Rawat Inap

1072 Words
“Aku di mana …?” Anjani menatap sekelilingnya yang berwarna putih. Hingga matanya bersirobok dengan netra yang ditutupi kacamata. Anjani berusaha duduk, tapi dia meringis ketika merasakan nyeri di tangannya yang terpasang jarum inpus. Matanya terbelalak. “A-apa yang terjadi padaku? A-aku di mana ini, dan mengapa aku diinpus?” Otaknya dipenuhi dengan berjuta pertanyaan. Dia mendongak dan kembali menatap sosok jangkung yang kini sudah berdiri di dekat brankar. “P-pak, a-apa yang terjadi? Mengapa saya diinpus?” Anjani menunduk. “Nona Anjani, cukup panggil aku Bian! Jangan panggil aku pak karena aku bukan bosmu. Lagi pula supaya lebih terdengar akrab.” Bian menatap dalam wajah cantik di depannya yang semakin menunduk. “Oh, iya. Kamu berada di sini dan diinpus itu karena tadi kamu tiba-tiba pingsan. Aku panik akhirnya memutuskan membawamu kemari.” Perlahan Anjani mengangkat wajah dan mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi. Dia mengerjap-ngerjapkan mata setelah mengingat semuanya. “Pak, mengapa Anda tidak membawa saya ke kontrakan saya saja? Bukankah tadi kita sudah berada di depan kontrakan saya.” “Nona, maaf. Tadi aku sangat panik, sehingga memutuskan membawamu ke rumah sakit. Sebab jika membawamu ke kontrakanmu dalam keadaan pingsan, aku khawatir akan dihakimi massa.” Anjani terlongong-longong mendengarnya. Namun, kemudian dia mengangguk karena mengerti dengan kekhawatiran pria tampan di hadapannya itu. “Saya mengerti, Pak. Terima kasih. Tapi saya tidak bisa berlama-lama di sini karena besok pagi saya bekerja.” “Nona Anjani, jangan panggil aku pak! Cukup panggil namaku saja, oke!” Sekali lagi Bian menegaskan. “Tapi Anda juga memanggil saya nona. Lagi pula tidak sopan jika saya hanya memanggil nama Anda. Maaf, Pak Bian. Saya harus segera pulang sekarang juga.” Anjani mencabut jarum dan selang inpus di tangannya, sehingga darah pun mengucur keluar. Namun, dia tidak mempedulikannya dan bergegas keluar. Bian berlari mengejar. “Nona Anjani, tolong berhenti! Nona, tolong mengerti posisiku. Pak Juna akan menghukumku jika dia tahu aku tidak becus mengurusmu.” Deg! Jantung Anjani berdetak cepat ketika mendengar nama Juna. Langkah kakinya seketika terhenti. Bola-bola kristal pun jatuh membanjiri pipi tanpa diminta. Bayangan ketika Juna menodainya, kini kembali menari-nari dalam benaknya. Kini dia baru mengingat siapa sosok pria tampan berkacamata yang bernama Bian itu. Dia pernah melihatnya beberapa kali di MA Company ketika sedang berkunjung ke perusahaan tempatnya mengais rezeki. “Nona, ayo, kita kembali. Kamu harus beristirahat yang cukup sesuai perintah dokter tadi. Nona Anjani, tolong mengerti aku.” Bian mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. Anjani kebingungan. Dia hanya mematung tanpa kata. Namun, hatinya memberontak. Dia bertekad tidak mau kembali lagi ke ruangan rawat inap, tapi hatinya tak tega melihat Bian yang memohon penuh harap. “Nona, aku mohon kita kembali lagi ke ruang rawat inap supaya kondosimu lekas pulih. Jika kamu sudah pulih, kamu bisa kembali fokus bekerja. Hanya untuk malam ini saja. Maksudku, hanya satu malam saja kamu dirawat inapnya.” Bian kembali berkata dengan penuh permohonan. Akhirnya Anjani pun mengabulkannya. Malam itu dia menginap di rumah sakit dengan ditemani oleh Bian. Dua hari kemudian, Anjani sudah kembali bekerja. Pagi itu dia datang terlambat karena saat di perjalanan dia bertemu dengan Ardan, sang mantan kekasih. Yang pada saat itu akan mengantarkan kekasih barunya untuk berangkat kuliah. Mereka bertengkar karena Anjani tak terima atas perbuatan Ardan yang dianggap telah menjualnya pada Juna. Namun, Ardan tak mempedulikan kemarahannya. “Kamu bener-bener lelaki jahat, Ardan. Aku nggak nyangka kamu setega ini sama aku. Kamu udah nyelingkuhin aku, dan selama ini juga aku selalu ngasih kamu uang setiap kamu kekurangan uang. Tapi kenapa kamu malah jadiin aku jaminan buat ngelunasin hutang kamu?” “Kamu udah ngeghancurin hidup aku, Ardan. Aku tulus cinta sama kamu, tapi kamu ngekhianatin aku. Kamu nyelingkuhin aku. Dan yang paling gila, kamu tega ngejual aku sama orang tempatmu ngutang.” Anjani mengeluarkan semua unek-unek yang selama dua hari ini bercokol dalam benaknya. “Aku nggak peduli sama kamu, Anjani. Dari dulu juga aku nggak pernah cinta sama kamu. Selama ini aku cuma ngemanfaatin duit kamu aja. Kamunya aja yang bodoh. Dan sekarang hidupmu udah ancur pun aku tetep nggak peduli!” “Aku cuma cinta sama pacarku yang baru ini. Dia cantik, kaya, berpendidikan tinggi. Beda jauh sama kamu yang cuma cewek kampung miskin, dan gembel, juga bodoh!” Suara pertengkaran antara dirinya dan Ardan, masih terus terngiang di telinganya. Hati Anjani benar-benar sangat sakit setiap mengingat perkataan Ardan. Dia berjalan sambil menunduk menuju ruang ganti pakaian. Bruk! Keningnya membentur sesuatu yang keras. Dia meringis sambil mengusap kening, lalu mengangkat wajah. Dan betapa terkejutnya Anjani ketika matanya bersirobok dengan mata elang milik pria tampan dan tinggi besar yang berdiri tegap di hadapannya. Bayangan peristiwa dua hari yang lalu, kini kembali menari-nari dalam ingatannya. Pria di hadapannya itulah yang telah menghancurkan hidupnya. Rasa sakit di dadanya semakin berlipat ganda karena pagi itu dia bertemu dengan dua pria yang telah menyakitinya. Anjani membalik badan. Dia bermaksud ingin pergi dari tempat itu. Namun, lengannya dicekal oleh Juna. Anjani memberontak, tetapi Juna semakin mengencangkan cengkramannya. “Ikut aku!” Juna menariknya dan dibawa menuju ke lantai 5, ke ruang kerjanya. Anjani meronta-ronta. “Pak, tolong lepaskan saya. Saya mau bekerja!” “Bekerja apa jam segini? Hah! Ini sudah jam 10.00, sedangkan kamu adalah cleaning services, seharusnya jam 06.00 kamu sudah mulai bekerja!” “S-saya tadi ter-lambat, Pak.” Juna dan Anjani terus berdebat. Untung saja suasana di sana sudah sepi karena seluruh karyawan perusahaan sudah sibuk bekerja, sehingga tidak ada yang melihat mereka. MA Company merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis headset. Namun, setiap jenis headset memiliki perusahaan yang berbeda-beda tempat. Termasuk di tempat Anjani bekerja, itu merupakan cabang perusahaan yang memproduksi headset in-ear saja, sedangkan jenis-jenis headset yang lain berada di cabang-cabang perusahaan lainnya. Oleh sebab itu, Juna tidak setiap hari mendatangi cabang-cabang perusahaannya, termasuk MA Company. Karena dia hanya akan mendatangi perusahaan jika akan melakukan audit saja. “Pak, tolong lepaskan saya!” Anjani berusaha melepaskan tangannya. “Layani aku! Aku menginginkanmu!” Juna berkata dengan tegas. Dia semakin kuat menarik tangan Anjani hingga memerah. Anjani terseok-seok mengikuti langkahnya yang sangat cepat. Hingga akhirnya mereka telah sampai di ruangan kerja Juna. Juna mendorong tubuh mungil Anjani agar masuk. Setelah itu dia mengunci pintu, lalu menyimpannya di saku celana. Dengan cekatan tangannya membuka kancing-kancing kemeja yang ia kenakan hingga menampilkan d**a bidang dan perut six pack-nya. “Tubuhmu sekarang sudah menjadi milikku karena aku telah membelimu! Jadi, layani aku setiap aku menginginkanmu! Mengerti!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD