Mahkota yang Terkoyak ( 21+ )

1084 Words
Juna tersentak. Ia mengernyit sambil menatap Anjani di bawahnya yang menangis kesakitan. Sedari awal ia memang merasa ada yang janggal karena sangat sulit untuk melakukan penyatuan dengan gadis malang tersebut. Perlahan ia menarik kejantanannya. Matanya terbelalak ketika melihat darah yang sangat banyak. ‘D-darah? A-apakah ini artinya gadis ini masih suci? T-tapi … Ardan mengatakan padaku bahwa kekasihnya ini sudah tidak suci lagi, makanya dia berani memberikannya padaku sebagai jaminan pelunas hutangnya.' Pikirannya menerawang jauh memikirkan kejadian tersebut. Namun, lamunannya seketika buyar ketika mendengar rintihan Anjani yang masih berada di bawah kungkungannya. “S-sa … kiittt ….” Anjani semakin terisak. Juna kembali menatap wajah Anjani. Emosinya tiba-tiba memuncak. Tanpa berpikir panjang dia kembali memasukkan miliknya dengan paksa, sehingga membuat Anjani semakin memekik kesakitan. “P-pak … sa-kit ….” Anjani menggigit bibir dengan sangat kuat. Mata Juna memerah. “I don’t care! Ini semua akibat kekasihmu itu yang telah menipuku. Dia mengatakan padaku jika kamu sudah tidak virgin lagi, makanya aku mau menerimamu sebagai jaminan. Tapi —” “Aahhhh … tapi mengapa ini rasanya sangat berbeda. Ini sungguh nikmat sekali. Aku baru pertama kali ini merasakannya. Ooouuhh ….” Juna tiada henti mendesah sambil menghentak-hentak kuat. Dirinya yang baru pertama kali merasakan percintaan dengan wanita yang masih virgin, sungguh begitu menikmatinya. Dia tak peduli dengan tangisan dan jeritan Anjani. Sekuat tenaga Anjani mencoba menahan rasa sakit itu, tapi tetap tak bisa karena Juna melakukannya dengan sangat kasar dan brutal, bahkan untuk menghirup oksigen pun dia kesulitan, sebab Juna selalu mengulum bibirnya. ‘Ahhh … rasanya aku tak ingin menghentikan semua ini. Aku menginginkannya lagi dan lagi.’ Juna membatin sambil mendongak. “Aakkkhhhh ….” Juna berteriak kencang sambil mendekap erat tubuh Anjani yang sudah lemas tak berdaya. Napasnya masih memburu. Setelah bisa menguasai diri, akhirnya dia melepaskan penyatuan itu. Juna terlentang sambil mengatur napas. Ekor matanya melirik ke samping, di mana Anjani meringkuk sambil membelakanginya. Tubuh polos gadis itu, kini sudah ditutupi selimut. Bahunya terguncang kuat. Masa depannya kini telah hancur. Mahkota yang ia jaga kini telah terkoyak. Kehormatannya telah direnggut oleh lelaki yang tak dikenalnya. Ia hanya sebatas mengetahui jika Juna merupakan CEO di tempatnya bekerja. ‘Kini masa depanku sudah hancur. Aku sudah tidak suci lagi. Laki-laki mana yang mau menerimaku kelak.’ Anjani berkata di dalam hati seraya mengusap air mata. Di saat dia tengah merenungi nasib, tiba-tiba tubuhnya sudah berbalik menghadap Juna. Dan kini pria tampan itu kembali menindih tubuhnya. Untuk sejenak mata mereka saling beradu tatap. Namun, Anjani membuang muka. Dengan kasar Juna memegang wajah Anjani agar kembali menghadapnya. “Aku menginginkanmu lagi. Layani aku hingga aku benar-benar merasa terpuaskan!” Setelah mengatakan itu, Juna pun kembali menggagahi Anjani dengan brutal dan kasar, tidak ada kelembutan sama sekali, apalagi rasa belas kasih, meskipun Anjani menangis dan memohon-mohon. Tubuhnya terasa remuk redam, dan di area intimnya sudah membengkak. Namun, Juna tetap melakukannya hingga gadis malang tersebut tak sadarkan diri. “Ah, s**t! Mengapa gadis ini sampai pingsan begini? Aku belum puas. Tapi tidak mungkin jika aku menggagahinya dalam keadaan tak sadar begini. Sama saja aku seperti menggauli mayat, hhh!” Juna sangat kesal. Lalu dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena bermandikan keringat. Juna berendam di bathtub selama 30 menit, setelah itu baru mengguyur tubuhnya di bawah shower. Setelah selesai dengan ritual mandi, kemudian dia keluar dan mengenakan pakaian. Ditatapnya wajah Anjani yang pucat pasi dan masih tak sadarkan diri. Perlahan Juna mendekati ranjang. “Apa yang harus aku lakukan? Ah, gadis ini sangat menyusahkanku,” gumamnya. Juna membuka selimut yang menutupi sekujur tubuh Anjani. Ditatapnya tubuh molek itu yang kini dipenuhi bercak merah keunguan akibat ulahnya. Lalu kemudian matanya terpaku menatap bagian inti gadis tersebut. 'Mengapa miliknya membengkak begini? Tetapi selama ini setiap wanita yang aku gauli tidak pernah bengkak begini. Apa bedanya, coba?' Juna meremas dagunya sendiri. Ketika Juna tengah fokus menatap tubuh Anjani seraya berpikir keras, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara lenguhan yang keluar dari mulut sang gadis. Matanya yang bengkak akibat menangis, kini bersirobok dengan mata elang Juna. Untuk sesaat mereka saling tatap dalam diam. Tanpa terasa bulir-bulir bening itu kembali membanjiri pipinya. Kini Anjani menangis tanpa suara, hanya tubuhnya saja yang berguncang hebat. Juna tersadar dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Setelah Juna keluar, Anjani dengan susah payah berusaha bangkit. Matanya mengedari sekitar mencari pakaiannya yang ternyata telah koyak tak berbentuk akibat ulah Juna. Air mata pun kembali membanjiri pipinya. ‘Pakaianku sudah tak layak pakai. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa pergi dari tempat terkutuk ini? Tidak akan mungkin jika aku hanya menggunakan selimut ini.’ Kreek! Suara pintu mengalihkan perhatiannya. Matanya menatap ke arah sumber suara. Di sana berdiri sesosok tubuh jangkung yang menggunakan kacamata. Anjani semakin ketakutan melihat pria tersebut karena dia bukan Juna. Anjani beringsut mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Tangannya memegang selimut dengan sangat erat. Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah ketakutan. Dia takut jika pria di hadapannya itu akan melakukan hal yang sama seperti yang Juna lakukan. “P-pak, to-long j-jangan lakukan ini pada saya. Saya mohon.” Anjani memohon dengan berlinangan air mata. Pria jangkung itu menghela napas berat. Dia menatap Anjani dengan penuh rasa iba. “Nona, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu, ataupun melakukan sesuatu hal yang buruk padamu. Aku ke sini hanya ingin mengantarkan pakaian ini.” “Ini pakailah! Nanti aku akan mengantarmu pulang. Oh, iya. Namaku Bian. Kamu jangan takut padaku, oke!” Pria yang bernama Bian itu memberikan paper bag pada Anjani. Dia meletakkannya di atas ranjang, lalu kemudian melangkah keluar. Sementara Anjani menatap kepergiannya dalam diam. Berjuta pertanyaan kini memenuhi benaknya. Namun, dia kemudian bergegas menggunakan pakaian tersebut yang ukurannya sangat pas di tubuh mungilnya. Meskipun dengan susah payah dia mengenakannya karena tubuhnya yang terasa remuk redam, tapi akhirnya dia bisa mengenakan pakaian itu dengan cepat. Lalu tak lama kemudian, Bian kembali masuk untuk mengantarkannya pulang. Selama dalam perjalanan mereka berdua saling diam membisu. Anjani duduk di samping Bian yang menyetir mobil. Matanya hanya fokus menatap ke luar. Sesekali Bian mencuri pandang. “Nona, kita sudah sampai.” Anjani terkejut dan tersadar dari lamunan. Matanya mengedari sekeliling yang ternyata telah berada di depan kontrakannya. Bian membukakan pintu mobil. “Silakan turun, Nona Anjani.” Sekali lagi Anjani dibuat terkejut sebab Bian mengetahui namanya. Dengan pelan-pelan dia menurunkan kaki yang terasa gemetar. Tubuhnya yang lemas akibat perbuatan Juna, serta dirinya yang belum makan sejak pagi, membuatnya kehilangan keseimbangan. Tungkai kakinya tak kuat menopang tubuh, hingga akhirnya dia kembali tak sadarkan diri. “Nona —”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD