Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana.
Happy Reading.
****^****
Aliya bergerak gelisah saat melihat tatapan tajam dari Jin. CEO dari Kim's Holding itu terus menatap tajam dirinya, ia sedang mengunjungi Jimin dan tiba-tiba bertemu Jin.
"Maaf Tuan apa ada yang salah dengan saya?" Jujur baru kali ini Aliya merasa terintimidasi dengan tatapan Jin.
"Aliya namamu?" Tanya Jin.
"Nde Aliya Kim Imnida" Jin tersenyum misterius saat mengetahui jika wanita yang ada didepanya adalah Aliya.
"Aku ada urusan denganmu sebentar. Jadi bisakah kau ikut aku?" Aliya menatap Jin ragu tapi ia mengangguk dan mengekori Jin dari belakang.
*
Gyuri membaca ulang sebuah buku usang yang ia temukan di Kopernya. Ia tidak punya buku seperti ini sebelumnya, dan tidak pernah melihatnya.
"Apa ini punya Aliya?" Gyuri menggeleng. Adiknya tidak suka dengan buku seperti ini.
"Apa mungkin punya Appa atau Eomma?" Gyuri membuka buku tersebut. Dan ia yakin jika ini punya ayahnya karena terdapat foto Ayahnya.
"Apa yang ditulis Appa?"
*
"Jadi dimana Jin sajangnim?" Tanya Jimin pada sekertaris Jin.
"Jin sajang sedang ada urusan sebentar Sajangnim. Dia akan kembali dalam 1 jam mendatang" Jimin menghela nafas lelah. Ia tidak mengira akan menunggu Jin selama ini.
"Jika Jin sajang sudah datang segera hubungi aku" Sekertaris Jin mengangguk.
*
Aliya menatap takut kearah Jin, pria itu terus mencecarnya dengan pertanyaan yang membuatnya bingung.
"Kenapa Kakakmu disembunyikan selama ini?" Tanya Jin pada Aliya.
"Anda mengenal Kakakku?" Tanya Aliya, setahunya Gyuri tidak mengenal dunia luar. Dan bagaimana Jin bisa mengenal Gyuri?
"Cukup jawab saja pertanyaanku" tekan Jin.
"Gyuri Eonni mengalami kelainan pada dirinya dan karena itu dia disembunyikan" jawab Aliya gugup.
"Kelainan?" Jin mengangkat satu alisnya.
"Aku tidak tahu apa kelainan yang dialami Gyuri Eonni, tapi yang kutahu kelainan itu membuat Gyuri Eonni disembunyikan" jelas Aliya.
"Apa kau mengenal Nam Junjae?" Wajah Aliya berubah dingin saat mendengar nama Junjae dan itu tidak luput dari pandangan Jin.
"Aku tidak ingin mengingat b******n k*****t itu" tekan Aliya.
"Kau sangat membencinya rupanya" Aliya menatap Jin tajam.
"Anda punya urusan apa dengan Keluargaku? Aku tidak mengenal anda dan kukira Keluargaku juga tidak pernah mengenal anda. Jadi bisa anda jelaskan kepentingan anda membawa saya kemari?" Jin tersenyum sinis.
"Ibumu punya urusan denganku!" Aliya menatap Jin tidak percaya.
"Eomma?"
"Ya ibumu mengetahui sebuah rahasia besar yang selama ini tersembunyi, dan aku harus mengetahui apa itu" Aliya menggeleng tidak percaya.
"Apa yang Eomma-ku ketehui tentang rahasiamu?" Tanya Aliya.
"Keberadaan adikku" Ujar Jin.
"Adik? Bagaimana Eomma-ku bisa tahu keberadaan adikmu?" Tanya Aliya bingung.
"Itulah yang ingin kuketahui. Sekarang jawab aku! Apakah Nam Junjae adalah orang yang membunuh ibumu?" Aliya membuang pandanganya dari Jin.
"Jawab aku Aliya-shi" tekan Jin.
"Kau tanya saja pada k*****t itu" Jin tersenyum sinis.
"Jawabanmu itu membuatku yakin jika Nam Junjae adalah orang yang membunuh ibumu" Aliya hanya mendengus, ia tidak berniat membalas ucapan Jin.
"Aku harus menemukan Junjae. Dia harus mengatakan alasan kenapa dia membunuh ibumu!" Ujar Jin tajam.
"Apakah kau yakin jika adikmu itu masih hidup?" tanya Aliya remeh.
"Apa maksudmu?" Tanya Jin tidak suka.
"Aku sedikit tahu tentang cerita kalian! Adikmu bernama Kim Ji Byung dan dia mati dalam kecelakaan mobil 17 tahun yang lalu. Dan bagaimana bisa ibuku tahu keberadaan adikmu sementara adikmu saja sudah di vonis mati. Dan kurasa pencarianmu sia-sia saja" rahang Jin mengeras saat mendengar ucapan Aliya.
"Jaga bicaramu Aliya-shi" Aliya hanya tersenyum sinis.
"Aku benarkan? Adikmu sudah mati, dan kenapa kau masih nekad mencarinya? Mungkin kau salah orang. Ibuku tidak mungkin mengetahui lokasi adikmu. Yang ada adikmu saat ini sudah berada dialam baka sejak 17 tahun yang lalu" Jin mengepalkan tanganya kuat.
"Aku akan menemukan Junjae dan mengetahui alasan dibalik pembunuhan ibumu. Dan Kakak i***t-mu juga dibutuhkan disini. Aku akan menemukan mereka berdua dan mengetahui kebenaranya"
"Semoga berhasil Jin-shi" ujar Aliya sambil berlalu tapi ucapan Jin kembali membuat Aliya berhenti.
"Apa kau tahu jika kau adalah anak adopsi dari kedua orang tuamu? Kau hanya anak buangan, anak yang dipungut oleh ayah dan ibumu. Kau hanya anak pungut Nona Aliya Kim" sinis Jin.
"Apa yang kau bicarakan Kim Seok Jin?" Teriak Aliya.
"Kau ditemukan oleh kedua orang tuamu dalam keadaan terluka parah, mereka mengakukan dirimu sebagai anak kandung mereka. Kau dijadikan pengganti Kakak idiotmu itu. Mereka mengadopsimu, menjadikanmu putri mereka. Kau hanya anak pungut pengganti anak kandung mereka"
*
Untuk sekian tahun Jimin akhirnya menginjakkan kakinya di Rumahnya lagi. Selama ini ia tidak pernah menginjakkan kakinya dirumah ini. Ia lebih memilih tinggal di Apartemant-nya.
"Jim..." Jimin tersenyum saat melihat Nida.
"Anyeong Noona"
*
"Ini" Jimin menatap Nida bingung. Nida memberikanya sebuah kotak beludru warna biru padanya.
"Apa ini Noona?" Tanya Jimin.
"Ini ditemukan saat kecelakaanmu 3 tahun yang lalu. Chanyeol Oppa menemukan kau menggenggam ini saat kecelakaan itu, dan kami menyimpanya karena kami fikir ini berhubungan dengan Gyuhyun" Jimin maraih kotak itu dengan bergetar.
"Ini peninggalan Gyuhyun?" Nida mengangguk singkat.
"Mungkin ini bisa sedikit membantumu mengingat Gyuhyun" ujar Nida. Dengan tangan gemetar Jimin membuak kotak beludru itu. Ia menyeringit bingung saat ia menemukan sebuah potongan kalung dengan Bandul yang bertuliskan "JI".
"Apa ini Noona?" Tanya Jimin.
"Aku tidak tahu Jim. Tapi bandul kalung ini mengingatkanku pada seseorang. Aku pernah melihatnya tapi itu dulu saat aku kecil dan aku tidak bisa mengingatnya" ujar Nida.
"Apa mungkin ini punya Gyuhyun? Bagaimana dia bisa punya benda berharga seperti ini? Aku juga tidak pernah melihatnya memakai ini dulu" ujar Jimin.
"Apa yang ibu Gyuhyun bicarakan dulu denganmu?" Tanya Nida.
"Dia hanya bilang jika Gyuhyun meninggal saat perjalanan kemari" Nida menatap aneh Jimin.
"Kau ditunjukkan makamnya?" Jimin mengangguk.
"Apa mungkin jika ada manipulasi disini?" Ujar Nida.
"Apa maksudmu Noona?" Tanya Jimin.
"Aku ingat, saat menemuimu waktu itu. Ibu Gyuhyun terlihat sangat ketakutan dan gemetar. Dan kenapa dia harus takut? Kukira baik Appa dan Eomma baik-baik saja waktu itu" cetus Nida.
"Apa mungkin karena kehadiran Keluarga Jung?" Jimin tampak memikirkan ucapan Nida.
"Hei! Keluarga Jung juga menghilang saat kau pergi dengan Gyuhyun" Pekik Nida.
"Benarkah Noona?" Nida mengangguk pasti. Ia yakin jika Keluarga Jung hilang saat Jimin dan Gyuhyun hilang.
"Aku merasa jika Keluarag Jung terlibat dalam ini semua. Aku ingat saat penetapan tanggal pertunangan kalian. Keluarga Jung terlihat antusias pada pertunangan ini. Dan aku juga ingat saat Appa bilang jika Keluarga Jung akan dapat 15% dari Kwon's Group saat Mina bertunangan denganmu" Jimin sontak menatap Nida. Ia tidak tahu perihal perjanjian saham pada Kwon's Group.
"Noona yakin?" Tanya Jimin.
"Sangat" tegas Nida.
*
Aliya menatap nyalang kearah Gyuri. Ia yakin jika kakaknya ini tahu perihal adopsi yang dilakukan Orang tuanya.
"Eonni tahu jika aku anak adopsi?" Pekik Aliya keras. Dan Gyuri yang hanya diam membuat Aliya semkin geram.
"Jawab Eonni" Gyuri menunduk. Ia takut saat melihat kemarahan adiknya.
"Aku tidak tahu Gyuhyun-ah. Yang kutahu adalah Eomma dan Appa mengenalkanmu sebagai adikku waktu itu" Aliya menggeleng tidak percaya.
"Apalagi ini? Kebohongan apalagi yang kalian rahasiakan dariku. Namaku yang diganti, aku bukan anak kandung dari Eomma dan Appa. Rahasia apa lagi yang kalian simpan?" Aliya jatuh terduduk. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Aku tidak tahu tapi buku ini bisa menjawab semua pertanyaanmu. Ini milik Appa dan aku menemukanya. Kau baca saja sendiri"
"Aku tidak mau, yang kubutuhkan adalah penjelasan kalian dan bukan buku sialan ini. Kim Gyuhyun pasti juga bukan nama asliku! Lalu siapa aku yang sebenarnya. Aliya Kim? Kim Gyuhyun atau apa?"
"Apa maksudmu?" Mereka terkejut saat mendengar suara Jimin.
"Apa maksudmu? Kim Gyuhyun? Siapa dia? Kenapa kau menyebut jika Kim Gyuhyun adalah namamu?" Aliya mematung ditempat ia belum siap berbicara jujur pada Jimin.
"Jawab aku Aliya" teriakan Jimin membuat Aliya bergetar.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Jim..aku..."
"Jawab Aliya"
*
Jimin menggeleng tidak percaya atas penjelasan yang ia dengar dari Aliya dan Gyuri. "Kau bohong?" Tanya Jimin.
"Entahlah! Aku sendiri tidak tahu. Bahkan kebenaran jika aku adalah Kim Gyuhyun juga belum bisa kuterima" ujar Aliya lirih.
Jimin menatap tajam Aliya, dengan emosi ia mencengkaram lengan Aliya. "Skenario apa lagi ini? Rencana apa yang kau siapkan untukku? Kebohongan apa yang sedang kau...emphh" Aliya membungkam mulut Jimin dengan mulutnya. Demi Tuhan dia sedang tidak ingin banyak bicara kali ini. Dan ia tidak ingin dipusingkan dengan masalah Gyuhyun.
"Aku mohon jangan bertanya lagi Jim! Kepalaku terasa mau pecah, aku belum bisa menerima kenyataan jika aku adalah Kim Gyuhyun, dan aku harus dihadapkan dengan kenyataan jika aku hanya anak adopsi dari kedua orangtuaku. Jadi kumohon jangan mempersulit keadaanku" Gyuri memandang iba kearah Adiknya.
"Aku akan membuktikan jika Aliya adalah Gyuhyun. Kajja ikut aku"
*
"Ini foto Keluarga kami saat ulanga tahun Aliya yang ke 17 tahun" Jimin yakin jika wanita yang tengah memeluk Aliya dan Gyuri adalah wanita yang datang padanya waktu itu. Dan wanita itu mengaku jika dia adalah ibu dari Gyuhyun.
"Kami sama-sama diculik waktu itu. Tepat tanggal 15 Mei, 3 tahun yang lalu. Tapi kondisi Aliya jauh lebih memprihatinkan saat itu. Dia mengalami luka parah pada kepalanya dan aku yakin jika luka itu adalah luka benturan akibat kecelakaan" Jimin masih diam.
"Aku tidak punya banyak bukti, tapi aku ingat saat itu Aliya menggunakan kalung dengan bandul bernama "JI", dan kalung itu hilang saat peristiwa kecelakaan Aliya" Jimin langsung merogoh kalung yang ada disakunya.
"Ini maksud Noona?" Tanya Jimin sambil menunjukkan kalung dengan bandul "JI"
"Bagaimana bisa kau memilikinya? Itu kalung yang Aliya gunakan sebelum ia berangkat ke Pesta itu" Aliya tidak mendengarkan sama sekali pembicaraan mereka berdua. Kepalanya terasa sangat pusing dan sangat sakit.
"Ji Byung, ya Kim Ji Byung" tubuh Aliya langsung ambruk, dia pingsan.
"Aliya..." Jimin berteriak panik dan memangku tubuh ringkih Aliya.
"Aliya iroena, Aliya iroena"
*
Aliya terbangun saat merasakan tepukan pada pipinya. Wajah Jimin dan Gyuri yang panik adalah hal yang pertama kali ia lihat.
"Kau sudah sadar syukurlah" Jimin langsung merengkuh tubuh Aliya.
"Mianhae!" Aliya tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Eonni akan buatkan teh hangat untukmu! Kau istirahatlah dengan Jimin" Gyuri langsung berjalan keluar meninggalkan Jimin dan Aliya.
"Jim"
"Hem"
"Kepalaku pusing" Jimin langsung menatap Aliya dengan cemas.
"Kita ke Dokter ya?" Aliya menggeleng.
"Bawa aku bertemu dengan Nam Junjae. Hubungi juga Kim Soek Jin, aku harus memastikan satu hal lagi" ujar Aliya.
"Kim Seok Jin?" Aliya mengangguk.
"Kim Soek Jin dan Kim Taehyung. CEO Kim's Holding"
*
Jin dan Taehyung mencoba memahami situasi yang mereka alami. Untuk apa mereka dibawa kerumah sakit?
"Kalian sudah datang? Tuan Muda Park dan Nona Aliya sedang menunggu anda" Jin dan Taehyung mengikuti Zack yang menuntun mereka ke sebuah kamar.
"Masuklah Tuan, kalian sudag ditunggu" mereka saling melirik lalu masuk kedalam kamar tersebut.
*
15 menit, mereka diam memperhatikan Aliya yang sedang menatap Junjae. Dan itu membuat Jin dan Taehyung sedikit emosi.
"Untuk apa kau membawa kami kesini?" Aliya hanya diam, ia masih menatap Junjae.
"15 menit, itu waktu yang kuberikan untukmu menjelaskan semuanya. Katakan siapa aku sebenarnya? Aliya Kim? Kim Gyuhyun atau Kim Ji Byung?" Mereka menatap Aliya kaget.
"Apa maksudmu?" Tanya Jin.
"Jangan menyelaku Kim Seok Jin-shi. Nam Junjae harus menjelaskan semuanya jika dia ingin selamat"
"Aku..."
"Jawab saja semuanya Oppa" semuanya terkejut saat mendengar suara Mina.
"Mina-ya" Mina tersenyum miris dan menghampiri Junjae.
"Aku akan berada disampingmu" lirih Mina.
"Aku..."
"Aku akan selalu bersamamu" Junjae memejamkan matanya takut.
"Aku, Aku adalah orang yang membunuh ibumu" ujar Junjae sambil melirik Aliya.
"Dia mengetahui rahasiaku maka dari itu aku melenyapkanya. Aku mencintai Mina, aku hanya memanfaatkan Gyuri untuk mencapai tujuanku. 17 tahun yang lalu, Ayahku bekerja sama dengan Ayah Mina, mereka merencanakan sebuah kecelakaan untuk kalian bertiga. Kim Soek Jin, Kim Tae Hyung dan Kim Ji Byung. Minuman supirmu sudah dicampur dengan obat tidur. Dan saat supirmu mengendarai mobil itu pasti dia akan pingsan ditengah jalan. Mobil kalian menabrak pembatas jalan, dan tercebur ke Sungai. Ayahku mengeluarkan Jin, Taehyung dan juga dirimu. Dia membawamu dan menggantikanya dengan mayat seorang gadis kecil, dan dia juga yang membakar mobil itu. Kau dibawa di Gudang rumah Mina, disana kau dianiyaya dan disiksa sampai pada akhirnya Ayahku merasa tidak tega padamu. Dia menyarankan agar kau dibuang atau dibunuh saja. Tapi Ayah Mina tetap kekeh pada pendirianya untuk menyiksamu sampai mati. Ayahku membawa seorang Dokter pribadi untuk menemuimu dan itu tanpa sepengetahuan Ayah Mina. Dokter itu memberikan sebuah suntikan hilang ingatan padamu, tapi Dokter itu mengaku memberikan suntikan mati padamu jika didepan Ayah Mina. Ayahku membawamu kesebuah Rumah kecil dipinggiran Kota Seoul dan itu adalah rumah dari Orang tua Gyuri. Dia meninggalkan sebagian kalung dengan bandul "JI BYUNG" sedangkan bandul yang bernama "KIM" ia menyimpanya dan memberikanya pada Ayah Mina sebagai bukti jika dia sudah melenyapkanmu. Aku..." Junjae mengambil jeda pada nafasnya.
"Keluarga Jung mengincar 15% saham dari Kwon's Group yang seharusnya menjadi milikmu utuh. Tapi dengan syarat kau harus menikah dengan cucu bungsu dari Park Hajoon dan cucu bungsu dari Park Hajoon adalah Park Jimin. Mereka tidak terima karena Yuri ibumu sudah memiliki 80% dari Kwon's Group maka dari itu mereka mengincar nyawamu untuk mendapatkan 15% itu. Selama ini mereka fikir jika Ji Byung sudah mati tapi pada kenyataanya Kim Ji Byung masih hidup dengan nama Kim Gyuhyun. Mereka akan mendapatkan 15% dari Kwon's Group saat Mina menikah dengan Jimin. Dan saat mereka tahu jika Jimin memiliki seorang kekasih mereka berniat melenyapkan kekasih Jimin. Mereka tidak tahu jika Kekasih Jimin adalah orang yang pernah mereka coba bunuh 17 tahun yang lalu. Mereka lah yang menabrak mobil kalian, tapi aku yang membawamu ke Gudang Keluarga Jung. Disana juga ada Gyuri dia dijadikan sebagai umpan oleh Keluarga Jung. Dan karena Jo Sekyung ibu tirimu begitu menyayangi kalian, maka dari itu dia memilih agar kau disuntik lupa ingatan dan mereka juga melakukan hal yang sama pada Jimin. Jimin disuntik lupa ingatan untuk membuat Jimin lupa pada Gyuhyun tapi hanya Gyuhyun dan bukan yang lain. Kau hidup sebagia Aliya Kim dan aku disuruh untuk mendekati Gyuri agar aku bisa mengawasimu. Sekyung tahu jika aku adalah pria itu dan dia juga tahu jika aku hanya memanfaatkan Gyuri. Dia marah, dan dia juga yang mengirim surat beserta kalung "BYUNG" kerumah Keluarga Kim. Aku yang gelap mata langsung melenyapkan ibumu malam itu juga. Mereka..." Taehyung dan Jin mengepalkan tanganya kuat, mereka begitu ingin membunuh Junjae tapi mereka menhan keinginan mereka karena Junjae belum menutaskan penjelasanya. Sedangkan Aliya sudah ada dipelukan Jimin, sedari tadi Aliya sudah terisak dan Jimin langsung merengkuh tubuh Aliya.
"Buku usang yang ditemukan oleh ibumu, buku itu berisi keterangan lengkap Ji Byung, ayahku adalah orang yang mengirim itu, tapi dia juga yang melenyapkan Kim Jaeshin karena demi menyelamatkan Nyawamu yang kembali terancam oleh Keluarga Jung. Dan karena kematian Kim Jaeshin mereka benar-benar yakin jika Kim Ji Byung sudah mati" Mina menangis, tentu saja. Ia baru tahu kenyataan tentang kedok kedua orantuanya. Mereka berdua begitu kejam dan sadis, melenyapkan semua orang demi kepuasan mereka pribadi. Dan dengan bodohnya ia tidak tahu sama sekali.
"Tapi takdir tetap tidak bisa diubah. Sebanyak apapun Keluarga Jung mencoba menjauhkan kau dan Jimin pada akhirnya kalian tetap kembali bersama. Entah sebagai Kim Gyuhyun atau Aliya Kim. Kalian tetap bersama" lirih Junjae.
"Kenapa kau menyiksa kakakku?" Isak Aliya.
"Walaupum Gyuri terlihat i***t dan seperti orang gila. Tapi dia tahu tentang semuanya, dia tahu jika aku mencintai Mina, dia juga tahu jika kau bukan adik kandungnya. Dia tahu semuanya tapi dia tidak bisa mengatakan kebenaran itu saat dia takut. Dan karena itulah aku selalu menyiksanya agar dia tidak membuka mulutnya" ujar Junjae.
"Dan kenapa kau tidak melenyapkanku saat tahu kebenaran tentang jati diriku?"
"Sebelum kepergian Ayahku, dia menceritakan kejahatanya semasa hidup padaku. Dia juga berpesan agar aku melindungi Ji Byung orang pernah ia coba lenyapkan. Tapi aku tidak bisa melakukanya karena aku mencintai Mina. Maka dari itu yang bisa kulakukan adalah menutup akses dari Keluarga Jung untuk menjauhkanmu dari mereka dan membuatmu seolah hidup menderita dan itu cukup membuat mereka puas karena kau hidup menderita" jelas Junjae.
"Aku minta maaf atas semua yang kejahatan Ayahku dan juga kejahatanku" lirih Junjae.
"Maaf? Kau bilang maaf? Apa dengan ucapan maafmu itu kau bisa mengembalikan masa kecilku yang terbuang? Nyawa kedua orangtuaku yang kalian lenyapkan? Apa kau bisa mengembalikan itu semua" teriak Aliya lantang.
"Mianhae!"
"Aku tidak butuh ucapan maaf darimu Nam Junjae" Jimin langsung memeluk tubuh Aliya. Aliya dalam keadaan emosi dan tidak baik saat ini.
"Geumanhaeyo! Jebal Geumanhaeyo!" Lirih Jimin.
"Appo Jim...hiks...neomu Appoyo..hikss" Jimin semakin mengeratkan pelukanya dan isakan Aliya juga semakin terdengar keras.
"Hubungi Jongin dan buat k*****t itu membusuk dipenjara jangan lupakan Tua Bangak Jung itu. Mereka harus mati ditanganku. Dan pastikan itu terjadi" Jin mengahampiri Aliya yang duduk sambil menangis dipelukan Jimin. Tanpa berbicara apapun Jin langsung membopong tubuh Aliya dan membawanya menjauh dari kamar Junjae.
*
Aliya masih tidak bisa bicara, pandangan matanya kosong. "Magnae" air mata Aliya jatuh saat mendengar panggilan masa kecilnya. Ia mengingat semuanya. Masa kecilnya, masa remajanya dan yang lainya. Ia ingat semuanya.
"Hiks..appo Oppa, Neomu Appoyo" Jin menarik Aliya dalam pelukanya.
"Mianhae karena Oppa tidak tahu apa yang kau alami selama ini! Mian karena menjadi kakak yang buruk untukmu, Mianhae" Jin semakin mengeratkan pelukanya.
"Bagaimana mungkin Oppa bisa melewatakan masa kecil kita. Adik manjaku tumbuh dengan rasa sakit dan penderitaan, bagaimana bisa aku tidak mengetahui semuanya?" Lirih Jin sambil membelai wajah Aliya.
"Eomma dan Appa sedang dalam perjalanan kemari. Mereka sudah sangat merindukan putri manja mereka"
*
"Mian karena Eonni tidak pernah bisa berbicara jujur padamu" Aliya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukanya.
"Eonni adalah kakak yang terbaik" Gyuri tersenyum simpul.
"Eomma dan Appa pasti bahagia memiliki anak angkat sepertimu" Aliya melepaskan pelukanya pada Gyuri.
"Kemanapun aku pergi Eonni harus selalu mengikutiku, dan aku tidak akan pernah membiarakan Eonni sendirian. Seperti Eomma dan Appa yang merawatku sejak kecil sekarang saatnya aku membalas semua perbuatan baik mereka. Eonni akan hidup bahagia bersamaku. Sekarang dan selamanya" Gyuri mengangguk dan kemnbali memeluk Aliya.
*
"Ingin makan sesuatu sayang?" Aliya menggeleng dan semakin mengeratkan pelukanya pada Yuri ibu kandungnya.
"Eomma!"
"Ya Sayang" jawab Yuri.
"Kenapa dulu Harabojie bisa menikah dengan Halmonie Lee?" Yuri tersenyum tipis dan mengusap lembut rambut putrinya.
"Harabojie-mu terlalu muda untuk menduda maka dari itu dia menikah lagi" ujar Yuri.
"Apa dulu Hyeri imo bersikap baik pada Eomma?"
"Dia selalu bersikap datar dan dingin, dia juga cenderung tidak peduli pada sekitar" ujar Yuri.
"Bagaimana perasaan Eomma saat tahu jika aku mati?" Tanya Aliya.
"Eomma mengalami depresi. Putri manja Eomma yang paginya masih bercanda dan tertawa tiba-tiba pergi. Tentu saja Eomma tidak bisa menerima itu" cetus Yuri.
"Apakah Eomma tahu perihal 15% itu?" Yuri menggeleng.
"Eomma tidak pernah mengurusi bagian seperti itu. Bagi Eomma 80% dari warisan yang diberikan Harabojie-mu lebih dari cukup untuk Eomma. Bahkan Eomma tidak yakin bisa menghabiskanya. Dan perihal 15% itu Eomma tidak peduli" tegas Yuri.
"Eomma?" Aliya menatap Yuri dengan takut.
"Ada apa sayang? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Yuri tahu jika putrinya sedang dalam keadaan gelisah.
"Eomma akan mendengarkanya" ujar Yuri lembut.
"Eomma aku..aku..aku hamil"
*
"Sakit?" Jimin mengangguk, wajahnya babak belur karena dipukuli oleh Chanyeol, Jin dan Taehyung. Karena mereka tahu jika Aliya hamil dan Jimin adalah Ayah dari bayi itu.
"Kau tampak lucu dengan wajah biru" Jimin tentu saja kesal karena Aliya menertawakanya.
"Ini juga karenamu Hyu..."
"Aliya aku lebih suka kau memanggilku dengan nama Aliya" sela Aliya sambil kembali mengobati Jimin.
"Aki tidak tahu jika Kedua Oppa-ku akan sesadis itu. Dulu mereka tidak seperti itu" ujar Aliya.
"Mereka jadi bengis setelah kepergianmu" cetus Jimin.
"Janjayo?" Jimin mengangguk.
"Lalu kau? Apa kau jadi sadis setelah ditinggal Kim Gyuhyun?" Tanya Aliya jail.
"Kau mengujiku eoh? Baiklah kita buktikan sekarang" Jimin menyingkirkan obat yang ada didepan Aliya dan berjalan kearah Aliya.
"Kau mau apa?" Tanya Aliya gugup.
"Membuktikan kesadisanku Nyonya Park" Aliya menggeleng ia tahu arti tatapan Jimin.
"Jim andwaeyo" Jimin tersenyum m***m dan semakin mendekatkan dirinya pada Aliya.
"Bukankah kita sudah lama tidak melakukanya" Aliya menggeleng.
"Jim..emphhh"
END?