hati, apakah yang sebenarnya ada di dalam benak Aruma kali ini. “Apa yang harus kita lakukan menurutmu?” tanya Lewanu bingung. “Sebaiknya kita mengembalikannya ke kota. Di sini bukan tempatnya.” Aruma menjawab tegas dan datar. Lewanu menatap Aruma dengan penuh rasa takjub. Dia tak menyangka bahwa Aruma ternyata memiliki pemikiran yang luas. Diam-diam dia merutuki otaknya yang bebal hingga tak menemukan jalan keluar. “Aku tak menyangka bahwa kamu bisa secerdas ini, Aruma. Tapi bagaimana mungkin kita mengembalikan gadis itu, sementara Lansa mulai teliti dan terus mengawasi gadis itu.” Aruma tertawa kecil, ia menertawakan kebodohan Lewanu. Aruma berkacak pinggang dan berjalan mengelilingi Lewanu. “Kita pasti punya cara untuk itu, Lewanu. Dan kali ini kuharap kamu akan mempercayakan ide ini padaku.” Ucapnya lalu menghentikan langkahnya lalu duduk di bangku kayu tua di rumah itu. Lewanu tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia menatap pemandangan malam yang dari jendela yang masih terbuka. Angin sejuk berhembus, menyejukkan bilik tengah dimana Aruma dan Lewanu membicarakan Cherokee. “Kapan kita bisa memulai rencana itu, Aruma?” tanya Lewanu menoleh ke arah Aruma. “Kita akan menunggu saat yang tepat. Atau kita akan mencari alasan untuk membuat Lansa meninggalkan gadis itu.” Lewanu mengangguk. Di langit malam yang tanpa bintang, Lewanu mengembangkan senyuman. Lewanu bersiul sambil mencari keberadaan bintang. Langit malam tampak enggan bersinar. Namun, Lewanu tak ambil pusing, mungkin hujan akan membasahi Choroke malam ini. “Idemu membuat malam ini terasa indah Aruma. Sebenarnya, tak ingin kuakui kecerdasanmu, namun kali ini aku akan mengatakan itu.  Karena aku tak memiliki pilihan. Kamu memang lebih cerdas dariku!” Lewanu menatap Aruma dengan pandangan lembut. Menyadari, bahwa kakak perempuannya memang perempuan yang bijak dan cerdas. “Tidurlah. Aku juga akan segera tidur. Malam ini rasanya suasana sedikit sejuk, sepertinya malam akan diguyur hujan,” Aruma kemudian bangkit dan berjalan menuju ke jendela yang masih terbuka. Lalu dengan tangannya. Aruma meraih daun jendela yang terbuka untuk kemudian menutup dan menguncinya. Menoleh sejenak ke arah Lewanu, Aruma mendengar Lewanu berbicara. “Carilah alasan yang paling tepat agar Lansa meninggalkan gadis itu. Sebelum kita mengantar gadis itu pulang ke kota.” “Tapi gadis itu masih sakit, Lewanu. Bersabarlah. Kita pasti akan menemukan cara paling tepat.” Aruma pergi meninggalkan Lewanu yang masih duduk di bilik tengah rumah besarnya. Sementara di luar, terlihat kilat mulai menyambar yang cahayanya menembus celah dinding kayu rumah besar Lewanu. Laki-laki setengah tua itu masih termenung, memikirkan bagaimana cara mempercepat pernikahan Lansa dan Mona. Hujan mulai turun merintik. Hawa sejuk yang tadi berhembus, mulai berubah karakter menjadi lebih dingin untuk kemudian menjadi sangat dingin. Di bilik tidur Lansa, laki-laki itu masih belum bisa memejamkan matanya dengan lelap. Yiska yang masih bergelung dalam dekapannya memang mulai turun suhu badannya. Meski begitu, Lansa tak mau melepas pelukannya. Dia tak akan peduli meskipun nanti gadis itu akan berteriak atau bahkan memakinya karena mereka akhirnya tidur dalam satu kamar, bahkan dalam satu selimut. Lansa tak akan peduli. Entahlah, berada dekat dengan Yiska membuat Lansa merasa lengkap. Hujan menderas. Dari bilik tidur Leti yang terletak di dekat dapur, terdengar sebuah ketukan yang sedikit memaksa. Leti yang sudah membaringkan tubuhnya, segera beranjak dan mendekati jendela. “Siapa?” Leti bertanya lirih, seolah takut penghuni rumah besar akan mendengar suaranya. “Aku, Yoki.” Suara seorang laki-laki terdengar demikian familiar di telinga Leti, menerbitkan senyum cerah di bibir Leti. Gadis itu kemudian membuka palang jendela biliknya, dan tersenyum penuh rasa was-was ketika dilihatnya Yoki berada di luar jendela biliknya. “Ada apa, Yoki?” Leti bertanya lirih, sambil sesekali menatap ke arah pintu biliknya. Gadis itu khawatir ada yang mendengar suara percakapan mereka. “Keluarlah, Leti. Malam ini sepertinya akan turun hujan badai. Aku tak ingin kedinginan sepanjang malam.” Ucap Yoki meraih pergelangan tangan Leti. Leti tersenyum malu mendengar permintaan Yoki. Gadis itu mengangguk kemudian bergegas menaiki jendela yang dibukanya lebar. Yoki yang sudah menunggu, menyongsong gadis itu dengan kedua lengannya yang kokoh. “Kita ke bangsalku?” Leti mengangguk, kemudian kedua manusia itu berlari kecil meninggalkan rumah besar Lewanu. Sosok mereka yang berlari mengendap sambil menghindari guyuran air hujan, sesekali terlihat ketika cahaya kilat menerpa dengan terang benderang. Seseorang yang menyaksikan kedua orang itu tersenyum sinis dari jendela bilik ruang atas rumah Lewanu. “Aku tahu ada skandal busuk diantara kalian.” Laki-laki itu berkata pada diri sendiri dengan lirih.   * * *   Rinai gerimis semakin tajam menusuk atap-atap hunian penduduk Cherokee. Mendung yang menggayuti gunung dengan hutan pinusnya terlihat semakin lengkap dengan sambaran kilat yang bersabung dengan gemuruh halilintar. Di biliknya, Lansa mendekap erat gadis asing yang berhasil membuatnya menyusun rencana, bahwa menikahi gadis itu adalah satu-satunya jalan untuk melakukan perlawanan terhadap ayahnya yang telah berkonspirasi dengan suku Zuni yang selama ini selalu arogan. Tapi di bangsalnya, Yoki sedang memuaskan kebutuhan primitifnya yang selalu tak pernah puas jika sudah berdekatan dengan Leti. Sepertinya mereka akan melewatkan malam dengan bercengkerama hingga pagi. Tanpa mempedulikan hujan yang semakin deras, maupun gemuruhnya halilintar. Karena yang ada di dalam benak mereka hanyalah melewatkan malam dengan sebuah keindahan dan kepuasan  ragawi.   * * *   Di malam yang sama, di kampung suku Zuni. “Apa yang dipikirkan Ayah? Sepertinya sejak sore tadi terlihat gelisah?” seorang gadis berkulit eksotis terlihat mengamati ayahnya yang sedang berdiri di dekat jendela, memandang ke arah luar yang sedang hujan lebat, diiringi dengan suara gemuruhnya halilintar. Laki-laki itu, Hulubalang Meka, memandang Mona, anak gadisnya yang sedang duduk di atas kursi kayu di bilik tengah rumahnya yang berukuran besar. Jauh lebih besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah penduduk yang lain. “Entahlah. Ayah merasa kedatangan Lewanu seperti mengandung sesuatu yang tak biasa, anakku.” Mona terkejut dengan penilaian ayahnya akan kedatangan Lewanu tadi.  “Apa maksud Ayah?” “Ada sesuatu yang disembunyikan Lewanu, Mona. Sepertinya mengenai rencana pernikahan kalian.” “Aku tak paham,” Mona mengusut keningnya, bingung. “Ketika ayah menanyakan tentang pernikahan kalian, Lewanu hanya menjawab seperlunya, bahkan langsung mengalihkan pada pembicaraan lain.” Cerita sang ayah dengan meratap. Mona terdiam merenung. “Hemh, mungkin perasaan Ayah saja,” Hulubalang Meka menghela napas berat. Lalu mendekati anaknya itu. Ia menatap wajah Mona lekat-lekat. Dilihatnya putrinya kini telah dewasa, ia tak ingin Mona tak bahagia. Mona telah menanamkan nama Lansa dalam hati dan pikirannya sejak perjodohan itu ada. Mona benar-benar mendambakan Lansa menjadi pendampingnya.  ”Ayah harap juga begitu. Karena jika dia benar-benar berani menggagalkan pernikahan kalian, ayah tak punya pilihan lain, Mona,” Hulubalang Meka berkata dengan geram. Mona terkesiap, “Apa yang akan Ayah lakukan?” Hulubalang Meka menatap Mona dengan pandangan lembut namun terlihat tajam. ”Ekspansi radikal akan kita lakukan. Bagaimanapun, wilayah tambang emas mereka seharusnya menjadi milik kita. Jika kita tak bisa mendaapatkannya dengan jalan baik-baik, kita akan mendapatkannya dengan jalan radikal.” Mona menatap ayahnya dengan senyum mengejek yang ditujukan pada sosok Lansa. “Mona yakin Lansa tak akan berani melakukan hal itu, Ayah. Mona kenal dengan baik siapa Lansa. Dia sangat patuh dengan ayahnya.” “Semoga saja apa yang kamu katakan benar, Mona. Karena firasat ayah tidak demikian.” “Apa maksud ayah?” Mona penasaran dengan penilaian ayahnya tentang Lansa. “Lansa tak seperti yang kamu lihat, Mona.” Ungkap sang ayah tanpa keraguan. Mona menatap ayahnya tajam, lalu menggeleng. Perasaannya mendadak kacau, tak terbayangkan jika pengharapannya hanya akan sia-sia. “Tidak,  Lansa anak yang baik, itu yang Mona tahu sejak kami kecil dan sama-sama bermain ketika dulu dia datang ke sini bersama Paman Lewanu.” Ucap Mona menahan rasa takutnya menjadi sebuah kesedihan. Hulubalang Meka tersenyum kecil, sedikit mengejek akan dangkalnya penilaian Mona terhadap Lansa. Tapi Hulubalang Meka memaklumi, bagaimanapun Lansa, Mona akan tetap membela lelaki itu karena Lansa adalah laki-laki yang Mona inginkan, bahkan semenjak mereka masih sama-sama kecil. “Ayah melihat perubahan itu sejak Lansa lulus dari college, Mona.” Hulubalang Meka seperti menerawang, mencoba mengurai analisa yang dia dapatkan dari sikap dan tingkah Lansa yang berubah semenjak laki-laki itu lulus dari college. Mona hanya diam tak menjawab. Sepertinya Hulubalang Meka benar, karena semenjak dewasa, Mona hanya beberapa kali bertemu dengan Lansa. Laki-laki itu sibuk dengan urusan belajarnya, sementara Mona sibuk dengan latihan-latihan berperang dan berburu yang sudah mendarah daging dalam hidupnya. Dalam diamnya Mona tersenyum. Gadis itu teringat sosok Lansa yang ditemuinya beberapaa bulan lalu, ketika mereka berada dalam sebuah upacara pernikahan penduduk suku Zuni. Di matanya, Lansa demikian gagah dan tampan. “Dia akan tetap menjadi Lansaku, Ayah. Seperti apa yang aku inginkan selama ini,” Mona berkata tandas dalam senyum yang penuh arti. Hulubalang Meka menatap anak gadisnya. Dan ya, dia seperti melihat bayangan istrinya dalam setiap tingkah dan sifat Mona. Keras kepala, pantang dengan kata kalah, dan sangat posesif. Diam-diam Hulubalang Meka merasa khawatir, bagaimana jika firasatnya mengenai Lansa benar adanya, hingga takdir berjalan tidak sesuai dengan keinginan Mona. Meka khawatir anak gadisnya akan meradang. “Kita memang selalu berharap agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, Mona. Tapi kita tetap harus memiliki rencana lain, jika apa yang kita inginkan tak berjalan sesuai rencana.” Mona menatap ayahnya. “Apakah Ayah sudah memiliki rencana itu?” Hulubalang Meka mengangguk. “Ya!” Meka menjawab tegas dan mantab. “Boleh aku tahu?” Hulubalang Meka menatap Mona. “Belum saatnya, Mona. Tapi ayah janji, suatu saat ayah akan memberitahumu tentang rencana yang ayah susun.” Mona hanya mengangguk, karena dia tahu, mendesak ayahnya adalah hal yang sia-sia karena Hulubalang Meka adalah laki-laki Indian yang keras kepala. “Tidurlah, Anakku. Malam mulai larut. Hujan sepertinya akan lebat malam ini.” “Ya, Ayah.” Gadis itu menyahut kemudian beranjak meninggalkan ayahnya untuk memasuki biliknya. Sementara Hulubalang Meka masih duduk di bilik tengah rumahnya. Meka merenung dengan susunan rencana-rencana yang telah dia susun jikalau firasatnya benar. Hulubalang Meka akan mematangkan semuanya bersama orang-orang kepercayaannya. Bagaimanapun, lembah Cherokee dengan kandungan emasnya yang melimpah harus menjadi wilayah kekuasaannya. Dengan atau tanpa Lansa sebagai menantunya. Sementara di biliknya, Mona merebahkan tubuhnya yang lelah. Matanya menatap ke langit-langit biliknya. Kilat yang sesekali menyambar dari kejauhan, pendar cahanya bahkan memasuki biliknya melalui celah-celah kecil dinding papan rumah mereka. Pandangannya nanar, mengingat Lansa dan kenangan kecil mereka. Mungkin Mona adalah gadis kecil paling degil yang pernah ada diantara sekian gadis kecil di suku Zuni. Karena dia sudah sangat terpesona pada sosok Lansa yang waktu itu hanya terpaut beberapa tahun diatasnya. Waktu itu Lansa sedang berkunjung ke suku Zuni bersama ayahnya, Paman Lewanu, begitu Mona terbiasa memanggil ayah Lansa. Kunjungan itu jelas kunjungan karena sebuah undangan yang datang ke Cherokee karena sebuah pesta panen raya sedang digelar oleh suku Zuni. Ya, panen raya ikan di sungai larangan suku Zuni yang diadakan setahun sekali itu memang selalu mengundang minat penduduk Zuni maupun suku lain. Di Zuni, Mona memang larut dalam lamunannya. Tapi di lembah Cherokee, ada yang sedang kasmaran dibalut nafsu tanpa jeda. Cinta itu milik Leti, dan nafsu itu milik Yoki. Diantara derai air hujan yang bergemericik tanpa henti, Yoki terus saja memacu hasrat primitifnya tanpa henti. Meski Leti telah terengah dalam cucuran keringatnya yang mengkilat, tapi keduanya tetap tak peduli. Sementara di bilik yang lain, di rumah besar Lewanu, Lansa tak juga terlelap. Tidur satu dipan dengan seorang gadis cantik yang mirip perempuan masa lalunya, bukan hal yang mudah bagi Lansa. Bagaimanapun, dia laki-laki yang normal. Tapi itu bukan alasan baginya untuk memuaskan kenormalannya. Lansa terlanjur memegang prinsip, bahwa dia tak akan menjajah perempuan sebelum dia menikahi si perempuan, siapapun itu. Entah mengapa, semenjak melihat Yiska, niat menikah yang semula tak pernah terpikir olehnya, tiba-tiba bangkit begitu saja. Meski dia sadar, bahwa harus ada yang dia selesaikan sebelum ia menikahi Yiska. Dan itu jelas akan menyulut masalah yang bahkan sudah Lansa pikirkan langkah apa yang akan dia tempuh. Lansa kembali teringat dengan ayahnya yang sangat marah ketika dia tadi mengatakan hendak menikahi Yiska. Lansa tahu ayahnya jelas akan murka karena pernikahannya akan berakibat pada kelangsungan suku Cherokee. Tapi sekali lagi, hidup Lansa tak akan tergadai hanya untuk sebuah kesejahteraan. Bagaimana dengan Mona? Gadis itu terlalu tinggi hati di mata Lansa. Sikap dan sifatnya yang terlalu menunjukkan kekuasaannya, membuat Lansa tak berhasil menumbuhkan rasa sayang di hatinya untuk Mona. Kalau ada orang bilang, bahwa Lansa melakukan tindakan bodoh karena menolak pernikahannya dengan Mona, maka Lansa akan dengan bangga mengatakan bahwa dia sama sekali tak menyesali apapun yang telah dia putuskan. Jika suku Zuni masih saja nekat melakukan ekspansi, maka Lansa akan berada pada garis depan untuk meladeni ekspansi suku Zuni. Bagaimanapun, mereka tak berhak sama sekali atas lembah Cherokee. Terlepas apakah lembah itu memiliki kandungan emas atau tidak. Yang Lansa tahu, dia tetap akan menolak dan melawan jika nanti, suatu saat, suku Zuni benar-benar melakukan ekspansi. Lamunan Lansa buyar ketika terasa ada gerakan menggeliat di sebelah dipan tidurnya. Lansa menoleh dan mendapati Yiska yang meringkuk ke arahnya, dengan mata yang masih terpejam, seolah mencari kehangatan untuk menghalau suhu dingin yang mulai merasuk melalui celah-celah dinding papan rumah besar Lewanu. Lansa tersenyum kemudian memeluk Yiska untuk memberinya kehangatan.   * * *   Lembah Cherokee lagi-lagi berkabut pagi ini. Sisa hujan semalam masih menyisakan sedikit tetesan air dari dedaunan dan atap-atap rumah penduduk. Sinar mentari masih malu menerobos langit pagi ini. Udara pagi yang dingin, membuat Lansa masih terlelap dalam kantuknya. Semalam tidurnya tertunda, tiba-tiba ia harus terbangun ketika mendengar jeritan perempuan yang memekakkan cuping telinganya. Lansa membuka jendela kamarnya. Dilihatnya Yiska tampak masih tertidur. Tak tega ia membangunkan gadis itu. Perdebatakan semalam, membuat Lansa memutuskan tidur di samping dipan Yiska, untuk tetap menjaganya walau tanpa memeluknya. Lansa tersenyum kecil, mengingat kejadian semalam, sewaktu Yiska tersadar akan hangat pelukannya. “Hei, siapa kamu?” Yiska bergegas bangun dan menghindari Lansa untuk menyisih ke pojokan dipan. Selimut hangat yang tadi dipakainya tidur, diseretnya untuk menutupi tubuhnya yang setengah terbuka. Lansa yang masih belum pulih seratus persen, mengerjap mengumpulkan kesadarannya Kemudian setelah menyadari keadaan, Lansa bangkit dari tidurnya mengambil bajunya yang semalam dia gantung di dinding. “Jangan salah paham. Aku tak melakukan apapun terhadapmu. Aku hanya menghangatkan demam yang kau derita sejak kemarin.” Lansa berbalik menatap Yiska yang masih meringkuk pucat di pojok dipan. Kedua tangannya memegang erat simpulan selimut yang dia gunakan untuk melindungi diri. Mata Yiska menatap Lansa dengan pandangan tajam dan galak.  “Kamu bilang aku tak harus salah paham, setelah aku bangun satu bilik denganmu, bahkan satu tempat tidur? Dengan keadaan yang sangat memalukan seperti ini?” Yiska meradang sengit namun pipinya bersemu merah menahan rasa malu akan keadaannya. Lansa tersenyum mengejek, “Seharusnya kamu berterima kasih padaku.” Yiska menyunggingkan senyum sinisnya.  “Aku tak akan berterima kasih pada laki-laki yang tanpa ikatan, telah tidur denganku!” “Oh, ya? Kamu tak mau berterima kasih padaku dan lebih memilih tinggal di bangsal belakang untuk menjadi santapan Yoki, si penjaga bangsal yang telah mencoba memperkosamu kemarin?” Lansa berkata sinis. Yiska terkejut. Tiba-tiba ingat ketika pagi kemarin, dia nyaris menjadi bahan pelecehan yang dilakukan oleh Yoki, penjaga bangsal tahanan yang sebelumnya menjadi tempatnya. Yiska menggeleng bergidik membayangkannya. “Bagaimana? Masih saja kamu tak terima setelah aku menyelamatkanmu dan membawamu ke sini?” Yiska gelagapan tak mendapatkan jawaban atas kalimat Lansa yang tajam dan sinis. “Atau, kamu lebih senang menjadi objek perkosaan Yoki?” Lansa kembali mengulang pertanyaannya, membuat Yiska spontan melirik horor. Wajah pucatnya membuat Lansa tiba-tiba merasa kasihan karena telah menakut-nakuti Yiska. “Nah, kalau kamu tak mau menjadi bahan pelecehan Yoki, akan lebih baik kamu bekerjasama denganku.” Yiska mengerutkan keningnya lalu bertanya, “Apa maksud kamu?” Lansa mendekat ke arah dipan dengan tatapan yang terarah pada Yiska dengan tajam. “Aku memiliki sebuah rencana dan aku yakin kamu akan membantuku mewujudkan rencanaku dengan baik.” Lansa berkata lirih membuat keringat dingin mulai merebak di tubuh Yiska. Yiska menatap nanar. “Aku tak mau dimanfaatkan olehmu, apapun rencanamu!” Yiska menjawab sengit, dengan debaran jantung karena tatapan tajam yang tersorot oleh mata Lansa. Laki-laki berambut panjang berkulit coklat itu berdiri kembali dengan senyum sinisnya. Yiska tampak menjaga jaraknya dengan Lansa. “Keputusan ada di tangan kamu, Nona. Bekerjasama denganku atau kamu akan berakhir di bangsal tahanan?” Tiba-tiba Yiska merasa gentar. Pikirannya berkecamuk oleh rasa marah, rasa muak akan perlakuan Yoki, dan juga rasa marah akan perlakuan penduduk Cherokee yang telah menangkapnya tanpa menerima apapun alasan yang telah diutarakan olehnya. “Kalian sama saja!” Yiska menjawab pedas. “Jadi? Mau bekerjasama denganku?” Lansa menatap Yiska dengan tatapan yang lebih lembut. Yiska masih terdiam. “Apa yang aku dapatkan jika aku mau bekerjasama? Apa aku bisa keluar dari sini setelah kerjasama kita berakhir? Apa yang harus aku lakukan dengan kerjasama yang kamu tawarkan?” Yiska bertanya dengan suara beruntun, membuat Lansa tertawa. “Tenang, Nona. Kita akan membicarakannya nanti. Yang perlu kita sepakati adalah kamu bersedia bekerjasama denganku. Setuju?” Lansa mendekat ke arah Yiska, mengulurkan jari kelingkingnya meminta persetujuan Yiska. Perempuan itu beringsut takut. Namun wajah bersahabat yang ditunjukkan Lansa membuat Yiska susah payah membuang rasa takutnya dengan menyambut uluran kelingking Lansa. Kedua kelingking mereka terkait, tepat pada saat pintu bilik Lansa diketuk. Lansa menoleh ke arah pintu.   * * *   “Selamat pagi,” sapa Lansa melihat Yiska terbangun sambil merenggangkan otot-ototnya. Tak sadar, Yiska memberikan senyum kecil untuk Lansa sambil menguap. Lansa terdiam seketika merekam senyuman itu. Sangat manis. “Mengapa masih di sini?” seru Yiska yang tersadar akan wajah Lansa. Lansa tertawa kecil. Diberikannya selimut Yiska yang terjatuh ke tanah. “Aku menjagamu semalaman. Takut demammu naik lagi,” jelas Lansa. Ia berjalan mengambil segelas air untuk gadis itu. “Terima kasih, tapi aku sudah merasa lebih baik,” jelas Yiska lalu meneguk air pemberian Lansa. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat. Kicau burung pagi, membuat suasana terasa tenang. Yiska menahan debaran di dadanya dengan mengatur napasnya. Ia tak mengerti, mengapa ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan. Tiba-tiba terdengar langkah menuju ke pintu bilik Lansa, dan terdengarlah sebuah ketukan. “Siapa?” seru Lansa dari dalam. “Saya, Leti..” Suara Leti terdengar di luar bilik. Lansa menatap Yiska, “Pakailah bajumu. Aku tak mau Leti atau siapapun nanti berpikir bahwa aku telah melakukan hal-hal tak baik terhadapmu!” Kedua mata Yiska membulat. “Kenapa melotot seperti itu?” Lansa bertanya heran. “Aku harus berpakaian, sementara kamu masih di sini?” Yiska berkata lirih namun geram. “Tak perlu risih. Kamu lupa aku bahkan memelukmu semalam suntuk, dalam keadaanmu yang tetap seperti ini,” Lansa menjawab tandas penuh pelecehan, membuat Yiska mengeratkan gerahamnya untuk menahan amarahnya agar tak meluncur keluar dari bibirnya. “Baiklah. Aku akan berbalik. Cepatlah berpakaian,” Lansa lantas berbalik memunggungi Yiska. Memberi kesempatan gadis itu untuk memakai bajunya yang diletakkan di ujung dipan tidur oleh Leti, kemarin. “Sudah?” “Ya!” Yiska menjawab cepat. Kemudian Lansa kembali berbalik ke arah Yiska. Dan kembali, laki-laki berambut panjang itu terpesona oleh kecantikan alami Yiska. Yang meskipun penampilannya berantakan dan sedikit pucat, itu tak membuat Yiska kehilangan cahaya ayunya. Matanya yang bulat besar dengan rambutnya yang hitam kecoklatan, membuat wajahnya terlihat semakin sempurna di mata Lansa. Lansa tersenyum kecil. “Aku akan membuka pintunya. Barangkali Leti akan menyampaikan sesuatu.” Yiska mengangguk. Lansa lantas membuka pintu bilik, dan mendapati Leti yang sudah berdiri didepan biliknya dengan nampan ditangannya. Di atas nampan kayu itu, Lansa melihat ada semangkuk minuman panas beraroma rempah dan di mangkuk yang lain terdapat makanan. “Untuk Yiska?” Lansa bertanya. Leti mengangguk. Lansa kemudian mengambil nampan kayu itu dari tangan Leti. “Pergilah. Biar aku yang memberikannya pada Yiska.” Leti mengangguk kemudian hendak pergi. Namun pandangan matanya terpaku sejenak ketika tanpa sengaja dia melirik ke arah Yiska yang masih berdiri kaku di dalam bilik Lansa. Leti terperanjat, karena sepertinya, ia mengenali wajah gadis yang bersama Lansa pagi ini. Memang ada sedikit perbedaan dengan warna kulitnya, tapi jelas Leti masih ingat bahwa dulu, Lansa pernah tergila-gila dengan perempuan suku Zuni yang berwajah seperti Yiska. Lansa balik menatap Leti yang menatap Yiska penuh keterkejutan. “Ada yang anehkah, Leti?” Lansa akhirnya menyuarakan apa yang kini ada di kepalanya, sembari melambai-;ambaikan tangannya di depan wajah Leti, membuat gadis itu tergagap ketika menyadari dirinya demikian konyol.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD