“Aakkhhh … s-sakiittt … P-pak … t-tolong … hen-ti-kan ….”
Suara Anjani terdengar memilukan. Ia kembali dirudapaksa oleh Juna. Dan yang lebih parahnya, dia dirudapaksa di dalam ruangan kerja sang CEO tersebut.
Juna tak mempedulikan isak tangis Anjani yang terus menjerit di bawah tubuhnya. Dia begitu menikmati percintaannya tersebut. Kini tubuh mungil gadis malang itu seakan sudah menjadi candu baginya. Dia bahkan melakukannya secara berulangkali.
“Oouuhh … Jani. Kamu sungguh nikmat. A-aku … aahhhh … tidak ingin berhenti rasanya ….” Juna meracau dan mendesah dengan napas terengah-engah. Lalu ia mengulum bibir Anjani dan melumatnya dengan penuh gairah.
Juna menaik-turunkan gerakan tubuhnya yang tak berirama. Dia merudapaksa Anjani dengan sangat kasar. Bibir gadis itu sampai bengkak dan terluka karena tiada henti dikulum, dilumat, hingga digigit.
Kini Juna membalik tubuh Anjani hingga berubah posisi. Dia melakukan percintaan panas itu dengan berbagai macam gaya. "Ahhhh ... sshhhh ... oouuuhhh ... Jani ... kamu sungguh membuatku gila!"
Anjani hanya bisa pasrah. Meskipun dia merasakan kenikmatan laknat itu, tapi dia ingin semuanya berhenti. Tubuhnya kembali terasa remuk redam akibat ulah Juna. Apalagi pria tampan itu melakukannya secara berulangkali dan brutal.
Air matanya sudah kering. Suaranya pun sudah serak. Anjani menggigit bahu Juna dengan kuat ketika pria itu menghujamnya dengan sangat kuat dan dalam.
Juna mendekap tubuh Anjani dengan sangat erat. Dan untuk yang kesekian kali dia mencapai puncak. Deru napasnya memburu, detak jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Juna terduduk lemas di sofa. Ia menatap ke samping, di mana Anjani masih terlentang tak berdaya dengan tubuh polos. Tiba-tiba hasratnya kembali bangkit. Dia kembali mencumbui Anjani dengan penuh gairah. Namun, ketika dia akan melakukannya lagi, tiba-tiba suara pintu mengagetkannya.
Tok! Tok! Tok!
“s**t! Siapa yang berani mengganggu aktivitasku! Awas saja, akan kuhajar orangnya!” Juna bergegas mengenakan pakaian.
“Cepat kamu pakai pakaianmu!” titahnya pada Anjani.
Secepat kilat Anjani mengenakan pakaiannya, lalu dia berjalan menuju pintu. Namun, Juna mencekal lengannya.
“Siapa yang menyuruhmu pergi? Aku hanya menitahmu untuk menggunakan pakaian saja, bukan menitahmu pergi!” Suara Juna menggelegar. Anjani ketakutan dan hanya menunduk.
Juna pun berjalan membuka pintu. Di sana sudah berdiri sosok jangkung berkacamata yang menatapnya dengan tajam. Pandangannya pun kini tertuju pada Anjani.
“Juna, jangan bilang kalo lo ngelakuin perbuatan b***t lo itu lagi pada gadis itu!” Bian berbisik, tapi penuh ketegasan.
Juna hanya tersenyum, lalu duduk di kursi kerjanya. Bian mengikuti dengan wajah yang sangat kesal.
“Juna! Jawab gue!” sentak Bian.
“Ya, gue ngelakuin itu lagi. Emangnya kenapa, sih, Bi. Lo kan tau sendiri kebiasaan gue.” Juna menatap Bian.
“Jelas aja ini jadi masalah, Jun. Lo tau sendiri kan, kalo cewek itu baru aja keluar dari rumah sakit, dan itu gara-gara lo! Lo juga tau kalo lo orang pertama yang ngelakuinnya sama dia, dalam arti lo yang merawanin dia!” Bian sangat geram pada Juna.
Sementara Juna hanya diam membisu. Matanya seketika tertuju pada Anjani yang masih setia berdiri sambil menunduk. Kata-kata Bian sedikit menamparnya dengan kenyataan. Namun, tak lama kemudian dia kembali bersikap santai.
“Hmm … terus masalahnya apa buat gue, Bi? Gue gak peduli sama semua itu! Yang jelas gue udah kecanduan sama tubuh cewek itu, dan gue selalu pengen lagi dan lagi bercinta ama dia!”
Bian mengusap wajah dengan kasar. Dia benar-benar sangat kesal pada Juna yang tidak memiliki rasa simpati sama sekali itu, tetapi jika dirinya mendapati masalah besar, maka dia lah yang selalu menjadi orang pertama untuk membantunya.
“Juna, hati lo terbuat dari apa, sih? Kenapa lo setega dan sekejam ini ama anak gadis orang? Lo tega ngerusak masa depannya, tau gak!” Suara Bian mulai meninggi.
“Semua cewek sama aja, Bi. Dia sama kayak cewek-cewek lainnya yang pernah gue gauli. Dan gue ngelakuin itu gak gratis! Gue ngebayar mereka!” Juna menjawab dengan sarkas.
“Tapi ini beda, Jun. Cewek ini bukan cewek panggilan kayak yang biasa lo temui dan lo booking. Karena lo gak pernah ngebayar dia. Lo ngebayar cowoknya doang buat jaminan hutangnya!”
“I don’t care, Bi! Intinya gue ngeluarin modal. Gue ngebayar mereka. 200 juta duit gue buat ngelunasin hutang si Ardan itu, karena dia punya hutang segitu sama gue, dan ceweknya yang dijadiin jaminan!”
Kedua pria tampan itu terus berdebat. Suara mereka sudah sama-sama meninggi dan terdengar di telinga Anjani. Gadis malang itu hanya bisa terisak. Bahunya terguncang. Hatinya sangat terluka mendengar ucapan Juna yang menganggapnya sama dengan wanita panggilan.
Semua itu bermula dari Ardan, sang mantan kekasih. Kini, dia semakin membenci laki-laki itu, yang pernah singgah dan berlabuh dalam hatinya. Namun, ketulusan dan kesetiaannya dihancurkan oleh Ardan dengan pengkhianatan yang sangat menyakitkan.
‘Ya Tuhan, apa salahku hingga Engkau mengujiku dengan cobaan yang sangat berat ini. Selama ini aku sangat menjaga mahkotaku dan kehormatanku. Tapi semuanya hancur dalam sekejap.’
‘Ardan, lelaki yang sangat aku cintai dengan setulus hati, tapi dia justru tega menjualku pada orang tempatnya berhutang. Dan itu dilakukan setelah kami berpisah.’
‘Pertama, dia mengkhianatiku. Aku memergokinya tengah melakukan perbuatan terkutuk itu dengan kekasih barunya, sehingga aku memutuskan hubungan kami. Dan yang kedua, dia menjadikanku jaminan untuk pelunas hutangnya.’
Anjani sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai dia tidak menyadari jika Bian sudah keluar dari ruangan kerja Juna. Dan kini hanya tinggal dirinya dengan Juna. Pria tampan dengan perawakan tinggi besar itu kini sudah berdiri tegap di hadapannya.
Tangan Juna memegang dagu Anjani. Dia mengangkatnya agar wajah gadis tersebut memandangnya. Mata mereka saling beradu tatap dengan pikiran masing-masing. Juna menatap lekat wajah Ajani yang sembab dan matanya yang bengkak akibat kebanyakan menangis.
Tiba-tiba hati Juna bedebar-debar, jantungnya berdegup tak menentu, dan darahnya berdesir hebat. Dia mengernyit dan semakin dalam menatap Anjani. ‘Mengapa aku merasakan ini semua? Ada apa ini? Apakah aku memiliki penyakit yang komplikasi, sehingga semuanya terasa secara bersamaan?’
Juna melepaskan tangan dari dagu Anjani, lalu beralih memegang dadanya. Dia bisa merasakan suara jantungnya yang berdegup kencang. Anjani menatap pria tersebut karena dia bisa mendengar suara detak jantung Juna dengan sangat jelas.
Juna bergegas duduk, tangannya meremas kuat dadanya. “Aakkhhh ….”
Anjani terkejut mendengar suara teriakan Juna. Tanpa sadar kakinya melangkah mendekati pria tersebut. “P-pak, a-apa yang terjadi pada Anda?”
Juna tersentak, lalu menatapnya dengan lekat. Tangannya semakin meremas d**a. Anjani memberanikan diri memegang d**a Juna, sebab dia merasa panik. Namun, Juna segera menepis tangan Anjani, karena detak jantungnya semakin bertambah kencang, debaran di hatinya semakin kuat, dan desiran darahnya pun semakin tak menentu.
“Jangan mendekat! Jangan menyentuhku!” Juna berteriak kencang.
Anjani terkejut dan menarik tangannya dengan cepat. Tentu saja dia merasa heran dengan perkataan Juna. Sebab sudah dua kali justru pria tersebut yang selalu ingin menyentuhnya dan selalu menginginkannya. Namun, pada saat ini, di saat dia berniat membantu, tetapi Juna justru melarang.
“Pergi! Keluar!”