Bab 2

1901 Words
Kini giliranku di panggil masuk, putri kecilku sudah terbangun sejak setengah jam yang lalu. Untung saja, jika tidak entah bagaimana ia akan menghadapi situasi di mana ayahnya sedang bersama wanita lain. Meski belum memahami konteks perselingkuhan. Namun Ryu pasti akan kebingungan, mendapati ayahnya tengah bersama seorang wanita hamil. Karena yang ia tau, ayahnya sedang berada di kota lain untuk urusan pekerjaan. "Selamat bu Nurvia...lihat kantung hitam kecil ini? Ini adalah kantong kehamilan. Usianya masih sangat muda, 8 minggu. Katakan hai padanya, bu Nurvia." Kata dokter membuatku tertegun. Penantian selama 8 tahun lamanya setelah kelahiran anak pertamaku, kini terkabul. Namun sayangnya, kehadiran malaikat kecilku kali ini, di waktu yang kurang kondusif. Di mana suamiku juga tengah menantikan kelahiran anaknya yang lain dari wanita simpanannya. Ku usap perut ku yang masih belepotan jel, aku tak tau harus bahagia atau sedih. Situasi saat ini benar-benar menghantam dinding kokoh jiwaku yang mulai goyah. "Aku bakalan punya adik bun?" Pertanyaan polos putriku membawaku kembali pada kenyataan. Aku mengangguk pelan seraya mengusap surai panjangnya sembari menahan getir. Sedangkan seorang perawat membersihkan permukaan perut rataku dengan tisu. Setelah duduk kembali di depan meja dokter kandungan, aku masih belum mampu mengurai kata menjadi sebuah kalimat untuk mengekspresikan perasaanku saat ini. Hingga celetukan gadis kecilku membuat kesadaranku kini pulih sepenuhnya. Kehadiran seorang anak tak pernah salah. Baik waktu maupun situasinya. Aku tak boleh meragukan Rahmat Allah, ini berkat yang selalu aku doakan. Dan Tuhan memberikannya di waktu yang sudah seharusnya menjadi bagianku. Aku patut bersyukur karenanya. "Aku senang bakal punya adik bun, jadi tidak kesepian lagi di toko sepulang sekolah." Ujar Ryu dengan rona penuh binar kebahagiaan yang tak tersembunyikan. Aku pun turut tersenyum meski hanya sekedar untuk menanggapi kebahagiaannya. "Maaf bu, saya sedikit pangling. Ini memang kebetulan atau suami ibu memiliki kembaran atau bagaimana?" Deg! Inilah bagian yang paling aku takutkan. Itu kenapa aku merelakan nomor antrianku di berikan kepada sepasang manusia ja ha nam tadi, agar ketika aku masuk mereka sudah pergi. "Tidak ada dok, memangnya kenapa?" Tanyaku pura-pura bodoh. "Tidak apa-apa bu, hanya saja nama suami ibu sama persis dengan nama suami pasien yang tadi masuk terlebih dahulu. Mungkin hanya kebetulan, di kota ini banyak yang memiliki nama yang sama tapi orangnya berbeda." Ungkap sang dokter dengan senyum tak enak hati. "Tak apa Dokter, suami saya sedang berada di jakarta mengurus bisnis keluarganya. Mungkin namanya saja yang pasaran," kataku dengan tawa yang di buat-buat. Setelah mendapatkan resep vitamin, aku dan anakku keluar dari ruangan dokter Jacob. Saat melewati meja jaga perawat di Depan, Suster Nurah mendekatiku sambil berbisik pelan. "Bisa bicara sebentar bu.." ucapnya membuatku sedikit curiga. Aku yakin perawat itu pasti akan menanyakan hal yang sama, karena beliaulah yang memeriksa berkas pasien sebelum masuk ke ruang dokter. "Ya sus, ada yang bisa saya bantu" sahutku ramah, intonasi yang rendah untuk menjaga stabilitas emosiku yang mulai memanas. "Di sana saja, ayo sambil jalan. Tinggal tebus resep saja 'kan?" Katanya sopan, aku mengangguk saja. Lalu beliau permisi meminjam secarik resep dari tanganku, sejurus kemudian terlihat menghubungi seseorang melalui ponselnya. "Ini bu, nanti ibu tinggal ambil saja di loket sekalian bayar. Aku sudah meminta temanku di apotik untuk menyiapkan obatnya untuk ibu." Ucap nya membuatku tercengang. "Terimakasih banyak sekali lagi suster Nurah. Anda baik sekali, aku merasa tidak enak hati karena sejak tadi hanya bisa merepotkan." Kataku benar-benar tak enak hati, juga menutupi kegugupan yang tiba-tiba muncul tanpa sebab. "Tak apa, sesama harus saling membantu bukan?" Jawabnya bijak. "Ayo duduk di sini, ini siapa namanya si cantik? Manis banget mukanya, persis mama nya banget." Puji suster Nurah menjawil pelan pipi bulat putriku. "Bunda, suster." Balas anakku meralat ucapan suster Nurah sembari menunduk malu-malu. Ryu memang seperti itu, persis sepertiku. Mudah baper hanya karena sebuah pujian kecil. Itu karena kami kaum yang pandai bersyukur dan mengerti makna kata terimakasih. "Oh, salah ya? Bunda? benar 'kan?" Ryu ku hanya mengangguk saja dengan pipi Semerah tomat. Itu membuat suster Nurah gemas sekali melihatnya. "siapa namanya sayang?" Ulang Suster Nurah. "Ryu Suster," jawab putriku pelan. "Wah, namanya estetik sekali. Keren banget," puji Suster Nurah kian gemas. "Terimakasih suster," sahut Ryu dengan suara kecil. "Ryu lihat anak-anak itu?" Putri ku mengangguk seraya mengikuti arah telunjuk Suster Nurah. " Ryu boleh main sebentar di sana, tidak? Suster pengen pinjam bundanya, sebentar saja. Boleh tidak? boleh ya... please..." Mohon Suster Nurah dengan gaya yang di imutkan seperti anak kecil. Aku terkekeh melihat tingkahnya, dan aku semakin yakin, jika suster Nurah pasti akan membahas sesuatu yang kini ingin aku hindari. Aku menoleh ke arah putriku dengan anggukan kecil, si peka ku ini langsung mengangguk lalu beranjak menuju tempat bermain anak-anak. "Anak ibu cantik sekali, penurut dan sepertinya sangat dekat dengan ibu." Celetuk Suster Nurah seperginya anakku ke tempat bermain di depan poli anak. Aku menoleh, menatapnya penuh arti begitupun suster Nurah. "Dia memang anak yang baik. Aku bersyukur memilikinya, dan kini aku punya satu lagi penyemangat dalam hidupku. Rasa syukur mana lagi yang coba aku dustai? Hidup ini indah jika kita mampu menjadi orang yang penuh syukur atas apa yang telah kita miliki." Tandasku kembali menatap Ryu yang tengah berkenalan dengan seorang anak perempuan sebayanya. "Ibu benar. Hanya orang tamak yang tak mampu melihat nikmat Tuhan, yang sudah jelas ada di depan mata." Sambung suster Nurah sarkastik. Aku hanya mengangguk tanpa membenarkan atau menyanggah. "Maaf sebelumnya, aku tau ini di luar kapasitasku sebagai seorang perawat juga orang asing. Tapi jika aku boleh berpendapat, aku hanya ingin mengatakan, jika anda adalah wanita terhebat yang pernah aku jumpai selain ibuku. Yang ikhlas menerima pengkhianatan dan menahan sesak dalam diam." Suster Nurah menatap intens netra teduh wanita yang ia yakin sepotong hari ini, pasti berusaha keras agar tak mengeluarkan air mata. Hal yang membuatnya bersikap sangat ramah dari biasanya, adalah ketika ia melihat kejanggalan pada berkas dua pasien yang berbeda namun memiliki nama suami yang sama persis. Bahkan memiliki nomor ponsel yang sama, hanya alamat rumah saja yang berbeda. Nama mungkin boleh saja kebetulan, namun nomor ponsel yang sama, serta usia yang sama pula. Itu meyakinkan praduganya. Nurvia tersenyum simpul. Senyum hangat nampak hangat dan bersahabat di mata suster Nurah. "Kadang diam lebih baik. Ada saatnya bertindak saat hati sudah meminta untuk menyerah. Tak ada yang dapat memaksakan perasaan, bukan? Aku hanya berharap apa yang terjadi saat ini adalah sebuah kekhilafan. Mungkin aku wanita paling naif di dunia ini, memandang perselingkuhan sebagai dalih dari rasa bosan. Tak mengapa, saat ini hatiku masih sekokoh karang meski sedang di terjang badai yang dahsyat. Aku masih sanggup untuk bertahan... sementara, di kala waktu yang masih ada." Kataku tenang seolah hatiku baik-baik saja. Bukannya aku tak sakit kala mengingat wajah kedua insan dur jana hari ini. Hanya saja aku masih merasa mampu, untuk bertahan sebentar lagi. Sebelum batas sabarku mulai setipis tisu. Larut dalam darah luka yang mengalir deras. "Aku takjub bagaimana ibu bisa mengolah luka lara menjadi sebuah kekuatan jiwa." Ucap suster Nurah menatap kagum ke arahku, sedangkan hatiku sendiri tersenyum getir menahan perih. "Ini nomor ponselku, hubungi aku jika butuh teman untuk sekedar menghabiskan cemilan. Aku jago dalam hal mengisi perut," Ujar suster Nurah lagi seraya melontarkan candaan. "Terimakasih banyak suster Nurah, kebetulan aku sedikit rakus belakangan ini. Aku pasti akan menghubungimu jika aku butuh teman untuk berbagi kata." Ujarku terkekeh kecil. Ku simpan secarik kertas yang bertuliskan nomor ponsel suster Nurah ke dalam tas selempangku. Setelah mengobrol sedikit lebih ringan, aku pun pamit pulang. Sebelumnya aku menuju loket administrasi, terlebih dahulu untuk mengambil obat yang sudah di siap untukku. Sepanjang jalan pulang, aku terus menebar senyuman yang berisi setengah kepalsuan. Di kala hatiku tergores luka, di hari yang sama, aku mendapatkan seorang teman baru yang nampak memahami arti diam juga lukaku. Sedangkan putriku terus berceloteh tentang adik yang bahkan masih berukuran sekecil kacang polong. Aku hanya tersenyum menanggapi kebahagiaannya, dapat ku lihat ketulusan putriku dalam menyambut kehadiran calon adiknya. Aku hanya berpikir sedikit melenceng, apakah Ryu akan sebahagia ini, kala mengetahui jika ia pun memiliki adik dari wanita idaman lain ayahnya. Sejenak pikiran jahatku menguasai, aku berharap Ryu tak akan seantusias ini saat mengetahuinya. Jahatkah aku? Dunia boleh menjudgeku sebagai wanita yang jahat, namun kedalaman luka hati yang aku alami. Hanya aku yang merasakannya sendirian. Kembali ku arahkan tatapanku ke sisi jalan yang nampak riuh oleh kendaraan yang lalu lalang. Ku pejamkan kedua mataku sembari menarik nafas dalam-dalam. Berharap ketika kedua mataku terbuka, aku hanyalah sedang bermimpi buruk. Namun bunyi klakson yang bersahutan, membuat harapanku terhempas begitu saja. Aku sadar telah berusaha mengelabui takdir, nyatanya aku tak pernah bisa. Kenyataan ini teramat sangat menyakiti sanubariku, tanpa bisa aku elak apalagi aku cegah. Aku hanya berharap, suamiku menemukan apa yang ia cari yang tak pernah ia temukan dari diriku yang tak sempurna di matanya. "Bunda kenapa melamun?" pertanyaan Ryu mengalihkan perhatianku dari sisi jendela mobil. Ku tatap netra bening yang tak mengerti apapun tentang apa yang tengah aku rasakan saat ini. "Bunda hanya terlalu bahagia sayang... sebentar lagi kita akan bertiga, dan Ryu tak lagi kesepian bermain sendirian." Ucapku berdalih. "Kok bertiga sih bun...kan berempat sama ayah." Protes putriku dengan nada polos. Ya ampun, kenapa aku bisa lupa. Putriku sangatlah kritis, sedikit kekeliruan dalam mengucapkan kalimat akan langsung mendapatkan protes dari mulut mungilnya. Aku hanya terkekeh kecil, ku usap pipi chubby Ryu sebelum menjawab pertanyaannya yang sedikit mengorek hatiku. "Maksud bunda...kita tidak lagi berdua ketika ayah sedang keluar kota. Jadi kita akan bertiga bersama adik bayi nanti," jelasku meralat kata-kata yang coba ku kemas sebijak mungkin. Ryu hanya mengangguk meski tak memahami maksud dari perkataaku yang sebenarnya. Ia pun merasakan bagaimana kesepiannya kami berdua, kala ayahnya tengah sibuk dengan urusan nya yang lain. Getaran ponsel di dalam tas selempangku menarik sedikit perhatianku. Ku rogoh benda pipih tersebut, dan senyumku langsung memudar. Ku tatap pesan singkat dari pria yang baru saja memberikan sayatan belati tepat di jantungku dengan tatapan tak terbaca. Jika kemarin aku begitu mendambakan pesan-pesanku terbalaskan. Namun tidak detik ini. Perutku mendadak bergejolak membaca kalimat ungkapan kerinduan dari suamiku. Ku tarik sudut bibirku dengan senyum sinis. Kamu menjijikan, Aslan Kartawijaya! desisku dalam hati, penuh kebencian. Ku hapus pesan tersebut tanpa berniat untuk membalasnya sama sekali. Aku tak ingin memupuk penyakit hati, dengan terus melihat pesan penuh dusta yang berderet memenuhi memori ponselku. Berselang beberapa menit kemudian, ponselku kembali bergetar panjang. Aku tau Aslan pasti menghubungiku, kala mendapati pesannya tak aku hiraukan. Aslan paling benci di abaikan. Dan pria breng sek itu lupa, jika tak ada manusia yang rela di abaikan, disakiti juga di kecewakan apalagi oleh orang yang kita sayangi. Itulah yang aku rasakan selama ini. Tanpa ku tau jika suamiku tengah memadu kasih bersama wanita lain, aku selalu merasa bersalah karena telah membuat suamiku bekerja keras bagai kuda. Rasakan apa yang selama ini aku rasakan, Aslan sayang. Aku kembali bergumam di dalam hati, agar putriku tak menanyakan banyak hal yang tak mungkin bisa aku jelaskan saat ini. Diam adalah pilihan terbaik yang aku miliki, karena menghadapi pelakor harus dengan cara yang elegan. To be continued Semoga bab kedua ini masih bisa di terima dengan baik. Maaf karena tidak akan ada Doble update, karena yang terhitung oleh sistem hanya satu bab saja. Untuk itu author akan menulis bab panjang agar kalian tak terlalu kecewa. Mohon di maklumi ya readers terkasih. Sekuel dari novel BUCINNYA PRIA AROGAN akan rilis setelah novel ini tamat atau mendekati tamat. Karena novel ini hanya akan tayang dalam jumlah bab yang tak terlalu banyak. Semoga selalu setia menanti. Dengan penuh cinta untuk para kesayangan akak Rose _Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD