"Ahh lepasin lepasin gue" Citra yang berada di gendongan Chiko bergerak memberontak.
Chiko yang habis kesabaran kini melepaskan gendongannya, membuat Citra jatuh ke lantai.
"Aduhh sakit" Citra memegang bokongnya yang sakit karna beradu dengan lantai.
Chiko merasa bersalah lalu menggendongnya lagi.
Citra kini diam dalam gendongan Chiko karena tak ingin dilempar lagi oleh Chiko.
Kini mereka berada didalam mobil Citra hanya menatap kedepan ia mulai sedikit sadar karena rasa sakit di bokongnya.
"Dimana rumahmu ?" Chiko bertanya pada Citra.
"Antarkan saja gue ke apartemen" ucap Clara tidak sopan, mungkin ia lupa bahwa Chiko adalah presdirnya di kantor.
Chiko tak juga menjalankan mobilnya, ia melihat ke arah Citra.
"Kamu harus hati- hati ketika mabuk, bisa- bisa kamu tidak pulang kerumah"
"Gue bisa menjaga diri gue sendiri, ini aja gue udah sadar tau"
"Kalau gak mau anterin pulang, gue naik taksi aja" ucap Citra segera dihentikan Chiko.
"Lu belum kasih tau alamat apartement lu" Chiko kini mulai berbicara santai.
"Oh iya" Citra meringis melihat Chiko.
.
.
.
"Sayang kamu kemarin selingkuh dari aku ya ?" Vivi yang mabuk menangis didepan Rocky.
"Gak pernah beb" ucap Rocky berbohong pada Vivi.
"Tapi kau kemarin di hotel" ucap Vivi lagi sambil membuka ponsel nya memperlihatkan aplikasi pasangan di handphonenya.
Rocky yang kaget segera melihat handphone nya juga, ia sedikit kesal.
"Kenapa kau memasang ini ?"
"Kita kan pasangan" ucap Vivi yang kini telah tertidur di mobil Rocky.
Rocky yang melihat Vivi telah tertidur lalu menelefon seseorang.
"Beb aku anter cewek ku pulang dulu ya, nanti aku kesana lagi".
"Sebentar aja"
"nanti aku kesitu"
"oke love you"
Rocky tersenyum licik, kini Rocky mengarahkan mobilnya menuju hotel.
Rocky menambahkan tip kepada resepsionist yang berjaga pada malam itu dan segera mengambil kunci, lalu memasukan kunci ke sakunya.
Vivi yang mabuk dipapah ke kamar okeh Rocky. Rocky melihat Vivi dengan tatapan m***m.
"Baiklah mari kita cicipi hidangan utama"
Rocky mulai menciumi bibir Vivi, tangannya yang nakal mulai menggerayangi tubuh wanita yang tak berdaya itu.
Saat akan mulai menyibak rok handphonenya kembali bergetar. Ia sedikit terganggu namun nama dari sang penelefon membuatnya menghentikan perbuatannya saat ini.
"Kenapa sayang ?"
"Oke aku akan segera datang, tunggu aku"
Rocky mencium Vivi sebentar, "tunggu aku setelah ini aku akan bermain denganmu".
Rocky segera pergi tanpa sadar tidak mengunci pintu kamarnya.
Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka, namun kali ini bukan Rocky melainkan Bram orang yang menyukai Citra dalam keadaan mabuk masuk ke kamar itu.
.
.
.
"Wih gila banget tu orang" Frans tertawa melihat tingkah Chiko yang kini menggendong seorang wanita.
"Gue akui selera Chiko emang bagus, hoki banget dapet cewek secantik itu" Pandu ikut tertawa menimpali, ia sedikit iri temannya menemukan wanita dewasa sedangkan dirinya hanya bertemu siswi- siswi bau kencur di sekolah.
"Cantikan juga gue" Windy berbicara sinis sambil meminun wine nya.
Pandu dan Frans hanya tersenyum mengejek.
Mereka mengobrol- ngobrol seru dan mengomentari orang- orang yang lewat didepan mereka.
Windy mulai menunjuk seorang gadis yang berpakaian cukup berani sedang menari dengan beberapa pria disana.
"Wow dia nakal sekali"
Mereka dengan serempak melihat orang ditunjuk Windy.
Frans tertawa senang dia ingin bergabung kearah gerombolan yang menari memutari gadis yang sedang mabuk itu.
Sedangkan Pandu membelalakan matanya kaget karna yang ia lihat saat ini adalah muridnya yang bernama Fika.
Saat akan menarik tangan Frans agar tak bergabung kesana. Tiba- tiba banyak polisi yang masuk club itu.
Semua orang terjebak didalam club itu, mereka diharuskan berdiri, berbaris dan tangannya disuruh menghadap atas.
Setelah itu mereka satu persatu dimintai surat tanda pengenal dan tes narkoba.
Pandu dan Frans terlihat santai karena mereka memang tak memakai narkoba, sedangkan Windy wajahnya sangat pucat ia terlihat takut saat akan di periksa oleh salah satu polisi wanita.
"Aaaaa sakit sakit" suara wanita menjerit- jerit.
Kini semua mata menatap ke arah Fika yang sedang kesakitan memegangi perutnya, dari paha nya mengalir darah segar.
Fika yang melihat itu kemudian pingsan.
.
.
.
Mobil berhenti disebuah apartement yang sangat mewah, " terimakasih pak sudah anterin saya kesini" ucap Citra dengan sopan, ia kini telah sadar walaupun masih sedikit berjalan dengan ling- lung.
"Saya antarkan, saya takut kamu malah salah masuk kamar " ucap Chiko sambil memapah Citra.
"Gak usah pak saya bisa sendiri" ucap Citra yang kini berjalan sendiri namun sebelah kakinya malah masuk ke dalam parit.
Chiko segera menolong Citra ia mulai memapah gadis itu dan mulai masuk ke dalam gedung apartement.
Citra hanya berjalan pasrah karena ternyata badan nya masih tidak bersahabat.
Citra dan Chiko mulai naik lift. Setelah sampai Citra membuka pintu apartement nya, ia melihat ke arah Chiko.
"Sudah sampai pak saya akan mahhuuweeeeekkk" sebelum menyelesaikan kata- katanya Citra memuntahkan isi perutnya di badan dan wajah presdirnya itu.
Chiko dengan kesal akan segera pergi dari sana namun tangannya segera di tahan oleh Citra.
"maaf pak, anda masuk saja ke dalam bersihkan badan dulu"
Chiko yang sudah tidak tahan dengan bau muntahan segera masuk dan mencari kamar mandi.
"Di pojok pak di dalam sana" ucap Citra menunjuk pintu putih letak kamarnya.
Apartement itu sangat sederhana, hanya ruang tamu yang terhubung dengan dapur dan ruang makan ada laundry kecil disana.
Kamar mandinya hanya satu dan letaknya berada di kamar tidur.
Chiko segera masuk dan segera membersihkan badannya.
Chiko yang sedang berendam di bathup mengedarkan pandangan di kamar mandi yang lumayan luas itu.
Walau pun apartement itu sederhana, namun terlihat bahwa perabotan nya sangat berkelas.
Ia memandang bajunya yang kotor apa yang akan ia gunakan nanti ketika sudah selesai mandi.
Namun matanya kembali fokus ke arah keranjang kotor, disana terdapat satu set bra dan celana dalam berwarna merah.
Bra itu sangat besar ia jadi berimajinasi kotor.
Ia segera menggelengkan kepalanya, menjernihkan pikirannya.
'tok tok' Chiko kaget mendengar ketukan di pintu.
"Pak anda baik baik saja ?" ucap Citra, nadanya sedikit khawatir.
"aku sedang berendam" jawab Chiko sambil memainkan air hangatnya.
"baik pak, oh iya ganti anda saya taruh disini"
" aku masih sedikit lama" ucap Chiko sambil melihat lagi celana dalam merah itu. Sial badan nya malah panas.
Ia ingin segera menyudahi mandinya kali ini.
Saat Chiko membuka pintu kamar mandi, ia melihat pemandangan yang menabjubkan.
.
.
.
Citra yang meminum obat pereda mabuk merasa sedikit lebih baik. Ia segera mencuci wajahnya di wastafel, 'kenapa bosnya lama sekali' pikirnya.
Ia masuk ke kamar, lalu berdiri didepan kamar mandi yang terdengar senyap. Ia takut bos nya terpeleset lalu jatuh pingsan disana.
'tok tok'
"Pak anda baik baik saja ?"
"aku sedang berendam" jawab Chiko.
"baik pak, oh iya ganti anda saya taruh disini" ucap Citra menaruh baju, celana dan celana dalam baru di kasur.
Ia sedikit lega bosnya baik- baik saja.
"aku masih sedikit lama"
Citra yang mengerti lalu segera berganti baju disana, dengan buru- buru ia segera melepas semuanya yang ia pakai.
Saat hendak memakai celana dalam yang baru tiba- tiba pintu terbuka.
Citra yang kaget segera melihat ke arah kamar mandi.
Ia melihat bosnya telanjang bulat. Ia yang sadar sedang tak memakai apapun kini menutupi badannya yang polos dengan baju yang ia pegang.
"Aaaaaaa" mereka berdua berteriak. Chiko langsung menyambar handuk lalu kembali masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Citra langsung berlari membawa semua pakaian yang akan di pakainya keluar dari sana.