Happy Reading.
8 bulan kemudian.
Helaan nafas panjang terdengar dari bibir Jimin. Matanya menatap sekitar berharap akan menemukan suatu objek yang menarik minatnya.
"Aku akan ke Busan untuk urusan kampus" ujar Aliya yang tiba-tiba terdengar.
"Acara apa?" Tanya Jimin.
"Entahlah! Aku hanya diminta datang" jawab Aliya singkat.
"Berapa lama?" Tanya Jimin yang mengalihkan fokusnya pada Aliya.
"Seminggu" Jimin mengangguk dan berjalan menuju Aliya.
"Jadi kita tidak akan bertemu selama seminggu dan malam ini aku ingin menghabiskan waktuku denganmu" Jimin langsung memeluk tubuh Aliya dari belakang.
"Kau kelihatan aneh akhir-akhir ini" ujar Aliya sambil mengelus lengan Jimin yang ada dipinggangnya kebiasaan barunya.
"Aku sedang banyak fikiran" ujar Jimin lirih.
"Keluarga-mu?" Jimin menggeleng.
"Hanya sedikit masalah tentang mimpi" Aliya menyeringit bingung.
"Mimpi? Kau bermimpi apa?" Tanya Aliya sambil membalik tubuhnya.
"Aku juga bingung, setiap malam aku selalu bermimpi didatangi oleh Yeoja yang meminta tolong. Dia mengatakan jika dirinya kesakitan dan terluka. Dia terus berteriak menyebut namaku dan aku tidak tahu siapa dia" jelas Jimin sambil menunduk. Jujur ia sangat terganggu dengan mimpinya itu.
"Apa ini ada hubunganya dengan masa lalumu?" Tanya Aliya mencoba menggali informasi. Terbiasa hidup dengan Jimin membuat Aliya tahu sebenarnya sifat Jimin. Jimin adalah sosok lembut dan perhatian dan entah kenapa sifat dasar Jimin itu hilang dari dirinya. Dan alasan dari hilangnya sifat itu Aliya sendiri tidak tahu.
"Aku pernah mengalami kecelakaan" Aliya menatap Jimin keget.
"Kecelakaan?" Tanya Aliya.
"Ya..kecelakaan mobil 3 tahun yang lalu" jujur Jimin.
"Kau menabrak apa?" Tanya Aliya.
"Mobil dengan Mobil" Aliya menatap Jimin dalam.
"Apa kecelakaan itu menimbulkan sesuatu yang mengganggu hidupmu?" Jimin menggeleng.
"Aku hanya kehilangan sebagian memori tentang masa lalu ku" lirih Jimin.
"Masa lalu?" Tanya Aliya aneh.
"Kau sendirian?" Pertanyaan Aliya membuat Jimin membeku. Dan itu tidak luput dari pandangan Aliya.
"Jim...."
"Dia mati" Aliya menatap aneh Jimin.
"Siapa yang mati?" Tanya Aliya bingung.
"Cinta pertama ku mati saat kecelakaan mobil itu" Aliya terbelalak saat mendengar ucapan Jimin.
"Jim...."
"Usianya terpaut 3 tahun denganku, dia gadis sederhana dan manis" ujar Jimin menerawang.
"Bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi?" Tanya Aliya pelan.
"Kami menjalin hubungan selama 1 tahun, tapi sudah mengenalnya dari Junior High School. Hubungan kami berjalan baik-baik saja sampai aku dijodohkan dengan Mina. Aku tidak mengerti apapun dan tiba-tiba nama ku dan nama Mina disebut dan tiba-tiba kami ditunangkan dan tepat disitu juga dia melihat semuanya. Aku mencoba menjelaskan semua padanya tapi dia sudah terlanjur marah. Dan aku juga mulai tersulut emosi, kami sempat adu mulut dan berakhir aku membawanya menjauh dari tempat itu dengan mobilku. Dijalan kami juga masih bertengkar, karena pertengkaran itu aku tidak memperhatikan jalan dan berakhir menabrak mobil yang berlawanan arah denganku. Aku koma selama 2 bulan dan saat aku bangun semua orang bilang jika dia mati. Aku sempat tidak percaya tapi saat keluarganya mengatakan jika dia mati aku sadar jika dia benar-benar pergi dari hidupku untuk selamanya" air mata Jimin menetes saat menceritakan masa lalunya.
"Kau bilang jika kau kehilangan sebagian memorimu, apa yang hilang?" Tanya Aliya serius.
"Aku memang mengingat semua peristiwa yang ku alami tapi aku melupakan wajahnya" jawab Jimin.
"Kau melupakan wajah kekasihmu?" Tanya Aliya keget
"Ya, terdengar aneh memang tapi ini memang kenyataanya" jawab Jimin lesu.
"Apakah aku punya fotonya?" Tanya Aliya.
"Ya, dari foto itu aku mengenali wajahnya" ujar Jimin.
"Siapa namanya?" Jimin menatap iris indah Aliya.
"Gyuhyun, Kim Gyuhyun" jawab Jimin.
*
Jimin mengantar Aliya ke stasiun, Aliya memang sengaja tidak mengikuti rombongan, dia perlu mengunjungi seseorang dulu.
"Hati-hati, jika kau butuh sesuatu hubungi saja aku" Aliya mengangguk dan memasuki kereta.
"Jangan terlalu sibuk dengan kantor" Jimin mengangguk dan mengecup kening Aliya dan berjalan keluar dari kereta.
"Aku menunggumu" Aliya mengangguk dan melambaikan tangannya.
"Sampai Jumpa" Jimin mengangguk dan membalas lambaian tangan Aliya.
*
Aliya sampai di Busan saat matahari hampir terbenam. Bukannya langsung menuju tempat yang sudah disiapkan oleh kampus, Aliya justru berjalan kearah daerah perumahan.
"Sepertinya ini" ujar Aliya sambil mengamati rumah kecil yang ada didepanya.
"Maaf Nona ada apa kemari?" Aliya tersentak saat seorang nenek tua menyapanya.
"Oh Anyeonghaseo Halmonie. Nan Aliya Kim imnida" ujar Aliya sambil membungkuk.
"Anda teman Nona Kim?" Aliya mengangguk lalu nenek tua itu membuka gerbang rumah yang ada didepan Aliya.
"Nona Kim sedang istirahat, dia baru saja kembali dari rumah sakit untuk memeriksakan kandunganya" Aliya mengangguk mengerti.
"Halmonie tinggal disekitar sini?" Nenek tua itu mengangguk.
"Nona Kim sering membantuku menjaga toko bunga" Aliya mengangguk.
"Masuklah, mungkin Nona Kim ada dikamarnya" ujar nenek tadi.
"Halmonie tidak masuk?" Nenek tadi menggeleng.
"Aku pergi dulu Nona" Aliya mengangguk.
"Hati-hati Halmonie" ujar Aliya. Setelah kepergian nenek itu Aliya menutup pintu rumah ini.
"Yakk...Nona Muda Kim kau tidak mau menyambutku?" Aliya berteriak tanpa sungkan.
"Aliya? kau kah itu?" Aliya tersenyum saat melihat seorang wanita yang hamil besar berjalan kearahnya.
"Lama tidak bertemu" ujar Aliya sambil memeluk tubuh wanita hamil itu.
"Ya kau sibuk dengan Jimin dan aku dengan anakku" balas wanita itu.
"Ya kau tahu itu Nona Kim" wanita itu terkekeh saat mendengar ucapan Aliya.
"Kau akan menginap disini?" Aliya mengangguk.
"Tidak boleh?" Momo memukul lengan Aliya kesal.
"Aku malah senang karena ada yang menemaniku" ujar Momo gembira. Momo tidak mati, jasad yang ada didalam peti mati itu bukan jasad Momo.
Flasback.
"Momo....." Aliya berteriak pada Momo.
"Jika kau lompat dari sana maka aku juga akan melompat dari sana" teriak Aliya pada Momo.
"Apa yang kau katakan?" Isak Momo.
"Kau satu-satunya temanku, dan jika kau pergi aku juga akan pergi" lirih Aliya.
"Kau harus melanjutkan masa depanmu" ujar Momo.
"Aku akan melanjutkan masa depanku jika kau juga melanjutkanya" balas Aliya.
"Kau masih punya kakakmu, sedangkan aku? Aku tidak punya siapapun. Keluargaku pergi, Namjoon membuangku dan aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi" isak Momo.
"Kau masih punya aku. Aku akan menemanimu, berdiri disampingmu dan selalu mendukungmu. Kau masih punya aku" balas Aliya.
"Aliya aku..."
"Jika kau tidak mau melakukanya demi aku, setidaknya hiduplah untuk anakmu. Dia harus melihat indahnya dunia ini dan merasakan kebahagiaan" lirih Aliya.
"Aliya..."
"Aku akan ada disampingmu" ujar Aliya sambil mengulurkan tanganya.
"Aku...."
"Demi anakmu" Momo menatap Aliya ragu.
"Momo" Momo memejamkan matanya dan dengan pelan ia meraih tangan Aliya.
"Jangan lakukan hal yang bodoh lagi" isak Aliya sambil memeluk Momo.
"Mianhae! Aku terlalu berfikir sempit. Aku terlalu terbawa emosi" lirih Momo.
"Kajja kita masuk" ujar Aliya sambil menuntun Momo.
"Aku tidak mau bertemu Namjoon lagi" ujar Momo.
"Itu akan jadi urusan belakang, lebih baik kita masuk dulu" Momo mengangguk.
Disepanjang lorong menuju Apartement Momo mereka hanya diam, mereka sibuk dengan fikiran masing-masing. Tiba-tiba banyak orang yang berlarian disepanjang lorong Gedung dan itu membuat mereka bingung.
"Ahjuhsi ada apa?" Tanya Momo pada seorang yang lewat disamping mereka.
"Ada seorang wanita yang bunuh diri. Ia melompat dari atap" mereka berdua terkejut saat mendengar ujaran orang tadi.
"Bunuh diri? Siapa dia?" Tanya Aliya.
"Entahlah! Banyak yang bilang jika dia adalah wanita yang gila dan sedang hamil, mungkin dia dicampakkan suaminya. Aku kebawah dulu Nona" Sepeninggalan Ahjuhsi tadi, Aliya masih sibuk dengam fikirannya.
"Aliya kajja kita masuk" Aliya menahan tangan Momo.
"Bukankah kau tidak mau bertemu Namjoon lagi?" Momo mematap aneh Aliya.
"Kau merencanakan sesuatu?" Tanya Momo.
"Cukup berikan barang-barang pribadimu padaku. Yang lainya biar jadi urusanku" Momo menatap Aliya aneh.
"Tapi...."
"Jangan membantahmu Momo. Ini demi dirimu juga. Dan turuti saja perintahku" Momo memandang Aliya ragu detik berikutnya ia mengangguk.
Dan itulah awal dimana Aliya merekayasa kematian Momo, wanita hamil itu ia akukan sebagai Momo. Memang mudah karena tidak ada keluarga asli wanita itu yang mencarinya.
Agar terlihat sepeti jasad Momo, Aliya memakaikan berbagai barang pribadi yang sering Momo pakai pada wanita itu. Aliya juga menyuruh Momo untuk menulis sebuah surat wasiat dan dengan mudah Aliya meletakkan surat itu pada jasad wanita itu dan itu semua dilakukanya saat jasad wanita itu sedang diotopsi.
Setelah prosesi kematian wanita itu, Aliya menyarankam agar Momo pindah dan Momo memilih Busan untuk tempat tinggalnya. Dan selama ini ia menjalani masa kehamilanya di Busan dan tidak ada yang tahu selain Aliya. Aliya juga menyarankan agar Momo mengubah marganya agar tidak dikenali dan Momo mengganti marganya menjadi Kim. Dan sampai saat ini tidak ada yang tahu identitasnya ini.
Flasback End.
"Apa jenis kelaminnya?" Tanya Aliya.
"Aku tidak tahu. Selama ini aku selalu menyuruh dokter untuk merahasiakanya" jawab Momo.
"Wae?"
"Agar lebih surprise" Aliya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kapan kau melahirkan?" Tanya Aliya sambil menyentuh perut buncit Momo.
"Dokter bilang jika minggu-minggu ini. Aku sendiri tidak tahu pastinya" jawab Momo.
*
Aliya hanya memandang datar pada Gong Saem yang terus berbicara tanpa henti. Peduli? Tidak, Aliya lebih memilih sibuk dengan ponselnya.
"Kau menginap dimana semalam Nona Kim?" Aliya menatap aneh Gong Saem.
"Kerabatku, aku tidak nyaman dengan penginapan yang kalian sediakan" ujar Aliya datar.
"Baiklah! Aku tidak mempermasalahkan tempatmu menginap. Yang penting saat acara dimulai kau berada disini" Aliya mengangguk.
"Kita teruskan ini"
*
"Aku tak menyangka jika kau masih menjalani pekerjaan menjadi wanita jalang" Aliya menoleh saat mendengar ujaran seseorang, dan dapat ia lihat jika Mina tengah berjalan menghampirinya.
"Sudah berapa Won yang kau dapatkan dari pekerjaan jalang-mu itu?" Aliya mengangakat satu alisnya. Mina sedang menghina dan mengolok-oloknya.
"Kau bicara padaku Nona Muda?" Mina mengeram saat mendengar ujaran Aliya.
"Aku kasihan padamu. Berlagak seperti tuan putri yang tidak terkalahkan, padahal kau kalah jika bersaing denganku. Kau tidak malu?" Ejek Aliya.
"Kau hanya seorang jalang" maki Mina.
"Ya, aku memang jalang. Dan juga jangan lupa jika aku adalah jalang tunanganmu" sinis Aliya.
"Bukankah jika seorang pria yang sudah punya tunangan memiliki jalang, itu artinya dia tidak puas dengan tunanganya. Atau yang lebih buruk adalah pria itu tidak mencintainya" Mina mengepalkan tanganya kuat.
"Seperti sebelumnya kau menghancurkan hidupku, aku pun akan melakukan hal yang sama padamu. Akan kupastikan Jimin menjadi milikku untuk selamanya. Dan kau tidak akan bisa menyentuhnya. Dia hanya milikku, status kalian hanya sebatas nama saja dan tidak akan pernah menjadi nyata. Dan akan ku pastikan jika Jimin akan selamanya membencimu karena kau hanya seorang pembunuh" setelah mengatakan itu Aliya langsung meninggalkan Mina. Ia tidak akan sanggup menahan dirinya untuk memukul Mina jika masih disini. Sepeninggalan Aliya, Mina masih mematung ditempatnya.
"Kau hanya seorang pembunuh" lirih Mina.
*
Aliya sampai dikediaman Momo saat matahari sudah terbenam. Dengan kunci cadangan yang Momo berikan ia dengan mudah masuk kerumah.
"Ya...kau dimana?" Teriak Aliya saat tidak menemukan Momo dikamarnya.
"Dimana dia?" Gumam Aliya. Aliya mengambil ponselnya saat dirasa jika benda persegi itu bergetar.
"Yeobseo"
"Eodi?" bodoh kenapa Aliya tidak melijat siapa yang menelfon.
"Kau dimana?"
"Wae?" Tanya Aliya.
"Aku ada di Busan" Aliya membelalakan matanya.
"Kau di Busan?" Tanya Aliya.
"Hem. Aku merindukanmu, Kau dimana?" Tanya Jimin lagi.
"Ehm aku...."
"Nona Kim" Aliya berbalik saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Halmonie wae?" Dan dengan bodohnya Aliya tidak mematikan sambungan telfonya dengan Jimin.
"Nona Momo masuk rumah sakit. Dia akan melahirkan. Jungshin membawanya tadi" beritahu Halmonei Go. Aliya yang mengetahui itu langsung panik.
"Dirumah sakit mana Halmonie?" Tanya Aliya panik.
"Rumah sakit Gyuyeon Nona" Aliya langsung berlari menuju rumah sakit yang dimaksud Halmonie Go.
Sementara Jimin masih mematung ditempat. Jimin mendengar semua pembicaraan Aliya dengan Halmonie Go.
"Momo melahirkan"
*
Aliya berlari disepanjang koridor rumah sakit. Ia tidak memperdulikan pandangan aneh orang-orang.
"Momo Kim"
"Kamar 305 Nona" tanpa babibu Aliya langsung menuju kamar itu.
"Jungshin-ah" teriak Aliya pada Jungshin.
"Noona" panggil Jungshin.
"Momo bagaimana?" Tanya Aliya.
"Noona ada didalam" Aliya menatap kamar yang ada didepanya.
"Apa yang dokter katakan?"
"Ketuban Momo Noona sudah pecah dan sudah saat nya dia melahirkan" Aliya menatap cemas kearah kamar rawat Momo.
"Bagaimana ini?" Cemas Aliya.
"Kita doakan Momo Noona saja disini, Noona" lirih Jungshin.
"Aku..."
"Aliya" Aliya membeku saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Jimin" Aliya membalikkan tubuhnya. Tidak jauh darinya Jimin sedang berdiri dan ia yakin jika pria itu dalam keadaan marah.
"Kau disini?" Aliya bertanya seperti orang bodoh. Sementara Jimin hanya menatap tajam Aliya.
"Kau berbohong padaku?" Aliya menatap Jimin takut. Selama ia mengenal Jimin baru kali ini Jimin berbicara begitu dingin padanya.
"Kau ikut aku" Jimin langsung menarik Aliya menjauh dari sana.
*
Namjoon mamandang aneh pesan yang ia terima dari Jimin.
"Cepat datang kerumah sakit Gyuyeon yang ada di Busan. Dan jemput anak dan calon istrimu" Itulah pesan yang ia terima dari Jimin.
"Apa maksud Jimin?"
*
"Kau gila? Bagaimana kau bisa bertindak sejauh itu?" Teriak Jimin berang.
"Momo tidak mau bertemu Namjoon" elak Aliya.
"Tapi bukan berarti kau bisa memalsukan kematianya" balas Jimin.
"Ini yang terbaik" tegas Aliya.
"Terbaik apanya? Kau tahu apa yang dialami Namjoon Hyung selama ini? Dia seperti oarng gila karena ditinggal Momo" teriak Jimin.
"Bukannya ini yang di inginkan Namjoon? Dia tidak mau menikahi Momo. Dia juga menyuruh Momo untuk menggugurkan kandunganya. lalu apa yang harus Momo lakukan? Meminta belas kasihan dari Namjoon begitu?" Teriak Aliya juga ikut emosi.
"Namjoon menyesal atas semua yang dilakukanya. Dia membatalkan pernikahanya dengan Nayeon dan lebih memilih mengenang Momo" balas Jimin keras.
"Tapi tetap saja ini semua salah Namjoon. Andai dia mau menerima kehamilan Momo dari awal aku juga tidak akan bertindak sejauh ini" teriak Aliya.
"Apa kau tahu jika saja aku datang terlambat saat itu mungkin Momo sudah mati. Dia mencoba melompat dari atap bersama bayinya. Dan andai saja aku tidak menghentikanya dia pasti sudah mati" tambah Aliya. Sementara Jimin hanya menatap Aliya dalam. Wanita ini sedang emosi dan Jimin tahu dengan pasti.
"Noona" Aliya menoleh saat mendengar suara Jungshin.
"Wae Jungshin-ah?" Tanya Aliya.
"Momo Noona sudah melahirkan bayinya" Aliya langsung berlari menuju ruangan Momo. Ia tidak memperdulikan Jimin lagi.
*
"Dia cantik" Momo tersenyum saat mendengar pujian Aliya pada putrinya yang ada dipelukanya.
"Wajahnya tidak mirip denganmu" nilai Aliya pada putri Momo.
"Gumawo Jungshin-ah" Jungshin mengangguk singkat.
"Siapa yang memberitahumu?" Tanya Momo.
"Halmonie Go" jawabnya singkat.
"Jimin tahu jika kau masih hidup" Momo membelalakkan matanya kaget.
"Dia menyusulku kesini" Lanjut Aliya.
"Dan aku ada disini sekarang" Jimin melenggang masuk keruangan Momo tanpa permisi.
"Bagimana keadaanmu Nona?" Tanya Jimin sambil menatap Momo.
"Aku...."
"Namjoon akan segera kemari. Dia sudah lama menunggumu" Aliya menatap tajam Jimin.
"Apa maksudmu?" Tanya Aliya tidak suka.
"Aku memberitahu Namjoon jika kau ada disini. Dia akan datang sebentar lagi" ujar Jimin enteng.
"Mereka harus menyelesaikan masalah mereka berdua. Sudah cukup kau ikut campur dalam urusan mereka, sekarang biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Dan kau ikut aku" Jimin langsung menarik Aliya keluar dari ruangan Momo.
*
"Kurasa ini tidak sopan" cetus Aliya yang menilai perbuatan Jimin.
"Diamlah, tidakkah kau tahu seberapa besar aku merindukanmu?" Tanya Jimin yang memeluk tubuh Aliya.
"Kau...."
"Diam, atau kubungkam mulut crewet-mu itu" ancam Jimin pada Aliya.
"Kau, aku ingin menemani Momo" Jimin menggeleng tidak setuju.
"Setidaknya untuk malam ini, biarkan mereka memiliki waktu berdua. Kau harus menemani aku" Aliya mendengus malas.
"Aku lelah. Kita pergi kerumah Momo saja. Aku mau istirahat" Jimin langsung menarik Aliya menjauh dari taman Rumah Sakit.
*
Aliya menyeringit saat merasakan sebuah lengan yang memeluk pinggangnya erat. "Jim.." panggil Aliya pada Jimin.
"Hem"
"Lepaskan!" Jimin menggeleng.
"Disini dingin" Aliya yang merasa kesal karena Jimin yang tidak kunjung melepaskan tanganya langsung membalik tubuhnya.
"Ini sudah siang. Momo pasti menungguku" Jimin hanya tersenyum.
"Ada Namjoon yang menemani mereka" cetus Jimin enteng.
"Tapi..."
"Diamlah! Kita pasti kesana tapi nanti. Dan sekarang aku mau memakanmu lagi" Aliya memutar bola matanya jengah.
"Kau baru saja memutar bol matamu?" Tanya Jimin.
"Wae?"
"Itu tidak sopan Nona. Sekarang terima hukumanmu" Jimin langsung menindih tubuh Aliya.
"Yakh...emphh"
*
"Hyena..." Momo memandang Namjoon yang tengah menggendong putrinya.
"Kim Hyena, aku menamainya Hyena" tambah Namjoon.
"Jangan berikan margamu" lirih Momo.
"Wae? Dia putriku" ujar Namjoon.
"Jika kau memberikan margamu padanya itu akan menimbulkan masalah. Istrimu pasti akan marah jika mengetahuinya" lirih Momo.
"Istri?" Tanya Namjoon bingung.
"Aku dengar kau sudah menikah dengan Im Naeyeon. Dia gadis yang sempurna. Dan kalian cocok" tambah Momo.
"Aku belum menikah" Momo sontak menatap kaget Namjoon.
"Aku membatalkan pernikahanku. Lagipula aku juga tidak mencintai Naeyeon, kami hanya dijodohkan" jelas Namjoon.
"Kau...."
"Saat dimana aku mendengar jika kau bunuh diri, aku langsung merasa marah pada diriku sendiri. Aku merasa begitu t***l, karena menolakmu malam itu. Awalnya aku takut untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku tapi aku sadar jika janin itu adalah darah dagingku. Dia tumbuh karena perbuatanku. Dan bagaimana aku bisa memintamu untuk membunuhnya? Aku terlalu berfikir sempit saat itu. Dan saat aku ingin meminta maaf justru aku mendapatkan kabar jika kau sudah pergi" lirih Namjoon.
"Aku menyesal Mo, maukah kau memaafkanku. Memulai hidup baru bersama ku dan juga Hyena. Aku benar-benar ingin memulai semua dari awal" pinta Namjoon pada Momo.
"Namjoon-ah, aku...."
"Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Hanya ada kita dan Hyena" Momo memandang Namjoon ragu.
"Jadilah Nyonya Kim" Momo menatap kaget Namjoon.
"Will You Marry Me"
*
"Matanya mirip denganmu Hyung" cetus Jimin sambil mengamati Hyena yang ada digendongan Aliya.
"Ya, tidak ada dari wajah Momo yang mirip dengan Hyena" tambah Aliya.
"Dia putriku, tentu saja dia mirip denganku Nyonya Park" Aliya menatap Namjoon tajam. Sementara Jimin hanya tersenyum tipis.
"Marga-ku Kim bukan Park, ingat itu" ketus Aliya.
"Aku yakin sebentar lagi akan berganti Park" cetus Namjoon.
"Kukira itu tidak buruk" tambah Momo.
"Jangan ikut-ikutan Namjoon, Mo" tekan Aliya.
"Wae? Kalian hidup bersama selama 8 bulan kan? Dan kalian juga...."
"Diam atau kulempar sepatu kewajah kalian" ancam Aliya, sontak keduanya langsung diam.
"Kau semakin galak" bisik Jimin.
"Jangan ikut-ikutan mereka" tekan Aliya.
"Wae?"
"Kau mau mati eoh?" Sinis Aliya.
"Mau membunuhku? Memangnya kau bisa hidup tanpa ku?" Tanya Jimin jail.
"Kita adalah patnert jadi jangan berharap lebih" ingat Aliya pada Jimin.
"Benarkah? Bagaimana jika aku ingin lebih?" Aliya sontak menatap Jimin.
T.b.c