Author POV
Pagi menyapa dengan sinar hangat yang menyinari jendela kaca di kediaman Nurvia. Wanita itu tengah melakukan rutinitas pagi yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Seperti tak terjadi apapun di hari kemarin, Via, sapaan akrab wanita berparas cantik itu menyiapkan sarapan pagi untuk sang anak terkasih dengan senyum cerah.
"Bun, aku hari ini bawa bekal dobel boleh?" Tanya Ryu seraya mendudukkan bo kong nya di kursi.
"Kenapa? Apa gak takut basi nanti?" Tanya Via heran.
"Hari ini ada ekskul bun, jadi aku mau bawa bekal dobel sekalian untuk sore." Sahut gadis kecil tersebut.
"Gimana kalau bunda antar untuk makan keduanya, mau?" Tawar Via memberikan solusi. Ia hanya khawatir makanan yang di bawa sang anak tak akan lagi nikmat untuk di santap jika sampai lewat tengah hari.
"Boleh deh, abis jam pelajaran selesai kami istirahat 15 menit. Setelah itu lanjut sampai pukul 2 : 30. Bunda bisa antar pas jam aku isoma," tukas Ryu menjelaskan tentang jadwalnya hari ini.
Via mengangguk paham.
Sedangkan di sebuah rumah satu lantai di perumahan kelas menengah. Sepasang suami istri baru saja selesai sarapan. Dan kini terlihat wanita hamil tersebut mengantarkan sang suami menuju mobilnya.
"Pulang nanti jangan lupa belikan martabak manis coklat kesukaan aku, ya sayang..." Ingat sang wanita pada suaminya sembari merapikan dasi yang sudah nampak rapi sejak tadi.
"Oke sayang, aku mana mungkin lupa sama pesanan istriku yang cantik ini." Ujar sang suami penuh nada rayuan gombal.
Si wanita berdecih dengan bibir mencebik, "istri kesayangan tapi di tempat lain ada istri yang lain pula." Tukas si wanita sinis.
Si pria hanya bisa mendesah panjang, inilah bagian yang sedikit mengganggu kemesraan mereka jika sang istri simpanan kembali mengungkit, perkara rumah lain yang ia miliki.
" 'kan kamu tau resikonya menjadi istriku, mainnya ya harus seperti ini. Kita tidak bisa terlalu mengekspos kemesraan di tempat umum seperti kemarin, itu sangat berbahaya jika salah satu kerabat atau kolegaku melihat keberadaan kita di sana. Semua reputasiku akan hancur, Kinara." Ujar Aslan memelas penuh permohonan agar di mengerti.
"Ya..ya aku tau. Aku ini hanya pelakor yang merusak rumah tangga wanita lain." Sahut Kinara terisak. Entah karena hormon kehamilan wanita itu sering kali menangis belakangan ini.
Itu pulalah alasan Aslan menetap di sana dengan berbohong pada sang istri. Pria itu mengatakan sedang mengurus bisnis keluarganya yang sedang bermasalah di jakarta, selama beberapa waktu yang tak bisa di tentukan.
Nyatanya, Aslan berada di kota yang sama dengan istrinya hanya saja berbeda alamat rumah tinggal. Aslan tinggal bersama sang istri siri, sedangkan sang istri sah di rumah kediaman mereka bersama sang putri.
Kinara mengancam akan berbuat nekad jika Aslan tak menuruti keinginannya, untuk tinggal bersama selama kehamilan hingga persalinannya nanti. Dan Aslan terpaksa menuruti demi mendapatkan anak laki-laki yang tengah di kandung oleh sang sugar baby.
Membina rumah tangga selama 10 tahun bersama sang istri, menimbulkan sebuah perasaan jenuh di hati Aslan. Via yang penurut membuatnya tak menemukan sensasi kebahagiaan dari wanita itu. Sedangkan Kinara yang manja, childish dan selalu membutuhkan nya membuat Aslan merasa hidup kembali.
Jiwanya bergelora dalam hasrat semalam bersama gadis muda itu. Hingga berlanjut menjadi sebuah hubungan terlarang tanpa bisa di cegah. Dan beberapa bulan yang lalu, wanita itu mengaku hamil dan meminta Aslan menikahi nya meski secara siri.
Meski menyalahi kaidah kepercayaan yang ia anut, Aslan tetap melakukannya. Dan berharap Kinara mengandung anak laki-laki. Dan benar saja. Bayi yang di kandung oleh Kinara adalah bayi laki-laki.
Kebahagiaan Aslan pun memuncak, hingga kerap berbohong agar bisa meluangkan banyak waktu bersama Kinara. Membelikan wanita itu sebuah rumah dan membiayai seluruh kehidupan Kinara serta keluarganya yang berada di kota lain.
Kembali pada kedua pasangan laknat tersebut, Aslan merengkuh tubuh Kinara yang kian melebar dengan sayang.
"Maaf sayang, aku berjanji akan menceraikan Via setelah semua urusan bisnis aku di kota ini selesai. Kita akan pindah ke Jakarta dan menetap di sana. Kamu tak perlu lagi tinggal di lingkungan tak ramah seperti ini. Kita akan tinggal di perumahan elit tanpa gangguan dari tetangga julid. Bersabarlah sedikit lagi, semua butuh proses hmmm?" bujuk Aslan dengan sabar, Kinara tersenyum penuh kemenangan.
Wanita itu mengangguk paham lalu mengecup bibir sang suami siri dengan penuh binar kebahagiaan. Kesedihan nya mendadak hilang entah kemana.
Sedangkan di tempat berbeda, Via sedang berbelanja di sebuah minimarket tak jauh dari rumahnya. Wanita itu membeli kebutuhan dapur juga beberapa kotak su su hamil untuknya. Tak lupa beberapa buah kesukaan Ryu juga dirinya sendiri.
Brugh
Tanpa sengaja Via menjatuhkan beberapa barang dari raknya hingga berserakan di lantai minimarket. Dengan cekatan, wanita itu memungut beberapa barang tersebut lalu menyusunnya kembali ke rak.
"Biar saya bantu bu, taruh di sini saja, nanti saya susun kembali." Ujar seorang pria berseragam khas pegawai toko tersebut. Via tersenyum tak enak hati, ia benar-benar tak sengaja menjatuhkan barang-barang tersebut.
"Maafkan aku, aku benar-benar tak sengaja." Tukas Via tak enak hati. Ia tetap membantu merapikan susunan barang yang secara acak ia taruh di rak.
"Tak apa bu..ibu mau mengambil barang yang mana? Biar saya saja yang mengambilnya," tawar si pegawai toko ramah.
Via menunjuk sebuah kotak su su dengan merk yang ia inginkan. Si pegawai tersenyum simpul lalu mengambilnya dengan mudah. Jelas saja, postur tubuhnya yang tinggi memudahkannya untuk meraih apa saja di ketinggian tanpa kendala.
"Sekali lagi terimakasih banyak mas. Mas..." Via menggantung kalimatnya karena tak mengetahui nama pria tersebut.
"Andra," sahut Andra cepat.
"Ah ya, terimakasih banyak mas Andra." Ujar Via tersenyum tulus.
"Belanjaannya sudah, atau masih ada yang mau di ambil lagi? Aku akan membantu ibu mengambilnya jika terlalu tinggi." Tawar Andra tak kalah ramah.
"Hmmm... sudah mas, ini sudah cukup terimakasih banyak atas tawarannya." Balas Via dengan senyum yang sama ramahnya.
"Baiklah, sampai ketemu di kasir." Tukas Andra kemudian pamit menuju kasir. Via tersenyum geli, ia sadar hanya ada tiga orang pegawai toko yang terlihat, dan salah satunya adalah Andra yang rupanya sedang bertugas di meja kasir.
"Pemuda yang baik," gumam Via tanpa sadar telah memuji seorang pria asing yang tampak jauh lebih muda darinya.
Setelah mengambil buah kesukaan sang anak, Via akhirnya mendorong trolinya menuju kasir. Benar saja, Andra tengah melayani dua orang pembeli di sana. Namun pria itu masih sempat melemparkan senyum manis ke arah Via. Dan Via pun membalasnya dengan senyum yang sama.
Tanpa Via sadari, jika sikap ramahnya telah memanah jantung pria muda itu hingga menembus sukma.
Giliran Via tiba, Andra dengan cekatan memindai barang belanjaan Via sambil mengobrol ringan.
"Anaknya tidak di ajak sekalian, tumben?" Tanya Andra basa basi.
"Anak saya sedang di sekolah, kebetulan Ryu ada kelas tambahan hari ini. Jadi pulangnya sedikit lebih lama," sahut Via apa adanya.
"Eh, tapi kok.. masnya bisa tau sama anak saya ya?" Tanya Via heran. Ia merasa baru pertama kali melihat kasir itu di sana.
"Aku pernah beberapa kali melihat ibu juga putri ibu berbelanja di sini. Kebetulan saja aku tidak sedang di kasir, tapi di bagian barang." Terang Andra menjelaskan.
Via hanya mengangguk paham. Mungkin karena ia terlalu fokus berbelanja, jadi tidak terlalu memperhatikan sekitarnya.
"Totalnya 472.810 rupiah bu," ujar Andra memberitahukan jumlah yang harus di bayar oleh Via. Via nampak mengeluarkan beberapa lembar berwarna merah dari dompet belanjanya yang sudah terlihat lusuh. Tanpa malu, Via meletakkan dompet tersebut di atas meja kasir guna menghitung jumlah uang yang harus ia bayarkan.
Andra menatap sejenak dompet berwarna ungu pudar tersebut dengan tatapan tak terbaca. Ia tau wanita itu tinggal di perumahan elit yang ada persis di seberang minimarket tersebut. Sangat mustahil jika wanita itu tak mampu sekedar membeli sebuah dompet.
"Ini mas," Andra kembali fokus pada pekerjaannya. Meski pikirannya masih di penuhi banyak pertanyaan konyol.
Setelah Via meninggalkan minimarket, tak lama kemudian seorang wanita masuk ke sana hendak berbelanja kebutuhan rumah tangga.
"Mas, bisa ambilkan aku kotak su su yang itu?" Tunjuk wanita muda itu seraya menunjukkan sebuah dus su su dengan merk yang sama seperti yang Via beli. Dengan malas si pria mengambilnya.
"Berapa kotak bu?" Tanyanya berusaha tetap ramah.
"Berapa ya mas? Tiga? Empat? Atau lima kali ya?" Pegawai tersebut menghela nafas panjang.
"Maaf bu, saya tidak tau. Ibu biasanya habis berapa kotak dalam sebulan. Ibu bisa berpatokan dari sana, saya mana tau 'kan saya bukan suami ibu." Tukas si pegawai tersenyum penuh keterpaksaan di balik maskernya. Masker yang kembali ia pakai setelah selesai melayani Via.
Si wanita mendelik kala mendengar kalimat menohok dari pegawai toko tersebut.
"Biasa saja dong jawabnya, tidak usah ngegas, bisa?" Tekan si wanita terpancing emosi.
"Maaf bu, ada yang bisa kami bantu?" Sela seorang pegawai wanita menyela pembicaraan yang terlihat mulai keluar protokol tersebut.
"Saya cuma minta saran, pegawai songong ini langsung berbicara ngegas pada saya. Dia pikir dia sudah hebat? Babu toko saja belagu," ucap wanita itu marah.
"Maaf sebelumnya bu, beliau pegawai baru di sini dan untuk saran, saya rasa ibu bisa bertanya langsung kepada saya saja. Mas nya belum menikah, jadi pasti tak akan paham masalah seperti ini." Ujar wanita tersebut dengan nada rendah dan mencoba tetap tersenyum ramah. Ia tak ingin terjadi keributan di toko tersebut yang juga akan berimbas pada pekerjaannya.
"Dra, kamu mending ngasir deh aku ambil alih di bagian ini." Tukas wanita itu berbisik pada rekannya. Dan rupanya pria itu adalah Andra. Dengan acuh Andra berbalik pergi menuju kasir tanpa beban apapun.
"Kenapa Dra? Dapat pelanggan rewel lagi?" Tanya rekannya yang tengah menyusun beberapa barang di rak belakang kasir.
"Gitulah, bikin bad mood saja." Sahut Andra merasa dongkol.
"Kamu sih maskeran, make topi pula. Kenapa tidak pakai kacamata yang tebelnya 15 milimeter trus tempel tompel sebesar biji salak di pipi. Giliran mbak yang tadi aja kamu ramahnya kaya baru dapat gaji rapelan tiga bulan." Sindir sang rekan terkekeh kecil.
"Kan auranya beda, bikin adem jiwa raga." Sahut Andra apa adanya. Pria itu sempat-sempatnya mengingat bayangan senyum teduh wanita yang tadi ia layani.
"Yaelah.. malah ngayal dia. Ingat woi, istri orang itu." Ingat si rekan menepuk pundak Andra. Pria itu mencebik jengah.
"Yang bilang istri setan juga siapa? Namanya juga hati, mana bisa di atur harus sukanya sama siapa." Balas Andra membela diri. Kedua rekannya hanya bisa menggeleng pasrah, melihat rekan kerja mereka rupanya mengagumi sesosok ibu muda.
Sedangkan Andra terus melebarkan senyum. kala mengingat wajah ayu yang baru saja membuatnya gagal fokus melayani pembeli.
To be continued
Terimakasih atas atensi kalian terhadap novel ini. Author menghaturkan banyak-banyak terimakasih, atas partisipasi pembaca sekalian yang telah meluangkan waktu untuk membaca bab demi babnya.
Semoga terhibur dan dapat menjadikan kita lebih memahami, bagaimana menghadapi konflik pernikahan yang mulai terasa toxic.
Dengan penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana