Light

2553 Words
Hati-hati banyak Typo bertebaran. Happy reading. * "Pilih bintang atau aku?" "Bintang" "Yakh...neo jinja?" "Wae?" "Itu tidak sopan, kau tahu?" "Bukannya tadi aku disuruh memilih?" "Memang iya tapi tidak begitu juga" "Dasar Childish" * Aliya mencoba berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang diberikan oleh Go Saem, tapi entah kenapa ia sangat susah untuk berkonsentrasi. "Nona Kim kerjakan soal ini" Aliya kaget saat namanya dipanggil oleh Go Saem. "Saya Saem?" Tanyanya. "Ya, sekarang cepat kerjakan soal ini" dengan terpaksa Aliya akhirnya ia maju, langkahnya sedikit berat karena ia sama sekali tidak mengerti. "Kuberi waktu 5 menit" Aliya memejamkan matanya kesal. Dengan sangat terpaksa ia harus mengerjakan soal sialan ini. "Ayo kerjakan Nona Kim" tekan Go Saem, dan itu membuat Aliya gugup. "Kebakarannnnn" semuanya terkejut saat mendengar teriakan seseorang. "Saem, Laboraturium Fisika terbakar, lihatlah! banyak asap yang keluar dari sana" para mahasiswa lain langsung melihat dari jendela dan benar jika laboratorium itu banyak mengeluarkan asap. Para mahasiswa langsung saling berteriak dan keluar dari kelas. Terkecuali Aliya dan Minho yang berteriak heboh tadi. "Bwahahahaha" Aliya menggeleng saat mendengar tawa keras Minho. "Itu sedikit keterlaluan! Tapi Gowamo, kau menyelamatkanku" Minho mengangguk. "Lainkali tolong aku jika kesusahan eoh, aku pergi dulu" Aliya langsung meninggalkan kelasnya. "Yakh! Tidak ada traktiran untukku?" Teriak Minho. "Besok saja Minho-ya! Aku malas kali ini. Aku harus mengunjungi Momo dulu" Minho kaget saat mendengat teriakan Aliya. "Mengunjungi Momo?" * Sebuah Gudang tua terlihat seperti sudah tidak terpakai. Keadaan gudang yang kotor dan suasana yang mencekam, membuat manusia enggan untuk menginjakkan kakinya disana. Hanya sebuah obor dan senter yang menjadi sumber cahaya gudang tersebut. "Kapan terakhir kau melihat istrinya?" Pria tua itu tampak sangat ketakutan dan tidak mau menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Dan itu membuat dua pria muda yang ada didepannya mengeram marah. "Aku tidak tahu" jawabnya dengan suara bergetar. "Percayalah peluruku ini sudah sangat siap untuk menembak kepalamu jika kau berbohong" ancam salah satu dari mereka. "Jangan Tuan" ujarnya takut. "Maka dari itu cepat jawab aku" teriak pria muda itu. "Saya..." "Jawab" bentaknya keras. "Dimana istri dari Kim Jaeshin?" Teriak pria muda itu keras. "Istri Kim Jaeshin sudah mati Tuan. Dia dibunuh" jawaban pria tua itu membuat keduanya terkejut. "Mati?" "Ya Tuan. Dia mati dibunuh oleh seorang pria muda yang aku sendiri tidak tahu namanya" jelasnya lagi. "Bagaimana mungkin?" "Saya tidak tahu dengan pasti tapi istri Kim Jaeshin sudah mati sejak 3 tahun yang lalu. Saya juga tidak tahu dimana makamnya. Putri kandungya juga tidak diketahui keberadaanya, bahkan sampai saat ini tidak ada yang tahu" jelasnya takut. "Siapa nama putrinya?" "Tidak ada yang tahu. Selama hampir 25 tahun tidak ada yang pernah melihat putri kandung dari Kim Jaeshin. Dia disembunyikan, entah apa alasannya. Dan sejak kematian Istri Kim Jaeshin ada seorang yang membawa pergi putri kandung Kim Jaeshin" "Kau bilang putri kandung? Kim Jaeshin punya anak angkat?" Tanyanya lagi. "Ya, Kim Jaeshin punya seorang putri angkat usianya 21 tahun saat ini" "Dia ada di Korea?" "Saya tidak tahu dengan pasti Tuan. Tapi sepertinya iya" "Siapa namanya?" "Aliya Kim" * "Kau sendirian?" Tanya Momo saat melihat Aliya datang sendirian. "Hem, lagi pula kelasku juga baru selesai" Momo mengangguk faham, dan mempersilahkan Aliya masuk. "Hyena dimana?" Tanya Aliya. "Dikamar dengan Namjoon" jawabnya sambil sambil menuju kamar. "Namjoon tidak kerja?" "Dia malas. Dari tadi pagi kerjaannya cuma menatap Hyena saja. Bahkan sarapan pun sampai ia bawa kekamar. Entah apa yang difikirkan i***t itu" kesal Momo saat mengingat tingkah aneh Namjoon. "Biarkan saja. Itukan anak pertamanya, wajarkan jika dia sedikit berlebihan" Momo hanya mendengus. * "Aku sudah tidak ada di Kampus. Aku sedang menuju Rumah Momo" Jimin membaca ulang pesan yang ia terima dari Aliya. "Jim kau didalam?" Jimin menyimpan kembali ponselnya saat mendengar suara Chanyeol. "Aku didalam" Chanyeol langsung masuk keruangan adiknya. "Ada apa kemari?" Tanya Jimin datar. "Ada tawaran kerjasama untukmu?" Ujar Chanyeol sambil duduk didepan Jimin. "Dari?" "Kim's Holding" "Seok Jin?" Chanyeol mengangguk. "Komisaris Kim sendiri yang memintanya pada Jin" balas Chanyeol. "Apa yang mereka inginkan?" Tanya Jimin. "Apartement yang akan kau bangun di Cheong-dam-dong. Mereka ingin membantu dari segi dana dan tenaga kerja" balas Chanyeol. "Kenapa mereka memilih Apartement itu. Resotr Makau yang kau bangun lebih menguntungkan" balas Jimin. "Entahlah! Mereka yang menginginkanya. Mereka bilang sudah cukup banyak menanam modal di J.S Grup. Dan mereka ingin mencoba bekerja sama dengan Park Corp" jelas Chanyeol. "Aku akan menyetujui penawaran itu jika Seok Jin sendiri yang turun tangan. Dan aku akan menolak jika dia mengirim Alien k*****t itu sebagai perwakilannya" Chanyeol terkekeh saat mendengar ucapan Jimin. Adiknya masih tidak suka jika bekerja sama dengan Taehyung yang pindah ke Amerika 8 bulan yang lalu. Walaupun mereka teman tapi mereka sering bertengkar. "Baiklah aku akan bilang itu pada Jin. Aku pergi dulu" pamit Chanyeol. Kim's Holding adalah perusahaan terbesar yang ada di Eropa dan Asia. Perusaahaan dengan berbagai cabang di belahan Dunia. Bergerak di bidang Ekspor, Inport, Properti, Otomotif, Pertambangan dan Minyak. Kim's Holding sendiri terbentuk dari dua perusahaan besar, yaitu Han Pearls dan Kwon's Grup. Dan setelah disatukan, Perusahaan itu berubah menjadi Kim's Holding. Dan Kim's Holding sendiri memiliki dua orang pewaris Kim Seok Jin dan Kim Tae Hyung. * "Kau tidak bilang jika mau datang" Jimin mengangkat satu alisnya. "Kau lupa jika ini Apartementku? kenapa harus bilang dulu?" Aliya mendengus kesal saat mendengar ujaran sial Jimin. Hei dia hanya mengunakan Kimono mandi tipis dan tiba-tiba pria itu ada didepannya. Iya tidak yakin akan terbebas dari terkamanya. "Aku tunggu didepan 15 menit, awas jika kau melebihinya" Aliya kaget saat mendengar ucapan Jimin. Pria itu tidak tergiur pada tubuhnya? Hei Kimono tipis yang tidak menutupi pahanya dengan sempurna dan rambut basah dan Jimin tidak tergoda dengan itu. "Daebakk" kagumnya. * "Duduklah" Aliya menurut, ia duduk disamping Jimin. "Wae?" Tanyanya sambil menatap Jimin. "Aku ingin kau mengunjungi Dokter Kandungan" Ujar Jimin sambil menatap Aliya, dan tentu saja Aliya kaget. "Kandungan? Untuk apa?" Tanyanya bingung. "Aku ingin kau melahirkan anakku" mata Aliya terbelalak sempurna saat mendengar ucapan tegas Jimin. "Apa yang kau bicarakan Jim? Anak? Kau gila? Kita hanya patner, dan kau meminta anak dariku. Kita bukan suami-istri" pekik Aliya keras. "Banyak yang tidak menikah tapi punya anak dan kenapa aku tidak boleh?" Tanya Jimin berapai-api. "Jika kau ingin anak minta saja pada wanita lain. Aku tidak keberatan jika kau tidur dengan wanita lain untuk mendapatkan anak, tapi jangan aku. Aku memang bisa melayanimu tapi aku tidak mau anak" balas Aliya yang ikut emosi. "Tidur dengan wanita lain? Tapi aku hanya mau anak yang lahir dari rahimmu. Aku hanya mau dari rahimmu dan bukan yang lain" teriak Jimin dengan mencengkaram bahu Aliya. "Apa yang akan kau lakukan dengan anak itu?" "Aku akan menjadikan sebagai pewarisku" tegas Jimin. "Anak dari jalang sepertiku? Kau ingin menjadikanya sebagai putra mahkota Park Corp? Kau yakin dia bisa melewati semua hinaan yang akan dia terima? Dan kenapa kau malah meminta anak haram dan bukannya anak dari pernikahan sah?" Tanya Aliya tak percaya. "Karena aku tidak akan menikah seumur hidupku" Aliya menatap tidak peecaya kearah Jimin. "Kau bilang apa? Tidak menikah? Kau mau membujang seumur hidupmu?" Aliya tidak percaya akan pemikiran Jimin. "Kau bodoh hah? Dimana otakmu?" Jimin menatap Aliya tajam. "Buang pil sialanmu itu karena aku benar-benar menginginkan anak darimu. Dan kau harus mengabulkanya, karena itu adalah permintaanku" tegas Jimin. "Jim...kau.." "Bukankah mimpimu adalah menghancurkan hidup Mina?" Aliya menatap Jimin tidak percaya. "Memang iya, tapi juga tidak harus menggunakan darah dagingku sendiri. Aku bukan orang sekeji itu" balas Aliya tidak percaya. "Hanya ini cara yang ada" Aliya menggeleng. "Pasti ada yang lain dan bukan hanya ini" Jimin tetap bersikeras. "Dia akan aman denganku" Aliya menggeleng, air matanya mulai jatuh. "Tidak Jim! komohon. Aku tidak mau menjadi ibu yang mengerikan untuk anakku. Aku tidak mau menggunakan anakku sebagai alat balas dendam. Dia tidak salah" isak Aliya. "Percaya padaku Aliya" Aliya tetap tidak mau. "Kumohon Jim. Kau boleh menghancurkan masa depanku tapi tidak dengan anakku. Dia tidak berdosa kumohon" Jimin tetap tidak peduli. Dengan paksa ia menggendong Aliya dan membawanya kekamar. Keputusanya sudak tidak bisa dibantah. * Hampir setiap malam Jimin menyetubuhi Aliya. Setiap pulang dari kantor ia langsung memulai pekerjaanya lagi. Ia tidak peduli pada Aliya yang menangis dan memintanya berhenti. Telinganya benar-benar ia tulikan. Jimin juga mengurung Aliya dalam kamar, Jimin tidak membiarkan Aliya keluar dari kamar. Sarapan dan kebutuhan Aliya diurus oleh pesuruh yang Jimin bayar. Kampus? Jimin juga mengundurkan diri Aliya dari kampusnya. Ia sempat sedikit kesusahan karena halangan dari Mina, tapi itu tidak menghambat keinginannya. "Kenapa tidak sekalian saja kau bunuh aku?" Teriak Aliya setelah Jimin kembali memaksanya bercinta. Isak tangisnya lolos begitu pilu. Ia benar-benar seperti b***k sekarang. "Tenangkan dirimu" "Jangan menyentuhku b******n" Jimin mematung saat mendengar teriak lantang Aliya. Wanita itu terlihat menyedihkan dengan rambut berantakan, bekas Kiss Mark yang menghiasi seluruh tubuhnya, bibirnya juga terlihat biru. Semuanya menggambarkan jika Aliya tidak baik-baik saja. "Aku janji, setelah mendapatkan apa yang ku inginkan aku akan melepaskanmu selamanya" lirih Jimin. * "Dimana wanitamu?" Tanya Taejun. "Dia ada di Jepang" Junjae. "Susul dia" tegas Taejun. "Dia ada dalam lindungan menantumu" jawab Junjae datar. "Jimin?" "Ya menantumu itu memberi perlindungan penuh pada Wanitaku" jawabnya sinis. "Aku akan menyelesaikannya. Cukup susul saja dia sekarang" ujar Junjae dingin. * Aliya merasakan dirinya sangat lemas hari ini. Tubuhnya benar-benar terasa letih dan lemas. Kepalanya juga sangat pusing dan tidak jarang mual. Seperti pagi tadi saat Ahjumma Choi membawakan sarapan untuknya, baru menciumnya saja Aliya sidah sangat mual, dan ia tidak berselera makan sampai saat ini. "Ahjumma Choi bilang kau tak mau makan. Ada apa?" Aliya menatap dingin Jimin yang memasuki kamarnya dengan sebuah nampan yang ada ditanganya. Ia masih belum bisa memaafkan Jimin sampai saat ini. "Keluar dari kamarku. Keluar" Aliya berteriakl lantang untuk mengusir Jimin. Ia benci kehadiran pria itu. "Aku hanya membawakan makanan untukmu? Kenapa kau marah?" Tanya Jimin heran. "Aku tidak membutuhkannya! Sekarang lebih baik kau keluar" Jimin tahu jika Aliya sangat membencinya. Tapi ia mencoba bersikap tidak peduli walaupun hatinya berbicara lain. "Kau akan sakit jika tidak makan" Jimin masih mencoba berbicara lembut pada Aliya. "Justru kau lah yang membuatku sakit Park Jimin" balasnya geram. "Aku tahu tapi setidaknya isi dulu tenagamu..." "Aku harus mengisi tenaga ku setelah itu kau akan kembali meniduriku iya?" Tanya Aliya sekartis. "Aku tidak akan melakukannya" tekan Jimin. "Dan kau fikir aku percaya? Kau itu iblis dan bukan manusia percaya dengan ucapanmu adalah sebuah bencana kau tahu" maki Aliya pebuh kebencian. "Baik jika kau tak mau makan. Aku akan minta Doktet Han kesini. Dia akan memeriksamu" ujat Jimin akhirnya. "Persetan dengan Dokter sialanmu itu. Aku tidak akan peduli dengan apa yang kau lakukan. Yang ku inginkan hanya kau pergi dari sini" nafas Aliya terdengar memburu, wajahnya merah padam. Ia benar-benar dalam mood yang buruk. "Aku akan keluar" * Mina memasuki gudang dirumahnya secara diam-diam. Seumur hidupnya baru kali ini ia memasuki tempat ini. Ia agak takut karena pencahayaan disini sangati minim. Dan juga banyak binatang pengerat, bahkan ia bisa mendengar dengan jelas suara tikus. "Aku harus menemukan sesuatu" tegasnya. Ia hanya menggunakan Flas Ponsel sebagai pencahayaan. Matanya bergerak teliti menyusuri setiap sudut gudang. Disini banyak sekali barang-barang lama tak terpakai. 'Kenapa tempat ini tidak pernah dibersihkan eoh? Ini akan mempersulit langkahku" dengusnya saat menyadari jika gudang ini sangat kotor. Mata Mina terus bergerak kesana kemari tapi ia tidak mendapatkan apapun. Tapi cahaya flas-nya tiba-tiba memantul karena menyinari benda berkilau. "Apa itu?" Ujarnya sambil mendekat. Tak jauh darinya ada sebuah kotak kaca yang digantung didinding. Kotak itu tidak terlalu besar dan juga tempatnya agak memojok. "Kotak apa ini?" Mina mencoba membukanya tapi kotak ini dikunci. "Lebih baik aku bawa saja" ujarnya sambil membawa kotak tersebut. Tapi sebuah peralatan medis kembali menghentikan langkah Mina. "Apalagi ini?" Ujarnya sambil melihat jika ada banyak jenis obat-obatan dan juga jarum suntik. Benda-benda itu sudah tidak terpakai bertahun-tahun tapi keadaanya masih rapi. Hanya ada dua botol bekas obat dan dua bekas jarum suntik yang terpakai. "Lebih baik aku bawa ini sekalian" Mina langsung mengemasinya dan membawanya keluar dari gudang. * "Mengundurkan diri?" Yogyoem mengangguk. "Ne Tuan! Nona Aliya sudah mengundurkan diri satu bulan yang lalu" jawab Yogyeom tegas. "Kenapa?" Tanya pria itu lagi. "Tuan Jimin adalah orang yang bertanggung jawab atas pengunduran diri Nona Aliya" pria itu mengangkat satu alisnya. "Jimin Hyung?" Yogyeom mengangguk. "Nona Aliya bekerja sebagai jalang untuk Tuan Jimin. Sebagai balasanya Tuan Jimin memberikan kehidupan dan melindungi Nona Aliya dari Nam Junjae orang menyiksanya selama 2 tahun terakhir ini. Dan Nona Aliya dan Jimin sudah tinggal selama 10 sampai 11 bulan kalau tidak salah" jawab Yogyeom. "Apa hanya ada Aliya?" Tanyanya ragu. "Ya hanya Aliya dan Nam Junjae yang tinggal disana" jawab Yogyeom. "Temukan lokasi Nam Junjae dulu. Aliya jadi urusanku" suruh pria itu. "Tuan, Nam Junjae dilindungi oleh Jung's Company" Taehyung mengepalkan tanganya kuat saat mendengar ucapan Yogyeom. "Jadi Jung's Company juga ingin ikut campur lagi?" Geramnya. "Nam Junjae pernah dirawat di rumah sakit selama 5 bulan karena gagar otak yang ia alami dan ia baru pulih sekitar 3 bulan yang lalu. Tapi saya dengan saat ini dia tengan mencari keberadaan wanitanya" Taehyung mengangkat satu alisnya. "Wanita?" Yogyeom mengangguk. "Aliya?" "Bukan! Bukan Nona Aliya yang dia cari" jawab Yogyeom. "Lalu?" "Orang-orang kita masih mencarinya" jawab Yogyeom. "Baiklah kau kembali cari tahu tentang Nam Junjae. Dan buat sedikit masalah untuk perusahaan Paman dan Bibi kesayanganku itu" Yogyeom mengangguk dan pamit undur diri. Taehyung melonggarkan ikatan dasinya. Wajahnya terlihat keruh, permasalahanya sangat rumit bahkan setelah bertahun-tahun ini juga tidak kunjung selesai. Jung Hyeri adalah saudara tiri Ibunya Kwon Yuri. Kakeknya menikah lagi setelah ditinggal mati oleh neneknya dan saat itu ibunya masih berumur 16 tahun. Tapi kakeknya menikahi janda beranak satu dan saat itu Hyeri berumur 15 tahun. Istri baru kakeknya bukan dari keluarga yang berada, hanya seorang janda yang bekerja di kantor Kwon Grup sebagai resepsionis dan karena ibu dari Hyeri sangat cantik tentu saja kakeknya jatuh hati. Singkat cerita mereka menikah dan tinggal bersama. Walaupun Nara ibu Hyeri hanya seorang ibu tiri tapi ia sangat menyayangi Yuri sama seperti Hyeri dan dia tidak membedakan antara anak kandung dan anak tiri baginya mereka sama saja. Tapi naas saat setelah pernikahan mereka berjalan 4 tahun mereka mengalami kecelakaan yang berujung kematian. Kwon's Grup dalam keadaan kekosongan pimimpin. Yuri sebagai anak sah dan juga pewaris tunggal ditunjuk sebagai pengganti Kwon's Hanwo. Karena pada dasarnya ia memiliki 80% dari warisan ayahnya dan 15% untuk Hyeri dan 5% lagi di berikan pada yayasan. Dan setelah 1 tahun Yuri Menikah dengan Kim Jungwon pewaris tunggal Han Pearls. Dan kedua perusahaan itu menjadi Kim's Holding. Pandangan Taehyung kembali fokus pada matahari yang hendak terbenam. Matanya terpejam saat merasakan sinar mentari menyinari tubuhnya. "Oppa merindukamu Magnae" lirihnya. * Aliya terbangun karena mimpi buruk. Lagi kenapa ia harus memimpikan bocah perempuan itu lagi. "Kau baik-baik saja?" Tanya Jimin yang ada disampingnya. "Aliya..." Aliya mengalihkan fokusnya pada Jimin. "Kenapa aku selalu didatangi anak kecil" ujar Aliya pada Jimin. "Apa maksudmu?" Tanya Jimin bingung. "Aku juga tidak tahu! Aku bermimpi selalu didatangi anak kecil dan dia minta tolong padaku. Keadaanya mengerikan, dia terlihat tidak baik-baik saja" ujar Aliya. "Itu mungkin hanya halusinasimu saja. Besok kita ke Dokter. Dari tadi pada kau tidak makan kau terus mual dan mengeluh pusing. Dan itu bisa saja membuatmu jadi terus bermimpi aneh. Sekarang kau tidur aku akan menjagamu" Jimin membaringkan Aliya dan menyelimuti kembali wanita itu. "Setelah le Dokter kita akan ke rumah Namjoon. Aku pasti merindukan Hyena" Aliya hanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya. T.b.c
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD