Hati-hati Typo banyak beredar.
Happy Reading.
Taeyeon memandang Jimin dengan tajam, dari tadi putra bungsunya ini tidak menjawab barang satupun pertanyaan yang ia lontarkan dan itu membuatnya geram.
"Kemana kau selama 3 hari ini? Eomma tidak melihatmu di Rumah juga di Kantor. Pergi kemana kau?" Rentetan pertanyaan Taeyeon terus mencecar Jimin dan itu membuatnya kesal.
"Aku hanya menyelesaikan beberapa urusan, Eomma tidak perlu khawatir. Aku sudah dewasa dan Eomma tidak perlu memperlakukan ku seperti anak kecil lagi. Percayalah aku bisa mengurus diriku sendiri" Taeyeon mengeram saat mendengar jawaban putranya. Taeyeon tahu jika tindakanya cenderung protective tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain ini. Setelah insiden 3 tahun lalu, ia akan lebih sensitif mengenai keadaan Jimin. Dan itu tidak bisa ia hilangkan walaupun Jimin sendiri yang memintanya untuk tidak khawatir.
"Appa-mu akan mengadakan pesta, dan kau diminta datang" Jimin mendengus saat mendengar ujaran Ibunya.
"Eomma tahu dengan pasti jika aku tidak akan datang kepesta semacam itu" cetus Jimin.
"Setidaknya datanglah untuk Eomma, selama ini kau tidak pernah datang ke pesta yang diadakan Appa-mu" ujar Taeyeon lembut.
"Aku akan datang asal Keluarga Jung tidak datang" cetus Jimin.
"Eomma juga berharap seperti itu, tapi sudah dipastikan jika itu tidak akan terjadi" sama dengan Jimin, Taeyeon juga tidak menyukai Keluarga Jung. Walaupun Keluarga Jung adalah calon besannya tapi ia tetap tidak suka. Tapi Taeyeon mencoba untuk tidak memperlihatkannya. Alasanya karena Keluarga Jung sangat Matrealistis dan Taeyeon tidak menyukai itu.
"Eomma harap kau akan datang, pestanya dimulai jam 8 malam. Eomma pulang dulu, jika kau membutuhkan sesuatu hubungi saja Eomma" setelah kepergian Ibunya, Jimin masih termenung ditempat. Otaknya tampak memikirkan sesuatu. Dan tampak senyum iblis tercipta dari sudut bibirnya.
"Aku pasti akan datang"
*
"Jungsoo mengadakan pesta lagi?" Tanya Jung Taejun, ayah Mina.
"Ne! Nanti malam jam 7" jawab Nyonya Jung Hyeri, istrinya.
"Kita diundang?" Tanya Tuan Jung dan dibalas anggukan oleh istrinya.
"Baiklah! kita akan datang. Ajak Mina sekalian, biarkan dia memberi salam pada calon mertuanya" Nyonya Jung mengangguk lalu berjalan menuju kamar Mina.
*
"Kau lama sekali" protes Jimin saat Aliya yang lama kembali dari Busan.
"Keadaan Momo belum sembuh total, lagi pula Hyena masih terlalu kecil untuk dibawa perjalanan jauh" ujar Aliya memberi alasan.
"Tapi kau sudah 2 minggu disana" kesal Jimin.
"Sudahlah yang penting aku sudah kembali sekarang. Dan kau jangan banyak tanya kepalaku pusing mendengar keluhanmu" balas Aliya sambil mendahului Jimin untuk masuk kemobil.
"Menyebalkan"
*
"Kenapa kita kesini?" Tanya Aliya bingung saat Jimin membawanya ke Butik Nida.
"Kau tidak berniat membawaku kepesta lagi kan?" Jimin tidak menjawab pertanyaan Aliya.
"Jangan banyak tanya, kajja kita masuk" tanp menunggu persentujuan Aliya, Jimin langsung menyeretnya. Bahkan Jimin tidak memperdulikan umpatan yang Aliya lontarkan padanya.
*
"Apa Jimin akan datang?" Tanya Jungsoo Taeyeon.
"Entahlah Oppa, tapi aku sudah memberitahunya untuk datang" balas Taeyeon.
"Bocah itu benar-benar. Kapan dia berhenti mempermalukanku?" Taeyeon mengusap bahu lebar sang suami dengan lembut berharap bisa meredakan kemarahan suaminya.
"Mian Eomma, Appa aku terlambat" ujar Nida sambil merapikan gaunya yang sedikit kusut.
"Gwencahanayo Nida-ya. Sekarang kau susul suamimu. Dia terlihat kewalahan mengurus Kevin" Nida mengangguk faham. Dan setelahnya ia berjalan menuju kamarnya untuk menemui anak dan suaminya.
"Jungsoo-ya" Jungsoo berbalik saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Oh kau sudah datang Taejun-ah" sapa Jungsoo pada calon besannya.
"Ne! Mian kami terlambat, jalanan sedikit macet tadi" ujar Taejun memberi alasan.
"Dimana Anak dan Istrimu?"
"Disini" jawab Hyeri datang sambil menggandeng Mina.
"Mian kami terlambat" sesal Hyeri sambil memeluk Taeyeon.
"Gwencahanayo"
"Anyeong Eommaniem, Aboniem" sapa Mina ramah pada calon mertuanya.
*
"Pesta apa ini?" Tanya Aliya.
"Aku juga tidak tahu, aku hanya diminta datang" jawab Jimin datang.
"Memang siapa yang mengadakanya?" Tanya Aliya penasaran.
"Orang tuaku" Aliya terbelalak saat mendengar jawaban Jimin.
"Kau gila? Kau mengajakku pada pesta yang diadakan orangtua-mu. Kau mau aku dibunuh mereka eoh?" Teriak Aliya kesal. Bodoh, kenapa dia tidak bertanya dulu tadi sebelum berangkat. Jika ini pesta yang diadakan Keluarga Park, tidak menutup kemungkinan jika Keluarga Mina akan datang, dan sudah pasti mereka akan datang pada pesta yang diadakan oleh Calon Besannya.
"Aku tidak mau tahu! Kau harus menemaniku apapun yang terjadi" Jimin langsung menyeret Aliya keluar dari mobilnya.
"Park Jimin b******k, aku tidak mau masuk" Aliya meronta berharap bisa melepaskan tarikan Jimin, tapi tarikan Jimin sangat kuat dan sudah dipastikan jika dia tidak bisa melepaskannya.
*
Bodoh, bodoh, bodoh. Seharusnya Aliya menendang atau memukul Jimin agar lepas dari cengkraman pria itu. Dan sekarang lihatlah akibat kebodohannya ia dan Jimin menjadi pusat perhatian di Pesta ini.
"Aku akan melindungimu" Aliya melirik Jimin sinis. Pria ini tengah memeluk pinggangnya erat.
"Bukannya melindungiku kau justru menggali lubang kubur untukku bodoh" umpat Aliya.
"Kau akan aman jika bersama ku. Percayalah! Sebenci-bencinya mereka padaku, mereka tidak akan menyerang pemilik Park Company" bisik Jimin.
"Tapi tetap saja b******k" Jimin menatap Aliya acuh. Ia mengedarkan pandanganya kepenjuru rumahnya yang dijadikan tempat pesta. Dan benar saja semua pasang mata menatap kearah mereka.
"Kajja"
*
"Dimana Jimin?" Tanya Hyeri pada Taeyeon.
"Entahlah! Mungkin masih dalam perjalanan" jawab Taeyeon.
"Apa Jimin Oppa akan datang?" Tanya Mina.
"Mungkin saja" jawab Jungsoo.
"Eomma..." mereka menoleh saat mendengar teriakan seseorang. Detik berikutnya Mina mengepalkan tangannya kuat saat melihat Aliya yang datang bersama Jimin, Taeyeon dan Jungsoo juga terbelalak saat melihat Jimin datang dengan seorang gadis yang ada dipelukannya. Lain hal nya dengan Taejun dan Hyeri yang terlihat pucat pasi.
"Mian aku terlambat, Anyeong Ahjumma, Ahjuhsi" sapa Jimin datar pada Taejun dan Hyeri yang masih memucat. Jimin tidak sudi memanggil kedua orang tua itu dengan panggilan Aboniem, Eommaniem.
"Siapa dia?" Tanya Jungsoo tajam pada gadis yang dipeluk Jimin.
"Teman kencan-ku. Cantikkan?" Dalam hati Aliya benar-benar mengutuk Jimin. Bagaimana Jimin bisa berbicara selancar dan setenang itu, padahal Aliya tahu jika Ayah Jimin pasti sedang menahan amarah karena tindakan Jimin yang membawanya kepesta ini, itu sama saja dengan mempermalukan kedua orang tuanya. Well Jimin sudah bertunangan dan dengan bodoh nya ia dibawa kesini.
"Namanya Aliya Kim" ujar Jimin santai sambil mengangkat wajah Aliya yang sedari tadi menunduk.
"Kau mempermalukan Appa, Jim" Jimin tidak peduli pada Ayahnya yang tampak menahan amarah.
"Aku mempermalukan Appa? Kapan?" Tanya Jimin santai.
"Kau sudah bertunangan dengan Mina. Dan dengan bodohnya kau membawa gadis yang kau kenalkan sebagai teman kencanmu. Kau waras?" Tanya Jungsoo berang.
"Tunangan? Aku tidak pernah berkata iya untuk pertunangan itu. Kalian memaksaku, dan aku benci akan hal itu. Aku bukan boneka yang bisa kalian atur sesuka hati. Aku punya pilihan sendiri dan aku memilih Aliya. Lagipula aku tidak tertarik dengan Mina, aku tidak suka dengan wanita sepertinya. Dia juga bukan type-ku" Mina langsung berlari dari sana. Ia tidak kuat mendengar tolakan Jimin tentang dirinya. Sementara Taejun dan Hyeri belum sadar dari keterkejutan mereka.
"Aku sudah memenuhi undangan Appa untuk datang ke Pesta ini. Sekarang aku pergi, udara disini membuatku sesak nafas" cetus Jimin.
*
"Bagaimana mungkin?" Tanya Hyeri pada Taejun.
"Aku juga tidak tahu Hyeri-ya" balas Taejun frustasi.
"Apa mereka tahu tentang kebenarannya?" Taejun menggeleng.
"Kurasa tidak" jawan Taejun.
"Sebenarnya apa yang membuat mereka bertemu?" Tanya Hyeri berang.
"Nasib mereka benar-benar mulus. Setelah dipisahkan mereka ternyata kembali bersama. Walaupun tanpa ingatan yang pulih" cetus Taejun.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Yeobo?" Tanya Hyeri.
"Perintahkan Nam Junjae untuk menemukan wanitanya" Hyeri mengangguk dan mulai menghubungi orang yang bernama Junjae. Sementara Taejun mencoba memikirkan langkah yang akan ia ambil setelah ini.
Sementara itu Mina tampak mematung didepan Ruang Kerja Ayahnya. Tadi ia hendak menemui Ayahnya tapi diurungkan saat mendengar suara Ayah dan Ibunya yang terdengar gusar.
"Siapa yang dipisahkan oleh Appa dan Eomma?" Lirihnya pelan.
*
"Jim..ugh..uh.." desahan Aliya tardengar mengema dimobil Jimin. Gila, saat ini mereka tengah bercinta didalam Mobil, dan yang lebih parahnya lagi adalah Mobil mereka ada dipinggir jalan.
"Ugh.." Jimin mempercepat gerakannya, ia menumbuk G-spot Aliya dengan dalam dan keras. Ia sedang butuh tempat untuk menyalurkan amarah dan nafsunya.
"ah..u! Ugh.." Jimin menundukkan wajahnya untuk memangut bibir bengkak Aliya. Dan yang bisa Aliya lakukan adalah membalas ciuman panas Jimin.
"Aku membencimu" Aliya membuka matanya saat mendengar ujaran Jimin.
"Aku benci saat melihatmu" Aliya mati-matian menahan suara desahannya.
"Apah...yahng..kauh..bihcarhkan?" Tanya Aliya dalam kenikmatanya.
"Aku benci pada semua yang ada pada dirimu, kau tahu?" Teriak Jimin keras.
"Mwoohh?"
"Kenapa kau begitu mirip dengannya?" Teriak Jimin keras.
"Jim...sakittt" Aliya berteriak saat Jimin menggerakkan kasar tubuhnya.
"Kenapa hah? Kenapa kau begitu mirip dengan Gyuhyun-ku?" Jimin semakin tidak terkendali dan itu membuat Aliya kesakitan dalam penyatuan mereka.
"Geumanhae Jim, Geumanhaeyo kau menyakitiku" teriak Aliya pada Jimin yang terus menghujam kasar miliknya.
"Kenapa Aliya? Kenapa?" Jimin terus berteriak dan itu hanya membuat Aliya bertambah kesakitan.
Tidak ia tidak boleh diam, ia akan mati jika Jimin terus melakukannya dengan kasar. Dengan menahan rasa sakit yang menerpa tubuhnya Aliya menarik kepala Jimin dan melumat kasar bibir pria itu. Aliya tidak peduli lagi, ia harus menghentikan Jimin sekarang juga.
Ciuman Aliya cenderung kasar dan menuntut, walaupun pusat tubuhnya terasa sakit karena hujaman Jimin tapi ia harus melakukan ini. Akhirnya setelah beberapa menit hujaman Jimin mulai melemah dan lama-kelaman berhenti.
"Kau kenapa?" Tanya Aliya setelah melepaskan ciumannya. Dan bukannya menjawab Jimin justru menunduk.
"Apa yang terjadi padamu Jim, kenapa kau jadi kasar begini?" Aliya masih mencoba bertanya pada Jimin tapi pria itu seolah enggan menjawab pertanyaanya. Entah keberanian dari mana Aliya justru membawa Jimin untuk memeluk tubuhnya.
"Kau memikirkan sesuatu?" Posisi mereka masih sama. Wajah Jimin yang berada diceruk leher Aliya dan kontak tubuh mereka yang belum lepas.
"Jim..."
"Hiks..." Aliya terkejut saat mendengar isak tangis Jimin.
"Kau menangis?" Tanya Aliya tidak percaya.
"Kenapa hiks...kau begitu mirip hiks...dengan Gyuhyun-ku?" Tanya Jimin dalam isak tangisnya.
"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Aliya bingung.
"Gyuhyun-ku dia pergi hiks.." Gyuhyun, itulah yang Aliya dengar. Dan sudah dipastikan jika Jimin mengingat kekasihnya yang mati.
"Dia sudah tenang disana, jangan menangisinya lagi" ujar Aliya sambil mengusap punggung polos Jimin.
"Dia meninggalkanku hiks..." isak Jimin, dan Aliya sendiri bingung. Ia jarang menenangkan orang yang sedang menangis, ia memang tahu cara untuk menenangkan kakaknya jika sedang menangis, tapi ini Jimin. Ia tidak tahu cara untuk menenangkan seorang pria yang ditinggal mati kekasihnya.
"Uljima, dia akan sedih jika melihatmu seperti ini. Dia sudah bahagia disana, dan kau juga harus bahagia" ujar Aliya.
*
"Apa sudah ada kabar tentang keberadaan Kim Jaeshin?" Pria jakung itu menggeleng lesu.
"Kim Jaeshin sudah mati 6 tahun yang lalu" jawaban pria jakung itu membuat pria paruh baya itu terkejut.
"Dia mati karena serangan jantung. Dan alamat yang kuterima beberapa waktu yang lalu adalah alamat lama Kim Jaeshin sebelum mati" jelasnya.
"Apa tidak ada informasi lain?" Pria jakung itu menggeleng.
"Hubungi adikmu, suruh dia kembali ke Korea" Perintah pria paruh baya itu.
"Eomma juga?" Pria itu menggeleng.
"Biarkan Eomma-mu berada disana. Itu membuatnya lebih tenang dan terkendali, cukup suruh adikmu saja" pria jakung itu mengangguk.
T.b.c