Hati-hati Typo banyak beredar.
"'"'"'"'""
Aliya meremas dadanya kuat. Nafasnya terasa sangat sesak, sementara Gyuri berdiri didepan Aliya dengan khawatir. Mereka kembali bertemu dan ini semua karena Jimin yang membawa Gyuri kembali ke Seoul.
"Wae Eonni?" Tanya Aliya dengan suara parau. Matanya memerah menahan rasa sakit di hatinya. Ia tidak bisa percaya pada apa yang diucapkan kakaknya.
"Mian Aliya, ini semua karena Eonni. Appa dan Eomma terlalu menyayangi kita maka dari itu mereka menyembunyikan ini dari kita" Aliya menggeleng tidak percaya.
"Aku ingin mendengar semuanya dari awal" tegas Aliya, sementara Gyuri hanya mengangguk singkat.
"Dari dulu aku sudah mengalami kelainan. Aku tidak bisa tumbuh seperti anak seusiaku. Maka dari itu mereka menyembunyikanku. Kau hadir diantara kami, lain dengan aku. Kau tumbuh dengan otak jenius dan berbakat. Maka dari itu Appa dan Eomma menunjukkan dirimu pada dunia luar tapi tidak denganku. Kau menyayangiku merawatku dan selalu menemaniku. Appa pergi karena peristiwa pembunuhan dan kau tidak tahu itu, hanya Eomma dan aku yang tahu. Aku terus disembunyikan tapi semua itu tidak bertahan lama saat usiamu menginjak 17 tahun. Kau bilang pada Eomma jika kau menyukai seorang Namja tapi Namja itu adalah seorang Chebol. Kau dan Eomma bertengkar hebat dan kau lebih memilih Namja itu karena kau mencintainya. Kau selalu bilang padaku jika kau mencintainya dia baik dan tulus padamu, kau juga bilang jika Namja itu akan memberikan apapun padamu. Tapi..." Gyuri mengambil nafas sebentar.
"Malam itu kau pamit pada kami. Kau bilang ingin menghidiri pesta yang diadakan Namja itu. Eomma sempat melarangmu tapi kau tetap pergi. Dan setelah kepergianmu, ada seseorang yang masuk kekamarku. Namja itu membekapku dan menculikku. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi saat aku tersadar aku sudah dalam keadaan terikat dan itu bersama denganmu yang terluka parah. Aku terus diam karena tidak tahu apapun, kau terus berteriak dan memanggil nama pria itu. Sampai saatnya Eomma datang. Ada 3 orang disana, sepasang suami istri dan seorang namja dengan pakaian serba hitam. Mereka memberikan penawaran pada Eomma. Eomma disuruh memilih antara aku tau kau. Mereka juga mengancan akan membunuhku. Aku tidak terlalu tahu apa yang terjadi. Tapi saat itu kau berteriak lantang dan mengatakan tidak. Dan setelahnya pria itu menyuntikkan cairan padamu dan setelahnya kau tidak sadar. Aku juga tidak sadar setelahnya dan tiba-tiba kita sudah berada di Busan dan kita memulai hidup yang baru" Aliya menggeleng tidak percaya. Ia sudah dibodohi selama ini.
"Kehidupan baru? Justru itu awal kehancuranku Eonni" teriak Aliya sambil terisak.
"Mian Aliya, itu demi keselamatanmu" lirih Gyuri.
"Jika kita akan memulai kehidupan baru, kenapa Eomma harus merubah namaku?" Teriak Aliya lantang.
"Karena Eomma melindungimu dari orang-orang jahat yang mengincar nyawamu Gyuhyun-ah" Aliya jatuh terduduk. Aliya bukan nama aslinya namanya yang sebenarnya adalah Kim Gyuhyun. Ibu mereka mengubah namanya dan ia tidak tahu sama sekali tentang itu.
"Mian Hyun-ah, Eomma hanya ingin kau selamat. Eomma tidak ingin kita terluka dan berurusan dengan para orang jahat itu" lirih Gyuri sambil memeluk tubuh Aliya.
"Apa Eonni tahu siapa pria yang kucintai itu?" Tanya Aliya sambik melepas pelukan Gyuri.
"Siapa dia?" Tanya Gyuri lirih.
"Jimin, Park Jimin ayah dari anak yang kukandung saat ini. Orang yang membeli tubuhku. Memberikan aku kehidupan, mengirim Eonni ke Jepang. Dia adalah Jimin, Park Jimin" Gyuri membungkam mulutnya tidak percaya. Adiknya hamil?
"Aku bekerja sebagai jalang selama ini. Aku ingin membalas dendam pada Mina orang yang disayangi oleh b******n yang kau cintai itu. Aku bekerja sebagai Jalang pada orang yang kucintai selama ini. Jalang Eonni, Jalang" mereka sama terisak setelah pengakuan masing-masing.
Gyuri tidak menyangka jika hidup adiknya akan serumit ini. Sementara Aliya masih belum menerima ini. Ternyata dirinya sudah terikat dengan Jimin sejak dulu, dan ia tidak tahu jika Gyuhyun adalah dirinya orang selama ini Jimin tangisi.
Pantas saja, saat melihat Jimin sakit ia juga merasa sakit. Ia begitu benci saat Jimin berhubungan dengan Mina atau yang lain, dan alasan semua itu adalah karena hatinya masih menginginkan Jimin dan ia sama sekali tidak tahu.
"Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kepergianku. Dia menjadi b***t setelah kepergianku, menjadi Namja b******n, b******k, kejam dan dingin. Dan itu semua karena aku" Aliya memukul kepalanya dengan kuat. Kenapa ia begitu lemah, kenapa dirinya tidak bisa mengingat apapun selama ini?.
"Mian Hyun-ah, aku tidak tahu jika Jimin adalah pria yang hidup dengan mu selama ini" Aliya menatap tajam Gyuri.
"Siapa sepasang suami-istri itu?" Tanya Aliya.
"Maksudmu?"
"Siapa mereka? Orang yang menyekapku dan menculikmu. Siapa mereka?" Tanya Aliya.
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengenal mereka. Tapi jika kau menunjukkan foto mereka aku masih bisa mengenali mereka" pandangan Aliya berubah tajam.
"Jangan pernah bicara pada siapapun tentang ini. Aku ingin menemukan 2 b*****h yang telah memisahkan Jimin denganku selama ini. Cukup bersikap tidak tahu saja. Biarkan yang lain menjadi urusanku. Jangan bicara apapun pada Jimin. Eonni hidup disini sebagai kakak Aliya Kim dan bukan sebagai kakak dari Kim Gyuhyun. Eonni mengerti?" Gyuri mengangguk mengerti.
"Siapkan hatimu juga. Karena aku akan menghabisi Nam Junjae k*****t itu. Dia penyebab aku menjadi jalang jadi jangan coba-coba halangi aku" Aliya langsung pergi meninggalkan Gyuri. Sementara Gyuri jatuh terduduk setelah mendengar ucapan Adiknya. Gyuri masih mencintai Junjae.
*
Jimin tersenyun miring saat melihat Junjae yang terluka parah. Ia sedang bersenang-senang sekarang.
"Kau tahu aku ingin sekali membunuh seorang pembunuh sepertimu" Tubuh Junjae bergetar saat mendengar ucapan dingin Jimin.
"Kau telah menyiksa wanitaku. Kau juga menjadikan dia sebagai jalang. Dia menjadi datar dan dingin karena sikap b******n mu. Tapi aku juga akan berterima kasih padamu. Karena saat Aliya menjerumuskan dirinya kedunia gelap ini, aku jadi bertemu denganya" Jimin berucap begitu sinis dan dingin.
Ponsel Jimin bergetar, dan tertera nama Aliya disana. Dengan cepat ia mengangkatnya.
"Aku akan meminta Han Ahjuhsi menjemputmu sayang. Aku punya sedikit kejutan untukmu" Jimin langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Dia akan datang, tunggu saja ya?"
*
Aliya menyeringitkan dahinya bingung saat Han Ahjuhsi membawanya ke Gudang tua yang ada disamping kantor Jimin.
"Tuan Muda sudah menunggu anda" itu adalah Zack tangan kanan Jimin, Aliya mengenalnya.
"Mari Nona" Aliya hanya menurut saat Zack menuntunya masuk.
"Apa yang Jimin lakukan disini?" Tanyanya pada Zack.
"Nona akan tahu nanti" Aliya terus mengikuti langkah kaki Zack. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Jimin tengah memukuli seorang pria. Dan Aliya tahu siapa orang itu. Nam Junjae.
"Kau sudah datang sayang" Tanpa takut Jimin langsung menghampiri Aliya yang mematung dan Jimin tidak sungkan untuk mencium bibir Aliya.
"Kau mengenalnya bukan?" Aliya menatap Jimin lekat. Wajah Jimin terlihat mengerikan dengan noda darah, tapi Aliya yakin jika itu bukan darah Jimin tapi darah dari Junjae.
"Kapan kau menemukanya?" Jimin tersenyum saat Aliya menyentuh wajahnya.
"Baru 2 hari yang lalu" Aliya langsung menghampiri Junjae yang terikan pada sebuah tiang. Dapat ia lihat jika Junjae terluka parah.
"Bisakah kau hubungi Dokter Jung. Aku ingin kau mengobatinya" mereka semua terkejut saat mendengar ucapan Aliya. Bahkan Junjae juga terkejut.
"Apa maksudmu?" Tanya Jimin pada Aliya.
"Dia harus sembuh dulu! Dia harus menjawab semua pertanyaan yang ada di otakku selama ini. Dia harus memberikan alasan kenapa dia menyiksaku dan menyiksa kakakku selama ini. Dan dia harus memberikan alasan kenapa dia membunuh ibuku" Junjae terlihat bergetar saat mendengar ucapan Aliya.
"Wae kau takut? Aku tidak akan menyiksamu, aku hanya ingin jawabanmu. Percayalah aku begitu muak mengotori tangaku untuk darah kotor b******n sepertimu. Jadi cukup jawab pertanyaan ku, dan kau akan bertemu wanita yang kau cintai itu" Aliya langsung berbalik. Ia menghampiri Jimin yang masih bingung.
"Segera hubungi Dokter Jung. Aku ingin dia segera sembuh. Dan kau ikut aku pulang. Kakakku sudah sampai disini. Kau harus memberikan salam padanya. Dan lukamu harus disembuhkan. Kajja" Aliya langsung manarik Jimin menjauh. Tapi baru beberapa langkah ia berhenti dan berbalik.
"Oh ya ada salam untukmu kakak ipar. Gyuri Eonni sudah sampai di Seoul dan dia titip salam padamu. Dia bilang jika kau harus segera pergi ke Neraka, karena dia muak melihat wajahmu" Junjae menatap Aliya tidak percaya. Sementara Aliya hanya bersikap acuh dan meneruskan langkahnya.
*
"Sakit...." Aliya menekan kuat luka Jimin dan itu membuat Jimin meringis.
"Siapa suruh kau berkelahi?" Ketus Aliya.
"Aku sudah lama tidak melakukanya" ujar Jimin.
"Kakakmu sudah tidur?" Aliya mengangguk singkat.
"Gyuri Eonni tidak terbiasa tidur malam" Jimin hanya ber-oh ria.
"Apa yang dia lakukan padamu saat tahu kau hamil?" Tanya Jimin serius.
"Dia marah" jawab Aliya singkat.
"Hanya itu?" Tanya Jimin tidak percaya.
"Memang kau berharap dia menamparku begitu?" Sinis Aliya.
"Bukan begitu. Tapi...sudahlah. Sekarang lanjutkan ini" Aliya hanya mendengus lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Kau sudah makan?" Jimin menggeleng.
"Tunggu 15 menit aku akan memasakkan makanan untukmu" Aliya langsung membereskan peralatanya dan berjalan menuju dapur.
*
Mina membaca ulang E-mail yang dikirim oleh Dokter pribadinya. Matanya terus membaca ulang laporan itu.
"Kim Ji Byung?" Lirihnya. Itu adalah nama sepupu dari ibunya. Dan kenapa DNA Kim Ji Byung ada di jarum bekas suntikan yang ia temukan di gudang rumahnya.
"Bukankah Ji Byung sudah mati dalam kecelakaan 17 tahun yang lalu?" Tanya Mina.
"Tapi kenapa DNA-nya bisa disini? Bukankah dia mati karena kecelakaan mobil?" Mina tahu jika ini pasti ada yang tidak beres. Jika Kim Ji Byung mati dalam kecelakaan tidak mungkin DNA sepupunya itu ada disini dan hasil laporan DNA itu tidak mungkin salah.
"Apa Appa dan Eomma penyebab semua ini?" Lirihnya sambil memegang setengah kalung yang ia temukan pada kotak kaca itu.
"Apa Appa dan Eomma terlibat dalam kecelakaan Ji Byung? dan bagaimana bisa kalung Keluarga Kim ada disini? Apa mereka melakukan sesuatu pada Ji Byung?" Mina tahu jika orang tuanya sangat matrealistis tapi apa mereka sampai bertindak sejauh ini?
"Aku harus mencari tahu ini semua. Jika Appa dan Eomma terlibat dalam ini. Tidak menutup kemungkinan jika Appa dan Eomma juga terlibat dalam kecelakaan Jimin Oppa 3 tahun yang lalu" Mina tahu jika saat itu Jimin lari dengan kekasihnya setelah pertunangan mereka tapi ia tidak mengenal kekasih Jimin waktu itu. Yang ia tahu adalah saat Jimin pergi, orang tuanya juga ikut menghilang. Dan karena kecelakaan itu Jimin begitu membencinya dan ia harus menemukan alasan dari semua ini.
"Aku harus meminta bantuan, ya bantuan" Mina langsung beranjak dari kamarnya. Ia membereskan semuanya.
"Aku harus membawa ini" gumamnya sambil mengantongi setengah kalung dengan huruf Kim itu.
*
Jimin menatap takjub makanan yang disediakan Aliya. Ini semua adalah makanan kesukaanya dan bagaiman bisa Aliya tahu?.
"Makanlah kau laparkan?" Jimin langsung duduk. Aliya mengambilkan nasi dan lauk.
"Makanlah!" Jimin langsung menyantap makanan Aliya tapi baru satu suap ia langsung berhenti.
"Rasanya mirip seperti masakan Gyuhyun" lirihnya dan kembali memakan makanan yang ada piringnya. Sementara Aliya hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan Jimin.
"Itu aku Oppa, itu aku Gyuhyun-mu" lirihnya dalam hati.
*
Aliya menatap sendu wajah Jimin yang sedang tertidur. Tanganya terulur untuk menyentuh wajah tampan Jimin.
"Kukira hidupku sudah berakhir, tapi aku salah" lirih Aliya.
"Aku akan menemukan mereka yang memisahkan kita. Dan kumohon bersabarlah untuk itu. Karena Gyuhyun-mu ada disini, ya Kim Gyuhyun-mu. Cinta pertamamu, belahan Jiwamu dan ibu dari calon anakmu" lirih Aliya sambil meraba perutnya.
"Aku mencintaimu Oppa" Aliya memeluk tubuh Jimin dan ikut memejamkan matanya.
*
Jin menatap datar kearah Pamanya. Taejun mengunjunginya dan tujuan tua bangka itu mengunjunginya kali ini adalah untuk meminta bantuan.
"Aku sedang sibuk jadi Paman lebih baik pergi" Taejun mencoba tersenyum atas usiran keponakanya ini. Tapi ia harus tetap bertahan demi apa yang ia miliki saat ini.
"Paman hanya sebentar, Paman hanya minta bantuanmu untuk proyek Paman yang ada di Jeju. Kau pasti bisa membantu Paman kan?" Ujar Taejun manis. Sejujurnya Jin begitu muak dengan tua bangka ini, ia tahu jika Proyek Taejun yang ada di Jeju sedang ada masalah, dan masalah itu ditimbulkan oleh Taehyung. Ya Taehyung sudah meminta ijin dulu padanya dan Jin tentu saja menginjinkanya.
"Aku akan membantu Paman asal Paman memberitahuku dimana keberadaan Nam Junjae" tubuh Taejun bergetar saat mendengar ujaran datar Jin.
"Nam Junjae? Siapa dia?" Jin tersenyum miring. Ia tahu jika tua bangka ini sedang mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Bukankah Nam Junjae adalah Namja yang tergila-gila pada Mina. Dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan Mina, termasuk membunuh seseorang. Sekarang lebih baik Paman katakan atau aku tidak akan memberikan bantuan sepeserpun pada Paman" ancam Jin. Kelamahan Taejun adalah uang dan Jin tahu itu.
"Paman tidak tahu apa yang kau bicarakan? Siapa Nam Junjae Paman juga tidak tahu!" Jin mengangguk faham.
"Baiklah lebih baik Paman pergi dari sini. Karena aku sedang sibuk" Taejun mengepalkan tangannya kuat. Ia kembali diusir oleh Jin.
"Aku tidak tahu dimana Nam Junjae, dia menghilang sejak 3 hari yang lalu. Dan aku benar-benar tidak tahu dia kemana" Ujar Taejun.
"Paman fikir aku percaya?" Tanya Jin menyeringai. Tapi suara ponsel Jin membuatnya cepat-cepat mengangkatnya.
"Ya?"
"........"
"Benarkah?"
"......."
"Baiklah! Teruskan pekerjaanmu" Jin langsung mematikan sambungan ponselnya. Ia melirik datar kearah Taejun.
"Paman pergilah. Untuk urusan Jeju aku akan memikirkanya" Taejun tersenyum lalu pergi dari rungan Jin.
Semetara Jin tampak memijat keningnya. Taejun tidak bohong Junjae hilang dan tadi Yogyeom memberitahunya jika Junjae sudah tidak ditemukan keberadaanya selama 3 hari. Dan Keluarga Jung juga tidak tahu keberadaanya.
"Kenapa ini rumit sekali" kesal Jin. Ia mencoba memikirkan sesuatu. Detik berikutnya senyum iblis terlukis dari bibirnya.
"Jihyo akan sangat berguna dalam kasus ini" Jin segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jihyo.
*
Gyuri melirik canggung kearah Jimin, ia merasa asing saat sarapan dengan Jimin. Walaupun ada Aliya ditengah-tengah mereka tapi tetap saja. Ia tidak terbiasa sarapan dengan orang lain, kecuali Keluarganya.
"Kuharap Noona suka tinggal disini" Gyuri mengangguk singkat.
"Aku akan berangkat" Jimin langsung beranjak dari duduknya dan Aliya mengekori dari belakang.
"Aku akan pulang kerumah malam ini, dan jangan biarkan orang lain masuk" Aliya mengangguk singkat.
"Bisakah kau panggil Dokter Jung?' Jimin mengerutkan dahinya bingung.
"Kau sakit?" Aliya menggeleng.
"Aku harus menghilangkan mualku. Anakmu ini membuatku tidak bisa makan" keluh Aliya dan membuat Jimin terkekeh. Tangan kekar Jimin beralih memegang perut Aliya.
"Kau membuatnya tidak bisa makan? Jangan diteruskann, kasihan!" Ujar Jimin sambil mengelus perut datar Aliya.
"Jim.." Jimin menatap Aliya.
"Wae?" Tanyanya.
"Apa kesempatan itu masih berlaku?" Tanya Aliya ambigu.
"Kesempatan apa?" Aliya terlihat bingung untuk mengucapkanya.
"Ehm..apa kau akan benar-benar melepaskanku setelah bayi ini lahir?" Jimin menatap kosong Aliya. Ia tidak tahu harus menjawab apa?.
"Aku..."
"Apa kau masih mencintai Gyuhyun?" Jimin terkejut saat mendengar pertanyaan Aliya.
"Ya aku masih mencintainya" tegas Jimin.
"Bagaimana jika tiba-tiba Gyuhyun kembali dalam hidupmu. Dan dia tahu tentang anak ini?" Jimin manatap Aliya tajam.
"Kau mengetahui sesuatu?" Aliya menggeleng cepat.
"Aku hanya ingin tahu pendapatmu! Sebenarnya aku punya banyak sekali pertanyaan tapi aku bingung harus bertanya atau tidak" ujar Aliya. Ia harus menemukan dua orang itu sebenarnya agar ia bisa bilang jika dia adalah Gyuhyun.
"Datang kekantor. Maka akan kujawab semuanya" Aliya menatap kaget Jimin.
"Emh..aku ada satu pertanyaan boleh aku bertanya?" Jimin mengangguk singkat.
"Siapa yang merencanakan pertunanganmu dan Mina?" Tanya Aliya.
"Perjodohan sialan yang membuatku terikat dengan salah satu cucu perempuan dari Kwon Hanwo" Aliya bingung, siapa Kwon Hanwo. Dan Jimin tahu jika Aliya tengah bingung.
"Kakek dari Mina, dia adalah teman dari kakekku. Mereka membuat janji t***l yang mengharuskan cucu laki-laki dan perempuan mereka terikat dalam sebuah pernikahan dan itu harus anak bungsu" Aliya mengangguk faham.
"Apa hanya Mina cucunya?" Jimin menggeleng.
"Sebenarnya bukan Mina yang dijodohkan denganku tapi gadis lain. Ibu Mina adalah anak tiri dari Kwon Hanwo, dan Kwom Hanwo memilili anak kandung. Dia adalah Kwon Yuri ibu dari Kim Seokjin dan Kim Taehyung" jelas Jimin.
"Mereka kan laki-laki?" Jimin mengangguk tahu.
"Mereka memiliki adik perempuan, dan adik perempuan mereka mati dalam kecelakaan mobil 17 tahun yang lalu. Dan Namanya adalah Kim Ji Byung"
T.b.c